alexametrics
21.5 C
Madura
Monday, May 23, 2022

Tanggulangi Dampak Pandemi, Perkuat Solidaritas dan Kerja Sama IMT-GT

JAKARTA – Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan perlunya memperkuat solidaritas dan kerja sama Sub-Regional Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT). Itu dilakukan untuk menanggulangi krisis ekonomi dan kesehatan akibat pandemi.

Pernyataan ini disampaikan saat memimpin Delegasi Indonesia pada Pertemuan Tingkat Menteri IMT-GT ke-27 yang digelar secara virtual di Jakarta pada Jumat lalu (6/8). Pertemuan tersebut dihadiri Menteri di Jabatan Perdana Menteri (Ekonomi) Malaysia YB Dato’ Sri Mustapa Bin Mohamed, Menteri Keuangan Thailand Arkhom Termpittayapaisith, Wakil Presiden Asian Development Bank (ADB) Ahmed M. Saeed, dan Sekretaris Jenderal Sekretariat ASEAN Dato’ Lim Jock Hoi.

”Kerja sama IMT-GT dibentuk untuk akselerasi pertumbuhan ekonomi, menghilangkan kesenjangan, dan meningkatkan kesejahteraan penduduk di tiga negara. Selama 28 tahun berkiprah, telah kita saksikan bahwa kerja sama ini tetap bertahan dari berbagai guncangan ekonomi yang melanda dunia. Jadi, dalam situasi krisis pandemi yang belum pernah terjadi sebelumnya, kita perlu meningkatkan solidaritas dan kerja sama untuk membantu rakyat kita keluar dari krisis kesehatan dan ekonomi,” ujar Airlangga.

Airlangga menuturkan, saat ini dia beserta Menteri Malaysia dan Thailand telah sepakat untuk memastikan semua target dalam kerja sama IMT-GT dapat tercapai dan memberikan manfaat bagi masyarakat. ”Kita harus memanfaatkan platform kerja sama IMT-GT untuk mendorong proyek yang konkret bagi percepatan pertumbuhan ekonomi di kawasan dengan tetap memperhatikan beberapa permasalahan yang terjadi saat ini,” ucapnya.

”Misalnya seperti kesehatan, revolusi industri, ketahanan pangan dan energi, kualitas sumber daya manusia, dan sumber daya berkelanjutan. Tak lupa kita juga harus mempercepat transformasi dan adaptasi teknologi yang memainkan peran kunci untuk masa depan kerja sama IMT-GT,” kata Airlangga.

Baca Juga :  UMM Raih AKU 14 Kali Berturut-turut

”Saya mendukung adopsi prinsip green-blue economy serta circular economy dalam kerangka kerja pemerintah untuk lima tahun ke depan. Berkaitan dengan hal ini, Indonesia juga sedang mengembangkan kebijakan sektor industri dengan konsep ekonomi sirkular melalui Standardisasi Industri Hijau,” imbuh Airlangga.

Melalui ekonomi sirkular, sambung Airlangga, Indonesia diproyeksikan akan menciptakan 4,4 juta pekerjaan baru dan menambah US$ 42,2 miliar dari PDB pada 2030. ”Saya yakin, kondisi serupa juga dapat diterapkan di negara-negara lainnya,” tuturnya.

Dijelaskan, meski sedang dilanda gelombang kedua pandemi, Indonesia beserta Malaysia dan Thailand tetap berkomitmen untuk menyelesaikan berbagai program dan kegiatan dalam Cetak Biru Implementasi IMT-GT 2017–2021. Termasuk menyusun kerangka kerja lima tahun berikutnya dalam Cetak Biru Implementasi IMT-GT 2022–2026.

Terkait hal tersebut, Airlangga menyatakan perlunya menentukan program prioritas yang akan berdampak signifikan dan mendukung pencapaian ekonomi yang lebih baik di masa depan melalui beberapa langkah.

Pertama, mendorong pengembangan dan penyelesaian proyek konektivitas dan menyelaraskan dengan koridor ekonomi untuk meningkatkan keunggulan komparatif.

Kedua, kerja sama IMT-GT harus lebih inklusif, tangguh, dan berkelanjutan. Dua sektor prioritas yang berpotensi besar untuk dikembangkan adalah pertanian dan pariwisata. Selain itu, diperkuat juga pengembangan komoditas yang berdampak luas bagi masyarakat, seperti kelapa sawit dan karet.

