alexametrics
23.2 C
Madura
Thursday, January 20, 2022

Airlangga Hartarto: Tingkatkan Inovasi dan Daya Saing Industri

JAKARTA – Pada kuartal III-2021, perekonomian Indonesia tetap tumbuh positif sebesar 3,51 persen (yoy), meski pada saat itu sedang diterapkan pembatasan kegiatan ekonomi dan masyarakat. Selain ada faktor base effect, sejumlah leading indicator pun menunjukkan perbaikan. Dengan demikian, pemulihan ekonomi diharapkan terus berlanjut.

Pertumbuhan tersebut ditopang oleh sektor industri pengolahan non migas yang pada kuartal III-2021 mampu tumbuh sebesar 4,12 persen (yoy) dengan kontribusi sebesar 17,33 persen terhadap PDB. Secara keseluruhan, industri pengolahan tumbuh sebesar 3,68 persen (yoy) dengan kontribusi sebesar 19,15 persen.

Utilisasi industri pengolahan non migas pun terus mengalami peningkatan. Indikasinya, pada Oktober 2021 mencapai rata-rata 66,90 persen. Harapannya, terus meningkat menuju utilisasi sebelum pandemi terjadi yaitu 76,30 persen. Beberapa sektor yang telah menunjukkan peningkatan utilisasi adalah sektor industri makanan dan minuman, tekstil dan produk tekstil, logam dasar, serta komputer dan barang elektronik.

“Purchasing Manager Index Manufaktur Indonesia (PMI) juga kembali mengalami ekspansi ke level 53,9 pada November 2021. Meskipun mengalami kontraksi jika dibandingkan Oktober 2021. Ke depan, PMI dapat terus berada di atas angka psikologis (lebih dari 50). Sebab, angka kasus Covid-19 di Indonesia terus menurun dan ada pelonggaran PPKM,” ucap Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam acara “Penganugerahan Indi 4.0 Award Tahun 2021 dan Conference Industry 4.0″, secara virtual di Jakarta, Kamis (2/12).

Airlangga Hartarto menjelaskan, Making Indonesia 4.0 merupakan program pemerintah dalam menyiapkan Indonesia untuk menghadapi era industri digital 4.0. Program itu fokus kepada tujuh sektor industri yakni makanan-minuman, tekstil, otomotif, kimia, elektronik, alat kesehatan dan farmasi yang menyumbang 70 persen PDB industri. Selanjutnya ekspor industri 65 persen dan tenaga kerja industri Indonesia 60 persen.

Baca Juga :  Santap Seafood dengan Sensasi View Jembatan Suramadu di Arrohah Cafe

Di sisi lain, masih perlu dilakukan pembenahan sektor industri nasional untuk lima aspek teknologi yang sebenarnya merupakan kunci sukses Making Indonesia 4.0. Kelima aspek tersebut adalah Internet of Things (IoT), Artificial Intelligence (AI), Human-Machine Interface, teknologi robotik dan sensor, serta teknologi 3D Printing.

“Selain itu, kita juga harus mendorong industri semi-konduktor. Sebab hampir semua industri digital memerlukannya. Kemudian, industri farmasi juga merupakan sektor penting dalam Making Indonesia 4.0. Dan di sini perlu dilakukan deregulasi. Sehingga menciptakan kesempatan yang sama antara BUMN dan swasta,” ungkap Airlangga Hartarto.

Salah satu program Pemerintah mendukung implementasi Making Indonesia 4.0 adalah dengan melakukan asesmen dan awarding Indonesia Industry 4.0 Readiness Index (INDI 4.0). Dengan demikian, INDI 4.0 menjadi standar acuan untuk mengukur tingkat kesiapan perusahaan dalam bertransformasi ke era industri 4.0.

Perluasan penerapan Industri 4.0 juga sudah tertuang dalam Peraturan Presiden (PP) Nomor 18 Tahun 2020 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2020-2024. Di dalamnya terdapat rencana pengembangan Industri 4.0 untuk lima sub sektor prioritas. Pada 2024 ditargetkan jumlah perusahaan dengan nilai INDI 4.0 lebih dari 3.0 menjadi 60 perusahaan. Haralannya, pertumbuhan PDB industri pengolahan menjadi 8,1 persen dan kontribusinya ke PDB 21,0 persen.

