alexametrics
24.4 C
Madura
Saturday, May 21, 2022

Ribuan Anak Menderita Stunting

BANGKALAN – Anak yang mengalami kekurangan gizi kronis atau stunting perlu mendapatkan perhatian pemerintah. Di Bangkalan tercatat 3.103 anak tersebar di 18 kecamatan menderita stunting (perincian lihat grafis).

Sufiyah, 31, warga Desa Bilaporah, Kecamatan Socah, Bangkalan, merupakan salah seorang ibu yang anaknya mengalami stunting. Putra Sufiyah yakni Muhammad Nur, 3, diketahui stunting setelah diperiksa ke Puskesmas Jaddih, Kecamatan Socah.

”Diketahui setelah dibawa ke puskesmas. Kata Bu Yanti (petugas medis di Puskesmas Jaddih, Red) anak saya stunting,” tuturnya saat ditemui RadarMadura.id Rabu (28/11).

Sufiyah menyampaikan, saat proses persalinan, putranya lahir normal. Kata dia, Muhammad Nur hadir ke bumi ini dengan berat 3 kilogram dan panjang 48 sentimeter. Namun, Muhammad Nur lahir dalam kondisi bibir sumbing.

Beberapa bulan kemudian, Sufiyah mengoperasi bibir sumbing putranya. ”Setelah operasi, anak saya ini tidak mau menyusu (minum ASI, Red). Beberapa bulan setelah itu anak saya katanya mengalami gizi buruk,” urainya.

Baca Juga :  Bagikan Masker, Tingkatkan Kesadaran Protokol Kesehatan

Sufiyah meminta pemerintah memperhatikan ibu hamil dan anak usia di bawah lima tahun (balita). Dia ingin stunting diketahui dan dicegah sejak dini. Dia tidak mau yang menimpa putranya dialami anak-anak yang lain.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Kesehatan (Dinkes) Bangkalan Moh. Rasuli menjelaskan, stunting dipicu kekurangan gizi saat ibu sedang hamil. Hal itu memengaruhi kondisi bayi yang ada dalam kandungan. ”Kekurangan gizi bisa waktu kehamilan, dan bisa waktu setelah kelahiran,” ucapnya.

Rasuli tidak menampik penderita stunting di Bangkalan cukup banyak. Menurut dia, penderita stunting tidak dapat disembuhkan dan bahkan memengaruhi kecerdasan penderitanya. Kendati demikian, untuk kecerdasan masih dapat diantisipasi dengan pemenuhan gizi yang cukup.

Anak yang menderita stunting perkembangan tumbuhnya telat. Terdapat perbedaan tinggi badan antara anak normal dengan anak yang menderita stunting. Rasuli menyebutkan, penderita stunting lebih banyak di perdesaan dibandingkan perkotaan.

Baca Juga :  Madura Berduka, Sekjen Bassra Wafat

Dia mengimbau ibu hamil mencukupi kebutuhan gizi dan rutin memeriksakan kehamilan ke puskesmas atau posyandu. ”Ibu hamil harus menjaga kehamilannya, harus rajin memeriksakan kandungan, dan mengonsumsi makanan bergizi,” sarannya.

Untuk mencegah stunting, Rasuli menyebut, dinkes rutin melakukan kegiatan pos pelayanan terpadu (posyandu). Kegiatan tersebut menjadi salah satu kontrol penyebaran stunting. ”Posyandu memeriksa ibu hamil dan bayi. Salah satunya untuk menekan angka penderita stunting,” ucapnya.

Rasuli menambahkan, dineks memberikan tablet penambah darah dan vitamin. Tablet tersebut diberikan kepada remaja perempuan dan ibu hamil di Bangkalan. ”Ada tablet untuk remaja perempuan dan ada juga untuk ibu hamil. Yang untuk yang remaja biasanya tablet tambah darah,” tukasnya. (jup)

- Advertisement -

BANGKALAN – Anak yang mengalami kekurangan gizi kronis atau stunting perlu mendapatkan perhatian pemerintah. Di Bangkalan tercatat 3.103 anak tersebar di 18 kecamatan menderita stunting (perincian lihat grafis).

Sufiyah, 31, warga Desa Bilaporah, Kecamatan Socah, Bangkalan, merupakan salah seorang ibu yang anaknya mengalami stunting. Putra Sufiyah yakni Muhammad Nur, 3, diketahui stunting setelah diperiksa ke Puskesmas Jaddih, Kecamatan Socah.

”Diketahui setelah dibawa ke puskesmas. Kata Bu Yanti (petugas medis di Puskesmas Jaddih, Red) anak saya stunting,” tuturnya saat ditemui RadarMadura.id Rabu (28/11).


Sufiyah menyampaikan, saat proses persalinan, putranya lahir normal. Kata dia, Muhammad Nur hadir ke bumi ini dengan berat 3 kilogram dan panjang 48 sentimeter. Namun, Muhammad Nur lahir dalam kondisi bibir sumbing.

Beberapa bulan kemudian, Sufiyah mengoperasi bibir sumbing putranya. ”Setelah operasi, anak saya ini tidak mau menyusu (minum ASI, Red). Beberapa bulan setelah itu anak saya katanya mengalami gizi buruk,” urainya.

Baca Juga :  Pemilik Lahan Tutup Griya Indah Lestari

Sufiyah meminta pemerintah memperhatikan ibu hamil dan anak usia di bawah lima tahun (balita). Dia ingin stunting diketahui dan dicegah sejak dini. Dia tidak mau yang menimpa putranya dialami anak-anak yang lain.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Kesehatan (Dinkes) Bangkalan Moh. Rasuli menjelaskan, stunting dipicu kekurangan gizi saat ibu sedang hamil. Hal itu memengaruhi kondisi bayi yang ada dalam kandungan. ”Kekurangan gizi bisa waktu kehamilan, dan bisa waktu setelah kelahiran,” ucapnya.

Rasuli tidak menampik penderita stunting di Bangkalan cukup banyak. Menurut dia, penderita stunting tidak dapat disembuhkan dan bahkan memengaruhi kecerdasan penderitanya. Kendati demikian, untuk kecerdasan masih dapat diantisipasi dengan pemenuhan gizi yang cukup.

Anak yang menderita stunting perkembangan tumbuhnya telat. Terdapat perbedaan tinggi badan antara anak normal dengan anak yang menderita stunting. Rasuli menyebutkan, penderita stunting lebih banyak di perdesaan dibandingkan perkotaan.

Baca Juga :  Tiga Pemotor Tabrakan Karambol, Warga Sampang Tewas di Bangkalan

Dia mengimbau ibu hamil mencukupi kebutuhan gizi dan rutin memeriksakan kehamilan ke puskesmas atau posyandu. ”Ibu hamil harus menjaga kehamilannya, harus rajin memeriksakan kandungan, dan mengonsumsi makanan bergizi,” sarannya.

Untuk mencegah stunting, Rasuli menyebut, dinkes rutin melakukan kegiatan pos pelayanan terpadu (posyandu). Kegiatan tersebut menjadi salah satu kontrol penyebaran stunting. ”Posyandu memeriksa ibu hamil dan bayi. Salah satunya untuk menekan angka penderita stunting,” ucapnya.

Rasuli menambahkan, dineks memberikan tablet penambah darah dan vitamin. Tablet tersebut diberikan kepada remaja perempuan dan ibu hamil di Bangkalan. ”Ada tablet untuk remaja perempuan dan ada juga untuk ibu hamil. Yang untuk yang remaja biasanya tablet tambah darah,” tukasnya. (jup)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/