alexametrics
24.4 C
Madura
Saturday, May 21, 2022

Pengembangan Bioavtur J2.4 Jadi Momentum Kemajuan Riset

JAKARTA – Indonesia merupakan produsen terbesar kelapa sawit yang menguasai sekitar 55 persen pangsa pasar sawit dunia. Dibandingkan komoditas pesaing lain, produksi kelapa sawit lebih efisien dan produktivitasnya lebih tinggi dalam pemanfaatan lahan.

Sebagai perbandingan, untuk menghasilkan 1 ton minyak sawit, hanya membutuhkan lahan 0,3 hektare. Sedangkan rapeseed oil membutuhkan lahan seluas 1,3 hektare, sunflower oil seluas 1,5 hektare, dan soybean oil seluas 2,2 hektare.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan, pemerintah berkomitmen mendukung program B30 pada 2021 dengan target alokasi penyaluran 9,2 juta kiloliter. Hal ini bertujuan menjaga stabilisasi harga CPO.

Dengan kebijakan tersebut, target 23 persen bauran energi yang berasal dari energi baru terbarukan pada 2025 sebagaimana ditetapkan dalam Kebijakan Energi Nasional akan dapat tercapai.

Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam mengimplementasikan pembangunan berkelanjutan rendah karbon. Program B30 telah berkontribusi dalam upaya penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) untuk sekitar 23,3 juta ton karbondioksida (CO2) pada 2020. Program ini juga berdampak positif pada penghematan devisa negara dengan pengurangan impor solar sebesar kurang lebih US$8 miliar.

Pernyataan Menko Airlangga Hartarto diungkapkan pada acara Seremonial Keberhasilan Uji Terbang dengan Bahan Bakar Campuran Bahan Bakar Bioavtur 2,4% (J2.4) yang dilakukan secara virtual, Rabu (6/10). Pada saat itu, dia menyampaikan arahan Presiden Joko Widodo. Bahwa keterbukaan dan kesiapan Indonesia untuk mendukung investasi dan transfer teknologi, termasuk investasi untuk transisi energi melalui pembangunan biofuel, industri baterai lithium, dan implementasi dari kendaraan listrik.

Baca Juga :  UMM Kembangkan RS Darurat Penanganan Covid-19

Keberhasilan uji terbang bioavtur ini telah memberikan kepercayaan tinggi terhadap kemampuan Indonesia dalam memanfaatkan sumber daya domestik. Khususnya minyak sawit untuk dimanfaatkan sebagai upaya membangun kemandirian energi nasional. Melalui terobosan ini, diharapkan dapat berdampak pada pengurangan ketergantungan energi dari impor sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi.

Memperhatikan potensi pasar bioavtur J2.4 yang dapat mencapai sekitar Rp1,1 triliun per tahun, inovasi ini perlu didukung dengan kebijakan fiskal, baik melalui kebijakan perpajakan maupun dana riset dalam rangka peningkatan keekonomian bioavtur J2.4 guna merealisasikan potensi ekonomi tersebut bagi pembangunan bangsa. Ke depan diharapkan agar bioavtur J2.4 juga dapat diujiterbangkan pada pesawat-pesawat komersial sehingga potensi pasar bahan bakar hasil inovasi anak bangsa ini dapat terus dikembangkan.

Upaya pemerintah dalam pengembangan J2.4, keberhasilan katalis merah putih dan keberhasilan uji terbang J2.4 merupakan momentum yang perlu dikomunikasikan dan mendapat perhatian semua stakeholders terkait masyarakat luas.

Baca Juga :  Akselerasi Vaksinasi dan Penerapan Prokes Ketat

”Kita patut berbangga bahwa pagi ini kita dapat menyaksikan keberhasilan anak bangsa yang dapat mewujudkan pembuatan bioavtur atau J2.4 yang juga telah diujiterbangkan dengan pesawat CN235-220 milik PT Dirgantara Indonesia,” tegas Airlangga.

Keberhasilan ini diharapkan menjadi langkah awal bagi peningkatan kontribusi biofuel bagi sektor transportasi udara, penguatan ketahanan energi nasional, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Airlangga mengapresiasi kepada Kementerian ESDM dan seluruh pihak yang terlibat aktif dalam penyelenggaraan acara ini. Juga tim peneliti yang beranggota para tenaga ahli dari ITB, PT Pertamina, PT DI, PT GMF, Kementerian Perhubungan, serta didukung oleh BPDPKS.

”Kolaborasi antara perguruan tinggi, industry, dan pemerintah yang telah diimplementasikan dengan baik sehingga menjadi momentum bagi pengembangan riset dan inovasi di dalam negeri,” jelasnya.

Webinar itu juga dihadiri Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi, menteri energi dan sumber daya mineral, menteri perhubungan, direktur utama BPDPKS, serta direktur utama PT Pertamina (Persero). Selain itu, direktur utama PT Dirgantara Indonesia, direktur utama PT Kilang Pertamina Internasional, dan direktur utama PT Angkasa Pura. Lalu, direktur utama PT Garuda Indonesia, direktur utama PT GMF AeroAsia, direktur utama Sriwijaya Air, dan tim uji terbang Bioavtur ITB. (ekon.go.id/luq/par)

- Advertisement -

JAKARTA – Indonesia merupakan produsen terbesar kelapa sawit yang menguasai sekitar 55 persen pangsa pasar sawit dunia. Dibandingkan komoditas pesaing lain, produksi kelapa sawit lebih efisien dan produktivitasnya lebih tinggi dalam pemanfaatan lahan.

