alexametrics
21.7 C
Madura
Tuesday, May 17, 2022

Menjawab Tantangan dengan Inovasi

BANGKALAN, Jawa Pos Radar Madura – Pandemi Covid-19 menjadi tantangan bagi tenaga dan fasilitas kesehatan (faskes). Namun, masa-masa sulit seperti itu justru dimanfaatkan oleh RSUD Syamrabu Bangkalan untuk terus berinovasi dan berkreasi demi tetap memberikan pelayanan kesehatan berkualitas kepada masyarakat.

Penanggung Jawab Pemasaran RSUD Syamrabu Mohammad Syaiful Bahri, S.KM., M.AP. menyatakan, indikator keberhasilan pelayanan kesehatan bergantung pada komitmen pemerintah. Karena itulah Pemkab Bangkalan melalui RSUD Syamrabu terus berupaya memberikan pelayanan maksimal pada masyarakat.

Secara geografis, dengan adanya Jembatan Suramadu, rumah sakit milik Pemkab Bangkalan itu berada di jalur strategis. Dengan demikian, tantangan untuk memajukan industri pelayanan kesehatan yang dihadapi lebih besar dibandingkan rumah sakit milik tiga pemkab lainnya di Madura.

Saat ini RSUD Syamrabu berstatus rumah sakit tipe B pendidikan. Yaitu, rumah sakit yang mampu memberikan pelayanan kedokteran spesialis dan sub spesialis. Juga dapat menampung pelayanan rujukan dari faskes primer atau puskesmas. ”Serta dari faskes sekunder rumah sakit atau klinik tipe C dan D,” terangnya Minggu (10/4).

Sebagai RS rujukan, manajemen RSUD Syamrabu terus berupaya memaksimalkan kualitas layanan. Komitmen itu tecermin dari predikat dan pengakuan sebagai rumah sakit yang lulus akreditasi lima pelayanan versi 2007. ”Berkat kerja sama yang baik dan profesional antara manajemen seluruh nakes, RSUD Syamrabu mendapatkan status pengakuan kualitas dengan 12 standar pelayanan,” paparnya.

Baca Juga :  Ayu Khoirunita, Pengurus Hipmi Jatim yang Haus Inovasi

Seiring meningkatnya kepercayaan dan harapan masyarakat, pemenuhan alat kesehatan (alkes) canggih terus dulakukan. Harapannya, dapat mendukung kualitas pelayanan kesehatan. Sampai akhirnya, RSUD Syamrabu mendapat predikat akreditasi paripurna pada 2019 dari Komisi Nasional Akreditasi Rumah Sakit (KARS).

Syaiful menambahkan, di awal pandemi Covid-19, semua rumah sakit di Indonesia sempat mangalami kesulitan. Terutama mengenai masalah sarana dan prasarana (sarpras). Apalagi, saat varian Delta masuk tanah air. Varian itu diyakini menular lebih cepat dan mematikan.

RSUD Syamrabu berstatus unit organisasi bersifat khusus (UOBK). Yakni, rumah sakit atau faskes yang memiliki karakteristik organisasi kompleks. Dengan demikian, memerlukan kebijakan khusus untuk mendukung penyelenggaraan pelayanan kesehatan.

Karena alasan itulah, pandemi Covid-19 tidak menjadi hambatan bagi RSUD Syamrabu untuk terus berinovasi dan meningkatkan kualitas layanan. Buktinya, banyak inovasi pelayanan yang dilahirkan RSUD Syamrabu dalam dua tahun terakhir.

Baca Juga :  Bus Hantam Pikap, Mio Seruduk Carry, Pengendara Terlempar

Contohnya, inovasi antar obat sampai rumah (Taromah). Yaitu, pelayanan antar obat sesuai dengan resep dokter bagi pasien di wilayah Kecamatan Kota Bangkalan. Kemudian, pelayanan bersalin sehat antar sampai rumah (Bersema). Pasien program biakes maskin yang baru melahirkan akan diantarkan hingga ke rumah.

”Selain diantarkan, ibu yang baru melahirkan juga akan diuruskan akta kelahiran dan cetak foto bayi secara gratis,” sambungnya.

Lalu, terdapat inovasi ambulans peduli tretan dhibi’ (Ampibi). Yaitu, untuk menangani pasien dengan kondisi gawat darurat. Inovasi itu memberikan penjemputan bagi pasien JKN dan biakes maskin. Inovasi itu siap melayani masyarakat 24 jam.

”Serta ada layanan home care Padha Baras merupakan layanan kesehatan lanjutan secara komprehensif dan berkesinambungan yang dilakukan di tempat tinggal pasien. Tujuan home care yaitu meningkatkan, mempertahankan, memulihkan kesehatan kemandirian, dan meminimalkan kecacatan akibat penyakit yang diderita pasien.

