alexametrics
22.8 C
Madura
Saturday, May 21, 2022

Madura Gagal Mengelola Sumber Daya Alam?

BANGKALAN – Pulau Madura sangat banyak memiliki potensi sumber daya alam. Mulai terkandung di dataran, seperti potensi sumber daya lahan, potensi sumber daya laut, kandungan minyak dan gas bumi hingga potensi pesisir dan ekowisata.

Madura memiliki sumber daya migas yang luar biasa. 70 persen potensi migas di Jawa Timur ada di blok Madura. Hampir dua puluh tahun lebih potensi migas sudah dieksploitasi. Namun, hal itu tidak berkorelasi positif dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pendapatan asli daerah tetap seperti biasa-biasa saja.

Madura juga dikenal sebagai daerah penghasil tembakau dengan kualitas tinggi.  Tidak kurang 40 persen produksi tembakau Indonesia berasal dari Pulau Madura. Setiap tahun, luas panen tembakau rata-rata 80.000 sampai 100.000 hektare. Namun, hal tersebut tidak berkorelasi positif dengan peningkatan kesejahteraan petani tembakau.

Madura dikenal sebagai pulau garam. 60 persen garam nasional diproduksi di Madura. Namun, nasib petani garam tidak jauh berbeda dengan saudara-saudaranya, para petani tembakau. Cerita pilu petani garam setiap panen tiba selalu menghiasi  halaman surat kabar lokal dan nasional.

Potensi lahan kering di pulau ini relatif cukup tinggi, mencapai 75 persen atau sekitar 400 ribu hektare. Kondisi ini belum dikelola dengan baik sehingga gagal memberikan kesejahteraan bagi masyarakat. Justru ada kecenderungan generasi muda meninggalkan dunia pertanian.

Baca Juga :  Dinkes Belum Cairkan Insentif Nakes

Lahan-lahan relatif subur kini banyak ditelantarkan sehingga memunculkan fenomena lahan tidur. Dilaporkan jumlah lahan tidur saat ini mencapai lebih kurang 100 ribu hektare.

Di sisi lain, sistem pola tanam yang diterapkan petani kita terutama di daerah-daerah upland (lahan kering) dirasa masih kurang optimal. Hal demikian memicu terjadinya erosi dan banjir di beberapa daerah, seperti Blega dan Sampang.

”Kita memiliki potensi wisata bahari yang luar biasa. Pulau Gili Iyang dengan kandungan oksigen tertinggi kedua di dunia, sebaran pulau-pulau kecil dengan kekayaan terumbu karangnya belum dikelola dengan baik,” kata Dekan Fakultas Pertanian UTM Dr. Ir. Slamet Subari, M.Si.

”Apabila kita tidak antisipasi dari awal, dikhawatirkan berkah kekayaan wisata bahari jatuh ke tangan orang lain,” sambungnya.

Kerap kali pemanfaatan SDA di setiap sektor justru menjadi penyumbang menurunnya kualitas lingkungan dan SDA itu sendiri sebagai akibat dari ketidakpahaman dalam pengelolaannya. Sudah saatnya di setiap sektor memiliki ahli yang memahami dalam penanganan SDA secara khusus.

Untuk menjawab persoalan itu semua, Fakulas Pertanian UTM telah membuka Program Magister Pengelolaan Sumber Daya Alam (PSDA) pada 2017. Yakni, khusus mempelajari dan mengkaji berbagai teori dan kebijakan-kebijakan yang telah dan akan diambil oleh pemerintah maupun swasta terkait dengan pengelolaan sumber daya alam.

Baca Juga :  Bupati Ra Latif Lepas Pemain Perseba

Program magister ini sifatnya multi-disiplin ilmu. Tidak ada persyaratan khusus bagi pendaftar harus lulusan S-1 jurusan tertentu. Program magister ini sangat cocok bagi praktisi di bidang pemerintahan, anggota dewan maupun praktisi swasta yang bergerak dalam bidang pengelolaan SDA. Lulusan program ini bergelar magister sains.

Program perkuliahan didesain hanya tiga semester (satu setengah tahun). Dua semester untuk perkuliahan dan satu semester berikutnya fokus untuk penyelesaian tesis.

Prodi ini sudah berjalan satu tahun dengan mahasiswa yang umumnya dari Bangkalan dan Pamekasan. Direncanakan, Jumat, 27 April 2018 tim pengelola akan melakukan sosialisasi di Sumenep, bertempat di Aula Gedung Serbaguna Kampus Unija. ”Karena itu, kami mengundang para sarjana dan semua pemangku kebijakan di kota Sumenep untuk hadir dalam acara tersebut,” ajaknya.

”Semoga kehadiran kami dapat menjadi pencerah bagi keberlanjutan pembangunan dan pengelolaan sumber daya alam di Madura. Sampai ketemu di Kampus Unija,” pungkasnya.

