alexametrics
21.5 C
Madura
Sunday, July 3, 2022

Universitas Muhammadiyah Malang Ngaji Bareng Gus Baha’

MALANG – Tradisi silaturahmi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ke sejumlah tokoh, cendekiawan, negawaran hingga ulama di Indonesia berlanjut. Kali ini (14/7), rombongan Kampus Putih bertandang ke salah satu ulama kharismatik, KH. Ahmad Baha’uddin Nursalim atau akrab disapa Gus Baha’. Dia merupakan pengasuh Pesantren Tahfidzul Quran Pesantren Tahfidzul Qur’an LP3IA, Rembang, Jawa Tengah.

UMM mengirimkan dosen dan karyawan untuk mengikuti pengajian di pesantren yang diasuh Gus Baha’ di Narukan, Kragan, Rembang ini. Kedatangan rombongan Kampus Putih ini selain untuk silaturahmi juga untuk mengadakan pengajian dalam jaringan (daring/online) yang dapat disaksikan di akun resmi YouTube UMM, UMMTube. Beberapa jam siaran pengajian ini diunggah, sudah ditonton puluhan ribu kali. 

Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. memimpin langsung rombongan. Dia menjelaskan, silaturahmi ini merupakan cara kami untuk tholabul ‘ilmi. Biasanya UMM mengundang, tapi juga biasa bersilaturahmi. 

”Alhamdulillah, pagi ini kami bisa bersilaturahmi. Kehadiran kita bersama dalam rangka untuk menambah wawasan keilmuan, khususnya adalah memperbaiki cara beragama. Mudah-mudahan menjadi kaffah,” ungkap Fauzan.  

Pengajian Gus Baha’ selama ini sangat digemari. Karena semua materi disampaikan secara jelas dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh masyarakat umum. Selain itu melalui uraian Gus Baha’, Islam hadir dengan wajah yang sangat menyenangkan. Apalagi ketika menyampaikan materi Gus Baha’ juga banyak humor-humor cerdasnya. Tak heran Gus Baha’ dikagumi oleh banyak masyarakat Islam dari lintas organisasi.

Baca Juga :  Wajib Layani Pasien Miskin Emergency

Kehadiran Gus Baha’ menjawab kebutuhan umat di tengah banyaknya dai atau pendakwah yang kering dalam menyampaikan ajaran Islam.

Rektor Dr. Fauzan, M.Pd. lantas menyebut pentingnya untuk mengkaji Islam dari banyak tokoh. Mengkaji dalam rangka belajar untuk tidak hanya memahami satu sisi dari ajaran agama Islam. Satu versi dari ajaran agama. ”Akan tetapi agama ini diturunkan untuk semua, maka terjadinya perbedaan ijtihad-ijtihad para ulama itu pada dasarnya menjadi rahmat bagi semester alam. Rahmatan lil’alamin,” ungkapnya.

Dalam pengajiannya, Gus Baha’ menyebut belakangan ini banyak dai yang mengklaim, dirinya mengajak ke Allah dan Rasul. Tetapi sesungguhnya hakikatnya mengajak ke kelompoknya sendiri. ”Saya ini termasuk kiai yang masih orisinil. Artinya, suatu saat saya tidak laku lagi sebagai kiai, asal Islam jalan saya senang. Karena nggak penting yang popular saya, itu nggak penting. Yang penting agama Islam jalan,” katanya.

Gus Baha’ dalam inti pengajiannya juga mengajak para jamaah pengajian yang hadir untuk berkaca dari kemahsyuran ulama-ulama Nusantara terdahulu. Banyak fatwa ulama Nusantara yang dipakai oleh kelompok yang justru dianggap berseberangan. Sebutlah Syaikh Khatib Minangkabau, Syaikh Nawawi Banten, atau Syaikh Bagir Nur Jogja. Mereka berhasil menampilkan wajah agama Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Baca Juga :  Mahasiswa UMM Ciptakan Aplikasi VRS Versi Android

Dengan menyitir cerita gurunya KH. Maimun Zubair, yang menafsir Alquran surat al-Anbiya ayat 107: Wama arsalnaka illa rahmatan lil ‘alamin. Yang artinya, ”Dan tiadalah Kami (Allah) mengutus engkau (Muhammad), kecuali untuk menjadi rahmat bagi semesta alam”. Disebutkan, dalam ajaran agama Islam, perbedaan manusia berdasarkan agama, suku, etnis dan ras tidak berlaku bagi risalah kerasulan Nabi

Gus Baha’ meyakini bahwa Allah SWT tidak mungkin menghasilkan ulama hanya orang Arab saja. Allah SWT pasti akan munculkan ulama dari bangsa lainnya, termasuk Indonesia. ”Kenapa? Kata Mbah Mun, karena sebenarnya manusia semua ini kena khitobnya (pengajaran atau dakwah) Islam. Kalau tidak ada ulama yang dari berbagai negara, kesannya agama ini hanya milik orang Arab. Itulah kenapa Allah SWT bikin ulama non-Arab,” jelasnya. 

Menurut Gus Baha’, Allah ingin memaklumatkan bahwa orang yang bukan Arab pun bisa belajar Islam. Bahkan, tingkat kealimannya tidak kalah dengan orang Arab. Hal ini menjadi tugas bersama bagaimana agar orang arab juga bisa belajar Islam di Indonesia. “Bahkan saat ini liga umat Islam dunia juga orang Indonesia masuk di dalamnya. Saya berharap ulama ini bisa lahir dari Malang, terkhusus dari UMM,” katanya. 