Baca Juga :  Urusan Seleksi Tambahan Pilkades, Pemkab Sumenep Pilih Unmer Malang

Dalam mengakselerasi implementasi Making Indonesia 4.0, Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian (kemendag) telah menginisiasi adanya Ekosistem Industri 4.0 (SINDI 4.0). Nanti di dalamnya berisi stakeholders seperti Pemerintah, Akademisi, Industri/Asosiasi, Lembaga Pembiayaan, Konsultan, dan Provider Teknologi. Selanjutnya mereka akan berkoordinasi secara berkesinambungan menciptakan inovasi-inovasi di bidang industri.

Pelaksanaan Penganugerahan INDI 4.0 Award Tahun 2021 dan Conference Industry 4.0 dengan tema New Era & New Normals: Collaborate on Digital Manufacturing Transformation merupakan salah satu bentuk komitmen Indonesia dalam mendukung digitalisasi dan inovasi dalam dunia industri. Penganugerahan INDI 4.0 ini terdiri  dari tujuh kategori/aspek dalam pemberian penghargaan. Mulai dari Agile Organization, Sustainable Technology, Supply Chain Management, Human Capacity Building, Product and Service, Aggressive Digitalization, dan Smart Factory.

“Saya ucapkan selamat kepada para penerima INDI 4.0 Award dan Special INDI 4.0. Semoga penghargaan ini dapat memacu industri kita untuk bisa lebih berinovasi. Sehingga mampu menghasilkan produk yang lebih berdaya saing. Kita juga harus mendorong lebih banyak lagi partisipan dalam ajang ini. Termasuk memperbanyak lighthouse asal Indonesia yang akan jadi percontohan. Tak hanya di ASEAN, tapi juga di antara negara G20,” pungkas Airlangga Hartarto. (rep/fsr/par)

JAKARTA – Pada kuartal III-2021, perekonomian Indonesia tetap tumbuh positif sebesar 3,51 persen (yoy), meski pada saat itu sedang diterapkan pembatasan kegiatan ekonomi dan masyarakat. Selain ada faktor base effect, sejumlah leading indicator pun menunjukkan perbaikan. Dengan demikian, pemulihan ekonomi diharapkan terus berlanjut.

Pertumbuhan tersebut ditopang oleh sektor industri pengolahan non migas yang pada kuartal III-2021 mampu tumbuh sebesar 4,12 persen (yoy) dengan kontribusi sebesar 17,33 persen terhadap PDB. Secara keseluruhan, industri pengolahan tumbuh sebesar 3,68 persen (yoy) dengan kontribusi sebesar 19,15 persen.

Utilisasi industri pengolahan non migas pun terus mengalami peningkatan. Indikasinya, pada Oktober 2021 mencapai rata-rata 66,90 persen. Harapannya, terus meningkat menuju utilisasi sebelum pandemi terjadi yaitu 76,30 persen. Beberapa sektor yang telah menunjukkan peningkatan utilisasi adalah sektor industri makanan dan minuman, tekstil dan produk tekstil, logam dasar, serta komputer dan barang elektronik.

“Purchasing Manager Index Manufaktur Indonesia (PMI) juga kembali mengalami ekspansi ke level 53,9 pada November 2021. Meskipun mengalami kontraksi jika dibandingkan Oktober 2021. Ke depan, PMI dapat terus berada di atas angka psikologis (lebih dari 50). Sebab, angka kasus Covid-19 di Indonesia terus menurun dan ada pelonggaran PPKM,” ucap Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam acara “Penganugerahan Indi 4.0 Award Tahun 2021 dan Conference Industry 4.0″, secara virtual di Jakarta, Kamis (2/12).