Sebagai perbandingan, untuk menghasilkan 1 ton minyak sawit, hanya membutuhkan lahan 0,3 hektare. Sedangkan rapeseed oil membutuhkan lahan seluas 1,3 hektare, sunflower oil seluas 1,5 hektare, dan soybean oil seluas 2,2 hektare.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan, pemerintah berkomitmen mendukung program B30 pada 2021 dengan target alokasi penyaluran 9,2 juta kiloliter. Hal ini bertujuan menjaga stabilisasi harga CPO.


Dengan kebijakan tersebut, target 23 persen bauran energi yang berasal dari energi baru terbarukan pada 2025 sebagaimana ditetapkan dalam Kebijakan Energi Nasional akan dapat tercapai.

Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam mengimplementasikan pembangunan berkelanjutan rendah karbon. Program B30 telah berkontribusi dalam upaya penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) untuk sekitar 23,3 juta ton karbondioksida (CO2) pada 2020. Program ini juga berdampak positif pada penghematan devisa negara dengan pengurangan impor solar sebesar kurang lebih US$8 miliar.

Pernyataan Menko Airlangga Hartarto diungkapkan pada acara Seremonial Keberhasilan Uji Terbang dengan Bahan Bakar Campuran Bahan Bakar Bioavtur 2,4% (J2.4) yang dilakukan secara virtual, Rabu (6/10). Pada saat itu, dia menyampaikan arahan Presiden Joko Widodo. Bahwa keterbukaan dan kesiapan Indonesia untuk mendukung investasi dan transfer teknologi, termasuk investasi untuk transisi energi melalui pembangunan biofuel, industri baterai lithium, dan implementasi dari kendaraan listrik.

Baca Juga :  PPDB Semi Offline, Sekolah Harus Selektif

Keberhasilan uji terbang bioavtur ini telah memberikan kepercayaan tinggi terhadap kemampuan Indonesia dalam memanfaatkan sumber daya domestik. Khususnya minyak sawit untuk dimanfaatkan sebagai upaya membangun kemandirian energi nasional. Melalui terobosan ini, diharapkan dapat berdampak pada pengurangan ketergantungan energi dari impor sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi.

Memperhatikan potensi pasar bioavtur J2.4 yang dapat mencapai sekitar Rp1,1 triliun per tahun, inovasi ini perlu didukung dengan kebijakan fiskal, baik melalui kebijakan perpajakan maupun dana riset dalam rangka peningkatan keekonomian bioavtur J2.4 guna merealisasikan potensi ekonomi tersebut bagi pembangunan bangsa. Ke depan diharapkan agar bioavtur J2.4 juga dapat diujiterbangkan pada pesawat-pesawat komersial sehingga potensi pasar bahan bakar hasil inovasi anak bangsa ini dapat terus dikembangkan.

Upaya pemerintah dalam pengembangan J2.4, keberhasilan katalis merah putih dan keberhasilan uji terbang J2.4 merupakan momentum yang perlu dikomunikasikan dan mendapat perhatian semua stakeholders terkait masyarakat luas.

Baca Juga :  Keragaman - Menginvestasikan Uang dengan Benar

”Kita patut berbangga bahwa pagi ini kita dapat menyaksikan keberhasilan anak bangsa yang dapat mewujudkan pembuatan bioavtur atau J2.4 yang juga telah diujiterbangkan dengan pesawat CN235-220 milik PT Dirgantara Indonesia,” tegas Airlangga.

Keberhasilan ini diharapkan menjadi langkah awal bagi peningkatan kontribusi biofuel bagi sektor transportasi udara, penguatan ketahanan energi nasional, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Airlangga mengapresiasi kepada Kementerian ESDM dan seluruh pihak yang terlibat aktif dalam penyelenggaraan acara ini. Juga tim peneliti yang beranggota para tenaga ahli dari ITB, PT Pertamina, PT DI, PT GMF, Kementerian Perhubungan, serta didukung oleh BPDPKS.

”Kolaborasi antara perguruan tinggi, industry, dan pemerintah yang telah diimplementasikan dengan baik sehingga menjadi momentum bagi pengembangan riset dan inovasi di dalam negeri,” jelasnya.

Webinar itu juga dihadiri Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi, menteri energi dan sumber daya mineral, menteri perhubungan, direktur utama BPDPKS, serta direktur utama PT Pertamina (Persero). Selain itu, direktur utama PT Dirgantara Indonesia, direktur utama PT Kilang Pertamina Internasional, dan direktur utama PT Angkasa Pura. Lalu, direktur utama PT Garuda Indonesia, direktur utama PT GMF AeroAsia, direktur utama Sriwijaya Air, dan tim uji terbang Bioavtur ITB. (ekon.go.id/luq/par)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/