alexametrics
20.7 C
Madura
Thursday, May 19, 2022

Transformasi Digital Berkontribusi Pulihkan Ekonomi Pasca Pandemi

JAKARTA – Chairmanship Brunei Darussalam di ASEAN 2021 mengangkat tiga tema penting. Yaitu, Pemulihan, Digitalisasi, dan Keberlanjutan. Sebagai respons tema digitalisasi, pertemuan ASEAN Economic Community Council (AECC) ke-20 turut mengundang menteri informasi dan komunikasi dari seluruh negara anggota ASEAN. Tujuannya, berkolaborasi dan meningkatkan kerja sama mewujudkan transformasi digital di ASEAN.

ASEAN menilai, transformasi digital akan memberikan peluang baru untuk pengembangan bisnis dan berkontribusi pada pemulihan ekonomi secara berkelanjutan pasca pandemi.

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto selaku ketua dewan MEA mendukung penuh upaya berkelanjutan pada peningkatan keterampilan digital UMKM melalui berbagai inisiatif di ASEAN. Misalnya, ASEAN SME Academy, Go Digital dan ASEAN Access, dan integrasi UMKM ke dalam rantai pasok global (Global Value Chain).

Pernyataan ini disampaikan Airlangga Hartarto saat menghadiri AECC ke-20 yang digelar secara virtual di Jakarta pada Senin (18/10). Pertemuan yang dipimpin Minister at the Prime Minister’s Office and Minister of Finance and Economy II, Brunei Darussalam, Dato Dr. Amin Abdullah tersebut dihadiri seluruh Menteri Dewan MEA dari 10 negara anggota ASEAN.

”Kolaborasi ini menjadi kunci dalam merancang kebijakan dan regulasi mengelola disrupsi dan memaksimalkan keuntungan dari ekonomi digital melalui pendekatan kolektif transformasi digital di ASEAN,” ucap Airlangga Hartarto.

Menurut dia, pertemuan menyepakati dua dokumen penting sebagai komitmen pengembangan ekonomi digital. Yaitu, Bandar Seri Begawan Roadmap to Accelerate ASEAN’s Economic Recovery and Digital Economy Integration serta ASEAN Leaders’ Statement on Advancing Digital Transformation in ASEAN.

Dia menjelaskan, kondisi pandemi telah mengakselerasi proses transformasi digital di dunia, termasuk di ASEAN. Dia mengajak negara-negara ASEAN memanfaatkan pasar internet yang tumbuh cepat di dunia untuk membangun ekonomi digital ASEAN seperti e-commerce, dukungan pada travel, dan ride hailing.

Baca Juga :  Gubernur Minta Sekolah Bentuk Tim Satgas Covid-19

Sementara itu, Edutech dan Healthtech menjadi sektor utama pendukung ekonomi digital baru di ASEAN di masa pandemi. Sebagai gambaran, pengguna internet di ASEAN meningkat dari 260 juta pada 2015 menjadi 400 juta pada 2020. Hingga Januari 2021, penetrasi pengguna internet di ASEAN telah mencapai 69 persen.

Airlangga Hartarto menyatakan, saat ini Indonesia memiliki 1 decacorn startup yaitu GoTo (Gojek-Tokopedia) dan 6 unicorn startup yaitu Bukalapak, Traveloka, OVO, J&T Express, Xendit (Payment Gateway), dan yang terbaru yaitu Ajaib (Fintech). Dalam Forum G20 Innovation League 2021 yang dilaksanakan di Sorrento, Indonesia memenangkan 2 penghargaan untuk startup inovasi unggulan. Yaitu, Nalagenetics (kategori Mobility and Healthcare) dan Ruangguru (kategori Artificial Intelegence).

Untuk mendukung agenda transformasi digital, pemerintah sebagai fasilitator menekankan lima hal. Pertama, penciptaan regulasi yang inklusif, koheren dan holistik untuk pengembangan ekonomi digital dan mendukung inovasi. Kedua, memperluas infrastruktur telekomunikasi dan menjamin akses internet yang terjangkau. Ketiga, memperkuat kolaborasi dengan sektor swasta dalam penelitian dan perumusan kebijakan. Keempat, mempercepat literasi digital dan mempersiapkan talenta digital. Kelima, meningkatkan produktivitas dan inovasi melalui digital di sektor publik.

Sektor pariwisata menjadi salah satu perhatian utama dengan mengupayakan pembukaan kembali sektor pariwisata yang aman sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi. Indonesia telah membuka kembali Bali, Batam, dan Bintan sebagai tujuan wisata internasional sejak 14 Oktober. Tentunya dengan penerapan protokol kesehatan (prokes) melalui standar nasional dan sertifikasi kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan lingkungan (CHSE).

