alexametrics
21.7 C
Madura
Tuesday, May 17, 2022

Balai Bahasa Bakal Terjemahkan Buku Tora

BANGKALAN – Balai Bahasa Jawa Timur (BBJT) terus berupaya melestarikan dan mengembangkan bahasa daerah. Upaya itu dilakukan dengan penelitian, penerjemahan, dan penerbitan. Tahun ini lembaga yang dinakhodai Mustakim itu akan menerjemahkan buku yang diterbitkan Jawa Pos Radar Madura (JPRM).

Rencana alih bahasa itu dipastikan dengan pertemuan Dwi Laily Sukmawati selaku penerjemah BBJT dengan Pemimpin Redaksi JPRM Luqman Hakim kemarin (24/2). Buku yang akan dialihbahasakan perempuan asal Pamekasan itu berjudul Tora; Satengkes Carpan Madura (2017).

Buku ini merupakan kumpulan cerita pendek (cerpen) berbahasa Madura. Memuat 63 careta pandha’ (carpan). Ditulis oleh 21 cerpenis. Mayoritas masih muda. ”Tujuan penerjemahan Tora untuk menambah referensi tentang kajian penerjemahan. Khususnya, cerpen Madura,” terang Laily.

Laily mengungkapkan, sebagai kepanjangan tangan pemerintah, BBJT konsisten ikut serta melestarikan dan mengembangkan bahasa daerah. Namun, baru-baru ini ada informasi kurang baik yang harus ditelaah para pemerhati bahasa daerah. Penerbitan majalah berbahasa daerah yang diterbitkan BBJT dihentikan.

Baca Juga :  Serapan Anggaran Kecamatan Bangkalan Paling Buncit

Selama ini, BBJT menebitkan Majalah Jokotole (bahasa Madura), Majalah Using, Majalah Titis Basa (bahasa Jawa krama), Panji, Ajisaka (aksara Jawa). Namun, semua majalah itu kini harus berhenti terbit. Alasan utama tidak diterbitkannya majalah karena payung yang menaungi majalah di Badan Bahasa Kemendikbud sudah tidak muncul lagi.

Praktis, langkah pemerintah pusat itu mendapat reaksi keras dari para pemerhati bahasa daerah. Tak terkecuali dari Madura yang juga kena dampak. Sebab, satu-satunya majalah yang masih terbit Majalah Jokotole. Karena itu, jelas Laily, upaya yang dilakukan meyakinkan dan mendesak Badan Bahasa agar menyediakan kembali payung hukum terbitnya majalah berbahasa daerah serta meyakinkan dampak dan manfaat pentingnya majalah berbahasa daerah dengan dilengkapi bukti-bukti pendukung yang menginginkan majalah tersebut tetap ada.

Baca Juga :  Harus Bongkar Bangunan di Dekat Akses Suramadu

”Seperti komunitas, budayawan, sastrawan, guru, pelajar, perguruan tinggi, dan lain-lain,” imbuh Laily.

Luqman Hakim menyambut baik rencana BBJT yang akan menerjemahkan Tora. Buku itu merupakan kumpulan carpan yang pernah terbit di halaman sastra budaya sejak Juli 2015 hingga Desember 2016. ”Kami ucapkan terima kasih kepada BBJT atas apresiasinya,” katanya.

Luqman juga menegaskan, JPRM hingga saat ini tetap konsisten menerbitkan karya berbahasa Madura setiap Minggu. Dia mengakui, pelestarian dan pengembangan bahasa daerah perlu keterlibatan media massa selain keluarga, masyarakat, sekolah, dan pemerintah. ”Kerja sama JPRM dan BBJT ini perlu terus direkatkan,” tandas Luqman.

BANGKALAN – Balai Bahasa Jawa Timur (BBJT) terus berupaya melestarikan dan mengembangkan bahasa daerah. Upaya itu dilakukan dengan penelitian, penerjemahan, dan penerbitan. Tahun ini lembaga yang dinakhodai Mustakim itu akan menerjemahkan buku yang diterbitkan Jawa Pos Radar Madura (JPRM).

Rencana alih bahasa itu dipastikan dengan pertemuan Dwi Laily Sukmawati selaku penerjemah BBJT dengan Pemimpin Redaksi JPRM Luqman Hakim kemarin (24/2). Buku yang akan dialihbahasakan perempuan asal Pamekasan itu berjudul Tora; Satengkes Carpan Madura (2017).

Buku ini merupakan kumpulan cerita pendek (cerpen) berbahasa Madura. Memuat 63 careta pandha’ (carpan). Ditulis oleh 21 cerpenis. Mayoritas masih muda. ”Tujuan penerjemahan Tora untuk menambah referensi tentang kajian penerjemahan. Khususnya, cerpen Madura,” terang Laily.

Laily mengungkapkan, sebagai kepanjangan tangan pemerintah, BBJT konsisten ikut serta melestarikan dan mengembangkan bahasa daerah. Namun, baru-baru ini ada informasi kurang baik yang harus ditelaah para pemerhati bahasa daerah. Penerbitan majalah berbahasa daerah yang diterbitkan BBJT dihentikan.

Baca Juga :  Puluhan BUMDes Tidak Aktif, Pemkab Dituntut Lakukan Pembinaan

Selama ini, BBJT menebitkan Majalah Jokotole (bahasa Madura), Majalah Using, Majalah Titis Basa (bahasa Jawa krama), Panji, Ajisaka (aksara Jawa). Namun, semua majalah itu kini harus berhenti terbit. Alasan utama tidak diterbitkannya majalah karena payung yang menaungi majalah di Badan Bahasa Kemendikbud sudah tidak muncul lagi.

Praktis, langkah pemerintah pusat itu mendapat reaksi keras dari para pemerhati bahasa daerah. Tak terkecuali dari Madura yang juga kena dampak. Sebab, satu-satunya majalah yang masih terbit Majalah Jokotole. Karena itu, jelas Laily, upaya yang dilakukan meyakinkan dan mendesak Badan Bahasa agar menyediakan kembali payung hukum terbitnya majalah berbahasa daerah serta meyakinkan dampak dan manfaat pentingnya majalah berbahasa daerah dengan dilengkapi bukti-bukti pendukung yang menginginkan majalah tersebut tetap ada.

Baca Juga :  BPN-Disdag Saling Menyalahkan soal Sertifikat Lahan Pasar Galis

”Seperti komunitas, budayawan, sastrawan, guru, pelajar, perguruan tinggi, dan lain-lain,” imbuh Laily.

Luqman Hakim menyambut baik rencana BBJT yang akan menerjemahkan Tora. Buku itu merupakan kumpulan carpan yang pernah terbit di halaman sastra budaya sejak Juli 2015 hingga Desember 2016. ”Kami ucapkan terima kasih kepada BBJT atas apresiasinya,” katanya.

Luqman juga menegaskan, JPRM hingga saat ini tetap konsisten menerbitkan karya berbahasa Madura setiap Minggu. Dia mengakui, pelestarian dan pengembangan bahasa daerah perlu keterlibatan media massa selain keluarga, masyarakat, sekolah, dan pemerintah. ”Kerja sama JPRM dan BBJT ini perlu terus direkatkan,” tandas Luqman.

Artikel Terkait

Most Read

Pohon Rapuh Bahayakan Pengendara

Honor THL Kuras APBD Rp 57,1 Miliar

10 PDP Meninggal Dunia

Artikel Terbaru

/