alexametrics
20.7 C
Madura
Thursday, May 26, 2022

Menangani Kelainan Atresia Ani pada Bayi

BANGKALAN, Jawa Pos Radar Madura – Terdapat berbagai kelainan bawaan pada bayi baru lahir. Salah satunya, atresia ani. Yakni, kelainan pada bayi yang terlahir tanpa anus atau dubur. Karena itu, menjaga pertumbuhan janin bayi sangat penting dilakukan sejak masa kehamilan.

Dokter Penanggung Jawab Poli Bedah Anak RSUD Syamrabu dr. Arif Oktavian, Sp.BA menjelaskan,  atresia ani juga dikenal dengan istilah malformasi anorektal. Yaitu, suatu kelainan bawaan pada bayi yang baru lahir tanpa anus atau kurang sempurna.

Malformasi anorektal tergolong kasus yang jarang terjadi.  Sebab,  kejadiannya satu banding 1.500 hingga 5.000 kelahiran. Namun biasanya, bayi yang mengalami kelainan itu akan disertai  masalah lainnya.

Jadi, sindrom vacterl  atau singkatan dari vertebral anomalies (kelainan tulang belakang), anal atresia (dubur), cardial anomalies (penyakit jantung bawaan), tracheoesophageal fistula, esophageal atresia (kelainan pada kerongkongan), renal anomalies (kelainan ginjal), dan limb defect (kelainan anggota gerak). ”Sindrom di atas merupakan kelainan pada bayi yang dapat disertai dengan malformasi anorektal,” terangnya kemarin (17/4).

Baca Juga :  Pemkab Bangkalan Siapkan Rp 31,2 Miliar untuk Bayar Utang  

Secara medis, penyebab kasus atresia ani belum diketahui. Namun secara teoretis, kelainan bawaan itu diperkirakan akibat tidak sempurnanya pertumbuhan janin saat masih di dalam kandungan. Yakni, pada usia empat minggu sampai usia delapan minggu kehamilan.

”Di mana usus yang seharusnya mencapai lubang anus tidak tercapai atau tidak terpisah secara sempurna. Sehingga saat lahir, bayi tidak memiliki anus atau lahir dengan anus tidak sempurna,” terangnya.

Karena itulah, menjaga pertumbuhan dan kembang bayi saat masih dalam masa kehamilan sangat penting. Atresia ani dapat terjadi pada bayi laki laki dan perempuan. ”Namun secara angka kejadiannya sedikit lebih banyak pada bayi laki laki,” sambungnya.

Atresia ani dapat diketahui 24 jam pasca kelahiran. Yaitu, dengan cara melihat secara langsung  bentuk lubang anus. Kemudian,  kita dapat melihat adakah kelainan pada anus atau tidak.

Baca Juga :  Madura Berduka, Sekjen Bassra Wafat

Gejala yang tampak pada atresia ani yakni tidak keluarnya tinja pada bayi dalam 24 jam pertama kehidupan. Juga disertai perut semakin kembung hingga terkadang sampai muntah kehijauan. Pada beberapa tipe atresia ani, dapat disertai urine berwarna keruh akibat tercampurnya tinja.

Menurut pria berkacamata itu, atresia ani merupakan suatu kondisi kegawatan yang harus segera ditangani. Apalagi jika disertai kelainan penyerta. Karena itu, dirinya berharap para orang tua tidak ragu untuk memeriksakan buah hatinya jika menemukan kasus itu.

”Bawa bayi ke rumah sakit yang memiliki dokter spesialis anak dan dokter spesialis bedah anak. Dengan begitu, buah hati tercinta segera mendapat penanganan optimal,” sarannya. (jup/onk)

BANGKALAN, Jawa Pos Radar Madura – Terdapat berbagai kelainan bawaan pada bayi baru lahir. Salah satunya, atresia ani. Yakni, kelainan pada bayi yang terlahir tanpa anus atau dubur. Karena itu, menjaga pertumbuhan janin bayi sangat penting dilakukan sejak masa kehamilan.

Dokter Penanggung Jawab Poli Bedah Anak RSUD Syamrabu dr. Arif Oktavian, Sp.BA menjelaskan,  atresia ani juga dikenal dengan istilah malformasi anorektal. Yaitu, suatu kelainan bawaan pada bayi yang baru lahir tanpa anus atau kurang sempurna.

Malformasi anorektal tergolong kasus yang jarang terjadi.  Sebab,  kejadiannya satu banding 1.500 hingga 5.000 kelahiran. Namun biasanya, bayi yang mengalami kelainan itu akan disertai  masalah lainnya.


Jadi, sindrom vacterl  atau singkatan dari vertebral anomalies (kelainan tulang belakang), anal atresia (dubur), cardial anomalies (penyakit jantung bawaan), tracheoesophageal fistula, esophageal atresia (kelainan pada kerongkongan), renal anomalies (kelainan ginjal), dan limb defect (kelainan anggota gerak). ”Sindrom di atas merupakan kelainan pada bayi yang dapat disertai dengan malformasi anorektal,” terangnya kemarin (17/4).

Baca Juga :  Pemerintah Harus Serius, Tidak Hanya Mengimbau

Secara medis, penyebab kasus atresia ani belum diketahui. Namun secara teoretis, kelainan bawaan itu diperkirakan akibat tidak sempurnanya pertumbuhan janin saat masih di dalam kandungan. Yakni, pada usia empat minggu sampai usia delapan minggu kehamilan.

”Di mana usus yang seharusnya mencapai lubang anus tidak tercapai atau tidak terpisah secara sempurna. Sehingga saat lahir, bayi tidak memiliki anus atau lahir dengan anus tidak sempurna,” terangnya.

Karena itulah, menjaga pertumbuhan dan kembang bayi saat masih dalam masa kehamilan sangat penting. Atresia ani dapat terjadi pada bayi laki laki dan perempuan. ”Namun secara angka kejadiannya sedikit lebih banyak pada bayi laki laki,” sambungnya.

Atresia ani dapat diketahui 24 jam pasca kelahiran. Yaitu, dengan cara melihat secara langsung  bentuk lubang anus. Kemudian,  kita dapat melihat adakah kelainan pada anus atau tidak.

Baca Juga :  Madura Berduka, Sekjen Bassra Wafat

Gejala yang tampak pada atresia ani yakni tidak keluarnya tinja pada bayi dalam 24 jam pertama kehidupan. Juga disertai perut semakin kembung hingga terkadang sampai muntah kehijauan. Pada beberapa tipe atresia ani, dapat disertai urine berwarna keruh akibat tercampurnya tinja.

Menurut pria berkacamata itu, atresia ani merupakan suatu kondisi kegawatan yang harus segera ditangani. Apalagi jika disertai kelainan penyerta. Karena itu, dirinya berharap para orang tua tidak ragu untuk memeriksakan buah hatinya jika menemukan kasus itu.

”Bawa bayi ke rumah sakit yang memiliki dokter spesialis anak dan dokter spesialis bedah anak. Dengan begitu, buah hati tercinta segera mendapat penanganan optimal,” sarannya. (jup/onk)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/