alexametrics
26.5 C
Madura
Wednesday, June 29, 2022

Wisata Pelat Merah Mati Suri, Swasta Masih Beroperasi

DINAS Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disparbudpora) Sumenep  sudah menyebarkan surat bernomor 556/379/435.108.1/2020 kepada pengelola agar menutup sementara objek wisata. Bersifat wajib bagi destinasi wisata pelat merah dan imbauan untuk pengelola swasta.

Namun, imbauan tersebut belum diamini pengelola wisata swasta. Masih ada beberapa destinasi wisata di Kota Keris tetap beroperasi hingga kemarin (22/3).

Kepala Disparbudpora Sumenep Bambang Irianto menyampaikan, dampak penyebaran Covid-19 sudah sangat dirasakan dari sekarang. Banyak target pengembangan bidang pariwisata meleset karena keadaan mendesak. Keselamatan masyarakat agar tidak terinfeksi virus korona harus diutamakan.

Apalagi, persoalan kebijakan seluruh destinasi wisata yang dikelola Pemkab Sumenep ditutup sementara. Diakui, penutupan destinasi wisata sangat berdampak pada target kunjungan wisata ke Sumenep. Fokus perencanaan terkait pengembangan wisata harus ditunda sampai situasi benar-benar aman.

Baca Juga :  Disparbudpora: Ada Mafia di Karapan Sapi

”Dari sisi kunjungan, pengaruhnya luar biasa. Selama ini, setiap tahun kunjungan wisatawan ke Sumenep mendekati 2 juta pengunjung. Sementara destinasi wisata memang seperti mati suri,” akunya.

Di tempat terpisah, manajer destinasi wisata Bukit Tinggi, Wahyudi mengatakan, sebagai pengelola destinasi wisata, sangat merasakan pengaruh wabah Covid-19 yang masih hangat diperbincangkan publik. Walaupun, aktivitas wisata di Bukit Tinggi masih berlangsung seperti biasa.

Dampak yang paling dirasakan yaitu terkait jumlah kunjungan. Setiap hari angka jumlah pengunjung variatif. Namun, penurunan sangat jelas terjadi. Sebelum ramai Covid-19, rata-rata pengunjung Bukit Tinggi mencapai 100 orang per hari.

Kemudian, setelah banyak informasi bahwa virus korona (covid-19) merambat di Indonesia, jumlah pengunjung turun drastis menjadi sekitar 25 orang per hari. Upaya antisipasi sudah dilakukan meski destinasi wisata tidak ditutup.

Baca Juga :  Jelang Visit Sumenep 2018,¬†Raperda Pariwisata¬†Belum Rampung

Misalnya, menyediakan hand sanitizer dan tempat cuci tangan dengan air mengalir. Sarana untuk kesehatan itu disediakan langsung di loket utama tempat wisata. Imbauan secara langsung juga disampaikan kepada para pengunjung untuk lebih memperhatikan kondisi kesehatan.

”Dampak virus ini merembat ke mana-mana. Kalau jumlah pengunjung berkurang, otomatis pemasukan perusahaan turun. Ini sudah berdampak pada ekonomi,” ujarnya. (jun)

DINAS Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disparbudpora) Sumenep  sudah menyebarkan surat bernomor 556/379/435.108.1/2020 kepada pengelola agar menutup sementara objek wisata. Bersifat wajib bagi destinasi wisata pelat merah dan imbauan untuk pengelola swasta.

Namun, imbauan tersebut belum diamini pengelola wisata swasta. Masih ada beberapa destinasi wisata di Kota Keris tetap beroperasi hingga kemarin (22/3).

Kepala Disparbudpora Sumenep Bambang Irianto menyampaikan, dampak penyebaran Covid-19 sudah sangat dirasakan dari sekarang. Banyak target pengembangan bidang pariwisata meleset karena keadaan mendesak. Keselamatan masyarakat agar tidak terinfeksi virus korona harus diutamakan.


Apalagi, persoalan kebijakan seluruh destinasi wisata yang dikelola Pemkab Sumenep ditutup sementara. Diakui, penutupan destinasi wisata sangat berdampak pada target kunjungan wisata ke Sumenep. Fokus perencanaan terkait pengembangan wisata harus ditunda sampai situasi benar-benar aman.

Baca Juga :  Bikin Virtual Meet Up Jadi Makin Seru #KenapaNggak

”Dari sisi kunjungan, pengaruhnya luar biasa. Selama ini, setiap tahun kunjungan wisatawan ke Sumenep mendekati 2 juta pengunjung. Sementara destinasi wisata memang seperti mati suri,” akunya.

Di tempat terpisah, manajer destinasi wisata Bukit Tinggi, Wahyudi mengatakan, sebagai pengelola destinasi wisata, sangat merasakan pengaruh wabah Covid-19 yang masih hangat diperbincangkan publik. Walaupun, aktivitas wisata di Bukit Tinggi masih berlangsung seperti biasa.

Dampak yang paling dirasakan yaitu terkait jumlah kunjungan. Setiap hari angka jumlah pengunjung variatif. Namun, penurunan sangat jelas terjadi. Sebelum ramai Covid-19, rata-rata pengunjung Bukit Tinggi mencapai 100 orang per hari.

Kemudian, setelah banyak informasi bahwa virus korona (covid-19) merambat di Indonesia, jumlah pengunjung turun drastis menjadi sekitar 25 orang per hari. Upaya antisipasi sudah dilakukan meski destinasi wisata tidak ditutup.

Baca Juga :  Tingkatkan Pendapatan dalam Peringatan Hari Jadi Sumenep

Misalnya, menyediakan hand sanitizer dan tempat cuci tangan dengan air mengalir. Sarana untuk kesehatan itu disediakan langsung di loket utama tempat wisata. Imbauan secara langsung juga disampaikan kepada para pengunjung untuk lebih memperhatikan kondisi kesehatan.

”Dampak virus ini merembat ke mana-mana. Kalau jumlah pengunjung berkurang, otomatis pemasukan perusahaan turun. Ini sudah berdampak pada ekonomi,” ujarnya. (jun)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/