alexametrics
25.4 C
Madura
Monday, May 16, 2022

RSUD dr Moh. Anwar Butuh Alat Rapid Test

RUMAH sakit rujukan di Pulau Garam masih butuh tambahan alat pelindung diri (APD) lengkap. Apalagi pasien yang masuk ruang isolasi terus bertambah. Salah satunya di RSUD Syamrabu Bangkalan.

APD di rumah sakit pelat merah tersebut hanya cukup untuk dua pekan ke depan. Kondisi itu disampaikan Wadir RSUD Syamrabu Bangkalan dr Farhat Suryaningrat kemarin (5/4). ”Yang jelas, kalau sampai bulan depan sepertinya tidak cukup. Hanya cukup untuk dua pekan mendatang,” ungkap dia.

Menurut Farhat, angka pasien yang diisolasi terus bertambah. Dalam sehari, butuh 30 APD. Sementara ketersediaan masker berkisar 300 buah. ”Pasien yang diisolasi di angka 3 hingga 5 pasien. Sementara, APD itu sekali pakai. Karena itu, sekitar 30 unit APD yang dibutuhkan tiap hari,” kata Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Bangkalan itu.

Sampai sekarang pihaknya terus melakukan order beberapa alat kesehatan yang paling urgen. Namun, yang baru datang hanya masker. ”Kami kesulitan dapat masker N95. Masker itu khusus untuk menangani pasien yang diisolasi,” terangnya.

Untungnya dalam musibah bencana non-alam ini,terdapat beberapa relawan yang membantu. Misalnya, bantuan berupa APD, makanan yang bisa meningkatkan imun, dan alat-alat kesehatan lainnya. ”Alhamdulillah sejak wabah ini mencuat, banyak yang memberikan bantuan ke kami,” tuturnya.

Baca Juga :  Sehat, Lima PMI Boleh Pulang

Farhat menegaskan, bantuan yang boleh diberikan kepada pihak rumah sakit dalam bentuk barang jadi. Bukan berupa uang. Sebab, jika berbentuk uang, otomatis akan ditolak. ”Sumbangan bahan jadi kami terima,” tegasnya.

RSUD dr Moh. Anwar Sumenep juga ditunjuk pemerintah sebagai rumah sakit rujukan penanganan Covid-19. Ketua Tim Kewaspadaan Covid-19 Sumenep dr Andri Dwi Wahyudi menyampaikan, penunjukan itu sejak 28 Maret 2020. Tentunya, beberapa kebutuhan perlu dilengkapi untuk menangani pasien. Dari ketersediaan alat kesehatan, sarana dan prasarana, hingga tenaga medis.

Beruntung, sebelum ditunjuk jadi rumah sakit rujukan, beberapa persiapan sudah dilakukan untuk menghadapi pandemi ini. Pasalnya, setelah ditetapkan rumah sakit rujukan harus mampu merawat pasien. Termasuk tidak diperkenankan lagi merujuk karena setiap daerah mengalami situasi yang sama.

Semula sudah disiapakan sebanyak delapan ruang isolasi penanganan Covid-19. Satu ruangan untuk pasien dalam pengawasan (PDP) dan 7 ruangan untuk orang dalam pemantauan (ODP). Kemudian, penambahan ruangan sebanyak 9 ruang isolasi. Dengan total kesiapan ruangan yang ada sebanyak 16 ruang isolasi.

Baca Juga :  Polisi Pelototi Kelangkaan Masker

”Kalaupun nanti ada situasi darurat yang misalnya ada banyak pasien, rumah sakit sudah menyiapkan ruang cadangan sebanyak 24 ruangan,” jelasnya.

Kelengkapan APD dan tenaga medis sudah bisa dianggap siap. Hanya, sebagai rumah sakit rujukan, tentu harus memiliki sarana diagnostik. Yaitu, alat untuk melakukan diagnosis kepada pasien. Diakui, untuk alat diagnostik belum tersedia di RSUD dr Moh. Anwar Sumenep.

Dua jenis alat diagnostik yang diperlukan untuk penanganan Covid-19 yaitu, rapid test dan swab test. Berkaitan dengan dua alat itu, masih sedang dikoordinasikan dengan Dinas Kesehatan Provinsi Jatim. Termasuk berkoordinasi dengan rumah sakit rujukan di kabupaten lain.

