alexametrics
24.8 C
Madura
Saturday, June 25, 2022

Pandemi Tekan Sumber Utama Pemasukan Bisnis Industri Olahraga

JAKARTA – Pandemi Covid-19 sejak 2020 telah menekan seluruh industri secara global, termasuk sektor industri olahraga. Sumber utama pemasukan bisnis industri olahraga global yang mendapat tekanan di antaranya broadcasting atau hak siar, commercial (sponsorship, periklanan) dan matchday revenue (penjualan tiket dan pendukungnya).

Pendapatan industri olahraga global diproyeksikan $73,7 miliar pada 2020 atau hanya 54 persen dari target pra Covid-19 sebesar $135,3 miliar. Penurunan pendapatan ini terjadi seperti pada penundaan Olimpiade Tokyo ke Juli 2021 yang berpotensi merugikan Kota Tokyo hingga 597 miliar yen. Termasuk penundaan penyelenggaraan Piala Eropa 2020 yang baru akan diselenggarakan pada 11 Juni 2021.

”Di awal pandemi terdapat peningkatan konsumsi media karena kebijakan untuk tetap berada di rumah. Ketiadaan acara live match membuat daya tarik TV menurun. Sehingga, industri olahraga yang memiliki layanan digital streaming service mengalami lonjakan pelanggan. Sebab, jadwalnya fleksibel,” ujar Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam Webinar Studium General bertema ”Pengembangan Ekonomi Digital pada Sektor Industri Olahraga” di  Jakarta, Selasa (8/6).

Menurut dia, pertengahan 2020, industri olahraga profesional mulai pulih. Hal itu ditandai dengan penyiaran  kembali liga sepak bola dunia di TV. Olimpiade Jepang diputuskan tetap akan digelar mulai  23 Juli 2021 dan Piala Eropa 2020 pada 11 Juni 2021. Liga Profesional seperti NBA dan UEFA Champions League tetap menyelenggarakan musim dengan menerapkan konsep ”bubble format”. Hal itu dilakukan untuk menciptakan lingkungan pertandingan yang 100 persen aman dari Covid-19.

Secara global, sambung Airlangga Hartarto, industri sporting goods atau perlengkapan olahraga juga tertekan selama pandemi Covid-19. Perusahaan pakaian olahraga mengalami penurunan pendapatan 29 persen pada semester I 2020 dibandingkan 2019. Tetapi, relatif lebih tangguh dibandingkan industri pakaian jadi lainnya yang turun 55 persen.

Baca Juga :  Airlangga Hartarto Bertemu Dubes Uni Eropa, Apa Saja yang Dibahas?

Sementara itu, pangsa penjualan online mengalami peningkatan selama pandemi. Aplikasi fitness online, alat olahraga individu seperti sepeda dan peralatan lari, serta e-sport mengalami peningkatan  intensitas penggunaan yang signifikan.

Melihat fenomena di atas, dapat disimpulkan bahwa telah terjadi pergeseran pola konsumsi masyarakat ke arah digitalisasi yang menuntut penyesuaian model bisnis industri olahraga. Hal ini sejalan dengan yang terjadi di hampir seluruh jenis industri di dunia.

Industri olahraga nasional harus dengan cepat menyesuaikan kondisi ini. Indonesia mempunyai potensi ekonomi digital yang sangat besar. Populasi pengguna ponsel 338,2 juta atau 124 persen dari populasi. Total pengguna konsumen baru ekonomi digital meningkat 37 persen selama pandemi dan tetap akan memanfaatkan ekonomi digital setelah Covid-19. Ekonomi digital diprediksi akan menyumbang $130–150 miliar dalam pertumbuhan PDB Indonesia pada 2025.

Bagi industri olahraga profesional nasional, gambaran dari Global Sport Innovation Center (GSIC) mengenai lima aspek utama dalam melakukan transformasi digital. Yaitu fan engagement, smart venue, latihan secara mandiri dengan bimbingan pelatihan secara virtual, business insight, dan produktivitas industri olahraga, dan e-sport.

Di sisi lain, bagi industri perlengkapan olahraga nasional, terutama UMKM, pemanfaatan e- commerce berpotensi meningkatkan penjualan secara signifikan. Pemerintah mempunyai Gernas BBI yang telah membuat 11,7 juta UMKM onboarding. Saat ini pemerintah memiliki target capaian yang baru, yaitu sebanyak 30 juta unit UMKM onboarding pada 2023. Mulai 2021 hingga 2023 ditargetkan 6,1 juta UMKM onboarding setiap tahun, sehingga mencapai 30 juta pada akhir 2023.

