alexametrics
21.2 C
Madura
Wednesday, July 6, 2022

Bantuan Air Bersih Pemerintah Belum Merata

BANGKALAN – Lahan-lahan pertanian mengering. Sungai tak lagi mengalir. Hanya tersisa genangan. Itu pun sudah keruh. Begitulah kondisi kekeringan di Desa Panyaksagan, Kecamatan Klampis. Sudah lima bulan kekeringan melanda daerah tersebut.

Suplai air bersih juga tidak memadai. Bantuan pemerintah belum sepenuhnya dirasakan daerah terdampak. Untuk mendapatkan air bersih, warga hanya memanfaatkan sisa-sisa genangan air sungai yang keruh.

”Kalau untuk minum, gali tanah di sekitar genangan air sungai. Air resapan. Kalau untuk minum, dimasak dulu. Kekeringan tahun ini lebih parah dari sebelumnya,” ungkap Deni, warga setempat.

Saat ditemui RadarMadura.id, pria 67 tahun itu juga mengambil air bersih dari lubang dengan kedalaman sekitar 60 sentimeter yang digali warga. Satu jeriken terisi penuh.

Baca Juga :  Hari Libur, Bupati Baddrut Tamam Blusukan ke Kampung-Kampung

”Memang seperti ini, kalau sore lebih ramai yang datang. Mandi sama ambil air,” ucapnya.

Selain itu juga ada warga yang membeli air bersih untuk memenuhi kebutuhan. Per tangki seharga Rp 180 ribu–Rp 220 ribu. Jika membeli air bersih 1.000 liter, harganya Rp 150 ribu. Menurut dia, beberapa sumur warga ada juga yang tidak sepenuhnya mengering.

”Tapi kalau di sumur-sumur biasanya sehari cuma bisa mengisi dua jeriken. Banyak antre yang mau ngambil,” terangnya.

Dia berharap segera ada bantuan air bersih dari Pemkab Bangkalan. Dengan begitu, warga yang terdampak kekeringan bisa terbantu menghadapi musim kemarau. ”Kalau ada, kami sangat mengharapkan bantuan,” harapnya.

Menanggapi itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bangkalan Rizal Morris mengatakan, pihaknya terus melakukan dropping air bersih ke sejumlah daerah terdampak kekeringan. Setiap harinya lima tangki disalurkan ke desa atau kecamatan yang mengalami krisis air bersih.

Baca Juga :  Minta Fungsi Pengawasan Dewan Dijalankan

Diakui, penyaluran bantuan tidak bisa merata ke semua daerah terdampak setiap harinya. ”Setiap hari bergilir. Tidak semua daerah terdampak bisa kami beri bantuan setiap hari. Karena armada penyalur terbatas,” kata dia Kamis (25/10).

Menurut Rizal, musim kemarau diprediksi akan berakhir Oktober 2018. Perlu diketahui, kekeringan melanda 12 kecamatan di Bangkalan. Kemudian, terdapat 25 desa yang masuk dalam kategori kering kritis.

”Kami terus pantau perkembangan cuaca. Mudah-mudahan kemarau bisa segera berakhir sehingga kekeringan bisa teratasi,” tandasnya. 

BANGKALAN – Lahan-lahan pertanian mengering. Sungai tak lagi mengalir. Hanya tersisa genangan. Itu pun sudah keruh. Begitulah kondisi kekeringan di Desa Panyaksagan, Kecamatan Klampis. Sudah lima bulan kekeringan melanda daerah tersebut.

Suplai air bersih juga tidak memadai. Bantuan pemerintah belum sepenuhnya dirasakan daerah terdampak. Untuk mendapatkan air bersih, warga hanya memanfaatkan sisa-sisa genangan air sungai yang keruh.

”Kalau untuk minum, gali tanah di sekitar genangan air sungai. Air resapan. Kalau untuk minum, dimasak dulu. Kekeringan tahun ini lebih parah dari sebelumnya,” ungkap Deni, warga setempat.


Saat ditemui RadarMadura.id, pria 67 tahun itu juga mengambil air bersih dari lubang dengan kedalaman sekitar 60 sentimeter yang digali warga. Satu jeriken terisi penuh.

Baca Juga :  Standar Garam Pemerintah Terlalu Tinggi

”Memang seperti ini, kalau sore lebih ramai yang datang. Mandi sama ambil air,” ucapnya.

Selain itu juga ada warga yang membeli air bersih untuk memenuhi kebutuhan. Per tangki seharga Rp 180 ribu–Rp 220 ribu. Jika membeli air bersih 1.000 liter, harganya Rp 150 ribu. Menurut dia, beberapa sumur warga ada juga yang tidak sepenuhnya mengering.

”Tapi kalau di sumur-sumur biasanya sehari cuma bisa mengisi dua jeriken. Banyak antre yang mau ngambil,” terangnya.

Dia berharap segera ada bantuan air bersih dari Pemkab Bangkalan. Dengan begitu, warga yang terdampak kekeringan bisa terbantu menghadapi musim kemarau. ”Kalau ada, kami sangat mengharapkan bantuan,” harapnya.

Menanggapi itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bangkalan Rizal Morris mengatakan, pihaknya terus melakukan dropping air bersih ke sejumlah daerah terdampak kekeringan. Setiap harinya lima tangki disalurkan ke desa atau kecamatan yang mengalami krisis air bersih.

Baca Juga :  Serapan Tembakau Sangat Rendah

Diakui, penyaluran bantuan tidak bisa merata ke semua daerah terdampak setiap harinya. ”Setiap hari bergilir. Tidak semua daerah terdampak bisa kami beri bantuan setiap hari. Karena armada penyalur terbatas,” kata dia Kamis (25/10).

Menurut Rizal, musim kemarau diprediksi akan berakhir Oktober 2018. Perlu diketahui, kekeringan melanda 12 kecamatan di Bangkalan. Kemudian, terdapat 25 desa yang masuk dalam kategori kering kritis.

”Kami terus pantau perkembangan cuaca. Mudah-mudahan kemarau bisa segera berakhir sehingga kekeringan bisa teratasi,” tandasnya. 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/