MALANG – Tradisi silaturahmi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ke sejumlah tokoh, cendekiawan, negawaran hingga ulama di Indonesia berlanjut. Kali ini (14/7), rombongan Kampus Putih bertandang ke salah satu ulama kharismatik, KH. Ahmad Baha’uddin Nursalim atau akrab disapa Gus Baha’. Dia merupakan pengasuh Pesantren Tahfidzul Quran Pesantren Tahfidzul Qur’an LP3IA, Rembang, Jawa Tengah.

UMM mengirimkan dosen dan karyawan untuk mengikuti pengajian di pesantren yang diasuh Gus Baha’ di Narukan, Kragan, Rembang ini. Kedatangan rombongan Kampus Putih ini selain untuk silaturahmi juga untuk mengadakan pengajian dalam jaringan (daring/online) yang dapat disaksikan di akun resmi YouTube UMM, UMMTube. Beberapa jam siaran pengajian ini diunggah, sudah ditonton puluhan ribu kali. 

Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. memimpin langsung rombongan. Dia menjelaskan, silaturahmi ini merupakan cara kami untuk tholabul ‘ilmi. Biasanya UMM mengundang, tapi juga biasa bersilaturahmi. 


”Alhamdulillah, pagi ini kami bisa bersilaturahmi. Kehadiran kita bersama dalam rangka untuk menambah wawasan keilmuan, khususnya adalah memperbaiki cara beragama. Mudah-mudahan menjadi kaffah,” ungkap Fauzan.  

Pengajian Gus Baha’ selama ini sangat digemari. Karena semua materi disampaikan secara jelas dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh masyarakat umum. Selain itu melalui uraian Gus Baha’, Islam hadir dengan wajah yang sangat menyenangkan. Apalagi ketika menyampaikan materi Gus Baha’ juga banyak humor-humor cerdasnya. Tak heran Gus Baha’ dikagumi oleh banyak masyarakat Islam dari lintas organisasi.

Baca Juga :  Screentel Padi, Inovasi Mesin Ramah Lingkungan dan Dompet Petani

Kehadiran Gus Baha’ menjawab kebutuhan umat di tengah banyaknya dai atau pendakwah yang kering dalam menyampaikan ajaran Islam.

Rektor Dr. Fauzan, M.Pd. lantas menyebut pentingnya untuk mengkaji Islam dari banyak tokoh. Mengkaji dalam rangka belajar untuk tidak hanya memahami satu sisi dari ajaran agama Islam. Satu versi dari ajaran agama. ”Akan tetapi agama ini diturunkan untuk semua, maka terjadinya perbedaan ijtihad-ijtihad para ulama itu pada dasarnya menjadi rahmat bagi semester alam. Rahmatan lil’alamin,” ungkapnya.

Dalam pengajiannya, Gus Baha’ menyebut belakangan ini banyak dai yang mengklaim, dirinya mengajak ke Allah dan Rasul. Tetapi sesungguhnya hakikatnya mengajak ke kelompoknya sendiri. ”Saya ini termasuk kiai yang masih orisinil. Artinya, suatu saat saya tidak laku lagi sebagai kiai, asal Islam jalan saya senang. Karena nggak penting yang popular saya, itu nggak penting. Yang penting agama Islam jalan,” katanya.

Gus Baha’ dalam inti pengajiannya juga mengajak para jamaah pengajian yang hadir untuk berkaca dari kemahsyuran ulama-ulama Nusantara terdahulu. Banyak fatwa ulama Nusantara yang dipakai oleh kelompok yang justru dianggap berseberangan. Sebutlah Syaikh Khatib Minangkabau, Syaikh Nawawi Banten, atau Syaikh Bagir Nur Jogja. Mereka berhasil menampilkan wajah agama Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Baca Juga :  Airlangga: Pemerintah Komitmen Dukung Peningkatan Ekspor Komoditas

Dengan menyitir cerita gurunya KH. Maimun Zubair, yang menafsir Alquran surat al-Anbiya ayat 107: Wama arsalnaka illa rahmatan lil ‘alamin. Yang artinya, ”Dan tiadalah Kami (Allah) mengutus engkau (Muhammad), kecuali untuk menjadi rahmat bagi semesta alam”. Disebutkan, dalam ajaran agama Islam, perbedaan manusia berdasarkan agama, suku, etnis dan ras tidak berlaku bagi risalah kerasulan Nabi

Gus Baha’ meyakini bahwa Allah SWT tidak mungkin menghasilkan ulama hanya orang Arab saja. Allah SWT pasti akan munculkan ulama dari bangsa lainnya, termasuk Indonesia. ”Kenapa? Kata Mbah Mun, karena sebenarnya manusia semua ini kena khitobnya (pengajaran atau dakwah) Islam. Kalau tidak ada ulama yang dari berbagai negara, kesannya agama ini hanya milik orang Arab. Itulah kenapa Allah SWT bikin ulama non-Arab,” jelasnya. 

Menurut Gus Baha’, Allah ingin memaklumatkan bahwa orang yang bukan Arab pun bisa belajar Islam. Bahkan, tingkat kealimannya tidak kalah dengan orang Arab. Hal ini menjadi tugas bersama bagaimana agar orang arab juga bisa belajar Islam di Indonesia. “Bahkan saat ini liga umat Islam dunia juga orang Indonesia masuk di dalamnya. Saya berharap ulama ini bisa lahir dari Malang, terkhusus dari UMM,” katanya. 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/