alexametrics
20.6 C
Madura
Wednesday, May 18, 2022

BPS: Pertumbuhan Ekonomi Tujuh Persen Sesuai Prediksi

JAKARTA – Dibandingkan triwulan II-2020, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Indonesia berhasil tumbuh positif mencapai 7,07 persen (yoy) pada triwulan II-2021. Pertumbuhan perekonomian ini sesuai prediksi pemerintah sejak awal triwulan II-2021.

”Kalau dibandingkan dengan triwulan II-2020 atau secara year on year (yoy), maka ekonomi Indonesia tumbuh 7,07 persen,” kata Kepala BPS Margo Yuwono saat konferensi pers di Jakarta.

Margo menilai pertumbuhan perekonomian tersebut dilatarbelakangi upaya pemerintah menjalankan program vaksinasi. Hal itu mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat untuk melakukan mobilitas.

Selain itu, pertumbuhan perekonomian juga dipengaruhi perbaikan ekonomi global. Terutama beberapa negara yang menjadi mitra dagang Indonesia. Misalnya, pertumbuhan ekonomi Cina mencapai 7,9 persen, Singapura 14,3 persen, Korea Selatan 5,9 persen, dan Vietnam 6,6 persen.

”Pulihnya ekonomi negara yang menjadi mitra dagang Indonesia itu, mendorong peningkatan permintaan luar negeri. Dampaknya, ekspor kita semakin meningkat,” ujarnya.

Baca Juga :  Surplus Neraca Perdagangan Tunjukkan Keberlanjutan Pemulihan Ekonomi

Sebelumnya, BPS mencatat terjadi kontraksi dalam perekonomian Indonesia pada triwulan I-2021 yaitu minus 0,74 persen. Sehingga, secara kuartal (qtq), perekonomian naik sebesar 3,31 persen pada triwulan II-2021.

Pencatatan di zona positif ini merupakan yang pertama kalinya sejak ekonomi Indonesia terkontraksi pada triwulan II-2020, yakni hingga mencapai 5,32 persen. Ekonomi mulai terkontraksi akibat berbagai kebijakan pemerintah di awal pandemi Covid-19. Salah satunya pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Meski masih tumbuh pada zona negatif, terdapat tren pembalikan pada berbagai indikator ekonomi Indonesia pada kuartal selanjutnya. Sebab, kinerja ekonomi terus memperlihatkan adanya kenaikan.

Tren kenaikan ini terlihat dari ekonomi triwulan III-2020 hingga triwulan I-2021 yang tercatat masing-masing minus 3,49 persen, minus 2,19 persen, dan minus 0,74 persen. Pertumbuhan perekonomian nasional ini juga sudah diprediksi Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sejak Mei lalu.

Baca Juga :  Kartu Prakerja Jadi Best Practice dan Pilot Project Program Nasional

Saat itu, Airlangga optimistis pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal II-2021 mencapai tujuh persen. Alasannya, mempertimbangkan realisasi penanaman modal asing (PMA) hingga indeks keyakinan konsumen (IKK) yang terus membaik.

”Pertumbuhan ekonomi kuartal kedua akan bergerak positif, diperkirakan mencapai tujuh persen,” kata Airlangga saat memberikan keterangan pada Sabtu lalu (15/5).

Airlangga mencatat realisasi PMA mencapai 54,6 persen dan IKK per Maret 2021 untuk kelompok masyarakat pengeluaran di bawah Rp 5 juta mencapai 90,1 atau mendekati zona normal 100. Perkembangan ekspor dan impor juga sudah kembali normal.

Pria yang juga menjabat Ketua Umum DPP Partai Golkar tersebut mengungkapkan, kenaikan harga komoditas seperti sawit, karet, nikel, tembaga, dan batubara telah mendorong pemulihan ekonomi. Hal itu tercermin dari perbaikan kondisi perekonomian daerah sepanjang kuartal I-2021. (*/par)

JAKARTA – Dibandingkan triwulan II-2020, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Indonesia berhasil tumbuh positif mencapai 7,07 persen (yoy) pada triwulan II-2021. Pertumbuhan perekonomian ini sesuai prediksi pemerintah sejak awal triwulan II-2021.

”Kalau dibandingkan dengan triwulan II-2020 atau secara year on year (yoy), maka ekonomi Indonesia tumbuh 7,07 persen,” kata Kepala BPS Margo Yuwono saat konferensi pers di Jakarta.

Margo menilai pertumbuhan perekonomian tersebut dilatarbelakangi upaya pemerintah menjalankan program vaksinasi. Hal itu mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat untuk melakukan mobilitas.

Selain itu, pertumbuhan perekonomian juga dipengaruhi perbaikan ekonomi global. Terutama beberapa negara yang menjadi mitra dagang Indonesia. Misalnya, pertumbuhan ekonomi Cina mencapai 7,9 persen, Singapura 14,3 persen, Korea Selatan 5,9 persen, dan Vietnam 6,6 persen.

”Pulihnya ekonomi negara yang menjadi mitra dagang Indonesia itu, mendorong peningkatan permintaan luar negeri. Dampaknya, ekspor kita semakin meningkat,” ujarnya.

Baca Juga :  KSR PMI Unit UTM Gelar Webinar Kesehatan Nasional

Sebelumnya, BPS mencatat terjadi kontraksi dalam perekonomian Indonesia pada triwulan I-2021 yaitu minus 0,74 persen. Sehingga, secara kuartal (qtq), perekonomian naik sebesar 3,31 persen pada triwulan II-2021.

Pencatatan di zona positif ini merupakan yang pertama kalinya sejak ekonomi Indonesia terkontraksi pada triwulan II-2020, yakni hingga mencapai 5,32 persen. Ekonomi mulai terkontraksi akibat berbagai kebijakan pemerintah di awal pandemi Covid-19. Salah satunya pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Meski masih tumbuh pada zona negatif, terdapat tren pembalikan pada berbagai indikator ekonomi Indonesia pada kuartal selanjutnya. Sebab, kinerja ekonomi terus memperlihatkan adanya kenaikan.

Tren kenaikan ini terlihat dari ekonomi triwulan III-2020 hingga triwulan I-2021 yang tercatat masing-masing minus 3,49 persen, minus 2,19 persen, dan minus 0,74 persen. Pertumbuhan perekonomian nasional ini juga sudah diprediksi Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sejak Mei lalu.

Baca Juga :  Kartu Prakerja Jadi Best Practice dan Pilot Project Program Nasional

Saat itu, Airlangga optimistis pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal II-2021 mencapai tujuh persen. Alasannya, mempertimbangkan realisasi penanaman modal asing (PMA) hingga indeks keyakinan konsumen (IKK) yang terus membaik.

”Pertumbuhan ekonomi kuartal kedua akan bergerak positif, diperkirakan mencapai tujuh persen,” kata Airlangga saat memberikan keterangan pada Sabtu lalu (15/5).

Airlangga mencatat realisasi PMA mencapai 54,6 persen dan IKK per Maret 2021 untuk kelompok masyarakat pengeluaran di bawah Rp 5 juta mencapai 90,1 atau mendekati zona normal 100. Perkembangan ekspor dan impor juga sudah kembali normal.

Pria yang juga menjabat Ketua Umum DPP Partai Golkar tersebut mengungkapkan, kenaikan harga komoditas seperti sawit, karet, nikel, tembaga, dan batubara telah mendorong pemulihan ekonomi. Hal itu tercermin dari perbaikan kondisi perekonomian daerah sepanjang kuartal I-2021. (*/par)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/