alexametrics
21 C
Madura
Tuesday, May 17, 2022

Kasus Kematian Pasien Covid-19 Bertambah

PAMEKASAN – Satu lagi pasien coronavirus disease 2019 (Covid-19) meninggal. Kali ini pasien ke-15 Pamekasan berinisial S, asal Kecamatan Palengaan. Pria 70 tahun itu mengembuskan napas terakhir kemarin (31/5).

S dinyatakan positif Covid-19 pada Jumat (29/5). Semasa hidupnya, S bekerja serabutan sebagai sopir dan lain-lain. Dia juga pernah melakukan perjalanan ke daerah zona merah Sidoarjo.

Jumlah warga Madura yang terpapar korona juga bertambah. Sejak kasus pertama pada Minggu (29/3) di Pamekasan, sudah seratus orang terifeksi hingga kemarin (31/5). Angka tersebut diketahui setelah ada tambahan empat kasus baru di Pamekasan.

Empat kasus baru itu terdiri atas dua ibu rumah tangga, seorang nelayan, dan seorang pegawai kecamatan. Pasien ke-17 merupakan seorang lelaki berinisial A. Usianya 60 tahun. Beralamat di Kecamatan Tlanakan. Dia bekerja sebagai nelayan.

Pasien ke-18 meruapakan ibu rumah tangga berinisial I. Usianya 63 tahun. Beralamat di Kecamatan Kota Pamekasan. Kasus ke-19 adalah perempuan berinisial DY. Perempuan tersebut beralamat di Kecamatan Proppo. Juga sebagai ibu rumah tangga. Kemudian, kasus ke-20 adalah pria berinisial CW, 40, warga Kecamatan Kota Pamekasan. Dia bekerja di kantor Kecamatan Camplong, Sampang.

Ketua Tim Penanganan Covid-19 Internal RSUD Smart Pamekasan Syaiful Hidayat mengatakan, empat pasien baru tersebut masuk RSU Mohmmad Noer dan RSUD Waru. Menurut lelaki yang akrab disapa Yayak itu, persebaran Covid-19 akhir-akhir ini cukup meluas dan acak karena musim mudik.

”Sekarang tidak bicara klaster karena momen mudik dan orang beraktivitas padat,” ungkapnya. Gugus Tugas Covid-19 Pamekasan masih melakukan tracing terhadap empat pasien baru tersebut.

Dari 100 orang yang terpapar itu, delapan orang meninggal dan 20 lainnya berhasil sembuh. Perinciannya, angka kematian dan sembuh tertinggi Pamekasan. Dari 20 kasus, empat orang meninggal dan delapan terbebas dari korona.

Kasus tertinggi Bangkalan dengan 42 kasus. Tiga orang meninggal dan enam pasien lainnya sembuh. Sampang 26 kasus dengan angka kematian satu dan empat orang sembuh. Sementara Sumenep 12 kasus. Dua di antaranya sembuh.

Baca Juga :  Vaksinasi Tingkat Desa Makin Digalakkan

Banyaknya pasien memaksa pengelola RSUD Syamrabu Bangkalan berpikir keras untuk menambah ruangan baru. Sebab, ruang untuk perawatan pasien sudah penuh. Bahkan, asrama mahasiswa di rumah sakit itu juga terpakai.

Humas Gugus Tugas Covid-19 Bangkalan Catur Budi Keswardiono mengutarakan, ruang isolasi dan asrama mahasiswa di RSUD sudah penuh. Karena itu, pihaknya membuka satu ruang inap untuk dijadikan ruang isolasi. ”Dengan beberapa modifikasi, terpaksa ruang inap kami jadikan ruang isolasi. Kami buka satu ruangan lagi,” ungkapnya kemarin (31/5).

Catur mengatakan, orang dalam pemantauan (ODP), pasien dalam pengawasan (PDP), dan pasien positif banyak. Akibatnya, keadaan itu berdampak terhadap ketersediaan ruang perawatan. Ruang isolasi dan asrama mahasiswa yang terpakai 54 ruangan. ”PDP terus membeludak. Kalau yang positif sekitar 29 ruangan yang terisi,” sebutnya.

