alexametrics
29.4 C
Madura
Monday, May 16, 2022

Pasien Covid-19 Ke-20 Asal Klampis

BANGKALAN – Jumlah warga terpapar coronavirus disease 2019 (Covid-19) terus bergerak. Sebanyak 20 orang di Madura dinyatakan positif hingga kemarin (25/4). Pasien ke-20 itu berasal dari Kecamatan Klampis, Bangkalan. Dengan demikian, di kecamatan ini sudah ada tiga warga yang terkonfirmasi terinfeksi virus korona.

Jubir Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Bangkalan Agus Zein mengungkapkan, pasien itu berjenis kelamin laki-laki berumur 28 tahun. Dia baru datang dari Dubai pada 9 April 2020.

Pekerja sektor pelayaran itu datang pukul 16.30 naik bus bersama rombongannya dari Bali. Dalam satu angkutan itu diperkirakan ada 30 orang. Dari Klampis empat orang.  ”Pada 10 April ditelusuri oleh petugas surveilans. Hasilnya, tidak ada keluhan apa pun dan tampak sehat,” ujarnya.

Sebelumnya, pria itu sudah dilakukan rapid test di Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali. Hasilnya negatif. Namun, berhubung teman-temannya ada yang positif berdasarkan rapid test, pasien tersebut dites ulang oleh Puskesmas Klampis. Saat itulah hasilnya positif.

”Pada 14 April, empat pelayaran dari Dubai itu kembali dilakukan rapid test di Puskesmas Klampis,” terangnya.

Keesokannya, 15 April pukul 09.00 langsung dilakukan swab PCR di RSUD Syamrabu. Pukul 13.00 diantarkan ke Gedung Balai Diklat untuk menjalani karantina. Selama menjalani isolasi sebelas hari itu, hasil swab-nya keluar dan dinyatakan positif Covid-19. ”Pastinya langsung dijemput ke balai diklat untuk menjalani pemeriksaan di RSUD Syamrabu,” sebutnya.

Kepala Diskominfo Bangkalan itu menyatakan, saat ini petugas di lapangan tengah melakukan pendataan kepada orang-orang yang pernah kontak langsung dengan pasien. Sepekan kemudian dilakukan rapid test. ”Sesuai prosedur penanganan Covid-19,” imbuhnya.

Tambahan pasien ini menjadikan lima dari 18 kecamatan di Bangkalan merah dengan sembilan kasus. Lima kecamatan itu meliputi Klampis (tiga kasus), Kota (satu kasus), Blega (satu kasus), Arosbaya (satu kasus), dan Kamal (tiga kasus).

Baca Juga :  Bincang Curanmor Bersama AKBP Rama Samtama Putra

Sementara itu, empat peserta pelatihan calon petugas haji asal Sumenep ditangani RSUD dr H Moh. Anwar Sumenep. Mereka menjalani perawatan khusus sesuai prosedur Covid-19. Pada saat yang sama, petugas menelusuri setiap orang yang pernah berinteraksi dengan mereka.

Empat orang yang terkonfirmasi Covid-19 itu diperkirakan berkontak erat dengan banyak orang. Terutama keluaga masing-masing. Sebab, sebelum dinyatakan positif, mereka tidak sempat dinyatakan sebagai pasien dalam pengawasan (PDP) yang harus menjalani isolasi.

Empat pasien itu terdiri atas seorang pegawai kemenag dan tiga tenaga kesehatan (nakes). Perinciannya, laki-laki 57 tahun pembimbing haji asal Kecamatan Kota Sumenep; pria 46 tahun nakes Puskesmas Saronggi; pria 35 tahun pegawai Dinkes Sumenep asal Kota; dan seorang perempuan 33 tahun bertugas di Puskesmas Rubaru.

Ketua Tim Penanganan Covid-19 Sumenep Andri Dwiwahyudi menyampaikan, penanganan dan pencegahan kepada pasien Covid-19 tetap menjadi atensi. Ada beberapa proses untuk menyatakan pasien sembuh total. Dengan kondisi fisik yang baik dan melakukan evaluasi hasil swab. Pasien bisa dinyatakan sembuh setelah 2 kali tes swab dengan hasil negatif.

Orang yang sempat kontak erat diimbau melakukan isolasi mandiri. Kemudian, akan melakukan screening aktif kepada 4 keluarga pasien. Misalnya, lingkungan keluarga besar dan area lokasi kerja pasien. Sementara deteksi masyarakat nonkeluarga dilakukan screening pasif. Yakni, dengan menginformasikan kepada masyarakat apabila pernah berhubungan kontak dengan para pasien. ”Tidak mungkin kita mendeteksi semua di luar keluarga dan lingkungan kerja,” jelasnya.

Kepala Dinas Kesehatan Agus Mulyono menerangkan, keluarga besar pasien Covid-19 menjadi skala prioritas pemeriksaan. Sebagai langkah pencegahan adanya persebaran virus tersebut. Lingkungan kerja mereka yang harus segera disterilkan.

