alexametrics
19 C
Madura
Thursday, June 30, 2022

Beatrix Anindita Larasati Raih Penghargaan Dansa Internasional

BANGKALAN – Dilihat dari luar, SD Katolik Maria Fatima tidak ada aktivitas Selasa lalu (23/2). Hanya ada beberapa anak di halaman sekolah di Jalan KH Hasyim Asy’ari itu. Maklum pembelajaran secara tatap muka (PTM) masih terhalang pandemi Covid-19.

Maria Evi Sugihartanti menyambut kedatangan RadarMadura.id di sekolah yang terletak di Kelurahan Pangeranan, Kecamatan Kota Bangkalan, tersebut. Perempuan itu kemudian memanggil seorang siswa. Lalu, kami berbincang di salah satu ruangan di ujung timur.

Pelajar itu bernama lengkap Beatrix Anindita Larasati. Biasa dipanggil Laras. Umur 10 tahun. Saat ini masih kelas 4. Siswa asal Jalan KH Hasyim Asy’ari 30/A itu memiliki prestasi membanggakan.

Sejak Okbober 2020, siswa yang mengenakan masker bermotif tersebut meraih beberapa penghargaan. Mulai dari tingkat Asia hingga internasional. Laras mengumpulkan prestasi bergengsi melalui cabang olahraga (cabor) Ikatan Olahraga Dansa Indonesia (IODI).

Cabor IODI sampai saat ini belum memiliki wadah di Kota Salak. Bahkan, banyak yang belum mengenal. Pada Oktober 2020, Laras mendapat dua penghargaan sebagai juara 1 tingkat Asia dalam Blackpoll Dance Festival kategori jive untuk anak usia 10 tahun.

Selain itu, juara 3 dalam Crystal Dancesport Championship dengan kategori yang sama. Kemudian, pada Desember 2020 Laras memborong dua juara dalam kompetisi Centrall Open Dancesport Competitions Philippine untuk dua kategori berbeda.

Baca Juga :  Hasil Tes Urine Dinyatakan Positif Nyabu, Polisi Tahan Warga Bangkalan

Lalu, meraih juara 7 dalam ajang Blackpool Online Spring Festival of Dance Rank Under 10 Jive Tingkat Dunia. Terakhir, mendapat dua juara prestasi Geraldine Dance Challenge Philippine untuk dua kategori berbeda. ”Lombanya dilaksanakan secara online,” ucapnya kemarin (23/2).

Menjadi atlet IODI bagi Laras tidak begitu sulit. Sebab, sebelum menjatuhkan hati kepada cabor IODI, Laras aktif sebagai penari di Sanggar Seni Tarara. Namun pada 2019, dirinya memilih fokus berlatih menjadi atlet IODI.

Karena di Bangkalan belum ada cabor itu, Laras bergabung dengan klub dansa Trivi Dancesport Community (TDC) di Pakuwon City, Surabaya. Dengan jarak latihan yang cukup jauh, tidak sedikit kocek yang harus dikeluarkan Maria Evi Sugihartanti.

Selain sebagai kepala sekolah, Maria merupakan ibunda Laras. Karena itu, selaku orang tua, dia mendukung hobi sang putri. Dalam sepekan empat kali latihan di Kota Pahlawan. ”Orang tua selalu mendukung untuk latihan dan penyediaan baju dan lainnya,” katanya.

Pada 2020, Laras tampil di Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur (Jatim). Namun, saat itu Laras tidak mewakili Kabupaten Bangkalan, tetapi mewakili Kabupaten Malang. Semua itu atas pertimbangan klubnya karena di Bangkalan belum ada cabor IODI.

Baca Juga :  Tambah Lima Kasus, 41 Warga Madura Terpapar Covid-19

Meski begitu, Laras bercita-cita menjadi pelatih dansa profesional. Anak pertama tiga bersaudara pasangan Bernardus Probo Pambudi dan Maria Evi Sugihartanti itu ingin mengembangkan IODI di Kata Salak. ”Saya ingin mengharumkan Bangkalan,” tambahnya.

Prestasi tingkat Asia dan internasional yang diraih melalui kompetisi online. Semua prestasi itu berhasil diraih meski di tengah pandemi Covid-19. Laras berharap para atlet tidak putus asa untuk terus berlatih meski event dilaksanakan secara daring.

Maria sangat bangga atas prestasi yang diraih putrinya tersebut. Pihaknya berharap semakin banyak masyarakat yang mengenal IODI. ”Kami barharap ke depan nama Bangkalan bisa (dikenal) melalui IODI,” ucapnya.