Ketersediaan ruangan untuk PDP terbatas. Terutama, mereka yang terkategori sedang dan berat. ”Kalau positif berstatus OTG kan gampang, gak perlu infus. Tapi, kalau PDP kan butuh pelayanan ekstra. Apalagi, PDP kategori berat,” sebutnya.

Dokter spesialis paru itu menjelaskan, sebenarnya Jumat (29/5) pihaknya sudah melaksanakan rapat persiapan balai diklat sebagian ruang isolasi. Tetapi, jumlah PDP dan pasien positif tak terbendung. ”Antara (jumlah) kasus dan persiapan pelayanan kejar-kejaran,” imbuhnya.

Di sisi lain, Tim Gugus Tugas Covid-19 Bangkalan belum berhasil melacak keberadaan pasien ke-40 dan ke-41. Tim sudah mengantongi alamat mereka. Pasien ke-40 berinisial MRP, 26, beralamat di Perumahan Permata, Kelurahan Mlajah. Pasien ke-41 berinisial ES, 75, beralamat di Kelurahan Pejagan. Namun, keberadaan mereka belum terdeteksi. Informasi yang berkembang, mereka pindah tempat tinggal.

”Hanya pasien ke-42 yang sudah dirawat di rumah sakit,” jelas Kepala Dinkes Bangkalan Sudiyo. Pasien ke-42 berinisial AM, 53, warga Kecamatan Sepulu. Tiga warga positif Covid-19 itu tidak sakit, termasuk orang tanpa gejala (OTG).

Baca Juga :  Belajar Tetap Lancar Lewat layar #KenapaNggak

Menurut dia, AM itu tinggal di Surabaya bersama istrinya. Sehari-hari bekerja sebagai tukang becak, sedangkan istrinya jualan nasi. ”Pulang ke Madura dalam keadaan sakit dan langsung dirawat inap di Klinik Wardah,” ungkapnya.

Klinik Wardah memberitahukan kepada petugas Puskesmas Sepulu bahwa ada pasien ODP berinisial AM dengan keluhan panas, batuk, dan nyeri. Lalu, pasien datang ke Puskesmas Sepulu untuk di-rapid test. Hasilnya reaktif.

Selanjutnya, pasien dianjurkan menjalani isolasi mandiri di rumah sambil menunggu jadwal swab pada 19 Mei. AM berkenan menjalani isolasi mandiri di kantor UPT Dinas Pendidikan Sepulu. Sabtu (30/5) hasil swab keluar. Dia dinyatakan positif dan langsung dirujuk ke RSUD Syamrabu.

 

Tracing Pasien Ke-32, Empat Orang Reaktif

Sementara itu, tes cepat (rapid test) terhadap orang pernah kontak dengan pasien positif ke-32 Covid-19 Bangkalan kelar. Empat orang dinyatakan reaktif dan belasan lainnya nonreaktif.

Pasien ke-32 asal Desa/Kecamatan Blega dimakamkan tidak menggunakan protokol Covid-19. Karena itu, pihak keluarga dan petugas kesehatan di lapangan diperiksa. ”Dari 17 petugas yang di-rapid test, semuanya nonreaktif. Keluarga dan tetangga total ada empat yang positif rapid test,” ungkap Sudiyo.

Empat orang reaktif itu terdiri atas dua anggota keluarga, seorang tetangga, dan seorang pedagang di Pasar Blega. Mereka akan dilanjutkan pemeriksaan swab melalui metode polymerase chain reaction (PCR) di RSUD Syamrabu, Selasa (2/6). ”Keempatnya sehat. Semoga hasilnya negatif,” harapnya.

Yoyok mengungkapkan, prosesi pemakaman mayoritas dilakukan keluarga besar pasien. Dengan demikian, sedikit kemungkinan yang ditengarai terpapar. Pasien 53 tahun itu tidak dikebumikan di pemakaman umum, melainkan di tanahnya sendiri, tepat di depan rumah. ”Beruntung, warga sekitar cukup mengerti jika pasien tersebut merupakan PDP,” jelasnya.

