alexametrics
21.4 C
Madura
Thursday, May 19, 2022

Keluh Kesah Petani Garam pada Musim Kemarau Tahun Ini

Petani garam mulai harap-harap cemas. Sebab, meski cuaca bagus belum ada jaminan seluruh hasil produksi tahun ini bisa terserap. Berkaca pada tahun lalu, ribuan ton garam rakyat tak terbeli oleh perusahaan.

 

SEORANG petani garam di Kelurahan Polagan, Kecamatan Sampang, Rudi mengaku cuaca saat ini sangat mendukung. Dia memprediksi produksi garam tahun ini kembali melimpah. Tetapi dia justru khawatir garam yang diproduksi petani akan dibeli dengan murah atau bahkan banyak yang tidak terbeli.

”Ini cuacanya mendukung, tapi harganya kurang berpihak,” kata Rudi kemarin (12/7).  Saat ini harga garam di tingkat petani bervariasi. Rata-rata per kilogram dibanderol sekitar Rp 400 atau bahkan di bawah angka tersebut.

Hal ini menurut Rudi mencemaskan para petani garam di Sampang. ”Ini baru sebagian yang panen. Jika sudah panen serentak bisa-bisa harganya lebih murah lagi,” tambahnya.

Kepala Bidang Penyerapan PT Garam (Persero) Moh. Hatip mengaku belum bisa menentukan berapa banyak pembelian garam tahun ini. Sebab, stok garam melimpah. Bahkan garam produksi tahun lalu juga belum terjual.

Tahun lalu PT Garam menargetkan pembelian sekitar 16 ribu ton di Sampang. Tapi pihaknya merealisasikan sekitar 21 ribu ton. Dengan kata lain realisasi penyerapan garam pada 2018 mencapai 124 persen. ”Sudah over, sudah melebihi,” katanya.

Baca Juga :  Dewan: Stok Alkes Aman sampai 4 Bulan

Garam-garam tersebut sampai sekarang juga belum terjual ke perusahaan garam swasta. PT Garam sengaja mendiamkan di gudang karena belum ketemu harga yang pas. Jika dikeluarkan dengan harga murah, PT Garam juga tidak mau mengambil risiko kerugian. ”Itu ranahnya pemasaran,” tegasnya.

Meski demikian pihaknya mengaku tetap akan melakukan penyerapan garam rakyat. Hanya, kuotanya belum bisa dipastikan. Saat ini ada dua gudang yang akan digunakan untuk menampung serapan garam rakyat.

Harga yang dipatok Rp 700 per kilogram untuk garam rakyat kualitas satu (kw-1). Saat ini PT Garam hanya membeli garam kw-1. Untuk kw-2 dan kw-3 belum ada rencana pembelian. ”Kami memaksimalkan gudang yang ada. Yang disepakati penyerapan adalah kw-1,” tukasnya.

Sementara itu, ratusan warga Desa Pandan, Kecamatan Galis, Pamekasan, mengeluhkan mengenai sewa lahan. Mereka memblokade akses masuk kantor Pegaraman II Pamekasan menggunakan puluhan karung garam kemarin (12/7). Warga berjalan di pintu masuk itu agar tidak ada aktivitas keluar masuk kendaraan berat.

Baca Juga :  Upaya Mendongkrak Stabilitas Harga Garam di Madura

Sebelum menutup jalan, warga mendatangi Kantor Pegaraman II Pamekasan. Sejumlah keluhan disampaikan. Di antaranya, sewa-menyewa lahan dinilai tidak berpihak pada masyarakat setempat. Justru, orang luar yang tidak layak mengelola tambak menjadi penyewa.

Catatan warga, ada lima orang yang mengendalikan sewa-menyewa tambak itu. Kelimanya bukan warga setempat. Bahkan, satu orang menguasai puluhan petak tambak garam hasil sewa kepada BUMN itu.

Sementara, warga sekitar ada sebagian yang kebagian menyewa. Uang sewa Rp 6 juta diminta tetapi lahan belum digarap. ”Lebih banyak orang luar yang menyewa lahan ketimbang warga Desa Pandan,” kata Syafii, 34, selaku perwakilan.

Kepala Divisi Keamanan PT Garam (Persero) Sentot Wahyu Hidayat mengatakan, selain soal sewa lahan, warga menuntut stop impor garam. Menurut dia, impor garam bukan kewenangan PT Garam. Sebab, kewenangan tersebut berada di pemerintah.

Mengenai sewa-menyewa lahan, akan disampaikan kepada divisi yang menangani. Sementara untuk blokade jalan, Sentot memastikan akan menempuh jalur hukum. Sebab, tindakan warga itu merugikan perusahaan milik negara. ”Mengganggu aktivitas perusahaan negara,” tandasnya.

