alexametrics
22.3 C
Madura
Tuesday, May 24, 2022

Pemerintah Pangkas Jatah Pupuk Subsidi

BANGKALAN – Musim hujan telah tiba. Sejumlah petani di Bangkalan mulai menggarap lahan pertaniannya. Sayangnya, pemerintah malah memangkas jatah pupuk subsidi.

Kasubbag Program Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (Dispertapahorbun) Bangkalan Moeh. Ridhwan membenarkan bahwa pemerintah mengurangi jatah pupuk subsidi. Hal itu berlaku di semua wilayah di Indonesia. ”Pengurangan terjadi secara nasional, sama semua se-Indonesia,” ungkap dia  Minggu (18/11).

Ridhwan menjelaskan, berkurangnya jatah distribusi pupuk subsidi karena produksi pupuk banyak yang menggunakan bahan impor. Selain itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar juga memengaruhi.

”Karena itu, pemerintah mengambil kebijakan produksi pupuk yang sangat terbatas, sehingga jatah pupuk untuk semua daerah dikurangi” terangnya.

Dia berharap petani bisa menggunakan pupuk subsidi seefisien mungkin. ”Dengan begitu, ketersediaan pupuk itu mampu memenuhi luasan tanam yang ditargetkan,” harapnya.

Baca Juga :  Emil Dardak: Jangan Sampai Ada Masyarakat Kelaparan

Ridhwan meminta petani tidak bergantung kepada pupuk kimia. Dirinya berharap agar di musim tanam seperti saat ini petani menggunakan pupuk organik. ”Sehingga pupuk organik seperti kompos mampu memenuhi kebutuhan petani, ketika pupuk kimia itu terbatas,” sarannya.

Disebutkan Ridhwan, terdapat tiga jenis pupuk yang jatahnya dikurangi oleh pemerintah pusat. Yakni NPK, SP-36, dan pupuk urea. Sementara untuk pupuk jenis ZA justru jatahnya ditambah.

Petani Kota Salak masih banyak yang bergantung ke pupuk urea. Padahal menurutnya, pupuk ZA bisa dijadikan sebagai pengganti pupuk urea saat stok berkurang. Ridhwan mengimbau agar petani tidak panik dengan kondisi pengurangan jatah beberapa pupuk itu.

Pihaknya berjanji akan meminta Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida (KP3) supaya memonitor lapangan agar tidak terjadi kesalahan pemanfaatan pupuk. ”Itu sangat membantu kepada petani kita dengan kondisi pupuk yang sangat terbatas,” katanya.

Baca Juga :  Mantan TKI Asal Sampang Coba Peruntungan Tanam Tembakau

Meski sejumlah pupuk telah dikurangi, Ridhwan optimistis tidak akan memengaruhi terhadap produktivitas pertanian. ”Kami akan bekerja keras dan berharap bisa memenuhi produktivitas telah ditargetkan,” janjinya.

Di tempat terpisah, anggota Komisi B DPRD Bangakalan Muchlis Assyuryani berjanji akan memanggil dispertapahorbun dan distributor pupuk. Hal itu untuk meminta agar pemerintah turut andil dalam penjualan pupuk di lapangan.

”Supaya tertib penyalurannya dan jangan ada penyimpangan. Sewaktu-waktu kita akan turun ke distributor tingkat kecamatan ” janjinya. (jup)

BANGKALAN – Musim hujan telah tiba. Sejumlah petani di Bangkalan mulai menggarap lahan pertaniannya. Sayangnya, pemerintah malah memangkas jatah pupuk subsidi.

Kasubbag Program Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (Dispertapahorbun) Bangkalan Moeh. Ridhwan membenarkan bahwa pemerintah mengurangi jatah pupuk subsidi. Hal itu berlaku di semua wilayah di Indonesia. ”Pengurangan terjadi secara nasional, sama semua se-Indonesia,” ungkap dia  Minggu (18/11).

Ridhwan menjelaskan, berkurangnya jatah distribusi pupuk subsidi karena produksi pupuk banyak yang menggunakan bahan impor. Selain itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar juga memengaruhi.


”Karena itu, pemerintah mengambil kebijakan produksi pupuk yang sangat terbatas, sehingga jatah pupuk untuk semua daerah dikurangi” terangnya.

Dia berharap petani bisa menggunakan pupuk subsidi seefisien mungkin. ”Dengan begitu, ketersediaan pupuk itu mampu memenuhi luasan tanam yang ditargetkan,” harapnya.

Baca Juga :  Mantan TKI Asal Sampang Coba Peruntungan Tanam Tembakau

Ridhwan meminta petani tidak bergantung kepada pupuk kimia. Dirinya berharap agar di musim tanam seperti saat ini petani menggunakan pupuk organik. ”Sehingga pupuk organik seperti kompos mampu memenuhi kebutuhan petani, ketika pupuk kimia itu terbatas,” sarannya.

Disebutkan Ridhwan, terdapat tiga jenis pupuk yang jatahnya dikurangi oleh pemerintah pusat. Yakni NPK, SP-36, dan pupuk urea. Sementara untuk pupuk jenis ZA justru jatahnya ditambah.

Petani Kota Salak masih banyak yang bergantung ke pupuk urea. Padahal menurutnya, pupuk ZA bisa dijadikan sebagai pengganti pupuk urea saat stok berkurang. Ridhwan mengimbau agar petani tidak panik dengan kondisi pengurangan jatah beberapa pupuk itu.

Pihaknya berjanji akan meminta Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida (KP3) supaya memonitor lapangan agar tidak terjadi kesalahan pemanfaatan pupuk. ”Itu sangat membantu kepada petani kita dengan kondisi pupuk yang sangat terbatas,” katanya.

Baca Juga :  Hardiknas, Siswa Coret Seragam, Konvoi, Dikejar Polisi

Meski sejumlah pupuk telah dikurangi, Ridhwan optimistis tidak akan memengaruhi terhadap produktivitas pertanian. ”Kami akan bekerja keras dan berharap bisa memenuhi produktivitas telah ditargetkan,” janjinya.

Di tempat terpisah, anggota Komisi B DPRD Bangakalan Muchlis Assyuryani berjanji akan memanggil dispertapahorbun dan distributor pupuk. Hal itu untuk meminta agar pemerintah turut andil dalam penjualan pupuk di lapangan.

”Supaya tertib penyalurannya dan jangan ada penyimpangan. Sewaktu-waktu kita akan turun ke distributor tingkat kecamatan ” janjinya. (jup)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/