alexametrics
21.1 C
Madura
Saturday, August 13, 2022

Pasang Gigi Tiruan Pilih yang Berkompeten

BANGKALAN, Jawa Pos Radar Madura – Pengetahuan masyarakat tentang pemasangan gigi tiruan minim. Masih banyak masyakat yang memilih memasang gigi tiruan kepada tenaga yang bukan ahlinya. Padahal, itu bisa membahayakan.

Penanggung Jawab Poli Gigi RSUD Syamrabu drg. Soniya Mayasari menyatakan, gigi tiruan merupakan alat bantu untuk menggantikan gigi yang hilang. Pemasangan gigi tiruan oleh tenaga yang tidak memiliki kompetensi tentang kesehatan jaringan rongga mulut dapat berakibat fatal.

Sejatinya, penggunaan gigi palsu dapat mengatasi gangguan yang diakibatkan gigi hilang. Misalnya gangguan saat makan dan bicara. Sehingga, menurunkan rasa kepercayaan diri. Akan tetapi, pengetahuan masyarakat tentang kesehatan gigi dan rIsiko perawatan oleh orang yang tidak berkompeten masih sangat minim.

”Sebab, selama ini gigi masih dianggap sebagai bagian tubuh yang kecil dan disepelekan,” ucapnya kemarin (26/6).

Minimnya pengetahuan tentang pentingnya menjaga dan merawat kesehatan gigi tidak cuma terjadi di wilayah pelosok. Itu juga terjadi kepada masyarakat yang tinggal di wilayah kota dengan taraf pendidikan yang sebenarnya lebih baik.

Baca Juga :  Al-Qur’an Braille Jadi Solusi bagi Penyandang Tunanetra

”Padahal bagi orang yang tidak berkompeten memasang gigi tiruan kepada pasiennya sama saja seperti memasang ranjau dalam rongga mulut,” ungkapnya.

Hal itu karena bisa berakibat fatal terhadap pasien-pasien yang memiliki kerentanan penyakit sistemik. Pemasangan gigi tiruan yang tidak benar dapat menyebabkan infeksi dan memicu bakteri dalam rongga mulut yang kemudian dapat menyerang tubuh.

”Pembuluh darah yang sangat kecil di dalam jaringan pendukung gigi bisa menyebabkan infeksi gigi tersebar hingga ke bagian tubuh yang vital,” katanya.

Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) 39/2014. Regulasi itu untuk mencegah terjadinya korban oleh oknum tukang gigi yang saat ini banyak dilaporkan. Salah satu permasalahan yang muncul dari oknum tukang gigi adalah terjadinya infeksi.

Baca Juga :  Waspada!! Belasan Orang Terserang Difteri

”Karena pemasangan gigi tiruan yang seharusnya lepasan tetapi malah dipasang secara permanen,” terangnya.

Hal tersebut, sambung drg Soniya, bisa mengakibatkan gusi mudah berdarah, bau mulut yang luar biasa, dan hasilnya juga tidak mungkin memuaskan. Sebab, tidak memperhatikan aspek pasien. Juga, akibat tidak mempertimbangkan penyakit yang dapat muncul di kemudian hari.

Semestinya tukang gigi hanya membuat dan memasang gigi tiruan lepasan sebagian atau penuh yang terbuat dari bahan heat curing acrylic. Bukan pemasangan kawat dan pencabutan gigi. Ketentuan itu tertuang dalam pasal 6 Permenkes 34/2014.

”Masyarakat yang akan melakukan perawatan gigi kepada tenaga yang bukan ahlinya harus tahu mengenai segala risikonya. Jangan tergiur dengan harga yang lebih terjangkau tetapi menimbulkan masalah baru yang lebih parah,” imbaunya. (jup/onk)

BANGKALAN, Jawa Pos Radar Madura – Pengetahuan masyarakat tentang pemasangan gigi tiruan minim. Masih banyak masyakat yang memilih memasang gigi tiruan kepada tenaga yang bukan ahlinya. Padahal, itu bisa membahayakan.

Penanggung Jawab Poli Gigi RSUD Syamrabu drg. Soniya Mayasari menyatakan, gigi tiruan merupakan alat bantu untuk menggantikan gigi yang hilang. Pemasangan gigi tiruan oleh tenaga yang tidak memiliki kompetensi tentang kesehatan jaringan rongga mulut dapat berakibat fatal.

Sejatinya, penggunaan gigi palsu dapat mengatasi gangguan yang diakibatkan gigi hilang. Misalnya gangguan saat makan dan bicara. Sehingga, menurunkan rasa kepercayaan diri. Akan tetapi, pengetahuan masyarakat tentang kesehatan gigi dan rIsiko perawatan oleh orang yang tidak berkompeten masih sangat minim.


”Sebab, selama ini gigi masih dianggap sebagai bagian tubuh yang kecil dan disepelekan,” ucapnya kemarin (26/6).

Minimnya pengetahuan tentang pentingnya menjaga dan merawat kesehatan gigi tidak cuma terjadi di wilayah pelosok. Itu juga terjadi kepada masyarakat yang tinggal di wilayah kota dengan taraf pendidikan yang sebenarnya lebih baik.

Baca Juga :  Wakapolda Pantau Madura Pasca Coblosan, Ingatkan Personel Jaga Stamina

”Padahal bagi orang yang tidak berkompeten memasang gigi tiruan kepada pasiennya sama saja seperti memasang ranjau dalam rongga mulut,” ungkapnya.

Hal itu karena bisa berakibat fatal terhadap pasien-pasien yang memiliki kerentanan penyakit sistemik. Pemasangan gigi tiruan yang tidak benar dapat menyebabkan infeksi dan memicu bakteri dalam rongga mulut yang kemudian dapat menyerang tubuh.

- Advertisement -

”Pembuluh darah yang sangat kecil di dalam jaringan pendukung gigi bisa menyebabkan infeksi gigi tersebar hingga ke bagian tubuh yang vital,” katanya.

Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) 39/2014. Regulasi itu untuk mencegah terjadinya korban oleh oknum tukang gigi yang saat ini banyak dilaporkan. Salah satu permasalahan yang muncul dari oknum tukang gigi adalah terjadinya infeksi.

Baca Juga :  Bupati Ra Latif Datangi Dua Kecamatan untuk Serahkan 1.056 Kartu ATM

”Karena pemasangan gigi tiruan yang seharusnya lepasan tetapi malah dipasang secara permanen,” terangnya.

Hal tersebut, sambung drg Soniya, bisa mengakibatkan gusi mudah berdarah, bau mulut yang luar biasa, dan hasilnya juga tidak mungkin memuaskan. Sebab, tidak memperhatikan aspek pasien. Juga, akibat tidak mempertimbangkan penyakit yang dapat muncul di kemudian hari.

Semestinya tukang gigi hanya membuat dan memasang gigi tiruan lepasan sebagian atau penuh yang terbuat dari bahan heat curing acrylic. Bukan pemasangan kawat dan pencabutan gigi. Ketentuan itu tertuang dalam pasal 6 Permenkes 34/2014.

”Masyarakat yang akan melakukan perawatan gigi kepada tenaga yang bukan ahlinya harus tahu mengenai segala risikonya. Jangan tergiur dengan harga yang lebih terjangkau tetapi menimbulkan masalah baru yang lebih parah,” imbaunya. (jup/onk)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/