Pihaknya berharap masyarakat, terutama keluarga pasien positif Covid-19, tidak perlu cemas dan takut berlebihan. Lebih baik penanganan pasien diserahkan kepada petugas kesehatan supaya bisa ditangani dengan baik. ”Potensi untuk sembuh sangat besar,” tegasnya. (ky)

PAMEKASAN – Satu lagi pasien coronavirus disease 2019 (Covid-19) meninggal. Kali ini pasien ke-15 Pamekasan berinisial S, asal Kecamatan Palengaan. Pria 70 tahun itu mengembuskan napas terakhir kemarin (31/5).

S dinyatakan positif Covid-19 pada Jumat (29/5). Semasa hidupnya, S bekerja serabutan sebagai sopir dan lain-lain. Dia juga pernah melakukan perjalanan ke daerah zona merah Sidoarjo.

Jumlah warga Madura yang terpapar korona juga bertambah. Sejak kasus pertama pada Minggu (29/3) di Pamekasan, sudah seratus orang terifeksi hingga kemarin (31/5). Angka tersebut diketahui setelah ada tambahan empat kasus baru di Pamekasan.

Empat kasus baru itu terdiri atas dua ibu rumah tangga, seorang nelayan, dan seorang pegawai kecamatan. Pasien ke-17 merupakan seorang lelaki berinisial A. Usianya 60 tahun. Beralamat di Kecamatan Tlanakan. Dia bekerja sebagai nelayan.

Pasien ke-18 meruapakan ibu rumah tangga berinisial I. Usianya 63 tahun. Beralamat di Kecamatan Kota Pamekasan. Kasus ke-19 adalah perempuan berinisial DY. Perempuan tersebut beralamat di Kecamatan Proppo. Juga sebagai ibu rumah tangga. Kemudian, kasus ke-20 adalah pria berinisial CW, 40, warga Kecamatan Kota Pamekasan. Dia bekerja di kantor Kecamatan Camplong, Sampang.

Ketua Tim Penanganan Covid-19 Internal RSUD Smart Pamekasan Syaiful Hidayat mengatakan, empat pasien baru tersebut masuk RSU Mohmmad Noer dan RSUD Waru. Menurut lelaki yang akrab disapa Yayak itu, persebaran Covid-19 akhir-akhir ini cukup meluas dan acak karena musim mudik.

”Sekarang tidak bicara klaster karena momen mudik dan orang beraktivitas padat,” ungkapnya. Gugus Tugas Covid-19 Pamekasan masih melakukan tracing terhadap empat pasien baru tersebut.

Dari 100 orang yang terpapar itu, delapan orang meninggal dan 20 lainnya berhasil sembuh. Perinciannya, angka kematian dan sembuh tertinggi Pamekasan. Dari 20 kasus, empat orang meninggal dan delapan terbebas dari korona.

Kasus tertinggi Bangkalan dengan 42 kasus. Tiga orang meninggal dan enam pasien lainnya sembuh. Sampang 26 kasus dengan angka kematian satu dan empat orang sembuh. Sementara Sumenep 12 kasus. Dua di antaranya sembuh.

Baca Juga :  2021, Tahun Transformasi Bukopin Baru

Banyaknya pasien memaksa pengelola RSUD Syamrabu Bangkalan berpikir keras untuk menambah ruangan baru. Sebab, ruang untuk perawatan pasien sudah penuh. Bahkan, asrama mahasiswa di rumah sakit itu juga terpakai.

Humas Gugus Tugas Covid-19 Bangkalan Catur Budi Keswardiono mengutarakan, ruang isolasi dan asrama mahasiswa di RSUD sudah penuh. Karena itu, pihaknya membuka satu ruang inap untuk dijadikan ruang isolasi. ”Dengan beberapa modifikasi, terpaksa ruang inap kami jadikan ruang isolasi. Kami buka satu ruangan lagi,” ungkapnya kemarin (31/5).

Catur mengatakan, orang dalam pemantauan (ODP), pasien dalam pengawasan (PDP), dan pasien positif banyak. Akibatnya, keadaan itu berdampak terhadap ketersediaan ruang perawatan. Ruang isolasi dan asrama mahasiswa yang terpakai 54 ruangan. ”PDP terus membeludak. Kalau yang positif sekitar 29 ruangan yang terisi,” sebutnya.