Saat ini, alat rapid test tersisa 230 unit. Pemerintah siap memfasilitasi apabila ada kekurangan. Pemeriksaan ini akan dilakukan tanpa ada pungutan biaya. Jumlah pemeriksaan setiap hari menyesuaikan dengan kemampuan rumah sakit.  ”Kami akan mempercepat rapid test ini. Nanti akan ditentukan batas maksimal setiap hari misalnya berkisar 20 orang,” jelasnya.

Baca Juga :  Kades Rosep Maksimalkan Penanganan Covid-19

Sementara itu, dua kasus baru di Pamekasan Jumat (24/4) dikabarkan tertular dua dari empat TKHI yang lebih awal terpapar Covid-19. Dua kasus baru itu warga Kecamatan Proppo dan warga Kecamatan Palengaan. Keduanya sama-sama perempuan yang sebelumnya berstatus orang dalam pemantauan (ODP) dengan isolasi mandiri.

Perempuan dari Kecamatan Proppo berusia 60 tahun. Dia tertular dari salah seorang keluarganya yang dinyatakan positif. Kemudian, perempuan dari Kecamatan Palengaan 53 tahun tertular dari rekan kerjanya di Dinkes Pamekasan.

Wakil Ketua I Satgas Penanggulangan Bencana Nonalam dan Pencegahan Covid-19 Acmad Marsuki belum memberikan keterangan pasti terkait identitas dan riwayat mereka terpapar covid-19. ”Masih di-tracing,” katanya Jumat malam (24/4).

Kemarin (25/4) Plt Kadinkes Pamekasan tersebut menyatakan, tim satgas masih melakukan penelusuran. Pihaknya tidak mencari sumber penularan yang membuat dua orang tersebut terpapar. ”Prinsip tracing ini mencari kontak paling erat,” ungkapnya. ”Bukan mencari sumber penularan,” sambungnya.

Menurut Marsuki, tracing sumber penularan ini cukup rumit. Harus dengan kajian yang tepat. Sebab, prinsip penularan virus korona bersifat eksponensial dan untuk menentukan siapa yang menulari siapa. Perlu tracing ketat.

Ketua Tim Penanganan Covid-19 Internal RSUD Smart Pamekasan Syaiful Hidayat menuturkan, dua pasien tersebut sudah ditangani. Masuk RSUD Jumat malam (24/4). ”Kondisi kedua pasien dalam keadaan baik dan sehat,” ungkapnya.

Jumlah warga Pamekasan yang terkonfirmasi Covid-19 tujuh orang. Mereka berasal dari Pademawu (satu kasus), Larangan (satu kasus), Proppo (tiga kasus), Palengaan (satu kasus), dan Galis (satu kasus). (jun/ky)

BANGKALAN – Jumlah warga terpapar coronavirus disease 2019 (Covid-19) terus bergerak. Sebanyak 20 orang di Madura dinyatakan positif hingga kemarin (25/4). Pasien ke-20 itu berasal dari Kecamatan Klampis, Bangkalan. Dengan demikian, di kecamatan ini sudah ada tiga warga yang terkonfirmasi terinfeksi virus korona.

Jubir Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Bangkalan Agus Zein mengungkapkan, pasien itu berjenis kelamin laki-laki berumur 28 tahun. Dia baru datang dari Dubai pada 9 April 2020.

Pekerja sektor pelayaran itu datang pukul 16.30 naik bus bersama rombongannya dari Bali. Dalam satu angkutan itu diperkirakan ada 30 orang. Dari Klampis empat orang.  ”Pada 10 April ditelusuri oleh petugas surveilans. Hasilnya, tidak ada keluhan apa pun dan tampak sehat,” ujarnya.

Sebelumnya, pria itu sudah dilakukan rapid test di Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali. Hasilnya negatif. Namun, berhubung teman-temannya ada yang positif berdasarkan rapid test, pasien tersebut dites ulang oleh Puskesmas Klampis. Saat itulah hasilnya positif.

”Pada 14 April, empat pelayaran dari Dubai itu kembali dilakukan rapid test di Puskesmas Klampis,” terangnya.

Keesokannya, 15 April pukul 09.00 langsung dilakukan swab PCR di RSUD Syamrabu. Pukul 13.00 diantarkan ke Gedung Balai Diklat untuk menjalani karantina. Selama menjalani isolasi sebelas hari itu, hasil swab-nya keluar dan dinyatakan positif Covid-19. ”Pastinya langsung dijemput ke balai diklat untuk menjalani pemeriksaan di RSUD Syamrabu,” sebutnya.

Kepala Diskominfo Bangkalan itu menyatakan, saat ini petugas di lapangan tengah melakukan pendataan kepada orang-orang yang pernah kontak langsung dengan pasien. Sepekan kemudian dilakukan rapid test. ”Sesuai prosedur penanganan Covid-19,” imbuhnya.

Tambahan pasien ini menjadikan lima dari 18 kecamatan di Bangkalan merah dengan sembilan kasus. Lima kecamatan itu meliputi Klampis (tiga kasus), Kota (satu kasus), Blega (satu kasus), Arosbaya (satu kasus), dan Kamal (tiga kasus).

