alexametrics
24 C
Madura
Monday, May 23, 2022

Tak Sesuai NSPK, Museum Cakraningrat Tidak Diakui Kemendikbud

PAMEKASAN – Pengelolaan museum sebagai tempat penyimpanan benda bersejarah sepatutnya memenuhi standar yang berlaku. Jika tidak, koleksi museum rentan rusak. Di Museum Cakraningrat Bangkalan, Misalnya. Sampai saat ini pengelolaannya belum memenuhi norma, standar, prosedur, dan kriteria (NSPK).

Penyebabnya beragam. Di antaranya, penataan ruangan, pengaturan suhu atau kelembapan, fasilitas penyimpanan dan lainnya belum memenuhi ketentuan. Selain koleksinya yang kurang lengkap, bangunan Meseum Cakraningrat kurang representatif.

Kondisi itu diakui Kabid Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bangkalan Hendra Gemma Dominan. Museum yang berada di bawah kewenangan lembaganya tersebut masih membutuhkan banyak hal agar bisa sesuai dengan ketentuan NSPK. Terlebih dari segi bangunan kurang memadai.

Baca Juga :  Disdik Pamerkan Hasil Kreativitas dan Prestasi Siswa

”Pertama mengacu pada tempat. Museum ini (Cakraningrat, Red) belum diakui oleh Kemendikbud karena fasilitasnya memang belum standar. Tempatnya kurang representatif,” ungkapnya, Selasa (25/7).

Menurut Hendra, agar sesuai dengan ketentuan, maka museum membutuhkan dana besar. Sebab, harus ada dana untuk pembangunan, pengadaan, dan perawatan. Dengan demikian, Museum Cakraningrat bisa sesuai NSPK yang berlaku untuk tempat penyimpanan benda-benda bersejarah.

”Kebutuhan dana jelas besar. Ada konservasi tiap tahun. Satu tahun tidak selesai semua. Konservasinya bertahap,” jelasnya.

Museum Cakraningrat sendiri masih ditangani Disbudpar Bangkalan. Sebenarnya, lanjut Hendra, jika dibentuk unit pelaksana teknis (UPT), jelas lebih bagus. Nantiya lebih fokus untuk mengurus museum. ”Tergantung kebijakan nanti,” ujarnya.

Baca Juga :  DBH Migas┬áBaru Cair Rp 17 Miliar

Hendra menambahkan, saat ini tampilan Museum Cakraningrat terkesan tidak seperti museum. Bahkan memberikan kesan angker dan menakutkan. ”Nantinya juga akan dibuat agar suasana di museum tidak menyeramkan,” akunya.

Terpisah, Ketua Komisi D DPRD Bangkalan Hosyan Muhammad mengatakan, setiap pembangunan memang membutuhkan tahapan demi tahapan. Namun upaya untuk bisa mencapai standar tersebut, pemerintah harus tetap konsisten untuk terus mengembangkan.

”Memang harus bertahap. Tapi bukan dalam artian tidak dilakukan. Harus dipikirkan juga bagaimana agar benda museum itu terlindungi dengan baik,” pesannya.

PAMEKASAN – Pengelolaan museum sebagai tempat penyimpanan benda bersejarah sepatutnya memenuhi standar yang berlaku. Jika tidak, koleksi museum rentan rusak. Di Museum Cakraningrat Bangkalan, Misalnya. Sampai saat ini pengelolaannya belum memenuhi norma, standar, prosedur, dan kriteria (NSPK).

Penyebabnya beragam. Di antaranya, penataan ruangan, pengaturan suhu atau kelembapan, fasilitas penyimpanan dan lainnya belum memenuhi ketentuan. Selain koleksinya yang kurang lengkap, bangunan Meseum Cakraningrat kurang representatif.

Kondisi itu diakui Kabid Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bangkalan Hendra Gemma Dominan. Museum yang berada di bawah kewenangan lembaganya tersebut masih membutuhkan banyak hal agar bisa sesuai dengan ketentuan NSPK. Terlebih dari segi bangunan kurang memadai.

Baca Juga :  Realisasi Program BPNT Tunggu Juknis

”Pertama mengacu pada tempat. Museum ini (Cakraningrat, Red) belum diakui oleh Kemendikbud karena fasilitasnya memang belum standar. Tempatnya kurang representatif,” ungkapnya, Selasa (25/7).

Menurut Hendra, agar sesuai dengan ketentuan, maka museum membutuhkan dana besar. Sebab, harus ada dana untuk pembangunan, pengadaan, dan perawatan. Dengan demikian, Museum Cakraningrat bisa sesuai NSPK yang berlaku untuk tempat penyimpanan benda-benda bersejarah.

”Kebutuhan dana jelas besar. Ada konservasi tiap tahun. Satu tahun tidak selesai semua. Konservasinya bertahap,” jelasnya.

Museum Cakraningrat sendiri masih ditangani Disbudpar Bangkalan. Sebenarnya, lanjut Hendra, jika dibentuk unit pelaksana teknis (UPT), jelas lebih bagus. Nantiya lebih fokus untuk mengurus museum. ”Tergantung kebijakan nanti,” ujarnya.

Baca Juga :  Kajian Manuskrip oleh Mahasiswa IAIN Jember di Padepokan Raden Umro

Hendra menambahkan, saat ini tampilan Museum Cakraningrat terkesan tidak seperti museum. Bahkan memberikan kesan angker dan menakutkan. ”Nantinya juga akan dibuat agar suasana di museum tidak menyeramkan,” akunya.

Terpisah, Ketua Komisi D DPRD Bangkalan Hosyan Muhammad mengatakan, setiap pembangunan memang membutuhkan tahapan demi tahapan. Namun upaya untuk bisa mencapai standar tersebut, pemerintah harus tetap konsisten untuk terus mengembangkan.

”Memang harus bertahap. Tapi bukan dalam artian tidak dilakukan. Harus dipikirkan juga bagaimana agar benda museum itu terlindungi dengan baik,” pesannya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/