Baca Juga :  Berkunjung ke Makam Arya Wiraraja di Kabupaten Lumajang

”Pemerintah akan terus memberikan dukungan dalam pengembangan ekonomi digital melalui pembangunan infrastruktur digital. Pemerintah akan terus melakukan perluasan wilayah 4G, pengembangan 5G, peluncuran satelit multifungsi Satria, serta pembangunan pusat data nasional,” ungkap Airlangga Hartarto.

Dijelaskan, dari sisi regulasi, pemerintah melalui UU Cipta Kerja juga memberikan dukungan bagi kemudahan perizinan berusaha dan upaya pengembangan infrastruktur digital. Antara lain dengan mengatur tentang perluasan pembangunan infrastruktur broadband, penetapan batas atas dan/atau bawah dari tarif jasa telekomunikasi. Hal itu bertujuan menciptakan iklim persaingan usaha yang sehat, serta mendorong kerja sama penggunaan spektrum frekuensi radio.

”Saya yakin kita semua memiliki semangat yang sama untuk memulihkan industri olahraga di masa pandemi Covid-19. Industri olahraga perlu melakukan transformasi digital sebagai bentuk adaptasi terhadap dinamika yang terjadi akibat adanya akselerasi digitalisasi,” tuturnya.

Namun digitalisasi juga perlu diiringi dengan peningkatan prestasi olahraga profesional. Pandemi ini diharapkan tidak menjadi penghalang mengendorkan intensitas latihan dan untuk tetap berprestasi di kancah nasional maupun internasional. Pengembangan ekonomi digital pada sektor industri olahraga nasional tentunya tak terlepas dari prestasi olahraga dan pencapaian atlet Indonesia. Sehingga, diharapkan kecintaan terhadap atlet dan tim nasional bisa terus terbangun.

”Diperlukan kolaborasi lintas stakeholder dan komitmen bersama untuk mewujudkan ekosistem ekonomi digital yang kondusif serta karir olahraga yang berprestasi sebagai enabler bagi pemulihan ekonomi nasional sekaligus mengharumkan nama bangsa,” pungkas Airlangga Hartarto. (map/fsr/par)

JAKARTA – Pandemi Covid-19 sejak 2020 telah menekan seluruh industri secara global, termasuk sektor industri olahraga. Sumber utama pemasukan bisnis industri olahraga global yang mendapat tekanan di antaranya broadcasting atau hak siar, commercial (sponsorship, periklanan) dan matchday revenue (penjualan tiket dan pendukungnya).

Pendapatan industri olahraga global diproyeksikan $73,7 miliar pada 2020 atau hanya 54 persen dari target pra Covid-19 sebesar $135,3 miliar. Penurunan pendapatan ini terjadi seperti pada penundaan Olimpiade Tokyo ke Juli 2021 yang berpotensi merugikan Kota Tokyo hingga 597 miliar yen. Termasuk penundaan penyelenggaraan Piala Eropa 2020 yang baru akan diselenggarakan pada 11 Juni 2021.

”Di awal pandemi terdapat peningkatan konsumsi media karena kebijakan untuk tetap berada di rumah. Ketiadaan acara live match membuat daya tarik TV menurun. Sehingga, industri olahraga yang memiliki layanan digital streaming service mengalami lonjakan pelanggan. Sebab, jadwalnya fleksibel,” ujar Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam Webinar Studium General bertema ”Pengembangan Ekonomi Digital pada Sektor Industri Olahraga” di  Jakarta, Selasa (8/6).


Menurut dia, pertengahan 2020, industri olahraga profesional mulai pulih. Hal itu ditandai dengan penyiaran  kembali liga sepak bola dunia di TV. Olimpiade Jepang diputuskan tetap akan digelar mulai  23 Juli 2021 dan Piala Eropa 2020 pada 11 Juni 2021. Liga Profesional seperti NBA dan UEFA Champions League tetap menyelenggarakan musim dengan menerapkan konsep ”bubble format”. Hal itu dilakukan untuk menciptakan lingkungan pertandingan yang 100 persen aman dari Covid-19.

Secara global, sambung Airlangga Hartarto, industri sporting goods atau perlengkapan olahraga juga tertekan selama pandemi Covid-19. Perusahaan pakaian olahraga mengalami penurunan pendapatan 29 persen pada semester I 2020 dibandingkan 2019. Tetapi, relatif lebih tangguh dibandingkan industri pakaian jadi lainnya yang turun 55 persen.

