alexametrics
28.9 C
Madura
Sunday, May 29, 2022

Pencairan BSM Diwakilkan, Wali Murid Curiga

BANGKALAN – Pengelolaan pendidikan di SDN Gebang 1 Bangkalan dicurgai bermasalah. Penyaluran bantuan siswa miskin (BSM) di sekolah tersebut dinilai janggal, buku paket mata pelajaran (mapel) ditengarai diperjualbelikan, dan ada pungutan tidak wajar.

Disebutkan, SDN Gebang 1 kerap meminta sumbangan tidak wajar. Di antaranya, sumbangan untuk guru yang merayakan ulang tahun. Sumbangan tersebut dianggap tidak sesuai dengan kepentingan pembelajaran.

”Guru ulang tahun, siswa diminta sumbangan. Perpisahan guru, siswa juga diminta sumbangan untuk kenang-kenangan,” ungkap wali murid berinisial H yang meminta identitasnya dirahasiakan Sabtu (27/1).

Dia menyampaikan, siswa SDN Gebang 1 membeli buku paket pelajaran. ”Buku tema beli. Sementara buku yang sudah dibeli, diminta oleh sekolah dengan alasan mau ditaruh di perpustakaan,” ungkapnya.

Direktur Jaringan Kawal Jawa Timur (Jaka Jatim) Mathur Husyairi mengaku diundang sejumlah wali murid SDN Gebang 1. Informasi yang dia kumpulkan, wali murid merasa pengelolaan dana bantuan operasional sekolah (BOS) dan BSM tidak transparan.

”Pencairan dana BSM dilakukan siswa yang bukan pemilik rekening. Ada tiga siswa yang testimoni mengaku diajak oleh oknum guru ikut ke bank untuk tanda tangan pencairan BSM,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Mathur, ada indikasi jual beli buku paket berlogo Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Untuk lima buku tematik terpadu kurikulum 2013, wali murid membeli Rp 350 ribu.

Buku tema 1 berjudul Indahnya Kebersamaan, tema 2 Selalu Berhemat, tema 3 Peduli Terhadap Mahluk Hidup, tema 4 berjudul Berbagai Pekerjaan, dan tema 5 dengan judul Pahlawanku. Dia mengaku prihatin atas keluhan yang disampaikan 21 wali murid SDN Gebang 1.

Baca Juga :  Sosialisasi Harus Menyeluruh

Menurutnya, lembaga pendidikan seharusnya tidak melakukan tindakan demikian. Pihaknya bersama wali murid rencananya akan mengklarifikasi hal tersebut ke pihak sekolah. ”Kami akan minta transparansi dengan membuka RAPBS dan salinan SPj dana BOS. Siapa saja yang mendapat BSM/PIP,” paparnya.

Sekretaris Dinas Pendidikan (Disdik) Bangkalan Bambang Budi Mustika mengaku sudah mendengar informasi mengenai SDN Gebang 1 tersebut. Pihaknya akan mengkonfirmasi langsung kepada kepala sekolah sehingga bisa diketahui titik permasalahannya. ”Nanti saya cari tahu kebenarannya,” tegas dia.

Kepala SDN Gebang 1 Sri Mangestuti menjelaskan, pihaknya tidak memperjualbelikan buku paket kepada siswa. Sebab buku tersebut disediakan sekolah melalui dana BOS dan bersifat dipinjamkan kepada peserta didik.

Namun masalahnya, ujar dia, beberapa waktu lalu buku-buku di SDN Gebang 1 digunakan oleh beberapa murid untuk membuat petasan. Akibatnya, buku berkurang. ”Dipakai untuk membuat mercon. Diambil sore di sekolah. Ada yang lapor kalau anak-anak lewat jendela gulung-gulung buku,” jelasnya.

Mengantisipasi kejadian serupa terulang, buku paket dipinjamkan kepada siswa dengan konsekuensi jika rusak atau hilang harus ganti. Namun sejumlah wali murid mengusulkan agar sekolah menyediakan buku yang bisa dibeli.

