alexametrics
23.2 C
Madura
Thursday, January 20, 2022

Sengaja Memacetkan Diri

Kemacetan bukan satu-satunya yang membuat orang telat sampai ke tujuan. Ada faktor lain yang membuat terlambat. Yakni, kemauan!

YANG sering dibicarakan para pelantas di Madura akhir-akhir ini adalah Blega. Seperti pada saat perbaikan jembatan, pengecoran jalan yang lompat tahun itu juga mengganggu lalu lintas. Banyak pengendara yang kesabarannya diuji di jalur ini.

Setidaknya butuh setengah jam untuk bisa melintasi Pasar Blega. Bahkan, saya pernah lebih dua jam terjebak di jalan ini.

Berkali-kali terjebak kemacetan Blega, baru tanggal 23 Desember 2021 punya pengalaman unik sekaligus kesal. Sopir angkutan umum yang saya tumpangi sengaja memacetkan diri. Siang itu sebenarnya bus kami bisa melaju lancar tanpa hambatan. Sebab, ketika armada bongsor itu sampai Blega bersamaan dengan giliran buka portal dari arah timur.

Semua kendaraan yang antre dari arah Sampang berjalan lancar. Namun, bus angkutan kota dalam provinsi (AKDP) itu sengaja memperlambat putaran roda. Injakan gas tidak begitu dalam. Akibatnya, kendaraan-kendaraan di belakangnya bebas menyalip semau mereka.

Bahkan, sekitar seratus meter dari portal itu, bus kami berhenti cukup lama. Lalu, berjalan lagi hingga mulut portal. Di tempat itu berhenti lagi hingga giliran berikutnya setelah kendaraan yang dari arah Bangkalan ambil bagian.

Baca Juga :  Bikin Resah, Perjudian Kian Marak

Dari perbincangan kru yang saya dengar, ternyata memang mengatur jarak. Seperti biasa, bus trayek yang sama pasti mengatur posisi dan jarak masing-masing. Sebisa mungkin tidak terlalu dekat dengan bus di depan dan di belakang. Terutama jika penumpang telah memenuhi kabin bus.

Ritme dijaga. Tak heran jika kecepatan bus dari Sumenep–Sampang akan lebih kencang daripada laju bus dari Sampang ke Bangkalan. Sebab, yang banyak diharapkan adalah penumpang di Terminal Ronggosukowati dan Terminal Trunojoyo.

Jika bus di belakang sudah dekat, otomatis sopir nginjak gas dalam-dalam. Sebaliknya, jika bus di belakang masih jauh, injakan gas sopir santai saja. Mereka juga selalu memantau bus di depan. Dari mana mereka tahu posisi armada lain di belakang?

Mereka punya mata-mata. Merekalah yang selalu memberikan informasi tentang bus lain kepada kru. Dari informan inilah sopir akan mengatur kecepatan. Melambat atau mempercepat. Jangan sampai terlalu dekat dengan yang depan dan belakang. Apalagi sampai bergandengan. Tujuan mengatur kecepatan ini, menurut saya, hanya satu: agar dapat banyak penumpang.

Baca Juga :  RadarMadura.id Terverifikasi Faktual Dewan Pers

Bicara kecepatan angkutan umum ini saya teringat penanganan perkara dugaan korupsi pembangunan Gedung Dinkes Sumenep. Tiga orang telah ditetapkan jadi tersangka. Namun, sejak menggelinding pada 2015, perkara ini tak kunjung masuk pengadilan.

Lima kali dilimpahkan, lima kali pula dikembalikan oleh kejaksaan. Ini menarik karena April mendatang akan ulang tahun ke-7. Kajari dengan tegas menyatakan bahwa berkas perkara ini tidak bisa dinyatakan lengkap jika belum memenuhi syarat. Karena itu, penyidik polres harus melengkapi sesuai petunjuk jaksa.

Saya tidak bermaksud menyamakan penanganan perkara ini dengan peristiwa kru bus yang memacetkan diri di jalan yang sebenarnya lancar. Saya yakin penyidik telah bekerja keras untuk memenuhi petunjuk jaksa. Namun, publik juga tidak bisa dilarang untuk bertanya, apa kendala pemenuhan catatan jaksa itu hingga memakan waktu lama? Sama seperti penumpang yang kesal karena sopir bus memacetkan angkutan di jalan yang sebenarnya lancar. (*)

Kemacetan bukan satu-satunya yang membuat orang telat sampai ke tujuan. Ada faktor lain yang membuat terlambat. Yakni, kemauan!