Home care ini mengharuskan perawat untuk mengadakan kunjungan ke rumah pasien, menjaga, dan memberikan asuhan keperawatan yang dibutuhkan pasien. Layanan ini bersifat gratis untuk masyarakat Bangkalan yang berobat menggunakan BPJS biakes maskin,” tandasnya. (jup/onk)

 

BANGKALAN, Jawa Pos Radar Madura – Pandemi Covid-19 menjadi tantangan bagi tenaga dan fasilitas kesehatan (faskes). Namun, masa-masa sulit seperti itu justru dimanfaatkan oleh RSUD Syamrabu Bangkalan untuk terus berinovasi dan berkreasi demi tetap memberikan pelayanan kesehatan berkualitas kepada masyarakat.

Penanggung Jawab Pemasaran RSUD Syamrabu Mohammad Syaiful Bahri, S.KM., M.AP. menyatakan, indikator keberhasilan pelayanan kesehatan bergantung pada komitmen pemerintah. Karena itulah Pemkab Bangkalan melalui RSUD Syamrabu terus berupaya memberikan pelayanan maksimal pada masyarakat.

Secara geografis, dengan adanya Jembatan Suramadu, rumah sakit milik Pemkab Bangkalan itu berada di jalur strategis. Dengan demikian, tantangan untuk memajukan industri pelayanan kesehatan yang dihadapi lebih besar dibandingkan rumah sakit milik tiga pemkab lainnya di Madura.

Saat ini RSUD Syamrabu berstatus rumah sakit tipe B pendidikan. Yaitu, rumah sakit yang mampu memberikan pelayanan kedokteran spesialis dan sub spesialis. Juga dapat menampung pelayanan rujukan dari faskes primer atau puskesmas. ”Serta dari faskes sekunder rumah sakit atau klinik tipe C dan D,” terangnya Minggu (10/4).

Sebagai RS rujukan, manajemen RSUD Syamrabu terus berupaya memaksimalkan kualitas layanan. Komitmen itu tecermin dari predikat dan pengakuan sebagai rumah sakit yang lulus akreditasi lima pelayanan versi 2007. ”Berkat kerja sama yang baik dan profesional antara manajemen seluruh nakes, RSUD Syamrabu mendapatkan status pengakuan kualitas dengan 12 standar pelayanan,” paparnya.

Baca Juga :  Kasus Covid-19 Naik, IGD RSUD Syamrabu Di-Lockdown

Seiring meningkatnya kepercayaan dan harapan masyarakat, pemenuhan alat kesehatan (alkes) canggih terus dulakukan. Harapannya, dapat mendukung kualitas pelayanan kesehatan. Sampai akhirnya, RSUD Syamrabu mendapat predikat akreditasi paripurna pada 2019 dari Komisi Nasional Akreditasi Rumah Sakit (KARS).

Syaiful menambahkan, di awal pandemi Covid-19, semua rumah sakit di Indonesia sempat mangalami kesulitan. Terutama mengenai masalah sarana dan prasarana (sarpras). Apalagi, saat varian Delta masuk tanah air. Varian itu diyakini menular lebih cepat dan mematikan.

RSUD Syamrabu berstatus unit organisasi bersifat khusus (UOBK). Yakni, rumah sakit atau faskes yang memiliki karakteristik organisasi kompleks. Dengan demikian, memerlukan kebijakan khusus untuk mendukung penyelenggaraan pelayanan kesehatan.

Karena alasan itulah, pandemi Covid-19 tidak menjadi hambatan bagi RSUD Syamrabu untuk terus berinovasi dan meningkatkan kualitas layanan. Buktinya, banyak inovasi pelayanan yang dilahirkan RSUD Syamrabu dalam dua tahun terakhir.

Baca Juga :  Mengenal Mati Klinis dan Seluler

Contohnya, inovasi antar obat sampai rumah (Taromah). Yaitu, pelayanan antar obat sesuai dengan resep dokter bagi pasien di wilayah Kecamatan Kota Bangkalan. Kemudian, pelayanan bersalin sehat antar sampai rumah (Bersema). Pasien program biakes maskin yang baru melahirkan akan diantarkan hingga ke rumah.

”Selain diantarkan, ibu yang baru melahirkan juga akan diuruskan akta kelahiran dan cetak foto bayi secara gratis,” sambungnya.

Lalu, terdapat inovasi ambulans peduli tretan dhibi’ (Ampibi). Yaitu, untuk menangani pasien dengan kondisi gawat darurat. Inovasi itu memberikan penjemputan bagi pasien JKN dan biakes maskin. Inovasi itu siap melayani masyarakat 24 jam.

”Serta ada layanan home care Padha Baras merupakan layanan kesehatan lanjutan secara komprehensif dan berkesinambungan yang dilakukan di tempat tinggal pasien. Tujuan home care yaitu meningkatkan, mempertahankan, memulihkan kesehatan kemandirian, dan meminimalkan kecacatan akibat penyakit yang diderita pasien.

Home care ini mengharuskan perawat untuk mengadakan kunjungan ke rumah pasien, menjaga, dan memberikan asuhan keperawatan yang dibutuhkan pasien. Layanan ini bersifat gratis untuk masyarakat Bangkalan yang berobat menggunakan BPJS biakes maskin,” tandasnya. (jup/onk)

 

Artikel Terkait

Most Read

PPP Bereskan Internal

Hindari Banjir, KPU Sewa Gudang Tembakau

Rehabilitasi Sungai Butuh Rp 50 Miliar

Artikel Terbaru

/