Pihak sekolah saat itu tidak menyediakan. ”Mau beli ke mana? Buku itu beli secara online menggunakan dana BOS. Dulu saya bilang, kalau mau beli ada yang jual di Blawuran, Surabaya. Kalau tidak mau beli juga tidak apa-apa. Kami tidak memaksa,” beber Sri.

Baca Juga :  Satu Pendamping Tangani 500 KPM

Karena banyaknya permintaan, pihak sekolah menerima pesanan buku dari wali murid. Tapi bukan buku yang didapatkan sekolah melalui dana BOS, melainkan kemauan wali murid membeli buku paket sendiri.

Mengenai penyaluran BSM, Sri mengakui pada saat pencairan dana menggunakan perwakilan sejumlah siswa. Namun bukan berarti BSM diberikan kepada siswa yang mewakili. Siswa hanya diminta untuk membantu mencairkan. Sebab siswa penerima BSM tidak bisa hadir langsung.

”Mungkin kami salah karena diwakilkan. Tapi siswa kelas VI sudah ada yang keluar, ada di pondok sehingga tidak bisa hadir. Eman kalau dana BSM kembali lagi ke pemerintah pusat,” papar Sri.

”Kami coba musyawarah bagaimana kalau diwakilkan. Tapi diberi pengertian dulu kalau mereka hanya mewakili. Bantuannya tetap diberikan kepada siswa penerima BSM,” imbuhnya.

Dia mengaku BSM diberikan kepada siswa daftar penerima. Tiap siswa penerima BSM ada yang mendapatkan Rp 225 ribu dan ada yang Rp 450 ribu. Pada 2017, ada 30 siswa SDN Gebang 1 yang mendapat BSM. Saat pencairan bantuan, 11 siswa tidak bisa ikut ke bank.

”Anaknya ada yang di pondok. Kalau anaknya tidak bisa mengambil langsung, bisa diberikan kepada orang tuanya. Anaknya dipanggil berkali-kali tidak datang,” ujar dia.

Menurut Sri, beberapa waktu lalu ada monitoring dari pemerintah mengenai penyaluran BSM. Dari monitoring itu tidak ditemukan kejanggalan. ”Tidak ada masalah saat monitoring karena kami ada data penerima,” tukas Sri.

BANGKALAN – Pengelolaan pendidikan di SDN Gebang 1 Bangkalan dicurgai bermasalah. Penyaluran bantuan siswa miskin (BSM) di sekolah tersebut dinilai janggal, buku paket mata pelajaran (mapel) ditengarai diperjualbelikan, dan ada pungutan tidak wajar.

Disebutkan, SDN Gebang 1 kerap meminta sumbangan tidak wajar. Di antaranya, sumbangan untuk guru yang merayakan ulang tahun. Sumbangan tersebut dianggap tidak sesuai dengan kepentingan pembelajaran.

”Guru ulang tahun, siswa diminta sumbangan. Perpisahan guru, siswa juga diminta sumbangan untuk kenang-kenangan,” ungkap wali murid berinisial H yang meminta identitasnya dirahasiakan Sabtu (27/1).


Dia menyampaikan, siswa SDN Gebang 1 membeli buku paket pelajaran. ”Buku tema beli. Sementara buku yang sudah dibeli, diminta oleh sekolah dengan alasan mau ditaruh di perpustakaan,” ungkapnya.

Direktur Jaringan Kawal Jawa Timur (Jaka Jatim) Mathur Husyairi mengaku diundang sejumlah wali murid SDN Gebang 1. Informasi yang dia kumpulkan, wali murid merasa pengelolaan dana bantuan operasional sekolah (BOS) dan BSM tidak transparan.

”Pencairan dana BSM dilakukan siswa yang bukan pemilik rekening. Ada tiga siswa yang testimoni mengaku diajak oleh oknum guru ikut ke bank untuk tanda tangan pencairan BSM,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Mathur, ada indikasi jual beli buku paket berlogo Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Untuk lima buku tematik terpadu kurikulum 2013, wali murid membeli Rp 350 ribu.

Buku tema 1 berjudul Indahnya Kebersamaan, tema 2 Selalu Berhemat, tema 3 Peduli Terhadap Mahluk Hidup, tema 4 berjudul Berbagai Pekerjaan, dan tema 5 dengan judul Pahlawanku. Dia mengaku prihatin atas keluhan yang disampaikan 21 wali murid SDN Gebang 1.

