alexametrics
20.9 C
Madura
Sunday, July 3, 2022

Kekerasan pada Perempuan Marak

BANGKALAN – Tindak kekerasan yang melibatkan perempuan dan anak di Bangkalan cukup mengejutkan. Dalam enam tahun terakhir jumlah perempuan dan anak yang menjadi korban tindak pidana mencapai 118 kasus (lihat grafis).

Kepala Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KB P3A) Bangkalan Tamar Djaja mengklaim telah berusaha untuk menekan kekerasan yang melibatkan perempuan dan anak. Salah satu pencegahan yang pihaknya lakukan hanya berupa sosialisasi. Selain pencegahan, lembaga juga melakukan upaya akuratif terhadap korban. Yaitu, memberikan pendampingan konseling terhadap anak dan perempuan yang menjadi korban tindakan kriminal.

Selain itu, memberikan pendampingan mulai dari pemeriksaan sampai persidangan. ”Kadang-kadang korban kan mengalami trauma, jadi di sini ada pendamping psikolog untuk penyembuhannya,” imbuhnya kemarin (21/1).

Baca Juga :  Sosialisasi Bantuan Perahu Belum Berdampak

Selama 2018 kasus yang diterima didominasi pemerkosaan terhadap anak di bawah umur. Pemicunya, kurangnya pengawasan orang tua terhadap anak. ”Media sosial, lingkungan, pendidikan, itu juga berpengaruh,” ucapnya.

Sosialisasi sebagai upaya preventif tidak dilakukan secara merata. Pihaknya berdalih lembaganya terkendala anggaran. Berdasarkan skedul dinas KB P3A, pada 2019 akan dilakukan dua kali sosialisasi. Program perlindungan perempuan dan anak dianggarkan Rp 100 juta.

Selain diperuntukkan sosialisasi, anggaran itu diperuntukkan pada pendampingan dan rehabilitasi mental korban. ”Kita mendampingi korban ke polres mulai dari BAP sampai persidangan,” dalihnya.

Pihaknya mengimbau masyarakat lebih proaktif menjaga anak-anaknya. Tamar juga meminta orang tua mengontrol penggunaan gadget. Sebab, beberapa kasus pemerkosaan anak di bawah umur diawali melalui media sosial.

Baca Juga :  Perempuan dalam Kungkungan Dunia ’Patriarchat’

Komisi D DPRD Bangkalan Nur Hasan sangat prihatin masih ada kasus kekerasan yang menimpa anak. Pihaknya meminta dinas KB P3A menyusun startegi penanganan untuk mencegah kekerasan terhadap perempuan dan anak. ”Agar anggaran yang disediakan tetap sasaran. Jangan sampai program dilaksanakan tetapi dampak dari program yang dilaksanakan nihil,” pintanya.

Politikus PPP itu berharap anggaran yang dinilai minim itu bisa memberikan dampak besar. Masyarakat perlu disadarkan tentang pencegahan agar perempuan dan anak tidak menjadi korban kekerasan. ”Jangan sampai program itu selesai tetapi tidak ada dampak positif yang dihasilkan,” tandasnya. (jup)

BANGKALAN – Tindak kekerasan yang melibatkan perempuan dan anak di Bangkalan cukup mengejutkan. Dalam enam tahun terakhir jumlah perempuan dan anak yang menjadi korban tindak pidana mencapai 118 kasus (lihat grafis).

Kepala Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KB P3A) Bangkalan Tamar Djaja mengklaim telah berusaha untuk menekan kekerasan yang melibatkan perempuan dan anak. Salah satu pencegahan yang pihaknya lakukan hanya berupa sosialisasi. Selain pencegahan, lembaga juga melakukan upaya akuratif terhadap korban. Yaitu, memberikan pendampingan konseling terhadap anak dan perempuan yang menjadi korban tindakan kriminal.

Selain itu, memberikan pendampingan mulai dari pemeriksaan sampai persidangan. ”Kadang-kadang korban kan mengalami trauma, jadi di sini ada pendamping psikolog untuk penyembuhannya,” imbuhnya kemarin (21/1).

Baca Juga :  Momentum Harjad, Polantas Bangkalan Pakai Baju Adat Lakukan Pelayanan

Selama 2018 kasus yang diterima didominasi pemerkosaan terhadap anak di bawah umur. Pemicunya, kurangnya pengawasan orang tua terhadap anak. ”Media sosial, lingkungan, pendidikan, itu juga berpengaruh,” ucapnya.

Sosialisasi sebagai upaya preventif tidak dilakukan secara merata. Pihaknya berdalih lembaganya terkendala anggaran. Berdasarkan skedul dinas KB P3A, pada 2019 akan dilakukan dua kali sosialisasi. Program perlindungan perempuan dan anak dianggarkan Rp 100 juta.

Selain diperuntukkan sosialisasi, anggaran itu diperuntukkan pada pendampingan dan rehabilitasi mental korban. ”Kita mendampingi korban ke polres mulai dari BAP sampai persidangan,” dalihnya.

Pihaknya mengimbau masyarakat lebih proaktif menjaga anak-anaknya. Tamar juga meminta orang tua mengontrol penggunaan gadget. Sebab, beberapa kasus pemerkosaan anak di bawah umur diawali melalui media sosial.

Baca Juga :  Pemkab Belum Berencana Terapkan PSBB

Komisi D DPRD Bangkalan Nur Hasan sangat prihatin masih ada kasus kekerasan yang menimpa anak. Pihaknya meminta dinas KB P3A menyusun startegi penanganan untuk mencegah kekerasan terhadap perempuan dan anak. ”Agar anggaran yang disediakan tetap sasaran. Jangan sampai program dilaksanakan tetapi dampak dari program yang dilaksanakan nihil,” pintanya.

Politikus PPP itu berharap anggaran yang dinilai minim itu bisa memberikan dampak besar. Masyarakat perlu disadarkan tentang pencegahan agar perempuan dan anak tidak menjadi korban kekerasan. ”Jangan sampai program itu selesai tetapi tidak ada dampak positif yang dihasilkan,” tandasnya. (jup)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/