alexametrics
21 C
Madura
Saturday, July 2, 2022

Proyeksi Ekonomi Indonesia Sesuai Ekspektasi Pemulihan Ekonomi Global

JAKARTA — Semua negara berupaya untuk bangkit dari pandemi Covid-19 dan melakukan pemulihan ekonomi, termasuk Indonesia. Diperlukan kebijakan yang saling melengkapi, baik dari sisi kesehatan maupun ekonomi, sehingga kedua sisi tersebut bisa pulih bersamaan.

Pada triwulan II 2021, perekonomian Indonesia tumbuh sebesar 7,07 persen (yoy). Pertumbuhan itu tertinggi sejak krisis subprime mortgage atau terbaik dalam 16 tahun terakhir. Pertumbuhan ekonomi Indonesia juga lebih tinggi dibanding beberapa negara lainnya. Misalnya seperti Vietnam (6,6 persen), Korea Selatan (5,9 persen), dan Arab Saudi (1,5 persen).

”Pada semester I 2021, berbagai indikator utama terus menunjukkan perbaikan. Dampak pengetatan pembatasan mobilitas di Juli—Agustus 2021 diperkirakan hanya bersifat sementara. Aktivitas manufaktur dan permintaan terhadap pembiayaan KUR mulai meningkat di Agustus 2021,” ucap Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam webinar UOB Economic Outlook 2022 bertajuk ”Empowering the Indoneekspansifsian Economy for Stronger Recovery”, di Jakarta, Rabu (15/9).

Menurut dia, ekspor menunjukkan peningkatan. Karena itu, neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus selama 15 bulan berturut-turut. Cadangan devisa relatif tingggi mencapai US$ 144,8 miliar. Kondisi tersebut menunjukkan terjaganya ketahanan sektor eksternal.

”Pemerintah telah menyiapkan strategi untuk mendorong pemulihan ekonomi di sisa tahun ini. Harapannya, perekonomian dapat kembali tumbuh ekspansif pada Triwulan IV 2021,” imbuhnya.

Dijelaskan, perekonomian Indonesia diproyeksikan dapat tumbuh di kisaran 3,7 persen sampai 4,5 persen di akhir 2021 dan 5,2 persen tahun 2022. ”Pertumbuhan ekonomi Indonesia ini sejalan dengan ekspektasi pemulihan ekonomi global,” imbuhnya.

Baca Juga :  Pembangunan Smelter di Dalam Negeri untuk Perkuat Hilirisasi Industri

Dijelaskan, pencapaian target pertumbuhan ekonomi akan bergantung pada peran serta masyarakat dalam meningkatkan efektivitas pengendalian pandemi Covid-19. ”Pemerintah terus memperkuat pengendalian pandemi dari hulu hingga hilir. Tujuannya, memastikan pencegahan dan penanganan yang lebih efektif,” tuturnya.

Ditambahkan, program pemulihan ekonomi nasional (PEN) juga terus ditingkatkan untuk mendukung penanganan Covid-19. Komitmen pemerintah ditunjukkan melalui refocusing APBN dalam mendorong peningkatan anggaran PEN 2021 menjadi sebesar Rp 744,77 triliun.

”Refocusing ini akan mendukung optimalisasi pelaksanaan PPKM melalui peningkatan anggaran untuk berbagai perlindungan sosial. Seperti, percepatan pencairan bantuan sosial tunai, peningkatan jumlah penerima manfaat kartu sembako, melanjutkan program diskon listrik, serta meningkatkan anggaran kartu prakerja dan bantuan subsidi upah,” terang Airlangga.

Airlangga menyatakan, keberlangsungan sektor usaha juga tetap menjadi fokus utama pemerintah. Serangkaian insentif fiskal telah diberikan untuk mendongkrak kinerja sektor usaha. Per 20 Agustus 2021, program penempatan dana pemerintah di perbankan telah mendorong total penyaluran kredit sebesar Rp 419,78 triliun yang berasal dari Bank Himbara, Bank Syariah, dan BPD.

Khusus untuk UMKM, sambung Airlangga, telah disalurkan kredit sebesar Rp 241,48 triliun atau 57,53 persen dari total penyaluran kredit. Khusus untuk pelaku UMKM, dukungan terus diberikan melalui tambahan BPUM dan bantuan PKL. Termasuk, perluasan program penjaminan kredit, tambahan subsidi bunga baik KUR dan non-KUR, serta penambahan plafon KUR 2021 menjadi Rp 285 triliun.