Baca Juga :  Satu Pendamping Tangani 500 KPM

Menurutnya, lembaga pendidikan seharusnya tidak melakukan tindakan demikian. Pihaknya bersama wali murid rencananya akan mengklarifikasi hal tersebut ke pihak sekolah. ”Kami akan minta transparansi dengan membuka RAPBS dan salinan SPj dana BOS. Siapa saja yang mendapat BSM/PIP,” paparnya.

Sekretaris Dinas Pendidikan (Disdik) Bangkalan Bambang Budi Mustika mengaku sudah mendengar informasi mengenai SDN Gebang 1 tersebut. Pihaknya akan mengkonfirmasi langsung kepada kepala sekolah sehingga bisa diketahui titik permasalahannya. ”Nanti saya cari tahu kebenarannya,” tegas dia.

Kepala SDN Gebang 1 Sri Mangestuti menjelaskan, pihaknya tidak memperjualbelikan buku paket kepada siswa. Sebab buku tersebut disediakan sekolah melalui dana BOS dan bersifat dipinjamkan kepada peserta didik.

Namun masalahnya, ujar dia, beberapa waktu lalu buku-buku di SDN Gebang 1 digunakan oleh beberapa murid untuk membuat petasan. Akibatnya, buku berkurang. ”Dipakai untuk membuat mercon. Diambil sore di sekolah. Ada yang lapor kalau anak-anak lewat jendela gulung-gulung buku,” jelasnya.

Mengantisipasi kejadian serupa terulang, buku paket dipinjamkan kepada siswa dengan konsekuensi jika rusak atau hilang harus ganti. Namun sejumlah wali murid mengusulkan agar sekolah menyediakan buku yang bisa dibeli.

Pihak sekolah saat itu tidak menyediakan. ”Mau beli ke mana? Buku itu beli secara online menggunakan dana BOS. Dulu saya bilang, kalau mau beli ada yang jual di Blawuran, Surabaya. Kalau tidak mau beli juga tidak apa-apa. Kami tidak memaksa,” beber Sri.

Baca Juga :  Akhirnya Mobdin Bupati Bangkalan Kembali

Karena banyaknya permintaan, pihak sekolah menerima pesanan buku dari wali murid. Tapi bukan buku yang didapatkan sekolah melalui dana BOS, melainkan kemauan wali murid membeli buku paket sendiri.

Mengenai penyaluran BSM, Sri mengakui pada saat pencairan dana menggunakan perwakilan sejumlah siswa. Namun bukan berarti BSM diberikan kepada siswa yang mewakili. Siswa hanya diminta untuk membantu mencairkan. Sebab siswa penerima BSM tidak bisa hadir langsung.

”Mungkin kami salah karena diwakilkan. Tapi siswa kelas VI sudah ada yang keluar, ada di pondok sehingga tidak bisa hadir. Eman kalau dana BSM kembali lagi ke pemerintah pusat,” papar Sri.

”Kami coba musyawarah bagaimana kalau diwakilkan. Tapi diberi pengertian dulu kalau mereka hanya mewakili. Bantuannya tetap diberikan kepada siswa penerima BSM,” imbuhnya.

Dia mengaku BSM diberikan kepada siswa daftar penerima. Tiap siswa penerima BSM ada yang mendapatkan Rp 225 ribu dan ada yang Rp 450 ribu. Pada 2017, ada 30 siswa SDN Gebang 1 yang mendapat BSM. Saat pencairan bantuan, 11 siswa tidak bisa ikut ke bank.

”Anaknya ada yang di pondok. Kalau anaknya tidak bisa mengambil langsung, bisa diberikan kepada orang tuanya. Anaknya dipanggil berkali-kali tidak datang,” ujar dia.

Menurut Sri, beberapa waktu lalu ada monitoring dari pemerintah mengenai penyaluran BSM. Dari monitoring itu tidak ditemukan kejanggalan. ”Tidak ada masalah saat monitoring karena kami ada data penerima,” tukas Sri.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/