alexametrics
22.3 C
Madura
Tuesday, May 24, 2022

Hari Jadi Bangkalan Kembalikan Ingatan tentang Salak

BANGKALAN – Setiap 24 Oktober merupakan momen spesial bagi masyarakat Bangkalan. Pasalnya, pada tanggal tersebut merupakan Hari Jadi Bangkalan. Pada peringatan ke-488 tahun ini, Pemkab Bangkalan mengangkat tema tentang salak.

Kepala Disbudpar Bangkalan Moh. Hasan Faisol menyampaikan, hari ini (24/10) akan diadakan upacara memperingati Hari Jadi Bangkalan yang dipimpin Bupati Abdul Latif Amin Imron. Setelah upacara akan dilanjutkan dengan ziarah kubur ke makam para raja untuk tabur bunga dan memanjatkan doa.

Selasa (29/10) akan diadakan acara karnaval kirab budaya. Hari ini bupati akan menaiki kereta kencana keliling kota. Di belakangnya disusul para aparatur sipil negara (ASN) dengan menggunakan busana adat. Juga, siswa SD dan SMP yang mengenakan beragam busana adat Madura.

Kabid Kebudayaan Disbudpar Bangkalan Hendra Gemma Dominant memaparkan, Rabu (30/10) akan dilanjutkan festival kebudayaan berupa seni pertunjukan. Semua persiapan sudah maksimal. ”Semua persiapan sudah 100 persen. Tinggal penerapannya di lapangan,” katanya.

Konsep hari jadi tahun ini bertemakan salak. Dia mengakui produksi buah salak di Bangkalan ini sudah langka. Padahal, dulu salak merupakan ikon Bangkalan. Karena itulah Bangkalan dikenal dengan kotak salak.

Baca Juga :  Kandang Disegel, Peternak Gugat Bupati

”Makanya, nanti di acara carnival, tema-tema yang diangkat semuanya tentang salak. Termasuk seni pertunjukannya,” jelas pejabat yang juga musisi itu.

Tema salak itu diangkat agar masyarakat Bangkalan dapat merefleksi diri sehingga tidak melupakan salak yang saat ini hampir punah. Melalui acara ini diharapkan dapat meningkatkan jumlah pembudi daya salak. ”Perlu kita ketahui bahwa sebelum jadi Kota Zikir dan Salawat, Bangkalan sudah terkenal dengan sebutan Kota Salak,” imbuhnya.

Sementara itu, untuk menyemarakkan Hari Jadi Ke-488 Bangkalan, dinas pendidikan (disdik) membuat surat edaran kepada Koordinator Wilayah (Korwil) Bidang Pendidikan, kepala SD dan SMP beserta staf, PNS, THL, GTT atau PTT, dan diimbau mengenakan pakaian khas Madura (pesa’an/marlena).

Akan tetapi, imbauan tersebut dianggap memberatkan wali murid kurang mampu. Di sisi lain memang membawa berkah bagi pedagang. Sebab, dagangannya jadi laris.

Keluhan diungkapkan Syamsul, wali murid asal Kecamatan Socah. Dia sepakat atas surat edaran bupati. Hanya, waktunya yang kurang pas. Surat edaran tersebut terkesan dipaksakan pada saat waktu yang singkat.

”Kalau wali murid yang mampu tidak ada masalah. Bagi wali murid yang kurang mampu pasti berat,” ujarnya. ”Seandainya jauh-jauh hari, mungkin bisa dicicil,” imbuhnya.

Baca Juga :  Semarak Hari Jadi Perlu Evaluasi

Pria 35 tahun itu menambahkan, akibat surat edaran itu, penjual sampai kehabisan stok. Harga jual di pasaran naik berlipat-lipat. Saat ini menjadi Rp 250 ribu hingga Rp 400 ribu satu setel. Padahal pada saat hari biasa hanya Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu.

”Banyak orang tua murid yang mengeluh. Kalau memiliki dua orang anak yang sudah sekolah bisa mencapai Rp 700 ribu. Kalau lebih bisa sampai Rp 1 juta,” ungkapnya.  ”Namanya anak-anak, mau tidak mau harus dituruti. Kalau tidak dituruti kan tidak seragam dengan teman-temannya,” imbuhnya.

Bupati Abdul Latif Amin Imron mengatakan, pihaknya membuat surat edaran untuk memeriahkan Hari Jadi Bangkalan supaya menggunakan pakaian adat Madura. ”Memang kami imbau dan dipakai dalam sehari saja,” ujarnya.