Baca Juga :  Optimalisasi Pemanfaatan Anggaran untuk Dorong Akselerasi PEN

”Pemerintah juga meluncurkan program bantuan tunai pedagang kaki Lima dan warung (BT-PKLW). Program ini menyasar pelaku UMKM informal yang selama ini belum tersentuh bantuan,” ungkap Airlangga.

Airlangga dalam menjaga daya beli juga diberikan melalui program kartu prakerja. Program ini telah diberikan kepada 2,7 juta penerima efektif dengan total insentif sebesar Rp 6,47 triliun sepanjang semester I 2021 di 514 kabupaten/kota.

”Mengingat potensi dampak Covid-19 yang dapat berlanjut hingga 2022, pemerintah berkomitmen melanjutkan program PEN. Alokasi anggaran PEN pada 2022 sebesar Rp 321,2 triliun. Alokasi ini berpotensi meningkat mengikuti dinamika penanganan pandemi Covid-19,” kata Airlangga.

Diterangkan, untuk menutup kesenjangan pembiayaan infrastruktur dan mendukung percepatan investasi, pemerintah telah membentuk Lembaga Pengelola Investasi (LPI). LPI berperan mengembangkan peluang investasi di berbagai sektor utama, sehingga dapat mendukung pembangunan berkelanjutan.

”Investasi yang dikelola LPI diharapkan dapat meningkatkan produktivitas, mendukung penciptaan lapangan kerja, dan mendorong transisi menuju ekonomi baru. Pemerintah juga akan segera mengalokasikan modal tambahan sebesar Rp 60 triliun di 2021 untuk mendukung optimalisasi LPI bagi perekonomian,” pungkas Airlangga.

Selain Presiden RI Joko Widodo (Jokowi), webinar UOB Economic Outlook 2022 juga dihadiri Duta Besar Indonesia untuk Singapura Suryopratomo, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi, serta Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki. Termasuk Deputy Chairman and Chief Executive Officer UOB Group Wee Ee Chong serta Presiden Direktur PT UOB Indonesia Hendra Gunawan. (rep/fsr/par)

JAKARTA — Semua negara berupaya untuk bangkit dari pandemi Covid-19 dan melakukan pemulihan ekonomi, termasuk Indonesia. Diperlukan kebijakan yang saling melengkapi, baik dari sisi kesehatan maupun ekonomi, sehingga kedua sisi tersebut bisa pulih bersamaan.

Pada triwulan II 2021, perekonomian Indonesia tumbuh sebesar 7,07 persen (yoy). Pertumbuhan itu tertinggi sejak krisis subprime mortgage atau terbaik dalam 16 tahun terakhir. Pertumbuhan ekonomi Indonesia juga lebih tinggi dibanding beberapa negara lainnya. Misalnya seperti Vietnam (6,6 persen), Korea Selatan (5,9 persen), dan Arab Saudi (1,5 persen).

”Pada semester I 2021, berbagai indikator utama terus menunjukkan perbaikan. Dampak pengetatan pembatasan mobilitas di Juli—Agustus 2021 diperkirakan hanya bersifat sementara. Aktivitas manufaktur dan permintaan terhadap pembiayaan KUR mulai meningkat di Agustus 2021,” ucap Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam webinar UOB Economic Outlook 2022 bertajuk ”Empowering the Indoneekspansifsian Economy for Stronger Recovery”, di Jakarta, Rabu (15/9).


Menurut dia, ekspor menunjukkan peningkatan. Karena itu, neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus selama 15 bulan berturut-turut. Cadangan devisa relatif tingggi mencapai US$ 144,8 miliar. Kondisi tersebut menunjukkan terjaganya ketahanan sektor eksternal.

”Pemerintah telah menyiapkan strategi untuk mendorong pemulihan ekonomi di sisa tahun ini. Harapannya, perekonomian dapat kembali tumbuh ekspansif pada Triwulan IV 2021,” imbuhnya.

Dijelaskan, perekonomian Indonesia diproyeksikan dapat tumbuh di kisaran 3,7 persen sampai 4,5 persen di akhir 2021 dan 5,2 persen tahun 2022. ”Pertumbuhan ekonomi Indonesia ini sejalan dengan ekspektasi pemulihan ekonomi global,” imbuhnya.

