alexametrics
21.1 C
Madura
Friday, July 1, 2022

Hanya Tersedia Satu Kantong Tiap Golongan

KETERSEDIAAN darah di Unit Transfusi Darah (UTD) Palang Merah Indonesia (PMI) kembang kempis, bahkan sering krisis. Stok terakhir kemarin (7/5) di Sumenep hanya tersedia satu kantong untuk setiap golongan darah.

Kepala UTD PMI Sumenep Amril Huda mengakui ketersediaan darah sangat minim. Stok darah yang tersedia saat ini hanya 4 kantong dari semua golongan darah. Golongan O, A, B, dan AB. Masing-masing hanya satu kantong.

Menurut dia, ketersediaan darah tersebut hanya diperuntukkan kepada pasien emergensi atau darurat. Sedikitnya stok disebabkan rendahnya kesadaran masyarakat untuk donor darah. ”Hanya kami serahkan bagi bumil (ibu hamil),” kata Huda.

Huda mengklaim sudah bersusah payah agar ketersediaan darah di UTD PMI Sumenep cukup. Salah satunya dengan menggelar sosialisasi kepada lembaga pendidikan SMA sederajat maupun mahasiswa agar mau menyumbangkan darah. ”Kami akan tetap dorong masyarakat untuk sadar dan mau mendonorkan darahnya,” tutur dia.

Baca Juga :  Permintaan Melonjak Drastis, Stok Darah Menipis

Minimnya pendonor di Sumenep terjadi karena banyak persepsi miring yang berkembang di masyarakat. Misalnya, orang yang mendonorkan darahnya akan pusing. Selain itu, kantong darah dijual demi kepentingan UTD PMI Sumenep. ”Dikira akan menguntungkan saya pribadi,” sambungnya.

Permintaan darah didominasi pendonor dan keluarga pasien. Sementara petugas UTD PMI Sumenep hanya memfasilitasi. ”Kalau nominalnya harga nasional, semuanya sama Rp 360 per kantong,” jelasnya.

Angka itu juga berlaku kepada peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Namun, pasien umum membayar sendiri. Sementara peserta BPJS sudah ditangggung.

Anggota Komisi IV DPRD Sumenep Suroyo meminta UTD PMI lebih gencar bersosialisasi mendorong masyarakat melakukan donor sukarela. Dia mengaku sering mendengar keluhan masyarakat enggan mendonorkan darahnya karena takut. Karena itu, PMI harus bisa memberikan pemahaman agar masyarakat berani.

Krisis ketersediaan darah juga terjadi di Pamekasan. Jumlah ketersediaan darah hampir selalu kurang dibandingkan dengan banyaknya permintaan setiap bulan. Rata-rata produksi darah UTD PMI Pamekasan 1.000 kantong sebulan. Tetapi, permintaan darah selalu lebih tinggi.

Baca Juga :  Dibanding Calon Lain, Airlangga Paling Realistis Jadi Capres 2024

”Permintaannya rata-rata satu bulan sekitar 1.200 kantong. Jarang sekali tercukupi. Sering kekurangan,” ungkap Kepala UTD PMI Pamekasan Ahmad Syafirullah.

Pendonor aktif PMI Pamekasan sekitar 5.000 orang. Jumlah tersebut sudah memenuhi standar minimum pendonor di satu daerah. Jumlah pendonor di Pamekasan setiap tahun bisa mencapai lebih dari 14.000 orang. ”Sayang tidak semua jadi pendonor tetap. Ada yang mungkin merantau, saat pulang mereka donor darah,” jelasnya.

Ahmad menerangkan, sampai saat ini jenis golongan darah yang paling dicari adalah golongan O. Sementara darah yang paling sulit dicari adalah golongan AB. Paling banyak dicari itu karena paling banyak masyarakat yang punya golongan darah tersebut. Sementara AB, karena yang punya darah AB itu sedikit, jarang yang mencari dan jarang yang donor. (jup)

KETERSEDIAAN darah di Unit Transfusi Darah (UTD) Palang Merah Indonesia (PMI) kembang kempis, bahkan sering krisis. Stok terakhir kemarin (7/5) di Sumenep hanya tersedia satu kantong untuk setiap golongan darah.

Kepala UTD PMI Sumenep Amril Huda mengakui ketersediaan darah sangat minim. Stok darah yang tersedia saat ini hanya 4 kantong dari semua golongan darah. Golongan O, A, B, dan AB. Masing-masing hanya satu kantong.

Menurut dia, ketersediaan darah tersebut hanya diperuntukkan kepada pasien emergensi atau darurat. Sedikitnya stok disebabkan rendahnya kesadaran masyarakat untuk donor darah. ”Hanya kami serahkan bagi bumil (ibu hamil),” kata Huda.


Huda mengklaim sudah bersusah payah agar ketersediaan darah di UTD PMI Sumenep cukup. Salah satunya dengan menggelar sosialisasi kepada lembaga pendidikan SMA sederajat maupun mahasiswa agar mau menyumbangkan darah. ”Kami akan tetap dorong masyarakat untuk sadar dan mau mendonorkan darahnya,” tutur dia.

Baca Juga :  Layanan Unit Transfusi Darah pada Bulan Ramadan

Minimnya pendonor di Sumenep terjadi karena banyak persepsi miring yang berkembang di masyarakat. Misalnya, orang yang mendonorkan darahnya akan pusing. Selain itu, kantong darah dijual demi kepentingan UTD PMI Sumenep. ”Dikira akan menguntungkan saya pribadi,” sambungnya.

Permintaan darah didominasi pendonor dan keluarga pasien. Sementara petugas UTD PMI Sumenep hanya memfasilitasi. ”Kalau nominalnya harga nasional, semuanya sama Rp 360 per kantong,” jelasnya.

Angka itu juga berlaku kepada peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Namun, pasien umum membayar sendiri. Sementara peserta BPJS sudah ditangggung.

Anggota Komisi IV DPRD Sumenep Suroyo meminta UTD PMI lebih gencar bersosialisasi mendorong masyarakat melakukan donor sukarela. Dia mengaku sering mendengar keluhan masyarakat enggan mendonorkan darahnya karena takut. Karena itu, PMI harus bisa memberikan pemahaman agar masyarakat berani.

Krisis ketersediaan darah juga terjadi di Pamekasan. Jumlah ketersediaan darah hampir selalu kurang dibandingkan dengan banyaknya permintaan setiap bulan. Rata-rata produksi darah UTD PMI Pamekasan 1.000 kantong sebulan. Tetapi, permintaan darah selalu lebih tinggi.

Baca Juga :  Permintaan Melonjak Drastis, Stok Darah Menipis

”Permintaannya rata-rata satu bulan sekitar 1.200 kantong. Jarang sekali tercukupi. Sering kekurangan,” ungkap Kepala UTD PMI Pamekasan Ahmad Syafirullah.

Pendonor aktif PMI Pamekasan sekitar 5.000 orang. Jumlah tersebut sudah memenuhi standar minimum pendonor di satu daerah. Jumlah pendonor di Pamekasan setiap tahun bisa mencapai lebih dari 14.000 orang. ”Sayang tidak semua jadi pendonor tetap. Ada yang mungkin merantau, saat pulang mereka donor darah,” jelasnya.

Ahmad menerangkan, sampai saat ini jenis golongan darah yang paling dicari adalah golongan O. Sementara darah yang paling sulit dicari adalah golongan AB. Paling banyak dicari itu karena paling banyak masyarakat yang punya golongan darah tersebut. Sementara AB, karena yang punya darah AB itu sedikit, jarang yang mencari dan jarang yang donor. (jup)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/