Airlangga Hartarto menjelaskan, Making Indonesia 4.0 merupakan program pemerintah dalam menyiapkan Indonesia untuk menghadapi era industri digital 4.0. Program itu fokus kepada tujuh sektor industri yakni makanan-minuman, tekstil, otomotif, kimia, elektronik, alat kesehatan dan farmasi yang menyumbang 70 persen PDB industri. Selanjutnya ekspor industri 65 persen dan tenaga kerja industri Indonesia 60 persen.

Baca Juga :  Menko Airlangga Dampingi Presiden Jokowi Serahkan Bantuan Tunai ke PKL

Di sisi lain, masih perlu dilakukan pembenahan sektor industri nasional untuk lima aspek teknologi yang sebenarnya merupakan kunci sukses Making Indonesia 4.0. Kelima aspek tersebut adalah Internet of Things (IoT), Artificial Intelligence (AI), Human-Machine Interface, teknologi robotik dan sensor, serta teknologi 3D Printing.

“Selain itu, kita juga harus mendorong industri semi-konduktor. Sebab hampir semua industri digital memerlukannya. Kemudian, industri farmasi juga merupakan sektor penting dalam Making Indonesia 4.0. Dan di sini perlu dilakukan deregulasi. Sehingga menciptakan kesempatan yang sama antara BUMN dan swasta,” ungkap Airlangga Hartarto.

Salah satu program Pemerintah mendukung implementasi Making Indonesia 4.0 adalah dengan melakukan asesmen dan awarding Indonesia Industry 4.0 Readiness Index (INDI 4.0). Dengan demikian, INDI 4.0 menjadi standar acuan untuk mengukur tingkat kesiapan perusahaan dalam bertransformasi ke era industri 4.0.

Perluasan penerapan Industri 4.0 juga sudah tertuang dalam Peraturan Presiden (PP) Nomor 18 Tahun 2020 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2020-2024. Di dalamnya terdapat rencana pengembangan Industri 4.0 untuk lima sub sektor prioritas. Pada 2024 ditargetkan jumlah perusahaan dengan nilai INDI 4.0 lebih dari 3.0 menjadi 60 perusahaan. Haralannya, pertumbuhan PDB industri pengolahan menjadi 8,1 persen dan kontribusinya ke PDB 21,0 persen.

Baca Juga :  Menko Airlangga Dampingi Presiden Jokowi saat Menemui Joe Biden

Dalam mengakselerasi implementasi Making Indonesia 4.0, Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian (kemendag) telah menginisiasi adanya Ekosistem Industri 4.0 (SINDI 4.0). Nanti di dalamnya berisi stakeholders seperti Pemerintah, Akademisi, Industri/Asosiasi, Lembaga Pembiayaan, Konsultan, dan Provider Teknologi. Selanjutnya mereka akan berkoordinasi secara berkesinambungan menciptakan inovasi-inovasi di bidang industri.

Pelaksanaan Penganugerahan INDI 4.0 Award Tahun 2021 dan Conference Industry 4.0 dengan tema New Era & New Normals: Collaborate on Digital Manufacturing Transformation merupakan salah satu bentuk komitmen Indonesia dalam mendukung digitalisasi dan inovasi dalam dunia industri. Penganugerahan INDI 4.0 ini terdiri  dari tujuh kategori/aspek dalam pemberian penghargaan. Mulai dari Agile Organization, Sustainable Technology, Supply Chain Management, Human Capacity Building, Product and Service, Aggressive Digitalization, dan Smart Factory.

“Saya ucapkan selamat kepada para penerima INDI 4.0 Award dan Special INDI 4.0. Semoga penghargaan ini dapat memacu industri kita untuk bisa lebih berinovasi. Sehingga mampu menghasilkan produk yang lebih berdaya saing. Kita juga harus mendorong lebih banyak lagi partisipan dalam ajang ini. Termasuk memperbanyak lighthouse asal Indonesia yang akan jadi percontohan. Tak hanya di ASEAN, tapi juga di antara negara G20,” pungkas Airlangga Hartarto. (rep/fsr/par)

Most Read

Artikel Terbaru