alexametrics
20.3 C
Madura
Tuesday, June 28, 2022

Gubernur Khofifah: Positivity Rate Jatim Sesuai Standar WHO

JAKARTA – Jika merujuk data asesmen situasi Covid-19 di website Kementerian Kesehatan (Kemenkes) per hari Sabtu (4/9), positivity rate mingguan Jatim mencapai 4,68 persen. Capaian itu sudah sesuai standar pengendalian pandemi dari WHO yaitu di bawah 5 persen. Juga di bawah positivity rate mingguan nasional yang berada di angka 6,97 persen.

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menuturkan, saat ini tersisa empat daerah di Jatim yang berada di zonasi asesmen level 4. Yakni,  Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Magetan, Kabupaten Blitar, dan Kota Blitar. ”Alhamdulillah, positivity rate mingguan sudah sesuai WHO di bawah 5 persen yaitu 4,68 persen dan di bawah nasional. Ini kali pertama selama pandemi Covid-19,” ucapnya.

Khofifah Indar Parawansa bersyukur dan mengucapkan terima kasih atas kerja keras dan partisipasi semua pihak yang ikut mencegah persebaran Covid-19. Capaian itu dipengaruhi masifnya testing dan tracing. Dengan standar jumlah tes yang ditetapkan WHO 1:1.000 penduduk per minggu. Jatim seharusnya melakukan tes 40.000 per minggu.

Baca Juga :  Disdik Bangkalan Liburkan Sekolah, Begini Tanggapan Wali Murid

”Minggu kemarin jumlah testing Jatim mencapai 90.045. Angka tes sudah mencapai lebih dari dua kali lipat standar WHO. Idealnya, testing minimal yang dilakukan di Jatim sekitar 40.000 tes. Tapi kita sudah berhasil mencapai 2 kali lipat melebih target,” imbuhnya.

Dijelaskan, pelacakan kasus atau tracing ratio Covid-19 di Jatim juga mengalami peningkatan dari sebelumnya 1,17. Sekarang naik menjadi 11,75. Artinya kapasitas tracing di Jawa Timur naik 10 kali lipat. ”Ke depan, diharapkan positivity rate yang turun dan testing rate maupun tracing ratio yang meningkat bisa terus dipertahankan. Kombinasi ini sangat efektif menurunkan persebaran Covid-19,” tegasnya.

Khofifah menambahkan, kombinasi menurunnya positivity rate dan tingginya tracing ratio maupun testing rate mempengaruhi penurunan keterisian bed occupancy rate (BOR) di rumah sakit. Buktinya BOR turun menjadi 22,48 pesen. Tingkat kematian juga turun dari 5,5 per 100 ribu penduduk per minggu menjadi 2,11 per 100 ribu penduduk. ”BOR di Jatim sudah berada sangat jauh di bawah standar WHO yaitu di bawah 60 persen,” tuturnya.

Baca Juga :  Kualitas Pendidikan Harus Meningkat

Mantan Menteri Sosial (Mensos) itu meminta semua pihak dapat mempertahankan capaian tersebut. Baik positivity rate maupun posisi zonasi level daerah. Seluruh elemen masyarakat juga diminta tidak lengah dan tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan (prokes). Sehingga, Covid-19 kian terkendali dan terus melandai. ”Saya mohon kepada semua pihak dan masyarakat untuk tetap disiplin proikes, mengikuti vaksinasi, dan meningkatkan tracing dan testing,” pungkasnya. (bam)

JAKARTA – Jika merujuk data asesmen situasi Covid-19 di website Kementerian Kesehatan (Kemenkes) per hari Sabtu (4/9), positivity rate mingguan Jatim mencapai 4,68 persen. Capaian itu sudah sesuai standar pengendalian pandemi dari WHO yaitu di bawah 5 persen. Juga di bawah positivity rate mingguan nasional yang berada di angka 6,97 persen.

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menuturkan, saat ini tersisa empat daerah di Jatim yang berada di zonasi asesmen level 4. Yakni,  Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Magetan, Kabupaten Blitar, dan Kota Blitar. ”Alhamdulillah, positivity rate mingguan sudah sesuai WHO di bawah 5 persen yaitu 4,68 persen dan di bawah nasional. Ini kali pertama selama pandemi Covid-19,” ucapnya.

Khofifah Indar Parawansa bersyukur dan mengucapkan terima kasih atas kerja keras dan partisipasi semua pihak yang ikut mencegah persebaran Covid-19. Capaian itu dipengaruhi masifnya testing dan tracing. Dengan standar jumlah tes yang ditetapkan WHO 1:1.000 penduduk per minggu. Jatim seharusnya melakukan tes 40.000 per minggu.

Baca Juga :  Membangun Madura Butuh Peran Semua Pihak


”Minggu kemarin jumlah testing Jatim mencapai 90.045. Angka tes sudah mencapai lebih dari dua kali lipat standar WHO. Idealnya, testing minimal yang dilakukan di Jatim sekitar 40.000 tes. Tapi kita sudah berhasil mencapai 2 kali lipat melebih target,” imbuhnya.

Dijelaskan, pelacakan kasus atau tracing ratio Covid-19 di Jatim juga mengalami peningkatan dari sebelumnya 1,17. Sekarang naik menjadi 11,75. Artinya kapasitas tracing di Jawa Timur naik 10 kali lipat. ”Ke depan, diharapkan positivity rate yang turun dan testing rate maupun tracing ratio yang meningkat bisa terus dipertahankan. Kombinasi ini sangat efektif menurunkan persebaran Covid-19,” tegasnya.

Khofifah menambahkan, kombinasi menurunnya positivity rate dan tingginya tracing ratio maupun testing rate mempengaruhi penurunan keterisian bed occupancy rate (BOR) di rumah sakit. Buktinya BOR turun menjadi 22,48 pesen. Tingkat kematian juga turun dari 5,5 per 100 ribu penduduk per minggu menjadi 2,11 per 100 ribu penduduk. ”BOR di Jatim sudah berada sangat jauh di bawah standar WHO yaitu di bawah 60 persen,” tuturnya.

Baca Juga :  BPWS Kecipratan APBN Rp 215 M

Mantan Menteri Sosial (Mensos) itu meminta semua pihak dapat mempertahankan capaian tersebut. Baik positivity rate maupun posisi zonasi level daerah. Seluruh elemen masyarakat juga diminta tidak lengah dan tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan (prokes). Sehingga, Covid-19 kian terkendali dan terus melandai. ”Saya mohon kepada semua pihak dan masyarakat untuk tetap disiplin proikes, mengikuti vaksinasi, dan meningkatkan tracing dan testing,” pungkasnya. (bam)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/