Ketersediaan ruangan untuk PDP terbatas. Terutama, mereka yang terkategori sedang dan berat. ”Kalau positif berstatus OTG kan gampang, gak perlu infus. Tapi, kalau PDP kan butuh pelayanan ekstra. Apalagi, PDP kategori berat,” sebutnya.

Dokter spesialis paru itu menjelaskan, sebenarnya Jumat (29/5) pihaknya sudah melaksanakan rapat persiapan balai diklat sebagian ruang isolasi. Tetapi, jumlah PDP dan pasien positif tak terbendung. ”Antara (jumlah) kasus dan persiapan pelayanan kejar-kejaran,” imbuhnya.

Di sisi lain, Tim Gugus Tugas Covid-19 Bangkalan belum berhasil melacak keberadaan pasien ke-40 dan ke-41. Tim sudah mengantongi alamat mereka. Pasien ke-40 berinisial MRP, 26, beralamat di Perumahan Permata, Kelurahan Mlajah. Pasien ke-41 berinisial ES, 75, beralamat di Kelurahan Pejagan. Namun, keberadaan mereka belum terdeteksi. Informasi yang berkembang, mereka pindah tempat tinggal.

”Hanya pasien ke-42 yang sudah dirawat di rumah sakit,” jelas Kepala Dinkes Bangkalan Sudiyo. Pasien ke-42 berinisial AM, 53, warga Kecamatan Sepulu. Tiga warga positif Covid-19 itu tidak sakit, termasuk orang tanpa gejala (OTG).

Baca Juga :  Sayangkan Siswa Ikut Demo

Menurut dia, AM itu tinggal di Surabaya bersama istrinya. Sehari-hari bekerja sebagai tukang becak, sedangkan istrinya jualan nasi. ”Pulang ke Madura dalam keadaan sakit dan langsung dirawat inap di Klinik Wardah,” ungkapnya.

Klinik Wardah memberitahukan kepada petugas Puskesmas Sepulu bahwa ada pasien ODP berinisial AM dengan keluhan panas, batuk, dan nyeri. Lalu, pasien datang ke Puskesmas Sepulu untuk di-rapid test. Hasilnya reaktif.

Selanjutnya, pasien dianjurkan menjalani isolasi mandiri di rumah sambil menunggu jadwal swab pada 19 Mei. AM berkenan menjalani isolasi mandiri di kantor UPT Dinas Pendidikan Sepulu. Sabtu (30/5) hasil swab keluar. Dia dinyatakan positif dan langsung dirujuk ke RSUD Syamrabu.

 

Tracing Pasien Ke-32, Empat Orang Reaktif

Sementara itu, tes cepat (rapid test) terhadap orang pernah kontak dengan pasien positif ke-32 Covid-19 Bangkalan kelar. Empat orang dinyatakan reaktif dan belasan lainnya nonreaktif.

Pasien ke-32 asal Desa/Kecamatan Blega dimakamkan tidak menggunakan protokol Covid-19. Karena itu, pihak keluarga dan petugas kesehatan di lapangan diperiksa. ”Dari 17 petugas yang di-rapid test, semuanya nonreaktif. Keluarga dan tetangga total ada empat yang positif rapid test,” ungkap Sudiyo.

Empat orang reaktif itu terdiri atas dua anggota keluarga, seorang tetangga, dan seorang pedagang di Pasar Blega. Mereka akan dilanjutkan pemeriksaan swab melalui metode polymerase chain reaction (PCR) di RSUD Syamrabu, Selasa (2/6). ”Keempatnya sehat. Semoga hasilnya negatif,” harapnya.

Yoyok mengungkapkan, prosesi pemakaman mayoritas dilakukan keluarga besar pasien. Dengan demikian, sedikit kemungkinan yang ditengarai terpapar. Pasien 53 tahun itu tidak dikebumikan di pemakaman umum, melainkan di tanahnya sendiri, tepat di depan rumah. ”Beruntung, warga sekitar cukup mengerti jika pasien tersebut merupakan PDP,” jelasnya.

Pihaknya berharap masyarakat, terutama keluarga pasien positif Covid-19, tidak perlu cemas dan takut berlebihan. Lebih baik penanganan pasien diserahkan kepada petugas kesehatan supaya bisa ditangani dengan baik. ”Potensi untuk sembuh sangat besar,” tegasnya. (ky)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/