alexametrics
25.6 C
Madura
Friday, July 1, 2022

Forum Rektor Sikapi Kondisi Bangsa

SURABAYA – Suhu politik di negeri ini terus memanas menjelang pengumuman rekapitulasi nasional hasil penghitungan suara pemilu 22 Mei besok. Kondisi itu menjadi perhatian banyak pihak.

Kemarin (20/5) para rektor/pimpinan perguruan tinggi negeri (PTN), perguruan tinggi swasta (PTS), dan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LL-Dikti) Surabaya dan Madura berkumpul. Lokasinya di Gedung Manajemen Lantai IV Universitas Airlangga (Unair) Kampus C, Surabaya.

Di antaranya, rektor Unair, Ubaya, Unipra, ITS, UPN Veteran, dan Untag Surabaya. Lalu, Unitomo, Universitas PGRI Adi Buana, dan UTM, serta pimpinan LL-Dikti.

Di hadapan awak media, rektor Universitas Airlangga (Unair) Prof. Dr. Mohammad Nasih membacakan pernyataan pers. Rektor/pimpinan PTN, PTS, dan LL-Dikti Surabaya dan Madura berkomitmen dan menyerukan tiga poin kepada semua pihak.

Pertama, menjaga kedamaian, kebersamaan, kesatuan, dan persatuan di antara sesama warga negara. Tidak melakukan tindakan yang berpotensi memecah belah dan mengadu domba. Tidak membuat dan tidak menyebarkan informasi bohong dan fitnah. Lalu, tidak mengganggu ketertiban umum, tidak anarkistis, dan tidak memprovokasi dan terprovokasi.

Kedua, menyelesaikan setiap persoalan, permasalahan, atau perselisihan dengan jalan musyawarah yang didasari nilai kebijakan, objektivitas, dan rasionalitas. Juga, kemaslahatan masyarakat dan bangsa.

Baca Juga :  Presidensi G20 Momentum Branding Indonesia ke Dunia Internasional

Apabila jalan musyawarah tidak mungkin dilakukan, hendaknya digunakan mekanisme yang telah diatur dalam peraturan perundang-undangan. Juga tidak menggunakan cara-cara inkonstitusional.

Ketiga, secara berkelanjutan dan bersama-sama berjuang serta berusaha keras dan cerdas. Tujuanya, mengembangkan kualitas, kesejahteraan masyarakat, serta mengembangkan inovasi dan teknologi. Membangun peradaban untuk menjadikan Indonesia sebagai bangsa dan negara berketuhanan, berperikemanusian, beradab, bersatu, berdaulat, aman, damai, sentosa, maju, sejahtera, adil, dan makmur yang sejajar dengan negara-negara maju di dunia.

Mencermati kondisi bangsa Indonesia, terutama menjelang pengumuman hasil pemilu 22 Mei besok, forum rektor mengimbau kepada semua pihak agar tetap menjaga kondusivitas dan menjaga persatuan bangsa. Semangat Hari Kebangkitan Nasional diharapkan bisa meleburkan segala macam kepentingan demi bangsa dan negara.

”Kita berharap seluruh komponen bangsa kembali bersatu padu bangkit membangun Indonesia tercinta. Sehingga bisa mengejar ketinggalan Indonesia dari negara-negara maju,” ajaknya penuh semangat.

Pihaknya telah mendorong badan eksekutif mahasiswa (BEM) dan mahasiswa untuk melakukan aktivitas atau aksi secara ilmiah, akademik, dan objektif. Tentu tidak melakukan tindakan yang inkonstitusional.

Baca Juga :  Menko Airlangga: Realisasi PEN Capai 50,7 Persen

Diharapkan, mahasiswa bisa memberikan berbagai macam ide dan pandangan lebih objektif. Beberapa waktu lalu selama dua hari dilakukan kongres BEM seluruh Indosensia di Bogor. ”Alhamdulillah, hasil deklarasinya menurut kami sangat positif, sangat ilmiah. Sesuai dengan wawasan mahasiwa,” ujarnya.

”Tentu mereka akan melakukan proses perjuangan dan ikhtiar sesuai aturan dan tidak mengganggu ketertiban. Saya pikir tidak ada masalah sepanjang tidak melanggar peraturan dan perundang-undangan,” paparnya.

Pria asal Gersik itu menyampaikan tidak pernah mendorong mahasiswa berangkat ke Jakarta untuk melakukan aksi 22 Mei. Sebab, semua ide, gagasan, ataupun persoalan bisa diselesaikan dengan musyarawarah dan dialog.

”Menurut hemat kami, penyelesaian masalah di jalanan kok rasanya bukan ide dan cara mahasiswa milenial sekarang ini. Bukan cara mahasiswa era revolusi indurti 4.0,” ungkap dia.

”Cara mahasiswa menyelesaikan masalah pada era sekarang dengan berdialog, dengan musyawarah, dengan argumentasi-argumentasi yang diterima semua pihak. Dengan tidak memaksakan kehendak,” pungkasnya. 