Ketua Umum Komite Olaraga Nasional Indonesia (KONI) Bangkalan Fauzan Jakfar mengakui di Kota Salak belum ada cabor IODI. Namun, dia berkomitmen akan mencari atlet yang memiliki potensi besar dapat mengharumkan Bangkalan. Termasuk yang saat ini berkarir di luar Bangkalan. ”Atlet yang berasal dari Bangkalan harus kembali ke Bangkalan,” katanya. (jup/luq)

BANGKALAN – Dilihat dari luar, SD Katolik Maria Fatima tidak ada aktivitas Selasa lalu (23/2). Hanya ada beberapa anak di halaman sekolah di Jalan KH Hasyim Asy’ari itu. Maklum pembelajaran secara tatap muka (PTM) masih terhalang pandemi Covid-19.

Maria Evi Sugihartanti menyambut kedatangan RadarMadura.id di sekolah yang terletak di Kelurahan Pangeranan, Kecamatan Kota Bangkalan, tersebut. Perempuan itu kemudian memanggil seorang siswa. Lalu, kami berbincang di salah satu ruangan di ujung timur.

Pelajar itu bernama lengkap Beatrix Anindita Larasati. Biasa dipanggil Laras. Umur 10 tahun. Saat ini masih kelas 4. Siswa asal Jalan KH Hasyim Asy’ari 30/A itu memiliki prestasi membanggakan.


Sejak Okbober 2020, siswa yang mengenakan masker bermotif tersebut meraih beberapa penghargaan. Mulai dari tingkat Asia hingga internasional. Laras mengumpulkan prestasi bergengsi melalui cabang olahraga (cabor) Ikatan Olahraga Dansa Indonesia (IODI).

Cabor IODI sampai saat ini belum memiliki wadah di Kota Salak. Bahkan, banyak yang belum mengenal. Pada Oktober 2020, Laras mendapat dua penghargaan sebagai juara 1 tingkat Asia dalam Blackpoll Dance Festival kategori jive untuk anak usia 10 tahun.

Selain itu, juara 3 dalam Crystal Dancesport Championship dengan kategori yang sama. Kemudian, pada Desember 2020 Laras memborong dua juara dalam kompetisi Centrall Open Dancesport Competitions Philippine untuk dua kategori berbeda.

Baca Juga :  Bupati Ra Latif Terus Perluas Jangkauan Vaksinasi ke Pondok Pesantren

Lalu, meraih juara 7 dalam ajang Blackpool Online Spring Festival of Dance Rank Under 10 Jive Tingkat Dunia. Terakhir, mendapat dua juara prestasi Geraldine Dance Challenge Philippine untuk dua kategori berbeda. ”Lombanya dilaksanakan secara online,” ucapnya kemarin (23/2).

Menjadi atlet IODI bagi Laras tidak begitu sulit. Sebab, sebelum menjatuhkan hati kepada cabor IODI, Laras aktif sebagai penari di Sanggar Seni Tarara. Namun pada 2019, dirinya memilih fokus berlatih menjadi atlet IODI.

Karena di Bangkalan belum ada cabor itu, Laras bergabung dengan klub dansa Trivi Dancesport Community (TDC) di Pakuwon City, Surabaya. Dengan jarak latihan yang cukup jauh, tidak sedikit kocek yang harus dikeluarkan Maria Evi Sugihartanti.

Selain sebagai kepala sekolah, Maria merupakan ibunda Laras. Karena itu, selaku orang tua, dia mendukung hobi sang putri. Dalam sepekan empat kali latihan di Kota Pahlawan. ”Orang tua selalu mendukung untuk latihan dan penyediaan baju dan lainnya,” katanya.

Pada 2020, Laras tampil di Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur (Jatim). Namun, saat itu Laras tidak mewakili Kabupaten Bangkalan, tetapi mewakili Kabupaten Malang. Semua itu atas pertimbangan klubnya karena di Bangkalan belum ada cabor IODI.

Baca Juga :  Raja Kecup Kening Ratu, Rakyat Heboh

Meski begitu, Laras bercita-cita menjadi pelatih dansa profesional. Anak pertama tiga bersaudara pasangan Bernardus Probo Pambudi dan Maria Evi Sugihartanti itu ingin mengembangkan IODI di Kata Salak. ”Saya ingin mengharumkan Bangkalan,” tambahnya.

Prestasi tingkat Asia dan internasional yang diraih melalui kompetisi online. Semua prestasi itu berhasil diraih meski di tengah pandemi Covid-19. Laras berharap para atlet tidak putus asa untuk terus berlatih meski event dilaksanakan secara daring.

Maria sangat bangga atas prestasi yang diraih putrinya tersebut. Pihaknya berharap semakin banyak masyarakat yang mengenal IODI. ”Kami barharap ke depan nama Bangkalan bisa (dikenal) melalui IODI,” ucapnya.

Ketua Umum Komite Olaraga Nasional Indonesia (KONI) Bangkalan Fauzan Jakfar mengakui di Kota Salak belum ada cabor IODI. Namun, dia berkomitmen akan mencari atlet yang memiliki potensi besar dapat mengharumkan Bangkalan. Termasuk yang saat ini berkarir di luar Bangkalan. ”Atlet yang berasal dari Bangkalan harus kembali ke Bangkalan,” katanya. (jup/luq)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/