alexametrics
24 C
Madura
Monday, May 23, 2022

Bangkalan Kekurangan Guru PNS

BANGKALAN – Keterbatasan tenaga pendidik masih menjadi masalah dalam dunia pendidikan di Bangkalan. Khususnya guru yang berstatus pegawai negeri sipil (PNS). Hingga saat ini masih banyak yang berstatus sukarelawan (sukwan) atau honorer.

Sekretaris Disdik Bangkalan Bambang Budi Mustika menerangkan, idealnya untuk rasio guru dan murid setiap jenjang berbeda-beda. Jenjang SD rasio guru dan murid 1 banding 24. Jenjang SMP 1 banding 28. Kemudian untuk jenjang SMA/SMK 1 banding 32.

”Tapi kebanyakan guru bukan pegawai. Lebih banyak sukwan. Jadi kalau berbicara guru PNS, kami masih kekurangan tenaga pendidik,” ungkapnya Sabtu (20/1).

Jika rasio guru dan murid dihitung berdasar ketersediaan tenaga pendidik PNS tidak imbang. Hingga saat ini masih ada guru yang mengajar dua kelas. Namun keterbatasan tersebut menurutnya masih tercukupi dengan ditopang sukwan dan honorer.

Baca Juga :  Terperosok Eskalator, Jari Kaki Balita Putus

”Tidak rasional lagi. Kita keterbatasan tenaga. Mencari tenaga honorer itu sulit. Solusinya memanfaatkan tenaga pendidikan yang ada. Sekolah pasti bisa mengatasi kekurangan tenaga pengajar,” tuturnya.

Jika mengacu pada pasal 24 Permendikbud 17/2017, jumlah peserta didik jenjang SD dalam satu kelas maksimal 28 peserta didik. Jenjang SMP dalam satu kelas maksimal 32 peserta didik. Sedangkan jenjang SMA/SMK satu kelas maksimal 36 siswa.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Bangkalan 2017 menyebutkan, rasio guru dan murid untuk berbagai jenjang masih tergolong ideal. Buktinya, tidak menyentuh angka maksimal batas ideal. Misal rasio tenaga dan peserta didik jenjang SD. Jumlah siswa 108.669 orang. Sedangkan guru 6.322 orang. Artinya rasio guru 1 banding 17,19.

Baca Juga :  Amankan Tujuh Motor tanpa STNK

Anggota Komisi D DPRD Bangkalan Abdurrahman Thohir mengatakan, pengelola pendidikan harus mampu menyiasati kekurangan tenaga pendidik. Dengan demikian, proses transfer ilmu kepada peserta didik tetap bisa dirasakan maksimal. Pihaknya juga berkali-kali membicarakan mengenai masalah rasio guru dan murid yang ada di Bangkalan.

”Urusan pendidikan memang masih butuh banyak yang kita perbaiki. Tapi, saya yakin pasti ada cara untuk mengatasi keterbatasan tenaga pendidik,” katanya. 

BANGKALAN – Keterbatasan tenaga pendidik masih menjadi masalah dalam dunia pendidikan di Bangkalan. Khususnya guru yang berstatus pegawai negeri sipil (PNS). Hingga saat ini masih banyak yang berstatus sukarelawan (sukwan) atau honorer.

Sekretaris Disdik Bangkalan Bambang Budi Mustika menerangkan, idealnya untuk rasio guru dan murid setiap jenjang berbeda-beda. Jenjang SD rasio guru dan murid 1 banding 24. Jenjang SMP 1 banding 28. Kemudian untuk jenjang SMA/SMK 1 banding 32.

”Tapi kebanyakan guru bukan pegawai. Lebih banyak sukwan. Jadi kalau berbicara guru PNS, kami masih kekurangan tenaga pendidik,” ungkapnya Sabtu (20/1).


Jika rasio guru dan murid dihitung berdasar ketersediaan tenaga pendidik PNS tidak imbang. Hingga saat ini masih ada guru yang mengajar dua kelas. Namun keterbatasan tersebut menurutnya masih tercukupi dengan ditopang sukwan dan honorer.

Baca Juga :  Gara-Gara Ini Perawat RSUD Meninggal

”Tidak rasional lagi. Kita keterbatasan tenaga. Mencari tenaga honorer itu sulit. Solusinya memanfaatkan tenaga pendidikan yang ada. Sekolah pasti bisa mengatasi kekurangan tenaga pengajar,” tuturnya.

Jika mengacu pada pasal 24 Permendikbud 17/2017, jumlah peserta didik jenjang SD dalam satu kelas maksimal 28 peserta didik. Jenjang SMP dalam satu kelas maksimal 32 peserta didik. Sedangkan jenjang SMA/SMK satu kelas maksimal 36 siswa.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Bangkalan 2017 menyebutkan, rasio guru dan murid untuk berbagai jenjang masih tergolong ideal. Buktinya, tidak menyentuh angka maksimal batas ideal. Misal rasio tenaga dan peserta didik jenjang SD. Jumlah siswa 108.669 orang. Sedangkan guru 6.322 orang. Artinya rasio guru 1 banding 17,19.

Baca Juga :  Siapkan Rp 5,6 M untuk Peningkatan Jalan Modung

Anggota Komisi D DPRD Bangkalan Abdurrahman Thohir mengatakan, pengelola pendidikan harus mampu menyiasati kekurangan tenaga pendidik. Dengan demikian, proses transfer ilmu kepada peserta didik tetap bisa dirasakan maksimal. Pihaknya juga berkali-kali membicarakan mengenai masalah rasio guru dan murid yang ada di Bangkalan.

”Urusan pendidikan memang masih butuh banyak yang kita perbaiki. Tapi, saya yakin pasti ada cara untuk mengatasi keterbatasan tenaga pendidik,” katanya. 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/