alexametrics
25.3 C
Madura
Friday, September 30, 2022

Vonis Dua Terdakwa Gadai Fiktif Berbeda

SURABAYA, Jawa Pos Radar Madura – Perkara tindak pidana korupsi (tipikor) gadai fiktif final. Vonis terhadap mantan karyawan PT Pegadaian Unit Kwanyar, Cabang Blega, Bangkalan, tersebut berbeda.

Dalam sistem informasi penelusuran perkara (SIPP) Pengadilan Negeri (PN) Surabaya disebutkan, sidang putusan digelar Rabu, 24 Agustus 2022. Majelis hakim tipikor pada PN Surabaya menyatakan Dian Novrilogie Hariansyah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama sebagaimana dalam dakwaan subsider. Selain itu, majelis hakim menjatuhkan pidana penjara selama dua tahun enam bulan serta denda Rp 50 juta. Apabila denda tidak dibayar, diganti dengan pidana kurungan selama satu bulan.

Sutrisno juga dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama sebagaimana dalam dakwaan subsider. Majelis hakim mengganjar pidana penjara selama empat tahun delapan bulan dan denda Rp 50 juta. Apabila denda tidak dibayar, diganti dengan pidana kurungan selama satu bulan.

Baca Juga :  Orang Meninggal Masuk DTKS, Dinsos Lakukan Verval Ulang

Selain itu, menghukum terdakwa membayar uang pengganti sebanyak Rp 601.501.100. Jika tidak membayar uang pengganti, paling lama dalam waktu satu bulan sesudah putusan memperoleh kekuatan hukum tetap, maka harta bendanya dapat disita oleh jaksa dan dilelang untuk menutupi uang pengganti tersebut. Jika tidak mempunyai harta benda yang mencukupi untuk membayar uang pengganti, maka diganti dengan pidana penjara selama dua tahun.

Humas Kejari Bangkalan Dedi Franky membenarkan, dua terdakwa kasus tindak pidana korupsi sudah selesai. Mereka sudah melalui proses sidang dan divonis. Vonis keduanya berbeda, sesuai perbuatan masing-masing.

Dedi menambahkan, dalam kasus ini otaknya adalah Sutrisno. Sedangkan Dian Novrilogie Hariansyah ikut serta dan bersama-sama melancarkan aksi Sutrisno. Sebelumnya, Dian Novrilogie Hariansyah menjabat Pengelola Unit PT Pegadaian Syariah Unit Kwanyar, Cabang Blega. Sementara Sutrisno, pengelola agunan di kantor yang sama.

Dedi menjelaskan, Sutrisno diangkat sebagai pengelola agunan di PT Pegadaian Kwanyar sesuai dengan surat tugas Nomor 124/125203/2017 tanggal 16 Mei 2017. Juga berdasarkan Keputusan Pemimpin Cabang PT Pegadaian (Persero) Syariah Blega Nomor 75/KEP-60988/2020 tanggal 3 Maret 2020 tentang Mutasi Horizontal pada kelompok jabatan junior staf dan senior staf di Lingkungan PT Pegadaian (Persero) Syariah Cabang Blega.

Baca Juga :  Kado Celurit untuk Ketua PN

”Berkas perkara terdakwa berbeda,” imbuh pria yang juga menjabat sebagai Kasi Intelijen Kejari Bangkalan itu. ”Saat ini mereka menjalani hukuman,” imbuhnya mewakili Kajari Bangkalan Fahmi.

Gadai emas asli dan diubah menjadi emas palsu terjadi sejak akhir 2018 hingga akhir 2021. Awalnya, kedua orang ini dipanggil sebagai saksi. Setelah ada dua alat bukti, status mereka naik menjadi tersangka dan langsung dilakukan penahanan pada Jumat (11/3).

Mereka melancarkan aksinya menggunakan KTP milik kerabat dan famili. Satu KTP dipinjam untuk gadai antara 3 hingga 5 kali. Jumlah KTP yang dipakai lebih kurang 10 orang. Jumlah kerugian negara dalam kasus ini sebesar Rp 600 juta. (rul/luq)

SURABAYA, Jawa Pos Radar Madura – Perkara tindak pidana korupsi (tipikor) gadai fiktif final. Vonis terhadap mantan karyawan PT Pegadaian Unit Kwanyar, Cabang Blega, Bangkalan, tersebut berbeda.

