alexametrics
19 C
Madura
Thursday, June 30, 2022

Selain Lebaran, Orang Madura Mudik untuk Rayakan Maulid

BANGKALAN – Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Desa Gili Anyar, Kecamatan Kamal, Bangkalan, digelar secara serentak menjelang 12 Rabiul Awal. Kegiatan dilaksanakan di masing-masing surau warga.

Pagi-pagi masing-masing keluarga menyiapkan aneka makanan. Seperti memasak opor ayam, ayam panggang, tumpeng, telur rebus, dan buah-buahan. Kemudian, dihidangkan ke dalam bak atau keranjang. Sajian itu ditata rapi di surau masing-masing. Mereka juga menyiapkan uang receh.

Sekitar pukul 12.00 warga berkumpul di salah satu rumah yang dapat giliran pertama. Mereka tumpah ruah menjadi satu. Mulai dari pria maupun wanita. Bapak-ibu maupun anak-anak. Golongan laki-laki berada di dalam surau.

Setelah ustad rampung membacakan doa, mereka berebut aneka makanan yang disajikan tuan rumah. Sementara kaum perempuan, ibu-ibu, dan anak-anak berada di halaman. Warga yang sudah berebut buah di surau juga nimbrung.

Baca Juga :  Guru PAUD Berstatus PNS Hanya 14 Orang

Tak hanya itu, tuan rumah lalu melemparkan ruang eceh. Keseruan terlihat. Mereka saling rebut sampai ada yang jatuh terjungkal. Hal itu mengundang gelak tawa.

Ahmad Agus Riyadi, 31, warga Desa Gili Anyar mengatakan, perayaan Maulid Nabi dilakukan secara serentak. Dibagi per dusun secara bergiliran. Ada lima dusun di desanya. Di antaranya, Dusun Parseh, Dusun Trebung I, Dusun Trebung Ii, Dusun Gunongan, dan Dusun Bindung.

Selain hari raya, banyak warga di tanah rantau pulang kampung untuk merayakan Maulid Nabi. Selain bentuk kecintaan kepada nabi, juga sebagai ajang silaturahmi. Sebab, semua warga berkumpul dan merayakan maulid secara bergiliran di tiap surau rumah warga.

Baca Juga :  Proyek Lanskap Rp 8,1 M Tak Digarap

Uang receh yang ditabur oleh tuan rumah bukan bermaksud riya’, melainkan diniatkan untuk bersedekah. Rebutan itu untuk tetap melestarikan budaya kekompakan, guyub antarwarga, dan saling membantu.

Jumlah uang yang ditabur tergantung kemampuan tuan rumah. Dari ratusan ribu hingga juta rupiah. ”Di desa kami memang terkenal kompak. Setiap ada warga ada hajatan atau musibah saling bantu, gotong royong. Tradisi Ini harus dipertahankan,” paparnya.

Pelaksanan maulid di desanya dimulai pukul 12.00 hingga sore secara bergiliran. Kemudian, dilanjut setelah magrib hingga selesai. ”Ini bentuk kecintaan kami kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Semoga kita semua mendapatkan syafaatnya. Amin.” (bam/luq)

BANGKALAN – Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Desa Gili Anyar, Kecamatan Kamal, Bangkalan, digelar secara serentak menjelang 12 Rabiul Awal. Kegiatan dilaksanakan di masing-masing surau warga.

Pagi-pagi masing-masing keluarga menyiapkan aneka makanan. Seperti memasak opor ayam, ayam panggang, tumpeng, telur rebus, dan buah-buahan. Kemudian, dihidangkan ke dalam bak atau keranjang. Sajian itu ditata rapi di surau masing-masing. Mereka juga menyiapkan uang receh.

Sekitar pukul 12.00 warga berkumpul di salah satu rumah yang dapat giliran pertama. Mereka tumpah ruah menjadi satu. Mulai dari pria maupun wanita. Bapak-ibu maupun anak-anak. Golongan laki-laki berada di dalam surau.


Setelah ustad rampung membacakan doa, mereka berebut aneka makanan yang disajikan tuan rumah. Sementara kaum perempuan, ibu-ibu, dan anak-anak berada di halaman. Warga yang sudah berebut buah di surau juga nimbrung.

Baca Juga :  Santri Harus Siap Hadapi Zaman

Tak hanya itu, tuan rumah lalu melemparkan ruang eceh. Keseruan terlihat. Mereka saling rebut sampai ada yang jatuh terjungkal. Hal itu mengundang gelak tawa.

Ahmad Agus Riyadi, 31, warga Desa Gili Anyar mengatakan, perayaan Maulid Nabi dilakukan secara serentak. Dibagi per dusun secara bergiliran. Ada lima dusun di desanya. Di antaranya, Dusun Parseh, Dusun Trebung I, Dusun Trebung Ii, Dusun Gunongan, dan Dusun Bindung.

Selain hari raya, banyak warga di tanah rantau pulang kampung untuk merayakan Maulid Nabi. Selain bentuk kecintaan kepada nabi, juga sebagai ajang silaturahmi. Sebab, semua warga berkumpul dan merayakan maulid secara bergiliran di tiap surau rumah warga.

Baca Juga :  Hasil Swab 19 Orang Negatif

Uang receh yang ditabur oleh tuan rumah bukan bermaksud riya’, melainkan diniatkan untuk bersedekah. Rebutan itu untuk tetap melestarikan budaya kekompakan, guyub antarwarga, dan saling membantu.

Jumlah uang yang ditabur tergantung kemampuan tuan rumah. Dari ratusan ribu hingga juta rupiah. ”Di desa kami memang terkenal kompak. Setiap ada warga ada hajatan atau musibah saling bantu, gotong royong. Tradisi Ini harus dipertahankan,” paparnya.

Pelaksanan maulid di desanya dimulai pukul 12.00 hingga sore secara bergiliran. Kemudian, dilanjut setelah magrib hingga selesai. ”Ini bentuk kecintaan kami kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Semoga kita semua mendapatkan syafaatnya. Amin.” (bam/luq)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/