YANG sering dibicarakan para pelantas di Madura akhir-akhir ini adalah Blega. Seperti pada saat perbaikan jembatan, pengecoran jalan yang lompat tahun itu juga mengganggu lalu lintas. Banyak pengendara yang kesabarannya diuji di jalur ini.

Setidaknya butuh setengah jam untuk bisa melintasi Pasar Blega. Bahkan, saya pernah lebih dua jam terjebak di jalan ini.

Berkali-kali terjebak kemacetan Blega, baru tanggal 23 Desember 2021 punya pengalaman unik sekaligus kesal. Sopir angkutan umum yang saya tumpangi sengaja memacetkan diri. Siang itu sebenarnya bus kami bisa melaju lancar tanpa hambatan. Sebab, ketika armada bongsor itu sampai Blega bersamaan dengan giliran buka portal dari arah timur.

Semua kendaraan yang antre dari arah Sampang berjalan lancar. Namun, bus angkutan kota dalam provinsi (AKDP) itu sengaja memperlambat putaran roda. Injakan gas tidak begitu dalam. Akibatnya, kendaraan-kendaraan di belakangnya bebas menyalip semau mereka.

Bahkan, sekitar seratus meter dari portal itu, bus kami berhenti cukup lama. Lalu, berjalan lagi hingga mulut portal. Di tempat itu berhenti lagi hingga giliran berikutnya setelah kendaraan yang dari arah Bangkalan ambil bagian.

Baca Juga :  Amal Masjid

Dari perbincangan kru yang saya dengar, ternyata memang mengatur jarak. Seperti biasa, bus trayek yang sama pasti mengatur posisi dan jarak masing-masing. Sebisa mungkin tidak terlalu dekat dengan bus di depan dan di belakang. Terutama jika penumpang telah memenuhi kabin bus.

Ritme dijaga. Tak heran jika kecepatan bus dari Sumenep–Sampang akan lebih kencang daripada laju bus dari Sampang ke Bangkalan. Sebab, yang banyak diharapkan adalah penumpang di Terminal Ronggosukowati dan Terminal Trunojoyo.

Jika bus di belakang sudah dekat, otomatis sopir nginjak gas dalam-dalam. Sebaliknya, jika bus di belakang masih jauh, injakan gas sopir santai saja. Mereka juga selalu memantau bus di depan. Dari mana mereka tahu posisi armada lain di belakang?

Mereka punya mata-mata. Merekalah yang selalu memberikan informasi tentang bus lain kepada kru. Dari informan inilah sopir akan mengatur kecepatan. Melambat atau mempercepat. Jangan sampai terlalu dekat dengan yang depan dan belakang. Apalagi sampai bergandengan. Tujuan mengatur kecepatan ini, menurut saya, hanya satu: agar dapat banyak penumpang.

Baca Juga :  Ratusan Foto Meriahkan Lomba Foto Ludruk Santri

Bicara kecepatan angkutan umum ini saya teringat penanganan perkara dugaan korupsi pembangunan Gedung Dinkes Sumenep. Tiga orang telah ditetapkan jadi tersangka. Namun, sejak menggelinding pada 2015, perkara ini tak kunjung masuk pengadilan.

Lima kali dilimpahkan, lima kali pula dikembalikan oleh kejaksaan. Ini menarik karena April mendatang akan ulang tahun ke-7. Kajari dengan tegas menyatakan bahwa berkas perkara ini tidak bisa dinyatakan lengkap jika belum memenuhi syarat. Karena itu, penyidik polres harus melengkapi sesuai petunjuk jaksa.

Saya tidak bermaksud menyamakan penanganan perkara ini dengan peristiwa kru bus yang memacetkan diri di jalan yang sebenarnya lancar. Saya yakin penyidik telah bekerja keras untuk memenuhi petunjuk jaksa. Namun, publik juga tidak bisa dilarang untuk bertanya, apa kendala pemenuhan catatan jaksa itu hingga memakan waktu lama? Sama seperti penumpang yang kesal karena sopir bus memacetkan angkutan di jalan yang sebenarnya lancar. (*)

Most Read

Spesialis Curanmor Kepulauan Dibekuk

Adipati 2 Juara Golongan Atas

Dikira Mainan, Roket Parasut Meledak

Penggunaan Masker Belum Merata

Artikel Terbaru