alexametrics
24 C
Madura
Monday, May 23, 2022

Kenalkan Membaca sejak Dini

DINAS Kearsipan dan Perpustakaan (Disarpus) Sampang memiliki cara tersendiri untuk menarik masyarakat berkunjung ke perpustakaan. Di antaranya mengajak siswa TK berkunjung agar mereka gemar membaca sejak dini.

Kabid Perpustakaan Disarpus Sampang M. Bahri mengatakan, setiap hari siswa TK dan KB berkunjung ke perpustakaan. Kedatangan mereka ke perpustakaan sesuai jadwal yang ditentukan. Namun, sementara pihaknya hanya menampung TK di daerah perkotaan dan pinggiran kota seperti Kecamatan Jrengik, Torjun, dan Pangarengan.

”Seperti beberapa waktu lalu ada dari Kecamatan Ketapang. Sebenarnya banyak TK yang mau tapi jarak tempuhnya jauh, kasihan. Sebab, mungkin Rumah Pintar (Rumpin) yang terealisasi maksimal hanya disini (Sampang, Red),” katanya.

Siswa yang berkunjung dikenalkan dengan beberapa fasilitas disarpus. Di antaranya, perpustakaan, rumpin, dan wisata arsip masyarakat (wamas). Di samping itu, untuk menarik pengunjung, pihaknya merangsang masyarakat dengan perpustakaan keliling (perpusling). Perpusling tersebut menyebar ke beberapa sekolah sambil lalu menyosialisasikan fasilitas di perpustakaan.

Selama ini yang berkunjung lebih didominasi kalangan pelajar mulai tingkat SD hingga SMA. Meski demikian, kalangan mahasiswa dan masyarakat umum juga berkunjung ke perpustakaan. Dalam sehari, pihaknya mencatat minimal 60 pengunjung. Jumlah tersebut tidak termasuk kunjungan rutin TK atau PAUD. Jika hari libur, jumlah pengunjung bisa lebih dari 100 orang.

Baca Juga :  Bupati Wacanakan Penghargaan Khusus

”Pengunjung rata-rata siswa tingkat SD hingga SMA. Ada juga mahasiswa, utamanya yang memasuki masa akhir kuliah. Biasanya setelah jam sekolah ada pelajar yang mampir ke sini (perpustakaan),” tuturnya.

Koleksi buku yang ada di perpustakaan sesuai kebutuhan pengunjung. Pasalnya, dalam pengadaan buku pihaknya bekerja sama dengan perguruan tinggi dan sekolah. Selain itu menerima usulan dari pengunjung melalui kotak saran.

”Tahun ini sudah. Sesuai dengan pagu anggaran yang disiapkan, pengadaan buku baru 1.750 eksemplar,” ungkapnya. Koleksi yang tersedia di perpustakaan 38.568 eksemplar.

Pemkab Sumenep juga masih harus melakukan upaya untuk meningkatkan minat baca. Dalam beberapa bulan terakhir pengunjung perpusatakaan daerah (perpusda) hanya didominasi anak-anak.

Kabid Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sumenep Heni Yulianto tidak memungkiri minat baca kaum dewasa lebih rendah dari anak-anak. Hal itu terlihat dari data pengunjung perpusda dalam enam bulan terakhir (lihat grafis).

Ketersediaan di lembaganya 35.004 eksemplar. Buku yang disediakan di perpusda 1.200 eksemplar. Sedangkan buku yang dipinjamkan kepada beberapa lembaga pendidikan 11.423 eksemplar.

Pihaknya berusaha mendorong meningkatkan minat baca masyarakat. Salah satunya dengan perpustakaan keliling (perpusling) yang setiap hari beroperasi. ”Kami juga buka setiap Minggu di Taman Bunga,” ujarnya.

Baca Juga :  Realisasi Bantuan Pemerintah di Tengah Pandemi Covid-19

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sumenep juga menggandeng lembaga pendidikan untuk meminjamkan buku agar siswa memiliki gairah membaca. Sebab, dia menilai, ketersediaan buku di perpustakaan sekolah banyak keluaran lama. ”Kalau seperti itu siswa kan bisa bosan,” imbuhnya.

Pihaknya akan terus melakukan inovasi agar budaya literasi di Sumenep terus meningkat. Lembaganya merencanakan mengoperasikan kendaraan roda tiga yang akan didesain seperti mobil perspusling. Dengan demikian, bisa menjangkau semua daerah, termasuk di daerah pelosok. ”Bahkan, kita rencanakan untuk daerah kepulauan nanti,” tuturnya.

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sumenep menyediakan rumah dongeng untuk anak-anak di bawah umur. Tujuannya, memupuk minat baca sejak dini. ”Kita sudah bekerja sama dengan komunitas pendongeng. Mereka tidak dibayar, tetapi tahun depan sudah kami anggarkan,” imbuhnya.

Heni mengakui ketersediaan buku masih jauh dari cukup. Utamanya buku yang biasa dipinjamkan kepada lembaga pendidikan. Sebab, buku yang dipinjamkan ke lembaga pendidikan harus bergantian. ”Setelah dipinjamkan dari satu sekolah, dipinjamkan ke sekolah yang lain,” terangnya.

Tahun lalu Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sumenep kecipratan Rp 68,2 juta untuk pengadaan buku. Sedangkan tahun ini mendapat kucuran dana Rp 316.100.000. ”Alhamdulillah setiap tahun terus meningkat (anggarannya),” pungkasnya. (bil/jup)

DINAS Kearsipan dan Perpustakaan (Disarpus) Sampang memiliki cara tersendiri untuk menarik masyarakat berkunjung ke perpustakaan. Di antaranya mengajak siswa TK berkunjung agar mereka gemar membaca sejak dini.