Baca Juga :  Menko Airlangga: BT-PKLW di NTB Paling Cepat dan Tepat Sasaran

”Pada isu prioritas sustainable, Indonesia memberikan dukungan dan berkomitmen menerapkan prinsip ekonomi sirkular sebagai bagian dari ekonomi berkelanjutan dan menciptakan peluang pekerjaan hijau. Hal ini sejalan dengan kebijakan nasional dengan berkomitmen mengurangi limbah makanan hingga 50 persen dan limbah tekstil hingga 14 persen,” ulas Airlangga Hartarto.

Isu krusial lain yang dibahas adalah hasil dari MTR Cetak Biru MEA 2025. Terjadi peningkatan nilai perdagangan intra-ASEAN yang relatif moderat selama beberapa tahun terakhir. Karena itu, Airlangga Hartarto mengingatkan perlunya mendorong hasil MTR sebagai katalis efektivitas program-program strategis yang lebih tepat sasaran berdasar parameter terukur dan dapat tercapai. Program blue economy dan green economy perlu menjadi perhatian sebagai mesin pertumbuhan baru dan menjaga ASEAN tetap relevan dengan perkembangan global.

Indonesia yang akan memegang keketuaan ASEAN pada 2023 memegang peranan penting dalam merumuskan arah ASEAN pasca 2025. Ada 5 (lima) isu penting yang perlu menjadi perhatian. Pertama, digitalisasi, teknologi, dan inovasi. Kedua, kesehatan publik. Ketiga, perubahan iklim dan kelangkaan sumber daya. Keempat, perubahan kekuatan ekonomi global. Kelima, pergeseran demografi dan urbanisasi.

”ASEAN Community Post-2025 Vision perlu memperhatikan kondisi yang terjadi saat ini melalui peningkatan kolaborasi penelitian dan pengembangan bidang bioteknologi. Khususnya, mendukung kapasitas produksi vaksin di ASEAN. Pembahasan lebih lanjut terkait penyusunan ASEAN Community Post-2025 Vision perlu melibatkan tiga pilar. Terutama dalam membahas isu-isu lintas sektoral yang sedang berkembang dan kapasitas mekanisme kelembagaan ASEAN,” pungkas Airlangga. (dep7/rep/ltg/fsr/par)

- Advertisement -

JAKARTA – Chairmanship Brunei Darussalam di ASEAN 2021 mengangkat tiga tema penting. Yaitu, Pemulihan, Digitalisasi, dan Keberlanjutan. Sebagai respons tema digitalisasi, pertemuan ASEAN Economic Community Council (AECC) ke-20 turut mengundang menteri informasi dan komunikasi dari seluruh negara anggota ASEAN. Tujuannya, berkolaborasi dan meningkatkan kerja sama mewujudkan transformasi digital di ASEAN.

ASEAN menilai, transformasi digital akan memberikan peluang baru untuk pengembangan bisnis dan berkontribusi pada pemulihan ekonomi secara berkelanjutan pasca pandemi.

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto selaku ketua dewan MEA mendukung penuh upaya berkelanjutan pada peningkatan keterampilan digital UMKM melalui berbagai inisiatif di ASEAN. Misalnya, ASEAN SME Academy, Go Digital dan ASEAN Access, dan integrasi UMKM ke dalam rantai pasok global (Global Value Chain).


Pernyataan ini disampaikan Airlangga Hartarto saat menghadiri AECC ke-20 yang digelar secara virtual di Jakarta pada Senin (18/10). Pertemuan yang dipimpin Minister at the Prime Minister’s Office and Minister of Finance and Economy II, Brunei Darussalam, Dato Dr. Amin Abdullah tersebut dihadiri seluruh Menteri Dewan MEA dari 10 negara anggota ASEAN.

”Kolaborasi ini menjadi kunci dalam merancang kebijakan dan regulasi mengelola disrupsi dan memaksimalkan keuntungan dari ekonomi digital melalui pendekatan kolektif transformasi digital di ASEAN,” ucap Airlangga Hartarto.

Menurut dia, pertemuan menyepakati dua dokumen penting sebagai komitmen pengembangan ekonomi digital. Yaitu, Bandar Seri Begawan Roadmap to Accelerate ASEAN’s Economic Recovery and Digital Economy Integration serta ASEAN Leaders’ Statement on Advancing Digital Transformation in ASEAN.

Dia menjelaskan, kondisi pandemi telah mengakselerasi proses transformasi digital di dunia, termasuk di ASEAN. Dia mengajak negara-negara ASEAN memanfaatkan pasar internet yang tumbuh cepat di dunia untuk membangun ekonomi digital ASEAN seperti e-commerce, dukungan pada travel, dan ride hailing.