- Advertisement -

BANGKALAN – Pulau Madura sangat banyak memiliki potensi sumber daya alam. Mulai terkandung di dataran, seperti potensi sumber daya lahan, potensi sumber daya laut, kandungan minyak dan gas bumi hingga potensi pesisir dan ekowisata.

Madura memiliki sumber daya migas yang luar biasa. 70 persen potensi migas di Jawa Timur ada di blok Madura. Hampir dua puluh tahun lebih potensi migas sudah dieksploitasi. Namun, hal itu tidak berkorelasi positif dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pendapatan asli daerah tetap seperti biasa-biasa saja.

Madura juga dikenal sebagai daerah penghasil tembakau dengan kualitas tinggi.  Tidak kurang 40 persen produksi tembakau Indonesia berasal dari Pulau Madura. Setiap tahun, luas panen tembakau rata-rata 80.000 sampai 100.000 hektare. Namun, hal tersebut tidak berkorelasi positif dengan peningkatan kesejahteraan petani tembakau.


Madura dikenal sebagai pulau garam. 60 persen garam nasional diproduksi di Madura. Namun, nasib petani garam tidak jauh berbeda dengan saudara-saudaranya, para petani tembakau. Cerita pilu petani garam setiap panen tiba selalu menghiasi  halaman surat kabar lokal dan nasional.

Potensi lahan kering di pulau ini relatif cukup tinggi, mencapai 75 persen atau sekitar 400 ribu hektare. Kondisi ini belum dikelola dengan baik sehingga gagal memberikan kesejahteraan bagi masyarakat. Justru ada kecenderungan generasi muda meninggalkan dunia pertanian.

Baca Juga :  Bupati Ra Latif Lepas Pemain Perseba

Lahan-lahan relatif subur kini banyak ditelantarkan sehingga memunculkan fenomena lahan tidur. Dilaporkan jumlah lahan tidur saat ini mencapai lebih kurang 100 ribu hektare.

Di sisi lain, sistem pola tanam yang diterapkan petani kita terutama di daerah-daerah upland (lahan kering) dirasa masih kurang optimal. Hal demikian memicu terjadinya erosi dan banjir di beberapa daerah, seperti Blega dan Sampang.

”Kita memiliki potensi wisata bahari yang luar biasa. Pulau Gili Iyang dengan kandungan oksigen tertinggi kedua di dunia, sebaran pulau-pulau kecil dengan kekayaan terumbu karangnya belum dikelola dengan baik,” kata Dekan Fakultas Pertanian UTM Dr. Ir. Slamet Subari, M.Si.

”Apabila kita tidak antisipasi dari awal, dikhawatirkan berkah kekayaan wisata bahari jatuh ke tangan orang lain,” sambungnya.

Kerap kali pemanfaatan SDA di setiap sektor justru menjadi penyumbang menurunnya kualitas lingkungan dan SDA itu sendiri sebagai akibat dari ketidakpahaman dalam pengelolaannya. Sudah saatnya di setiap sektor memiliki ahli yang memahami dalam penanganan SDA secara khusus.

Untuk menjawab persoalan itu semua, Fakulas Pertanian UTM telah membuka Program Magister Pengelolaan Sumber Daya Alam (PSDA) pada 2017. Yakni, khusus mempelajari dan mengkaji berbagai teori dan kebijakan-kebijakan yang telah dan akan diambil oleh pemerintah maupun swasta terkait dengan pengelolaan sumber daya alam.

Baca Juga :  Tingkat Pengangguran di Bangkalan Terus Melonjak

Program magister ini sifatnya multi-disiplin ilmu. Tidak ada persyaratan khusus bagi pendaftar harus lulusan S-1 jurusan tertentu. Program magister ini sangat cocok bagi praktisi di bidang pemerintahan, anggota dewan maupun praktisi swasta yang bergerak dalam bidang pengelolaan SDA. Lulusan program ini bergelar magister sains.

Program perkuliahan didesain hanya tiga semester (satu setengah tahun). Dua semester untuk perkuliahan dan satu semester berikutnya fokus untuk penyelesaian tesis.

Prodi ini sudah berjalan satu tahun dengan mahasiswa yang umumnya dari Bangkalan dan Pamekasan. Direncanakan, Jumat, 27 April 2018 tim pengelola akan melakukan sosialisasi di Sumenep, bertempat di Aula Gedung Serbaguna Kampus Unija. ”Karena itu, kami mengundang para sarjana dan semua pemangku kebijakan di kota Sumenep untuk hadir dalam acara tersebut,” ajaknya.

”Semoga kehadiran kami dapat menjadi pencerah bagi keberlanjutan pembangunan dan pengelolaan sumber daya alam di Madura. Sampai ketemu di Kampus Unija,” pungkasnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/