”Di Kabupaten Pamekasan dan Bangkalan adanya cuma 5 buah. Selama ini rumah sakit memang belum tersedia alat diagnostik. Kita tetap mengusahakan secepatnya segera ada,” tandasnya. (jun)

RUMAH sakit rujukan di Pulau Garam masih butuh tambahan alat pelindung diri (APD) lengkap. Apalagi pasien yang masuk ruang isolasi terus bertambah. Salah satunya di RSUD Syamrabu Bangkalan.

APD di rumah sakit pelat merah tersebut hanya cukup untuk dua pekan ke depan. Kondisi itu disampaikan Wadir RSUD Syamrabu Bangkalan dr Farhat Suryaningrat kemarin (5/4). ”Yang jelas, kalau sampai bulan depan sepertinya tidak cukup. Hanya cukup untuk dua pekan mendatang,” ungkap dia.

Menurut Farhat, angka pasien yang diisolasi terus bertambah. Dalam sehari, butuh 30 APD. Sementara ketersediaan masker berkisar 300 buah. ”Pasien yang diisolasi di angka 3 hingga 5 pasien. Sementara, APD itu sekali pakai. Karena itu, sekitar 30 unit APD yang dibutuhkan tiap hari,” kata Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Bangkalan itu.

Sampai sekarang pihaknya terus melakukan order beberapa alat kesehatan yang paling urgen. Namun, yang baru datang hanya masker. ”Kami kesulitan dapat masker N95. Masker itu khusus untuk menangani pasien yang diisolasi,” terangnya.

Untungnya dalam musibah bencana non-alam ini,terdapat beberapa relawan yang membantu. Misalnya, bantuan berupa APD, makanan yang bisa meningkatkan imun, dan alat-alat kesehatan lainnya. ”Alhamdulillah sejak wabah ini mencuat, banyak yang memberikan bantuan ke kami,” tuturnya.

Baca Juga :  Besaran Suntikan Dana Pemprov untuk Penanganan Covid-19 Masih Dibahas

Farhat menegaskan, bantuan yang boleh diberikan kepada pihak rumah sakit dalam bentuk barang jadi. Bukan berupa uang. Sebab, jika berbentuk uang, otomatis akan ditolak. ”Sumbangan bahan jadi kami terima,” tegasnya.

RSUD dr Moh. Anwar Sumenep juga ditunjuk pemerintah sebagai rumah sakit rujukan penanganan Covid-19. Ketua Tim Kewaspadaan Covid-19 Sumenep dr Andri Dwi Wahyudi menyampaikan, penunjukan itu sejak 28 Maret 2020. Tentunya, beberapa kebutuhan perlu dilengkapi untuk menangani pasien. Dari ketersediaan alat kesehatan, sarana dan prasarana, hingga tenaga medis.

Beruntung, sebelum ditunjuk jadi rumah sakit rujukan, beberapa persiapan sudah dilakukan untuk menghadapi pandemi ini. Pasalnya, setelah ditetapkan rumah sakit rujukan harus mampu merawat pasien. Termasuk tidak diperkenankan lagi merujuk karena setiap daerah mengalami situasi yang sama.

Semula sudah disiapakan sebanyak delapan ruang isolasi penanganan Covid-19. Satu ruangan untuk pasien dalam pengawasan (PDP) dan 7 ruangan untuk orang dalam pemantauan (ODP). Kemudian, penambahan ruangan sebanyak 9 ruang isolasi. Dengan total kesiapan ruangan yang ada sebanyak 16 ruang isolasi.

Baca Juga :  Dua Tahun Tiadakan Kegiatan┬áPurna-PMI

”Kalaupun nanti ada situasi darurat yang misalnya ada banyak pasien, rumah sakit sudah menyiapkan ruang cadangan sebanyak 24 ruangan,” jelasnya.

Kelengkapan APD dan tenaga medis sudah bisa dianggap siap. Hanya, sebagai rumah sakit rujukan, tentu harus memiliki sarana diagnostik. Yaitu, alat untuk melakukan diagnosis kepada pasien. Diakui, untuk alat diagnostik belum tersedia di RSUD dr Moh. Anwar Sumenep.

Dua jenis alat diagnostik yang diperlukan untuk penanganan Covid-19 yaitu, rapid test dan swab test. Berkaitan dengan dua alat itu, masih sedang dikoordinasikan dengan Dinas Kesehatan Provinsi Jatim. Termasuk berkoordinasi dengan rumah sakit rujukan di kabupaten lain.

”Di Kabupaten Pamekasan dan Bangkalan adanya cuma 5 buah. Selama ini rumah sakit memang belum tersedia alat diagnostik. Kita tetap mengusahakan secepatnya segera ada,” tandasnya. (jun)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/