- Advertisement -

Petani garam mulai harap-harap cemas. Sebab, meski cuaca bagus belum ada jaminan seluruh hasil produksi tahun ini bisa terserap. Berkaca pada tahun lalu, ribuan ton garam rakyat tak terbeli oleh perusahaan.

 

SEORANG petani garam di Kelurahan Polagan, Kecamatan Sampang, Rudi mengaku cuaca saat ini sangat mendukung. Dia memprediksi produksi garam tahun ini kembali melimpah. Tetapi dia justru khawatir garam yang diproduksi petani akan dibeli dengan murah atau bahkan banyak yang tidak terbeli.


”Ini cuacanya mendukung, tapi harganya kurang berpihak,” kata Rudi kemarin (12/7).  Saat ini harga garam di tingkat petani bervariasi. Rata-rata per kilogram dibanderol sekitar Rp 400 atau bahkan di bawah angka tersebut.

Hal ini menurut Rudi mencemaskan para petani garam di Sampang. ”Ini baru sebagian yang panen. Jika sudah panen serentak bisa-bisa harganya lebih murah lagi,” tambahnya.

Kepala Bidang Penyerapan PT Garam (Persero) Moh. Hatip mengaku belum bisa menentukan berapa banyak pembelian garam tahun ini. Sebab, stok garam melimpah. Bahkan garam produksi tahun lalu juga belum terjual.

Tahun lalu PT Garam menargetkan pembelian sekitar 16 ribu ton di Sampang. Tapi pihaknya merealisasikan sekitar 21 ribu ton. Dengan kata lain realisasi penyerapan garam pada 2018 mencapai 124 persen. ”Sudah over, sudah melebihi,” katanya.

Baca Juga :  Standar Penyerapan Terlalu Tinggi

Garam-garam tersebut sampai sekarang juga belum terjual ke perusahaan garam swasta. PT Garam sengaja mendiamkan di gudang karena belum ketemu harga yang pas. Jika dikeluarkan dengan harga murah, PT Garam juga tidak mau mengambil risiko kerugian. ”Itu ranahnya pemasaran,” tegasnya.

Meski demikian pihaknya mengaku tetap akan melakukan penyerapan garam rakyat. Hanya, kuotanya belum bisa dipastikan. Saat ini ada dua gudang yang akan digunakan untuk menampung serapan garam rakyat.

Harga yang dipatok Rp 700 per kilogram untuk garam rakyat kualitas satu (kw-1). Saat ini PT Garam hanya membeli garam kw-1. Untuk kw-2 dan kw-3 belum ada rencana pembelian. ”Kami memaksimalkan gudang yang ada. Yang disepakati penyerapan adalah kw-1,” tukasnya.

Sementara itu, ratusan warga Desa Pandan, Kecamatan Galis, Pamekasan, mengeluhkan mengenai sewa lahan. Mereka memblokade akses masuk kantor Pegaraman II Pamekasan menggunakan puluhan karung garam kemarin (12/7). Warga berjalan di pintu masuk itu agar tidak ada aktivitas keluar masuk kendaraan berat.

Baca Juga :  Dewan: Stok Alkes Aman sampai 4 Bulan

Sebelum menutup jalan, warga mendatangi Kantor Pegaraman II Pamekasan. Sejumlah keluhan disampaikan. Di antaranya, sewa-menyewa lahan dinilai tidak berpihak pada masyarakat setempat. Justru, orang luar yang tidak layak mengelola tambak menjadi penyewa.

Catatan warga, ada lima orang yang mengendalikan sewa-menyewa tambak itu. Kelimanya bukan warga setempat. Bahkan, satu orang menguasai puluhan petak tambak garam hasil sewa kepada BUMN itu.

Sementara, warga sekitar ada sebagian yang kebagian menyewa. Uang sewa Rp 6 juta diminta tetapi lahan belum digarap. ”Lebih banyak orang luar yang menyewa lahan ketimbang warga Desa Pandan,” kata Syafii, 34, selaku perwakilan.

Kepala Divisi Keamanan PT Garam (Persero) Sentot Wahyu Hidayat mengatakan, selain soal sewa lahan, warga menuntut stop impor garam. Menurut dia, impor garam bukan kewenangan PT Garam. Sebab, kewenangan tersebut berada di pemerintah.

Mengenai sewa-menyewa lahan, akan disampaikan kepada divisi yang menangani. Sementara untuk blokade jalan, Sentot memastikan akan menempuh jalur hukum. Sebab, tindakan warga itu merugikan perusahaan milik negara. ”Mengganggu aktivitas perusahaan negara,” tandasnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/