alexametrics
25 C
Madura
Wednesday, May 25, 2022

Pemkab Nilai TPM Potensial sebagai Penggerak Ekonomi Masyarakat

BANGKALAN – Pemkab Bangkalan terus berupaya mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya pesisir dan laut secara berkelanjutan. Misalnya, dengan mengembangkan potensi ekowisita mangrove di Desa Labuhan, Kecamatan Sepulu.

Hal tersebut, sesuai dengan visi dan misi Terwujudnya Penataan Ruang Kabupaten Bangkalan Sebagai  Pintu Gerbang Madura menuju Kota Industri, Pariwisata dan Jasa.

Sebagai langkah awal, Pemkab Bangkalan akan mengembangkan ekowisata melalui Taman Pendidikan Mangrove (TPM) di pesisir Desa Labuhan, Kecamatan Sepulu. 

Dijadwalkan, Bupati Bangkalan R Abdul Latif Amin Imron akan me-launching TPM Desa Labuhan pada Kamis (1/8/2019) . 

Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Kabupaten Bangkalan Moh Hasan Faisol mengatakan, pihaknya sudah menyiapkan sejumlah konsep dan desain promosi wisata TPM kepada masyarakat luar Bangkalan.

Baca Juga :  Akses Suramadu Rawan Tindak Kriminal, PMII Desak Bangun Posko Terpadu

“Tinggal menunggu petunjuk bapak bupati. Kami sudah masukkan ke paket-paket wisata,” ujarnya.

Menurutnya, keberadaan ekowisata TPM sebagai wahana pelestarian alam sangat potensial menjadi penggerak ekonomi masyarakat di Desa Labuhan.

“Para pengunjung akan disuguhkan  perjalanan wisata membelah hamparan hutan mangrove. Seperti Bee Jay Bakau Resort (BJBR) di Probolinggo,” paparnya.

Pengembangan TPM merupakan hasil kerjasama Pemkab Bangkakan, Universitas Trunojoyo Madura (UTM) dan Pertamina Hulu Energy West Madura Offshore (PHE WMO) sejak 2013.

PHE WMO merupakan korporasi yang bergerak di sektor hulu migas dan menjadi kontraktor kontrak kerja sama dengan SKK Migas.

TPM memiliki lebih dari 10 ribu pohon mangrove. Terhampar di atas lahan pesisir seluas sekitar delapan hekatare. Saat ini, pengelolaannya ditangani Pemkab Bangkalan.

Baca Juga :  Genjot Pembangunan Infrastruktur, Sulap Desa Semakin Berseri

Faisol menambahkan, para pengunjung nanti akan dimanjakan dengan geladak kayu atau yang disebut tracking sepanjang 350 meter membelah hutan mangrove. 

“Geladak itu akan menuntun para pengunjung menuju keindahan panorama pantai,” pungkasnya. (*)

BANGKALAN – Pemkab Bangkalan terus berupaya mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya pesisir dan laut secara berkelanjutan. Misalnya, dengan mengembangkan potensi ekowisita mangrove di Desa Labuhan, Kecamatan Sepulu.

Hal tersebut, sesuai dengan visi dan misi Terwujudnya Penataan Ruang Kabupaten Bangkalan Sebagai  Pintu Gerbang Madura menuju Kota Industri, Pariwisata dan Jasa.

Sebagai langkah awal, Pemkab Bangkalan akan mengembangkan ekowisata melalui Taman Pendidikan Mangrove (TPM) di pesisir Desa Labuhan, Kecamatan Sepulu. 


Dijadwalkan, Bupati Bangkalan R Abdul Latif Amin Imron akan me-launching TPM Desa Labuhan pada Kamis (1/8/2019) . 

Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Kabupaten Bangkalan Moh Hasan Faisol mengatakan, pihaknya sudah menyiapkan sejumlah konsep dan desain promosi wisata TPM kepada masyarakat luar Bangkalan.

Baca Juga :  Akses Suramadu Rawan Tindak Kriminal, PMII Desak Bangun Posko Terpadu

“Tinggal menunggu petunjuk bapak bupati. Kami sudah masukkan ke paket-paket wisata,” ujarnya.

Menurutnya, keberadaan ekowisata TPM sebagai wahana pelestarian alam sangat potensial menjadi penggerak ekonomi masyarakat di Desa Labuhan.

“Para pengunjung akan disuguhkan  perjalanan wisata membelah hamparan hutan mangrove. Seperti Bee Jay Bakau Resort (BJBR) di Probolinggo,” paparnya.

Pengembangan TPM merupakan hasil kerjasama Pemkab Bangkakan, Universitas Trunojoyo Madura (UTM) dan Pertamina Hulu Energy West Madura Offshore (PHE WMO) sejak 2013.

PHE WMO merupakan korporasi yang bergerak di sektor hulu migas dan menjadi kontraktor kontrak kerja sama dengan SKK Migas.

TPM memiliki lebih dari 10 ribu pohon mangrove. Terhampar di atas lahan pesisir seluas sekitar delapan hekatare. Saat ini, pengelolaannya ditangani Pemkab Bangkalan.

Baca Juga :  Enam Belas dari 18 Kecamatan di Bangkalan Sudah Merah

Faisol menambahkan, para pengunjung nanti akan dimanjakan dengan geladak kayu atau yang disebut tracking sepanjang 350 meter membelah hutan mangrove. 

“Geladak itu akan menuntun para pengunjung menuju keindahan panorama pantai,” pungkasnya. (*)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/