Baca Juga :  Menko Airlangga Beri Apresiasi Penerima Program Kartu Prakerja di Palu

Ketiga, terus mengeksplorasi potensi ekonomi produk dan layanan halal. Termasuk, memprioritaskan pengembangannya untuk membuka peluang menembus pasar dunia.

Keempat, penguatan peran seluruh elemen dalam kerja sama IMT-GT. Selain penguatan peran pemerintah daerah dan dunia usaha, peran strategis akademisi sebagai think tank dalam wadah Uninet juga perlu untuk terus ditingkatkan.

Kelima, sinergisitas agenda kerja IMT-GT dengan inisiatif ASEAN. Misalnya, ASEAN Comprehensive Recovery Framework (ACRF) yang terkait kerangka kerja pemulihan ekonomi. Serta, ASEAN Catalytic Green Finance Facility (ACGF) untuk membiayai proyek-proyek infrastruktur berwawasan lingkungan agar mencapai target pengurangan emisi di kawasan IMT-GT.

Pada kesempatan pertemuan tersebut, para Menteri IMT-GT juga menyaksikan penandatanganan memorandum of understanding (MoU) on geopark collaboration antara tiga geopark yang masuk dalam UNESCO Global Geopark. Yaitu Toba Caldera (Indonesia), Langkawi (Malaysia), dan Satun (Thailand).

MoU tersebut bertujuan meningkatkan kerja sama dan pertukaran pengalaman dalam pengelolaan geopark dengan prinsip-prinsip resiprositas. Konsepnya saling menghormati kesetaraan dan kemandirian masing-masing geopark.

Secara garis besar, Airlangga bersama para Signing Minister IMT-GT lainnya dalam pertemuan tersebut mendukung tiga dokumen. Yaitu, 27th IMT-GT Joint Ministerial Statement, Ministerial Report for 13th IMT-GT Summit 2021, dan MoU on geopark collaboration.

Turut hadir mendampingi Airlangga Hartarto dalam kesempatan tersebut Plt Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi Internasional Kemenko Bidang Perekonomian Edi Prio Pambudi. (dep7/rep/hls/yan/par)

- Advertisement -

JAKARTA – Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan perlunya memperkuat solidaritas dan kerja sama Sub-Regional Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT). Itu dilakukan untuk menanggulangi krisis ekonomi dan kesehatan akibat pandemi.

Pernyataan ini disampaikan saat memimpin Delegasi Indonesia pada Pertemuan Tingkat Menteri IMT-GT ke-27 yang digelar secara virtual di Jakarta pada Jumat lalu (6/8). Pertemuan tersebut dihadiri Menteri di Jabatan Perdana Menteri (Ekonomi) Malaysia YB Dato’ Sri Mustapa Bin Mohamed, Menteri Keuangan Thailand Arkhom Termpittayapaisith, Wakil Presiden Asian Development Bank (ADB) Ahmed M. Saeed, dan Sekretaris Jenderal Sekretariat ASEAN Dato’ Lim Jock Hoi.

”Kerja sama IMT-GT dibentuk untuk akselerasi pertumbuhan ekonomi, menghilangkan kesenjangan, dan meningkatkan kesejahteraan penduduk di tiga negara. Selama 28 tahun berkiprah, telah kita saksikan bahwa kerja sama ini tetap bertahan dari berbagai guncangan ekonomi yang melanda dunia. Jadi, dalam situasi krisis pandemi yang belum pernah terjadi sebelumnya, kita perlu meningkatkan solidaritas dan kerja sama untuk membantu rakyat kita keluar dari krisis kesehatan dan ekonomi,” ujar Airlangga.


Airlangga menuturkan, saat ini dia beserta Menteri Malaysia dan Thailand telah sepakat untuk memastikan semua target dalam kerja sama IMT-GT dapat tercapai dan memberikan manfaat bagi masyarakat. ”Kita harus memanfaatkan platform kerja sama IMT-GT untuk mendorong proyek yang konkret bagi percepatan pertumbuhan ekonomi di kawasan dengan tetap memperhatikan beberapa permasalahan yang terjadi saat ini,” ucapnya.

