21 C
Madura
Saturday, December 10, 2022

15 Tahun Menjadi Guru Sukarelawan

BANGKALAN, Jawa Pos Radar Madura – Selama 15 tahun, Husnul Yakin menjadi guru sukarelawan (sukwan) di  SDN Lajing 2, Kecamatan Arosbaya, Bangkalan. Honor yang diterima setiap bulan tidak mampu mencukupi kebutuhan keluarganya.

Meski demikian, dia tetap bertahan dengan profesi yang digeluti sejak 2007 lalu. Kini, dia tengah berharap agar bisa lolos menjadi pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK).

Di sekolah tersebut dia menjadi guru olahraga. Saat itu, ijazahnya masih SMA. Pada 2014, dia memutuskan untuk kuliah di Universitas Terbuka (UT) Surabaya. Dia mengambil jurusan Program Studi (Prodi) Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD).

Hingga saat ini, status bapak dua anak itu masih sukwan. Husnul Yakin pernah ikut seleksi calon pegawai negeri sipil (PNS). Namun, tidak lolos.

Kesempatan untuk mengubah nasibnya datang pada 2017 lalu. Pemerintah membuka rekrutmen pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja. Namun, lagi-lagi dia gagal.

Baca Juga :  SMAN 1 Bangkalan Koleksi Berbagai Penghargaan

Kesalahan administrasi yang membuat pria yang sudah 15 tahun mengabdi untuk pendidikan itu tidak lolos. Yakni, ijazah yang dimiliki tidak linier dengan materi yang diampunya.

Saat itu, Kepala SDN Lajing 2 Endang Mujiati sudah menyarankan Husnul agar pindah ke guru kelas. Sebab, jika  tetap mejadi guru olahraga tidak linier karena ijazahnya PGSD.

Namun, Husnul tetap pada pendiriannya. Alasannya, betah dan sudah nyaman menjadi guru olahraga. Akibat kesalahan itulah dia tidak lolos tes PPPK.

Pengalaman itu tidak membuat Husnul jera. Dia belum sadar bahwa keputusannya berdampak tidak baik bagi masa depannya. Baru pada 2021 dia ada kesadaran. ”Dia ikut tes PPPK lagi, namun belum lolos,” tuturnya.

Saat ditemui di ruang kelas III, Husnul mengakui sudah ada kebijaksanaan dari lembaganya. Yakni, menyuruh segera pindah ke guru kelas. Sekarang, suami Musyarofah itu tengah menunggu informasi pengumuman rekrutmen PPPK dari pemerintah. ”Mudah-mudahan tahun ini lolos,” harapnya.

Baca Juga :  Mensos Risma Sambangi Dua Pesantren

Akibat kesalahannya itu, selama 15 tahun harus menerima honor relatif kecil. Saat ini honor sebulan Rp 600 ribu. Meskipun tidak mampu mencukupi kebutuhan rumah tangga secara keseluruhan, dia tetap bersyukur.

”Selama ini saya tidak tahu aturan dari pemerintah. Karena dulu saya langsung sukwan sambil kuliah,” tutur pria berusia 37 tahun itu.

Saat ini aturan dari pemerintah mudah diakses. Dulu, dia hanya fokus sebagai guru sukwan yang mengutamakan pengabdian pada lembaganya. ”Sekarang semua sudah tahu, tiga tahun menjadi sukwan sudah bisa ikut tes PPPK,” tuturnya. (*/han)

BANGKALAN, Jawa Pos Radar Madura – Selama 15 tahun, Husnul Yakin menjadi guru sukarelawan (sukwan) di  SDN Lajing 2, Kecamatan Arosbaya, Bangkalan. Honor yang diterima setiap bulan tidak mampu mencukupi kebutuhan keluarganya.

Meski demikian, dia tetap bertahan dengan profesi yang digeluti sejak 2007 lalu. Kini, dia tengah berharap agar bisa lolos menjadi pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK).

Di sekolah tersebut dia menjadi guru olahraga. Saat itu, ijazahnya masih SMA. Pada 2014, dia memutuskan untuk kuliah di Universitas Terbuka (UT) Surabaya. Dia mengambil jurusan Program Studi (Prodi) Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD).


Hingga saat ini, status bapak dua anak itu masih sukwan. Husnul Yakin pernah ikut seleksi calon pegawai negeri sipil (PNS). Namun, tidak lolos.

Kesempatan untuk mengubah nasibnya datang pada 2017 lalu. Pemerintah membuka rekrutmen pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja. Namun, lagi-lagi dia gagal.

Baca Juga :  SMAN 1 Bangkalan Koleksi Berbagai Penghargaan

Kesalahan administrasi yang membuat pria yang sudah 15 tahun mengabdi untuk pendidikan itu tidak lolos. Yakni, ijazah yang dimiliki tidak linier dengan materi yang diampunya.

Saat itu, Kepala SDN Lajing 2 Endang Mujiati sudah menyarankan Husnul agar pindah ke guru kelas. Sebab, jika  tetap mejadi guru olahraga tidak linier karena ijazahnya PGSD.

- Advertisement -

Namun, Husnul tetap pada pendiriannya. Alasannya, betah dan sudah nyaman menjadi guru olahraga. Akibat kesalahan itulah dia tidak lolos tes PPPK.

Pengalaman itu tidak membuat Husnul jera. Dia belum sadar bahwa keputusannya berdampak tidak baik bagi masa depannya. Baru pada 2021 dia ada kesadaran. ”Dia ikut tes PPPK lagi, namun belum lolos,” tuturnya.

Saat ditemui di ruang kelas III, Husnul mengakui sudah ada kebijaksanaan dari lembaganya. Yakni, menyuruh segera pindah ke guru kelas. Sekarang, suami Musyarofah itu tengah menunggu informasi pengumuman rekrutmen PPPK dari pemerintah. ”Mudah-mudahan tahun ini lolos,” harapnya.

Baca Juga :  Kecamatan Kamal Raih Juara Lomba Hatinya PKK

Akibat kesalahannya itu, selama 15 tahun harus menerima honor relatif kecil. Saat ini honor sebulan Rp 600 ribu. Meskipun tidak mampu mencukupi kebutuhan rumah tangga secara keseluruhan, dia tetap bersyukur.

”Selama ini saya tidak tahu aturan dari pemerintah. Karena dulu saya langsung sukwan sambil kuliah,” tutur pria berusia 37 tahun itu.

Saat ini aturan dari pemerintah mudah diakses. Dulu, dia hanya fokus sebagai guru sukwan yang mengutamakan pengabdian pada lembaganya. ”Sekarang semua sudah tahu, tiga tahun menjadi sukwan sudah bisa ikut tes PPPK,” tuturnya. (*/han)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/