 

SURABAYA – Suhu politik di negeri ini terus memanas menjelang pengumuman rekapitulasi nasional hasil penghitungan suara pemilu 22 Mei besok. Kondisi itu menjadi perhatian banyak pihak.

Kemarin (20/5) para rektor/pimpinan perguruan tinggi negeri (PTN), perguruan tinggi swasta (PTS), dan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LL-Dikti) Surabaya dan Madura berkumpul. Lokasinya di Gedung Manajemen Lantai IV Universitas Airlangga (Unair) Kampus C, Surabaya.

Di antaranya, rektor Unair, Ubaya, Unipra, ITS, UPN Veteran, dan Untag Surabaya. Lalu, Unitomo, Universitas PGRI Adi Buana, dan UTM, serta pimpinan LL-Dikti.


Di hadapan awak media, rektor Universitas Airlangga (Unair) Prof. Dr. Mohammad Nasih membacakan pernyataan pers. Rektor/pimpinan PTN, PTS, dan LL-Dikti Surabaya dan Madura berkomitmen dan menyerukan tiga poin kepada semua pihak.

Pertama, menjaga kedamaian, kebersamaan, kesatuan, dan persatuan di antara sesama warga negara. Tidak melakukan tindakan yang berpotensi memecah belah dan mengadu domba. Tidak membuat dan tidak menyebarkan informasi bohong dan fitnah. Lalu, tidak mengganggu ketertiban umum, tidak anarkistis, dan tidak memprovokasi dan terprovokasi.

Kedua, menyelesaikan setiap persoalan, permasalahan, atau perselisihan dengan jalan musyawarah yang didasari nilai kebijakan, objektivitas, dan rasionalitas. Juga, kemaslahatan masyarakat dan bangsa.

Baca Juga :  Informasi Geospasial sebagai Dasar Perencanaan Pembangunan Ekonomi

Apabila jalan musyawarah tidak mungkin dilakukan, hendaknya digunakan mekanisme yang telah diatur dalam peraturan perundang-undangan. Juga tidak menggunakan cara-cara inkonstitusional.

Ketiga, secara berkelanjutan dan bersama-sama berjuang serta berusaha keras dan cerdas. Tujuanya, mengembangkan kualitas, kesejahteraan masyarakat, serta mengembangkan inovasi dan teknologi. Membangun peradaban untuk menjadikan Indonesia sebagai bangsa dan negara berketuhanan, berperikemanusian, beradab, bersatu, berdaulat, aman, damai, sentosa, maju, sejahtera, adil, dan makmur yang sejajar dengan negara-negara maju di dunia.

Mencermati kondisi bangsa Indonesia, terutama menjelang pengumuman hasil pemilu 22 Mei besok, forum rektor mengimbau kepada semua pihak agar tetap menjaga kondusivitas dan menjaga persatuan bangsa. Semangat Hari Kebangkitan Nasional diharapkan bisa meleburkan segala macam kepentingan demi bangsa dan negara.

”Kita berharap seluruh komponen bangsa kembali bersatu padu bangkit membangun Indonesia tercinta. Sehingga bisa mengejar ketinggalan Indonesia dari negara-negara maju,” ajaknya penuh semangat.

Pihaknya telah mendorong badan eksekutif mahasiswa (BEM) dan mahasiswa untuk melakukan aktivitas atau aksi secara ilmiah, akademik, dan objektif. Tentu tidak melakukan tindakan yang inkonstitusional.

Baca Juga :  Komitmen Kejaksaan pada Hari Bhakti Adhyaksa Ke-59

Diharapkan, mahasiswa bisa memberikan berbagai macam ide dan pandangan lebih objektif. Beberapa waktu lalu selama dua hari dilakukan kongres BEM seluruh Indosensia di Bogor. ”Alhamdulillah, hasil deklarasinya menurut kami sangat positif, sangat ilmiah. Sesuai dengan wawasan mahasiwa,” ujarnya.

”Tentu mereka akan melakukan proses perjuangan dan ikhtiar sesuai aturan dan tidak mengganggu ketertiban. Saya pikir tidak ada masalah sepanjang tidak melanggar peraturan dan perundang-undangan,” paparnya.

Pria asal Gersik itu menyampaikan tidak pernah mendorong mahasiswa berangkat ke Jakarta untuk melakukan aksi 22 Mei. Sebab, semua ide, gagasan, ataupun persoalan bisa diselesaikan dengan musyarawarah dan dialog.

”Menurut hemat kami, penyelesaian masalah di jalanan kok rasanya bukan ide dan cara mahasiswa milenial sekarang ini. Bukan cara mahasiswa era revolusi indurti 4.0,” ungkap dia.

”Cara mahasiswa menyelesaikan masalah pada era sekarang dengan berdialog, dengan musyawarah, dengan argumentasi-argumentasi yang diterima semua pihak. Dengan tidak memaksakan kehendak,” pungkasnya. 

 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/