”Misalnya seperti kesehatan, revolusi industri, ketahanan pangan dan energi, kualitas sumber daya manusia, dan sumber daya berkelanjutan. Tak lupa kita juga harus mempercepat transformasi dan adaptasi teknologi yang memainkan peran kunci untuk masa depan kerja sama IMT-GT,” kata Airlangga.

Baca Juga :  Mengenal Duta Lantas Ichlasul dan Mustikayanti

”Saya mendukung adopsi prinsip green-blue economy serta circular economy dalam kerangka kerja pemerintah untuk lima tahun ke depan. Berkaitan dengan hal ini, Indonesia juga sedang mengembangkan kebijakan sektor industri dengan konsep ekonomi sirkular melalui Standardisasi Industri Hijau,” imbuh Airlangga.

Melalui ekonomi sirkular, sambung Airlangga, Indonesia diproyeksikan akan menciptakan 4,4 juta pekerjaan baru dan menambah US$ 42,2 miliar dari PDB pada 2030. ”Saya yakin, kondisi serupa juga dapat diterapkan di negara-negara lainnya,” tuturnya.

Dijelaskan, meski sedang dilanda gelombang kedua pandemi, Indonesia beserta Malaysia dan Thailand tetap berkomitmen untuk menyelesaikan berbagai program dan kegiatan dalam Cetak Biru Implementasi IMT-GT 2017–2021. Termasuk menyusun kerangka kerja lima tahun berikutnya dalam Cetak Biru Implementasi IMT-GT 2022–2026.

Terkait hal tersebut, Airlangga menyatakan perlunya menentukan program prioritas yang akan berdampak signifikan dan mendukung pencapaian ekonomi yang lebih baik di masa depan melalui beberapa langkah.

Pertama, mendorong pengembangan dan penyelesaian proyek konektivitas dan menyelaraskan dengan koridor ekonomi untuk meningkatkan keunggulan komparatif.

Kedua, kerja sama IMT-GT harus lebih inklusif, tangguh, dan berkelanjutan. Dua sektor prioritas yang berpotensi besar untuk dikembangkan adalah pertanian dan pariwisata. Selain itu, diperkuat juga pengembangan komoditas yang berdampak luas bagi masyarakat, seperti kelapa sawit dan karet.

Baca Juga :  JMSI Apresiasi Penerbitan SKB Undang-Undang ITE

Ketiga, terus mengeksplorasi potensi ekonomi produk dan layanan halal. Termasuk, memprioritaskan pengembangannya untuk membuka peluang menembus pasar dunia.

Keempat, penguatan peran seluruh elemen dalam kerja sama IMT-GT. Selain penguatan peran pemerintah daerah dan dunia usaha, peran strategis akademisi sebagai think tank dalam wadah Uninet juga perlu untuk terus ditingkatkan.

Kelima, sinergisitas agenda kerja IMT-GT dengan inisiatif ASEAN. Misalnya, ASEAN Comprehensive Recovery Framework (ACRF) yang terkait kerangka kerja pemulihan ekonomi. Serta, ASEAN Catalytic Green Finance Facility (ACGF) untuk membiayai proyek-proyek infrastruktur berwawasan lingkungan agar mencapai target pengurangan emisi di kawasan IMT-GT.

Pada kesempatan pertemuan tersebut, para Menteri IMT-GT juga menyaksikan penandatanganan memorandum of understanding (MoU) on geopark collaboration antara tiga geopark yang masuk dalam UNESCO Global Geopark. Yaitu Toba Caldera (Indonesia), Langkawi (Malaysia), dan Satun (Thailand).

MoU tersebut bertujuan meningkatkan kerja sama dan pertukaran pengalaman dalam pengelolaan geopark dengan prinsip-prinsip resiprositas. Konsepnya saling menghormati kesetaraan dan kemandirian masing-masing geopark.

Secara garis besar, Airlangga bersama para Signing Minister IMT-GT lainnya dalam pertemuan tersebut mendukung tiga dokumen. Yaitu, 27th IMT-GT Joint Ministerial Statement, Ministerial Report for 13th IMT-GT Summit 2021, dan MoU on geopark collaboration.

Turut hadir mendampingi Airlangga Hartarto dalam kesempatan tersebut Plt Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi Internasional Kemenko Bidang Perekonomian Edi Prio Pambudi. (dep7/rep/hls/yan/par)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/