alexametrics
22.4 C
Madura
Monday, August 15, 2022

Tajin Sobih, Jajanan Manis Khas Bangkalan

BANGKALAN – Satu lagi kuliner khas Kota Salak yang banyak digemari, yakni tajin Sobih. Jajanan tersebut memiliki cita rasa manis. Tak heran jika banyak yang suka.

Salah satu penjual tajin Sobih adalah Mina. Jawa Pos Radar Madura bertemu dengan perempuan 66 tahun itu di kawasan Stadion Gelora Bangkalan (SGB) sehari sebelum awal Ramadan 1439 Hijriah lalu. Tepatnya Rabu, 16 Mei 2018.

Sembari meracik sajian tajin Sobih, dia mulai bercerita mengenai awal bergelut dengan usaha jajanan rakyat ini. Dia mulai berjualan setelah orang tuanya meninggal dunia. Saat itu usianya masih 13 tahun.

Demi memenuhi kebutuhan hidup, dia meneruskan pekerjaan warisan keluarga. Terlebih, dia harus menghidupi saudaranya yang masih berusia tujuh bulan. Dia mulai berjualan sekitar tahun 1965.

Baca Juga :  GOR Saka Jadi Tempat Penyimpanan Surat Suara

Penjual tajin Sobih kelahiran 1952 ini harus menempuh jarak berkilo-kilometer untuk menjajakan dagangannya ke kampung-kampung. Mulanya hanya satu kilogram. Dengan usianya yang masih 13 tahun dia tidak mampu menyunggi beban terlalu berat.

Tapi, sekarang bisa jualan hingga empat kilogram. Harga yang dipatok untuk satu porsi hanya Rp 4.000 hingga Rp 5.000. Pendapatan yang biasa diperoleh dari hasil penjualan empat kilogram tajin Sobih yakni sebesar Rp 50 ribu.

”Dulu harganya 1 ringgit. Kata orang dulu itu uang biru. Setelah itu naik Rp 5. Naik lagi Rp 10. Dan sampai sekarang Rp 5 ribu,” kata ibu delapan anak yang akrab disapa Bu Sumrah itu..

Diterangkan, kuliner khas Bangkalan ini berasal dari Desa Sobih, Kecamatan Burneh, tempat tinggal Bu Sumirah. Bahan yang digunakan untuk membuat makanan tersebut di antaranya bubur sumsum, tajin Sobih, santan, mutiara, lupis, dan gula aren. Kemudian dibungkus dengan daun pisang.

Baca Juga :  Butuh Rp 27 Miliar Lagi Untuk Tambahan Fasilitas Gedung DPRD

Dia mengaku tidak tahu pasti tahun berapa kuliner ini mulai ada. Namun, yang jelas, neneknya dulu sudah berjualan tajin Sobih. Pastinya sejak Belanda masih menjajah tanah ibu pertiwi. Bu Sumrah hanya mengetahui jika tajin ini sudah lestari mulai dari para sesepuh di Desa Sobih.

Selain berjualan di pinggir jalan dan dijajakan di perkampungan, nenek ini juga biasa diundang untuk menyajikan hidangan tajin Sobih pada acara-acara tertentu. Seperti pernikahan, pertemuan, dan kegiatan lainnya. ”Banyak pelanggan saya. Biasa diundang untuk mantenan atau acara-acara,” tuturnya.

BANGKALAN – Satu lagi kuliner khas Kota Salak yang banyak digemari, yakni tajin Sobih. Jajanan tersebut memiliki cita rasa manis. Tak heran jika banyak yang suka.

Salah satu penjual tajin Sobih adalah Mina. Jawa Pos Radar Madura bertemu dengan perempuan 66 tahun itu di kawasan Stadion Gelora Bangkalan (SGB) sehari sebelum awal Ramadan 1439 Hijriah lalu. Tepatnya Rabu, 16 Mei 2018.

Sembari meracik sajian tajin Sobih, dia mulai bercerita mengenai awal bergelut dengan usaha jajanan rakyat ini. Dia mulai berjualan setelah orang tuanya meninggal dunia. Saat itu usianya masih 13 tahun.


Demi memenuhi kebutuhan hidup, dia meneruskan pekerjaan warisan keluarga. Terlebih, dia harus menghidupi saudaranya yang masih berusia tujuh bulan. Dia mulai berjualan sekitar tahun 1965.

Baca Juga :  GOR Saka Jadi Tempat Penyimpanan Surat Suara

Penjual tajin Sobih kelahiran 1952 ini harus menempuh jarak berkilo-kilometer untuk menjajakan dagangannya ke kampung-kampung. Mulanya hanya satu kilogram. Dengan usianya yang masih 13 tahun dia tidak mampu menyunggi beban terlalu berat.

Tapi, sekarang bisa jualan hingga empat kilogram. Harga yang dipatok untuk satu porsi hanya Rp 4.000 hingga Rp 5.000. Pendapatan yang biasa diperoleh dari hasil penjualan empat kilogram tajin Sobih yakni sebesar Rp 50 ribu.

”Dulu harganya 1 ringgit. Kata orang dulu itu uang biru. Setelah itu naik Rp 5. Naik lagi Rp 10. Dan sampai sekarang Rp 5 ribu,” kata ibu delapan anak yang akrab disapa Bu Sumrah itu..

- Advertisement -

Diterangkan, kuliner khas Bangkalan ini berasal dari Desa Sobih, Kecamatan Burneh, tempat tinggal Bu Sumirah. Bahan yang digunakan untuk membuat makanan tersebut di antaranya bubur sumsum, tajin Sobih, santan, mutiara, lupis, dan gula aren. Kemudian dibungkus dengan daun pisang.

Baca Juga :  Soto Madura Disukai Kalangan Pejabat

Dia mengaku tidak tahu pasti tahun berapa kuliner ini mulai ada. Namun, yang jelas, neneknya dulu sudah berjualan tajin Sobih. Pastinya sejak Belanda masih menjajah tanah ibu pertiwi. Bu Sumrah hanya mengetahui jika tajin ini sudah lestari mulai dari para sesepuh di Desa Sobih.

Selain berjualan di pinggir jalan dan dijajakan di perkampungan, nenek ini juga biasa diundang untuk menyajikan hidangan tajin Sobih pada acara-acara tertentu. Seperti pernikahan, pertemuan, dan kegiatan lainnya. ”Banyak pelanggan saya. Biasa diundang untuk mantenan atau acara-acara,” tuturnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/