alexametrics
24.4 C
Madura
Tuesday, August 9, 2022

Simpan Satu Lemari Contoh Rokok Ilegal

BANGKALAN – Peredaran rokok ilegal masih marak di Bangkalan. Rokok tanpa pita cukai resmi itu banyak beredar di toko-toko dan pasar tradisional. Meski marak, pemerintah belum mengambil tindakan tegas. Hanya mengambil sampel dan memberikan imbauan.

Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Bangkalan Budi Utomo menyampaikan, ada 100 lebih sampel rokok ilegal yang sudah diamankan. Dia memperkirakan masih banyak merek rokok lain tanpa cukai yang beredar di Kota Salak. ”Kami menyimpan contoh ratusan rokok ilegal, satu lemari, memang banyak,” ungkapnya kemarin (28/1).

Meski diketahui banyak beredar, pihaknya tidak bisa melakukan penyitaan rokok ilegal. Dia mengaku bukan wewenangnya. Selama ini pihaknya hanya mengambil sampel dan memberikan teguran kepada pedagang.

”Kami lakukan sosialisasi dan imbauan tentang larangan penjualan rokok ilegal karena sangat merugikan negara,” kata mantan Kepala Dinas Perikanan Bangkalan itu.

Baca Juga :  Antisipasi Lonjakan Harga Jelang Lebaran

Dia melanjutkan, dana cukai rokok dikembalikan untuk kesejahteraan masyarakat. Seperti di bidang kesehatan. Misalnya, untuk pengadaan alat-alat kesehatan melalui dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT).

Selain tanpa cukai, pihaknya juga menemui ada rokok yang menggunakan pita cukai palsu. ”Ada rokok ilegal yang pakai pita cukai palsu. Beda antara yang asli dengan yang palsu. Ada kodenya tersendiri,” ujarnya.

Peredaran rokok ilegal dilarang secara hukum. Pengedar dan produsen bisa dikenakan denda. Budi mengaku kesulitan menertibkan pedagang yang berjualan rokok ilegal. Sebab, pedagang tetap menjual rokok tersebut karena sifatnya hanya menjual.

Menurut Budi, sanksi tegas seharusnya diberikan kepada yang memproduksi. Berdasarkan sepengetahuannya, produsen rokok ilegal yang beredar rata-rata dari daerah luar Bangkalan. Terutama dari wilayah-wilayah penghasil tembakau.

Baca Juga :  Harga Telur dan Daging Ayam Melonjak

Bangkalan tidak memiliki potensi memprodukksi rokok ilegal karena tidak memiliki bahan baku dan minim sumber daya manusia. ”Jadi lebih banyak datang dari luar daerah. Kalau dibuat di Bangkalan, biaya operasionalnya lebih mahal karena harus mendatangkan tembakau dari luar daerah,” jelasnya.

Budi mengaku masih terus melakukan penyisiran keberadaan rokok ilegal. Dia mengimbau pedagang tidak menjual rokok bodong.

Anggota Komisi B DPRD Bangkalan M. Husni Syakur mengatakan, pihaknya banyak menemukan peredaran rokok ilegal. Rokok tanpa cukai tidak hanya merugikan, melainkan juga bentuk pelanggaran. ”Ini perlu tindakan serius dari pemerintah dan penegak hukum,” tandasnya.

BANGKALAN – Peredaran rokok ilegal masih marak di Bangkalan. Rokok tanpa pita cukai resmi itu banyak beredar di toko-toko dan pasar tradisional. Meski marak, pemerintah belum mengambil tindakan tegas. Hanya mengambil sampel dan memberikan imbauan.

Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Bangkalan Budi Utomo menyampaikan, ada 100 lebih sampel rokok ilegal yang sudah diamankan. Dia memperkirakan masih banyak merek rokok lain tanpa cukai yang beredar di Kota Salak. ”Kami menyimpan contoh ratusan rokok ilegal, satu lemari, memang banyak,” ungkapnya kemarin (28/1).

Meski diketahui banyak beredar, pihaknya tidak bisa melakukan penyitaan rokok ilegal. Dia mengaku bukan wewenangnya. Selama ini pihaknya hanya mengambil sampel dan memberikan teguran kepada pedagang.


”Kami lakukan sosialisasi dan imbauan tentang larangan penjualan rokok ilegal karena sangat merugikan negara,” kata mantan Kepala Dinas Perikanan Bangkalan itu.

Baca Juga :  Proyek¬†Sentra¬†IKM Baru 50 Persen

Dia melanjutkan, dana cukai rokok dikembalikan untuk kesejahteraan masyarakat. Seperti di bidang kesehatan. Misalnya, untuk pengadaan alat-alat kesehatan melalui dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT).

Selain tanpa cukai, pihaknya juga menemui ada rokok yang menggunakan pita cukai palsu. ”Ada rokok ilegal yang pakai pita cukai palsu. Beda antara yang asli dengan yang palsu. Ada kodenya tersendiri,” ujarnya.

Peredaran rokok ilegal dilarang secara hukum. Pengedar dan produsen bisa dikenakan denda. Budi mengaku kesulitan menertibkan pedagang yang berjualan rokok ilegal. Sebab, pedagang tetap menjual rokok tersebut karena sifatnya hanya menjual.

Menurut Budi, sanksi tegas seharusnya diberikan kepada yang memproduksi. Berdasarkan sepengetahuannya, produsen rokok ilegal yang beredar rata-rata dari daerah luar Bangkalan. Terutama dari wilayah-wilayah penghasil tembakau.

Baca Juga :  Enam Belas dari 18 Kecamatan di Bangkalan Sudah Merah

Bangkalan tidak memiliki potensi memprodukksi rokok ilegal karena tidak memiliki bahan baku dan minim sumber daya manusia. ”Jadi lebih banyak datang dari luar daerah. Kalau dibuat di Bangkalan, biaya operasionalnya lebih mahal karena harus mendatangkan tembakau dari luar daerah,” jelasnya.

Budi mengaku masih terus melakukan penyisiran keberadaan rokok ilegal. Dia mengimbau pedagang tidak menjual rokok bodong.

Anggota Komisi B DPRD Bangkalan M. Husni Syakur mengatakan, pihaknya banyak menemukan peredaran rokok ilegal. Rokok tanpa cukai tidak hanya merugikan, melainkan juga bentuk pelanggaran. ”Ini perlu tindakan serius dari pemerintah dan penegak hukum,” tandasnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/