Kabid Perpustakaan Disarpus Sampang M. Bahri mengatakan, setiap hari siswa TK dan KB berkunjung ke perpustakaan. Kedatangan mereka ke perpustakaan sesuai jadwal yang ditentukan. Namun, sementara pihaknya hanya menampung TK di daerah perkotaan dan pinggiran kota seperti Kecamatan Jrengik, Torjun, dan Pangarengan.

”Seperti beberapa waktu lalu ada dari Kecamatan Ketapang. Sebenarnya banyak TK yang mau tapi jarak tempuhnya jauh, kasihan. Sebab, mungkin Rumah Pintar (Rumpin) yang terealisasi maksimal hanya disini (Sampang, Red),” katanya.


Siswa yang berkunjung dikenalkan dengan beberapa fasilitas disarpus. Di antaranya, perpustakaan, rumpin, dan wisata arsip masyarakat (wamas). Di samping itu, untuk menarik pengunjung, pihaknya merangsang masyarakat dengan perpustakaan keliling (perpusling). Perpusling tersebut menyebar ke beberapa sekolah sambil lalu menyosialisasikan fasilitas di perpustakaan.

Selama ini yang berkunjung lebih didominasi kalangan pelajar mulai tingkat SD hingga SMA. Meski demikian, kalangan mahasiswa dan masyarakat umum juga berkunjung ke perpustakaan. Dalam sehari, pihaknya mencatat minimal 60 pengunjung. Jumlah tersebut tidak termasuk kunjungan rutin TK atau PAUD. Jika hari libur, jumlah pengunjung bisa lebih dari 100 orang.

Baca Juga :  Bupati Wacanakan Penghargaan Khusus

”Pengunjung rata-rata siswa tingkat SD hingga SMA. Ada juga mahasiswa, utamanya yang memasuki masa akhir kuliah. Biasanya setelah jam sekolah ada pelajar yang mampir ke sini (perpustakaan),” tuturnya.

Koleksi buku yang ada di perpustakaan sesuai kebutuhan pengunjung. Pasalnya, dalam pengadaan buku pihaknya bekerja sama dengan perguruan tinggi dan sekolah. Selain itu menerima usulan dari pengunjung melalui kotak saran.

”Tahun ini sudah. Sesuai dengan pagu anggaran yang disiapkan, pengadaan buku baru 1.750 eksemplar,” ungkapnya. Koleksi yang tersedia di perpustakaan 38.568 eksemplar.

Pemkab Sumenep juga masih harus melakukan upaya untuk meningkatkan minat baca. Dalam beberapa bulan terakhir pengunjung perpusatakaan daerah (perpusda) hanya didominasi anak-anak.

Kabid Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sumenep Heni Yulianto tidak memungkiri minat baca kaum dewasa lebih rendah dari anak-anak. Hal itu terlihat dari data pengunjung perpusda dalam enam bulan terakhir (lihat grafis).

Ketersediaan di lembaganya 35.004 eksemplar. Buku yang disediakan di perpusda 1.200 eksemplar. Sedangkan buku yang dipinjamkan kepada beberapa lembaga pendidikan 11.423 eksemplar.

Pihaknya berusaha mendorong meningkatkan minat baca masyarakat. Salah satunya dengan perpustakaan keliling (perpusling) yang setiap hari beroperasi. ”Kami juga buka setiap Minggu di Taman Bunga,” ujarnya.

Baca Juga :  Ke Perpus Cuma Cari Wifi Gratis

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sumenep juga menggandeng lembaga pendidikan untuk meminjamkan buku agar siswa memiliki gairah membaca. Sebab, dia menilai, ketersediaan buku di perpustakaan sekolah banyak keluaran lama. ”Kalau seperti itu siswa kan bisa bosan,” imbuhnya.

Pihaknya akan terus melakukan inovasi agar budaya literasi di Sumenep terus meningkat. Lembaganya merencanakan mengoperasikan kendaraan roda tiga yang akan didesain seperti mobil perspusling. Dengan demikian, bisa menjangkau semua daerah, termasuk di daerah pelosok. ”Bahkan, kita rencanakan untuk daerah kepulauan nanti,” tuturnya.

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sumenep menyediakan rumah dongeng untuk anak-anak di bawah umur. Tujuannya, memupuk minat baca sejak dini. ”Kita sudah bekerja sama dengan komunitas pendongeng. Mereka tidak dibayar, tetapi tahun depan sudah kami anggarkan,” imbuhnya.

Heni mengakui ketersediaan buku masih jauh dari cukup. Utamanya buku yang biasa dipinjamkan kepada lembaga pendidikan. Sebab, buku yang dipinjamkan ke lembaga pendidikan harus bergantian. ”Setelah dipinjamkan dari satu sekolah, dipinjamkan ke sekolah yang lain,” terangnya.

Tahun lalu Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sumenep kecipratan Rp 68,2 juta untuk pengadaan buku. Sedangkan tahun ini mendapat kucuran dana Rp 316.100.000. ”Alhamdulillah setiap tahun terus meningkat (anggarannya),” pungkasnya. (bil/jup)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Lewat Deadline, Rekanan Kena Sanksi Denda

Minta Polisi Tangkap Buron Curwan

Kemenag Lebih Berani

Artikel Terbaru

/