Baca Juga :  Istri Staf Bagian Hukum Positif Covid-19, Satu Ruangan Bakal Di-Rapid

Sementara itu, empat peserta pelatihan calon petugas haji asal Sumenep ditangani RSUD dr H Moh. Anwar Sumenep. Mereka menjalani perawatan khusus sesuai prosedur Covid-19. Pada saat yang sama, petugas menelusuri setiap orang yang pernah berinteraksi dengan mereka.

Empat orang yang terkonfirmasi Covid-19 itu diperkirakan berkontak erat dengan banyak orang. Terutama keluaga masing-masing. Sebab, sebelum dinyatakan positif, mereka tidak sempat dinyatakan sebagai pasien dalam pengawasan (PDP) yang harus menjalani isolasi.

Empat pasien itu terdiri atas seorang pegawai kemenag dan tiga tenaga kesehatan (nakes). Perinciannya, laki-laki 57 tahun pembimbing haji asal Kecamatan Kota Sumenep; pria 46 tahun nakes Puskesmas Saronggi; pria 35 tahun pegawai Dinkes Sumenep asal Kota; dan seorang perempuan 33 tahun bertugas di Puskesmas Rubaru.

Ketua Tim Penanganan Covid-19 Sumenep Andri Dwiwahyudi menyampaikan, penanganan dan pencegahan kepada pasien Covid-19 tetap menjadi atensi. Ada beberapa proses untuk menyatakan pasien sembuh total. Dengan kondisi fisik yang baik dan melakukan evaluasi hasil swab. Pasien bisa dinyatakan sembuh setelah 2 kali tes swab dengan hasil negatif.

Orang yang sempat kontak erat diimbau melakukan isolasi mandiri. Kemudian, akan melakukan screening aktif kepada 4 keluarga pasien. Misalnya, lingkungan keluarga besar dan area lokasi kerja pasien. Sementara deteksi masyarakat nonkeluarga dilakukan screening pasif. Yakni, dengan menginformasikan kepada masyarakat apabila pernah berhubungan kontak dengan para pasien. ”Tidak mungkin kita mendeteksi semua di luar keluarga dan lingkungan kerja,” jelasnya.

Kepala Dinas Kesehatan Agus Mulyono menerangkan, keluarga besar pasien Covid-19 menjadi skala prioritas pemeriksaan. Sebagai langkah pencegahan adanya persebaran virus tersebut. Lingkungan kerja mereka yang harus segera disterilkan.

Saat ini, alat rapid test tersisa 230 unit. Pemerintah siap memfasilitasi apabila ada kekurangan. Pemeriksaan ini akan dilakukan tanpa ada pungutan biaya. Jumlah pemeriksaan setiap hari menyesuaikan dengan kemampuan rumah sakit.  ”Kami akan mempercepat rapid test ini. Nanti akan ditentukan batas maksimal setiap hari misalnya berkisar 20 orang,” jelasnya.

Baca Juga :  Garda Terdepan Petugas Kemanusiaan Cegah Covid-19 (3-Habis)

Sementara itu, dua kasus baru di Pamekasan Jumat (24/4) dikabarkan tertular dua dari empat TKHI yang lebih awal terpapar Covid-19. Dua kasus baru itu warga Kecamatan Proppo dan warga Kecamatan Palengaan. Keduanya sama-sama perempuan yang sebelumnya berstatus orang dalam pemantauan (ODP) dengan isolasi mandiri.

Perempuan dari Kecamatan Proppo berusia 60 tahun. Dia tertular dari salah seorang keluarganya yang dinyatakan positif. Kemudian, perempuan dari Kecamatan Palengaan 53 tahun tertular dari rekan kerjanya di Dinkes Pamekasan.

Wakil Ketua I Satgas Penanggulangan Bencana Nonalam dan Pencegahan Covid-19 Acmad Marsuki belum memberikan keterangan pasti terkait identitas dan riwayat mereka terpapar covid-19. ”Masih di-tracing,” katanya Jumat malam (24/4).

Kemarin (25/4) Plt Kadinkes Pamekasan tersebut menyatakan, tim satgas masih melakukan penelusuran. Pihaknya tidak mencari sumber penularan yang membuat dua orang tersebut terpapar. ”Prinsip tracing ini mencari kontak paling erat,” ungkapnya. ”Bukan mencari sumber penularan,” sambungnya.

Menurut Marsuki, tracing sumber penularan ini cukup rumit. Harus dengan kajian yang tepat. Sebab, prinsip penularan virus korona bersifat eksponensial dan untuk menentukan siapa yang menulari siapa. Perlu tracing ketat.

Ketua Tim Penanganan Covid-19 Internal RSUD Smart Pamekasan Syaiful Hidayat menuturkan, dua pasien tersebut sudah ditangani. Masuk RSUD Jumat malam (24/4). ”Kondisi kedua pasien dalam keadaan baik dan sehat,” ungkapnya.

Jumlah warga Pamekasan yang terkonfirmasi Covid-19 tujuh orang. Mereka berasal dari Pademawu (satu kasus), Larangan (satu kasus), Proppo (tiga kasus), Palengaan (satu kasus), dan Galis (satu kasus). (jun/ky)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/