Baca Juga :  Survei Semburan Api, Kabag SDA Sumenep Akui Ada Kandungan Metana

Sementara itu, Edutech dan Healthtech menjadi sektor utama pendukung ekonomi digital baru di ASEAN di masa pandemi. Sebagai gambaran, pengguna internet di ASEAN meningkat dari 260 juta pada 2015 menjadi 400 juta pada 2020. Hingga Januari 2021, penetrasi pengguna internet di ASEAN telah mencapai 69 persen.

Airlangga Hartarto menyatakan, saat ini Indonesia memiliki 1 decacorn startup yaitu GoTo (Gojek-Tokopedia) dan 6 unicorn startup yaitu Bukalapak, Traveloka, OVO, J&T Express, Xendit (Payment Gateway), dan yang terbaru yaitu Ajaib (Fintech). Dalam Forum G20 Innovation League 2021 yang dilaksanakan di Sorrento, Indonesia memenangkan 2 penghargaan untuk startup inovasi unggulan. Yaitu, Nalagenetics (kategori Mobility and Healthcare) dan Ruangguru (kategori Artificial Intelegence).

Untuk mendukung agenda transformasi digital, pemerintah sebagai fasilitator menekankan lima hal. Pertama, penciptaan regulasi yang inklusif, koheren dan holistik untuk pengembangan ekonomi digital dan mendukung inovasi. Kedua, memperluas infrastruktur telekomunikasi dan menjamin akses internet yang terjangkau. Ketiga, memperkuat kolaborasi dengan sektor swasta dalam penelitian dan perumusan kebijakan. Keempat, mempercepat literasi digital dan mempersiapkan talenta digital. Kelima, meningkatkan produktivitas dan inovasi melalui digital di sektor publik.

Sektor pariwisata menjadi salah satu perhatian utama dengan mengupayakan pembukaan kembali sektor pariwisata yang aman sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi. Indonesia telah membuka kembali Bali, Batam, dan Bintan sebagai tujuan wisata internasional sejak 14 Oktober. Tentunya dengan penerapan protokol kesehatan (prokes) melalui standar nasional dan sertifikasi kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan lingkungan (CHSE).

Baca Juga :  Presiden Jokowi Apresiasi Penanganan Pandemi di Indonesia Membaik

”Pada isu prioritas sustainable, Indonesia memberikan dukungan dan berkomitmen menerapkan prinsip ekonomi sirkular sebagai bagian dari ekonomi berkelanjutan dan menciptakan peluang pekerjaan hijau. Hal ini sejalan dengan kebijakan nasional dengan berkomitmen mengurangi limbah makanan hingga 50 persen dan limbah tekstil hingga 14 persen,” ulas Airlangga Hartarto.

Isu krusial lain yang dibahas adalah hasil dari MTR Cetak Biru MEA 2025. Terjadi peningkatan nilai perdagangan intra-ASEAN yang relatif moderat selama beberapa tahun terakhir. Karena itu, Airlangga Hartarto mengingatkan perlunya mendorong hasil MTR sebagai katalis efektivitas program-program strategis yang lebih tepat sasaran berdasar parameter terukur dan dapat tercapai. Program blue economy dan green economy perlu menjadi perhatian sebagai mesin pertumbuhan baru dan menjaga ASEAN tetap relevan dengan perkembangan global.

Indonesia yang akan memegang keketuaan ASEAN pada 2023 memegang peranan penting dalam merumuskan arah ASEAN pasca 2025. Ada 5 (lima) isu penting yang perlu menjadi perhatian. Pertama, digitalisasi, teknologi, dan inovasi. Kedua, kesehatan publik. Ketiga, perubahan iklim dan kelangkaan sumber daya. Keempat, perubahan kekuatan ekonomi global. Kelima, pergeseran demografi dan urbanisasi.

”ASEAN Community Post-2025 Vision perlu memperhatikan kondisi yang terjadi saat ini melalui peningkatan kolaborasi penelitian dan pengembangan bidang bioteknologi. Khususnya, mendukung kapasitas produksi vaksin di ASEAN. Pembahasan lebih lanjut terkait penyusunan ASEAN Community Post-2025 Vision perlu melibatkan tiga pilar. Terutama dalam membahas isu-isu lintas sektoral yang sedang berkembang dan kapasitas mekanisme kelembagaan ASEAN,” pungkas Airlangga. (dep7/rep/ltg/fsr/par)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Petugas Klinik Siti Aisyah Tak Ramah

Bank Sehat, Solid, dan Sejahtera

Sekkab: Harus Ada Penggantinya

Artikel Terbaru

/