Baca Juga :  Kartu Prakerja Jadi Best Practice dan Pilot Project Program Nasional

Dijelaskan, pencapaian target pertumbuhan ekonomi akan bergantung pada peran serta masyarakat dalam meningkatkan efektivitas pengendalian pandemi Covid-19. ”Pemerintah terus memperkuat pengendalian pandemi dari hulu hingga hilir. Tujuannya, memastikan pencegahan dan penanganan yang lebih efektif,” tuturnya.

Ditambahkan, program pemulihan ekonomi nasional (PEN) juga terus ditingkatkan untuk mendukung penanganan Covid-19. Komitmen pemerintah ditunjukkan melalui refocusing APBN dalam mendorong peningkatan anggaran PEN 2021 menjadi sebesar Rp 744,77 triliun.

”Refocusing ini akan mendukung optimalisasi pelaksanaan PPKM melalui peningkatan anggaran untuk berbagai perlindungan sosial. Seperti, percepatan pencairan bantuan sosial tunai, peningkatan jumlah penerima manfaat kartu sembako, melanjutkan program diskon listrik, serta meningkatkan anggaran kartu prakerja dan bantuan subsidi upah,” terang Airlangga.

Airlangga menyatakan, keberlangsungan sektor usaha juga tetap menjadi fokus utama pemerintah. Serangkaian insentif fiskal telah diberikan untuk mendongkrak kinerja sektor usaha. Per 20 Agustus 2021, program penempatan dana pemerintah di perbankan telah mendorong total penyaluran kredit sebesar Rp 419,78 triliun yang berasal dari Bank Himbara, Bank Syariah, dan BPD.

Khusus untuk UMKM, sambung Airlangga, telah disalurkan kredit sebesar Rp 241,48 triliun atau 57,53 persen dari total penyaluran kredit. Khusus untuk pelaku UMKM, dukungan terus diberikan melalui tambahan BPUM dan bantuan PKL. Termasuk, perluasan program penjaminan kredit, tambahan subsidi bunga baik KUR dan non-KUR, serta penambahan plafon KUR 2021 menjadi Rp 285 triliun.

Baca Juga :  Optimalisasi Pemanfaatan Anggaran untuk Dorong Akselerasi PEN

”Pemerintah juga meluncurkan program bantuan tunai pedagang kaki Lima dan warung (BT-PKLW). Program ini menyasar pelaku UMKM informal yang selama ini belum tersentuh bantuan,” ungkap Airlangga.

Airlangga dalam menjaga daya beli juga diberikan melalui program kartu prakerja. Program ini telah diberikan kepada 2,7 juta penerima efektif dengan total insentif sebesar Rp 6,47 triliun sepanjang semester I 2021 di 514 kabupaten/kota.

”Mengingat potensi dampak Covid-19 yang dapat berlanjut hingga 2022, pemerintah berkomitmen melanjutkan program PEN. Alokasi anggaran PEN pada 2022 sebesar Rp 321,2 triliun. Alokasi ini berpotensi meningkat mengikuti dinamika penanganan pandemi Covid-19,” kata Airlangga.

Diterangkan, untuk menutup kesenjangan pembiayaan infrastruktur dan mendukung percepatan investasi, pemerintah telah membentuk Lembaga Pengelola Investasi (LPI). LPI berperan mengembangkan peluang investasi di berbagai sektor utama, sehingga dapat mendukung pembangunan berkelanjutan.

”Investasi yang dikelola LPI diharapkan dapat meningkatkan produktivitas, mendukung penciptaan lapangan kerja, dan mendorong transisi menuju ekonomi baru. Pemerintah juga akan segera mengalokasikan modal tambahan sebesar Rp 60 triliun di 2021 untuk mendukung optimalisasi LPI bagi perekonomian,” pungkas Airlangga.

Selain Presiden RI Joko Widodo (Jokowi), webinar UOB Economic Outlook 2022 juga dihadiri Duta Besar Indonesia untuk Singapura Suryopratomo, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi, serta Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki. Termasuk Deputy Chairman and Chief Executive Officer UOB Group Wee Ee Chong serta Presiden Direktur PT UOB Indonesia Hendra Gunawan. (rep/fsr/par)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/