Baca Juga :  Airlangga dan Ganjar Ziarah ke Kiai Ageng Gribig Jatinom

Sementara itu, pangsa penjualan online mengalami peningkatan selama pandemi. Aplikasi fitness online, alat olahraga individu seperti sepeda dan peralatan lari, serta e-sport mengalami peningkatan  intensitas penggunaan yang signifikan.

Melihat fenomena di atas, dapat disimpulkan bahwa telah terjadi pergeseran pola konsumsi masyarakat ke arah digitalisasi yang menuntut penyesuaian model bisnis industri olahraga. Hal ini sejalan dengan yang terjadi di hampir seluruh jenis industri di dunia.

Industri olahraga nasional harus dengan cepat menyesuaikan kondisi ini. Indonesia mempunyai potensi ekonomi digital yang sangat besar. Populasi pengguna ponsel 338,2 juta atau 124 persen dari populasi. Total pengguna konsumen baru ekonomi digital meningkat 37 persen selama pandemi dan tetap akan memanfaatkan ekonomi digital setelah Covid-19. Ekonomi digital diprediksi akan menyumbang $130–150 miliar dalam pertumbuhan PDB Indonesia pada 2025.

Bagi industri olahraga profesional nasional, gambaran dari Global Sport Innovation Center (GSIC) mengenai lima aspek utama dalam melakukan transformasi digital. Yaitu fan engagement, smart venue, latihan secara mandiri dengan bimbingan pelatihan secara virtual, business insight, dan produktivitas industri olahraga, dan e-sport.

Di sisi lain, bagi industri perlengkapan olahraga nasional, terutama UMKM, pemanfaatan e- commerce berpotensi meningkatkan penjualan secara signifikan. Pemerintah mempunyai Gernas BBI yang telah membuat 11,7 juta UMKM onboarding. Saat ini pemerintah memiliki target capaian yang baru, yaitu sebanyak 30 juta unit UMKM onboarding pada 2023. Mulai 2021 hingga 2023 ditargetkan 6,1 juta UMKM onboarding setiap tahun, sehingga mencapai 30 juta pada akhir 2023.

Baca Juga :  Survei IDM: Airlangga Tokoh Sipil yang Jadi Calon Presiden Terkuat

”Pemerintah akan terus memberikan dukungan dalam pengembangan ekonomi digital melalui pembangunan infrastruktur digital. Pemerintah akan terus melakukan perluasan wilayah 4G, pengembangan 5G, peluncuran satelit multifungsi Satria, serta pembangunan pusat data nasional,” ungkap Airlangga Hartarto.

Dijelaskan, dari sisi regulasi, pemerintah melalui UU Cipta Kerja juga memberikan dukungan bagi kemudahan perizinan berusaha dan upaya pengembangan infrastruktur digital. Antara lain dengan mengatur tentang perluasan pembangunan infrastruktur broadband, penetapan batas atas dan/atau bawah dari tarif jasa telekomunikasi. Hal itu bertujuan menciptakan iklim persaingan usaha yang sehat, serta mendorong kerja sama penggunaan spektrum frekuensi radio.

”Saya yakin kita semua memiliki semangat yang sama untuk memulihkan industri olahraga di masa pandemi Covid-19. Industri olahraga perlu melakukan transformasi digital sebagai bentuk adaptasi terhadap dinamika yang terjadi akibat adanya akselerasi digitalisasi,” tuturnya.

Namun digitalisasi juga perlu diiringi dengan peningkatan prestasi olahraga profesional. Pandemi ini diharapkan tidak menjadi penghalang mengendorkan intensitas latihan dan untuk tetap berprestasi di kancah nasional maupun internasional. Pengembangan ekonomi digital pada sektor industri olahraga nasional tentunya tak terlepas dari prestasi olahraga dan pencapaian atlet Indonesia. Sehingga, diharapkan kecintaan terhadap atlet dan tim nasional bisa terus terbangun.

”Diperlukan kolaborasi lintas stakeholder dan komitmen bersama untuk mewujudkan ekosistem ekonomi digital yang kondusif serta karir olahraga yang berprestasi sebagai enabler bagi pemulihan ekonomi nasional sekaligus mengharumkan nama bangsa,” pungkas Airlangga Hartarto. (map/fsr/par)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/