Orang nomor satu di Bangkalan itu memastikan tidak ada sanksi bagi ASN yang tidak memakai baju adat Madura. Khusus siswa menjadi kewenangan kepala sekolah masing-masing. ”Bagi yang tidak mampu tidak ada masalah meskipun tidak memakai,” tegasnya. (c1)

BANGKALAN – Setiap 24 Oktober merupakan momen spesial bagi masyarakat Bangkalan. Pasalnya, pada tanggal tersebut merupakan Hari Jadi Bangkalan. Pada peringatan ke-488 tahun ini, Pemkab Bangkalan mengangkat tema tentang salak.

Kepala Disbudpar Bangkalan Moh. Hasan Faisol menyampaikan, hari ini (24/10) akan diadakan upacara memperingati Hari Jadi Bangkalan yang dipimpin Bupati Abdul Latif Amin Imron. Setelah upacara akan dilanjutkan dengan ziarah kubur ke makam para raja untuk tabur bunga dan memanjatkan doa.

Selasa (29/10) akan diadakan acara karnaval kirab budaya. Hari ini bupati akan menaiki kereta kencana keliling kota. Di belakangnya disusul para aparatur sipil negara (ASN) dengan menggunakan busana adat. Juga, siswa SD dan SMP yang mengenakan beragam busana adat Madura.


Kabid Kebudayaan Disbudpar Bangkalan Hendra Gemma Dominant memaparkan, Rabu (30/10) akan dilanjutkan festival kebudayaan berupa seni pertunjukan. Semua persiapan sudah maksimal. ”Semua persiapan sudah 100 persen. Tinggal penerapannya di lapangan,” katanya.

Konsep hari jadi tahun ini bertemakan salak. Dia mengakui produksi buah salak di Bangkalan ini sudah langka. Padahal, dulu salak merupakan ikon Bangkalan. Karena itulah Bangkalan dikenal dengan kotak salak.

Baca Juga :  Pemkab Bangkalan Tahan Honor THL

”Makanya, nanti di acara carnival, tema-tema yang diangkat semuanya tentang salak. Termasuk seni pertunjukannya,” jelas pejabat yang juga musisi itu.

Tema salak itu diangkat agar masyarakat Bangkalan dapat merefleksi diri sehingga tidak melupakan salak yang saat ini hampir punah. Melalui acara ini diharapkan dapat meningkatkan jumlah pembudi daya salak. ”Perlu kita ketahui bahwa sebelum jadi Kota Zikir dan Salawat, Bangkalan sudah terkenal dengan sebutan Kota Salak,” imbuhnya.

Sementara itu, untuk menyemarakkan Hari Jadi Ke-488 Bangkalan, dinas pendidikan (disdik) membuat surat edaran kepada Koordinator Wilayah (Korwil) Bidang Pendidikan, kepala SD dan SMP beserta staf, PNS, THL, GTT atau PTT, dan diimbau mengenakan pakaian khas Madura (pesa’an/marlena).

Akan tetapi, imbauan tersebut dianggap memberatkan wali murid kurang mampu. Di sisi lain memang membawa berkah bagi pedagang. Sebab, dagangannya jadi laris.

Keluhan diungkapkan Syamsul, wali murid asal Kecamatan Socah. Dia sepakat atas surat edaran bupati. Hanya, waktunya yang kurang pas. Surat edaran tersebut terkesan dipaksakan pada saat waktu yang singkat.

”Kalau wali murid yang mampu tidak ada masalah. Bagi wali murid yang kurang mampu pasti berat,” ujarnya. ”Seandainya jauh-jauh hari, mungkin bisa dicicil,” imbuhnya.

Baca Juga :  Minta BLK Serius Garap Latihan Kerja

Pria 35 tahun itu menambahkan, akibat surat edaran itu, penjual sampai kehabisan stok. Harga jual di pasaran naik berlipat-lipat. Saat ini menjadi Rp 250 ribu hingga Rp 400 ribu satu setel. Padahal pada saat hari biasa hanya Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu.

”Banyak orang tua murid yang mengeluh. Kalau memiliki dua orang anak yang sudah sekolah bisa mencapai Rp 700 ribu. Kalau lebih bisa sampai Rp 1 juta,” ungkapnya.  ”Namanya anak-anak, mau tidak mau harus dituruti. Kalau tidak dituruti kan tidak seragam dengan teman-temannya,” imbuhnya.

Bupati Abdul Latif Amin Imron mengatakan, pihaknya membuat surat edaran untuk memeriahkan Hari Jadi Bangkalan supaya menggunakan pakaian adat Madura. ”Memang kami imbau dan dipakai dalam sehari saja,” ujarnya.

Orang nomor satu di Bangkalan itu memastikan tidak ada sanksi bagi ASN yang tidak memakai baju adat Madura. Khusus siswa menjadi kewenangan kepala sekolah masing-masing. ”Bagi yang tidak mampu tidak ada masalah meskipun tidak memakai,” tegasnya. (c1)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/