alexametrics
20.9 C
Madura
Monday, June 27, 2022

Butuh Bukti, Bukan Janji, Makanya Aksi Lagi

BANGKALAN – Siswa SMKN 1 Sepulu memberi batas waktu mogok sekolah hingga Kamis (23/11). Namun, di hari terakhir itu mereka justru kembali menggelar demonstrasi. Mereka menuntut agar Anisa Warda selaku kepala sekolah diganti.

Dalam aksinya mereka juga membentangkan sejumlah poster yang bertuliskan tuntutan. Sy (inisial), seorang siswa SMKN 1 Sepulu mengungkapkan, aksi demo kembali dilakukan supaya permintaan siswa dipenuhi oleh kepala sekolah. Selain itu, supaya kepala sekolahnya tak hanya menebar janji.

”Kami butuh bukti, bukan janji, makanya kami lakukan aksi lagi,” kata pelajar yang menggunakan baju biru itu. Jika kepala sekolah tidak bisa memenuhi permintaan dan menepati janji, mereka meminta supaya pindah dari sekolah tersebut. ”Biaya sadis, fasilitas miris, kami ingin kepala sekolah diganti,” terangnya.

Sy mengungkapkan, selama ini kepala sekolahnya jarang ada di sekolah. Jika memang ada kegiatan di luar sekolah, mestinya tidak dilakukan setiap hari atau terlalu sering. ”Jarang masuk ke sekolah, tidak familier dengan kami juga,” tudingnya.

Baca Juga :  Gedung Olahraga Serbaguna Diresmikan, Ini Kata Kades Ujung Piring

Anisa Warda mengaku tidak bisa berbuat banyak saat siswanya kembali melakukan aksi demo. Menurut dia, permintaan siswa dari awal tidak bisa dipenuhi sekaligus. ”Harus bertahap, karena (kegiatan) fisik semua permintaannya,” singkatnya.

Kepala Cabang Disdik Jawa Timur di Bangkalan Arif Khamzah mengaku kesal karena permasalahan tersebut berlarut-larut dan tak kunjung diselesaikan. Pihaknya akan berbicara empat mata dengan kepala SMKN 1 Sepulu mengenai tuntutan siswa. ”Kami akan pertimbangkan permintaan siswa yang menuntut supaya ada pergantian kepala sekolah,” katanya.

Pihaknya juga mengaku sudah berkoordinasi dengan komite sekolah untuk bisa mengondusifkan siswa. Semua siswa diharapkan bisa melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM) secara normal. ”Kami tentu akan mencari solusi terbaik dalam waktu dekat ini,” ucapnya.

Baca Juga :  Ratusan Siswa SMPN 3 Geger Mogok Belajar Gara-Gara Apa?

Sebelumnya, siswa SMKN 1 Sepulu ini berunjuk rasa pada Jumat (17/11). Setelah itu, dilanjutkan dengan mogok sekolah. Salah satu yang menjadi sorotan adalah mahalnya sumbangan pembinaan pendidikan (SPP).

Besaran SPP yang ditetapkan sekolah dianggap memberatkan siswa. Sementara fasilitas yang disediakan sekolah tak sesuai dengan biaya yang dibayar setiap bulan. Sementara lapangan olahraga, musala, dan fasilitas lain tak ada.

Anisa Warda pernah mengakui bahwa siswa kecewa dengan kebijakannya. Pihaknya belum bisa memenuhi permintaan siswa. Di antaranya, penurunan biaya SPP, lapangan olahraga, dan sejumlah fasilitas lainnya.

Siswa SMKN 1 Sepulu berjumlah 496 orang. Setiap bulan per siswa dibebani SPP Rp 75.000. Di sisi lain mereka berani protes karena ada guru yang  mengompori siswa.

BANGKALAN – Siswa SMKN 1 Sepulu memberi batas waktu mogok sekolah hingga Kamis (23/11). Namun, di hari terakhir itu mereka justru kembali menggelar demonstrasi. Mereka menuntut agar Anisa Warda selaku kepala sekolah diganti.

Dalam aksinya mereka juga membentangkan sejumlah poster yang bertuliskan tuntutan. Sy (inisial), seorang siswa SMKN 1 Sepulu mengungkapkan, aksi demo kembali dilakukan supaya permintaan siswa dipenuhi oleh kepala sekolah. Selain itu, supaya kepala sekolahnya tak hanya menebar janji.

”Kami butuh bukti, bukan janji, makanya kami lakukan aksi lagi,” kata pelajar yang menggunakan baju biru itu. Jika kepala sekolah tidak bisa memenuhi permintaan dan menepati janji, mereka meminta supaya pindah dari sekolah tersebut. ”Biaya sadis, fasilitas miris, kami ingin kepala sekolah diganti,” terangnya.


Sy mengungkapkan, selama ini kepala sekolahnya jarang ada di sekolah. Jika memang ada kegiatan di luar sekolah, mestinya tidak dilakukan setiap hari atau terlalu sering. ”Jarang masuk ke sekolah, tidak familier dengan kami juga,” tudingnya.

Baca Juga :  UTM Terus Cetak Mahasiswa Andal Berakhlakul Karimah

Anisa Warda mengaku tidak bisa berbuat banyak saat siswanya kembali melakukan aksi demo. Menurut dia, permintaan siswa dari awal tidak bisa dipenuhi sekaligus. ”Harus bertahap, karena (kegiatan) fisik semua permintaannya,” singkatnya.

Kepala Cabang Disdik Jawa Timur di Bangkalan Arif Khamzah mengaku kesal karena permasalahan tersebut berlarut-larut dan tak kunjung diselesaikan. Pihaknya akan berbicara empat mata dengan kepala SMKN 1 Sepulu mengenai tuntutan siswa. ”Kami akan pertimbangkan permintaan siswa yang menuntut supaya ada pergantian kepala sekolah,” katanya.

Pihaknya juga mengaku sudah berkoordinasi dengan komite sekolah untuk bisa mengondusifkan siswa. Semua siswa diharapkan bisa melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM) secara normal. ”Kami tentu akan mencari solusi terbaik dalam waktu dekat ini,” ucapnya.

Baca Juga :  SMPN 2 Bangkalan Banjir Apresiasi Berkat Kreasi

Sebelumnya, siswa SMKN 1 Sepulu ini berunjuk rasa pada Jumat (17/11). Setelah itu, dilanjutkan dengan mogok sekolah. Salah satu yang menjadi sorotan adalah mahalnya sumbangan pembinaan pendidikan (SPP).

Besaran SPP yang ditetapkan sekolah dianggap memberatkan siswa. Sementara fasilitas yang disediakan sekolah tak sesuai dengan biaya yang dibayar setiap bulan. Sementara lapangan olahraga, musala, dan fasilitas lain tak ada.

Anisa Warda pernah mengakui bahwa siswa kecewa dengan kebijakannya. Pihaknya belum bisa memenuhi permintaan siswa. Di antaranya, penurunan biaya SPP, lapangan olahraga, dan sejumlah fasilitas lainnya.

Siswa SMKN 1 Sepulu berjumlah 496 orang. Setiap bulan per siswa dibebani SPP Rp 75.000. Di sisi lain mereka berani protes karena ada guru yang  mengompori siswa.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/