Dalam sistem informasi penelusuran perkara (SIPP) Pengadilan Negeri (PN) Surabaya disebutkan, sidang putusan digelar Rabu, 24 Agustus 2022. Majelis hakim tipikor pada PN Surabaya menyatakan Dian Novrilogie Hariansyah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama sebagaimana dalam dakwaan subsider. Selain itu, majelis hakim menjatuhkan pidana penjara selama dua tahun enam bulan serta denda Rp 50 juta. Apabila denda tidak dibayar, diganti dengan pidana kurungan selama satu bulan.

Sutrisno juga dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama sebagaimana dalam dakwaan subsider. Majelis hakim mengganjar pidana penjara selama empat tahun delapan bulan dan denda Rp 50 juta. Apabila denda tidak dibayar, diganti dengan pidana kurungan selama satu bulan.

Baca Juga :  Lebih Dekat dengan Ketua PN Bangkalan Oki Basuki Rachmat

Selain itu, menghukum terdakwa membayar uang pengganti sebanyak Rp 601.501.100. Jika tidak membayar uang pengganti, paling lama dalam waktu satu bulan sesudah putusan memperoleh kekuatan hukum tetap, maka harta bendanya dapat disita oleh jaksa dan dilelang untuk menutupi uang pengganti tersebut. Jika tidak mempunyai harta benda yang mencukupi untuk membayar uang pengganti, maka diganti dengan pidana penjara selama dua tahun.

Humas Kejari Bangkalan Dedi Franky membenarkan, dua terdakwa kasus tindak pidana korupsi sudah selesai. Mereka sudah melalui proses sidang dan divonis. Vonis keduanya berbeda, sesuai perbuatan masing-masing.

Dedi menambahkan, dalam kasus ini otaknya adalah Sutrisno. Sedangkan Dian Novrilogie Hariansyah ikut serta dan bersama-sama melancarkan aksi Sutrisno. Sebelumnya, Dian Novrilogie Hariansyah menjabat Pengelola Unit PT Pegadaian Syariah Unit Kwanyar, Cabang Blega. Sementara Sutrisno, pengelola agunan di kantor yang sama.

Dedi menjelaskan, Sutrisno diangkat sebagai pengelola agunan di PT Pegadaian Kwanyar sesuai dengan surat tugas Nomor 124/125203/2017 tanggal 16 Mei 2017. Juga berdasarkan Keputusan Pemimpin Cabang PT Pegadaian (Persero) Syariah Blega Nomor 75/KEP-60988/2020 tanggal 3 Maret 2020 tentang Mutasi Horizontal pada kelompok jabatan junior staf dan senior staf di Lingkungan PT Pegadaian (Persero) Syariah Cabang Blega.

Baca Juga :  Sidang Kasus Pemalsuan Ditunda Tahun Depan
- Advertisement -

”Berkas perkara terdakwa berbeda,” imbuh pria yang juga menjabat sebagai Kasi Intelijen Kejari Bangkalan itu. ”Saat ini mereka menjalani hukuman,” imbuhnya mewakili Kajari Bangkalan Fahmi.

Gadai emas asli dan diubah menjadi emas palsu terjadi sejak akhir 2018 hingga akhir 2021. Awalnya, kedua orang ini dipanggil sebagai saksi. Setelah ada dua alat bukti, status mereka naik menjadi tersangka dan langsung dilakukan penahanan pada Jumat (11/3).

Mereka melancarkan aksinya menggunakan KTP milik kerabat dan famili. Satu KTP dipinjam untuk gadai antara 3 hingga 5 kali. Jumlah KTP yang dipakai lebih kurang 10 orang. Jumlah kerugian negara dalam kasus ini sebesar Rp 600 juta. (rul/luq)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Lima Raperda Siap Dibahas

/