alexametrics
21.4 C
Madura
Monday, June 27, 2022

Stok Darah PMI Melimpah

BANGKALAN – Stok darah di Unit Transfusi Darah (UTD) Palang Merah Indonesia (PMI) Bangkalan aman. Jumlah yang tercatat pada Kamis (17/1) sebanyak 470 kantong. Terdiri atas golongan darah A, B, AB, dan O.

Jumlah pendonor mengalami peningkatan setiap tahun. Sedangkan angka permintaan masih jauh lebih sedikit dibandingkan jumlah pendonor. Stok darah AB tergolong sedikit. Sebab sulit untuk mendapatkan pendonor dengan golongan darah tersebut. Selain itu, permintaan terhadap golongan darah AB juga tidak terlalu banyak. Hanya A, B, dan O yang paling banyak digunakan.

Kepala UTD PMI Bangkalan dr Fachrur Rozi menyampaikan, partisipasi masyarakat untuk mendonorkan darah terus mengalami peningkatan. Selain menggalang dari masyarakat umum, pihaknya juga melakukan upaya transfusi secara mobile. Seperti ke perguruan tinggi, sekolah, pondok pesantren, instansi swasta hingga organisasi perangkat daerah (OPD).

Baca Juga :  KSR PMI Unit UTM Gelar Webinar Kesehatan Nasional

”Peran masyarakat luar biasa. Sebulan rata-rata bisa mencapai sekitar 900 pendonor,” ungkapnya kemarin (18/1). 

Penyerapan darah dari sejumlah rumah sakit di Bangkalan memang tidak terlalu banyak. Dalam sehari, permintaan darah berkisar antara 40 hingga 50 kantong. Karena itu, pihaknya tidak mau ambil risiko untuk terlalu banyak menampung stok darah. ”Sekitar empat rumah sakit di Bangkalan pelat merah dan swasta,” terangnya.

Dibandingkan dengan Surabaya, daya serapnya berbeda jauh. Di Kota Pahlawan tersebut terdapat sekitar 34 rumah sakit negeri dan swasta. Permintaan darah setiap hari bisa 300 kantong lebih.

”Masa kedaluwarsa darah itu 35 hari. Kalau stok banyak dan permintaan kurang, darah bisa rusak. Tidak bisa dipakai,” katanya.

Tidak semua darah yang didonorkan diterima untuk disimpan ke lemari darah siap pakai. Harus melalui proses karantina. Mengantisipasi adanya darah yang rusak dan tidak layak pakai.

Baca Juga :  Layanan Unit Transfusi Darah pada Bulan Ramadan

Kategori darah rusak antara lain dikarenakan reaktif. Dalam artian ada penyakitnya. Kemudian darah yang gagal. Seperti terlalu kental dan sebagainya. Karena itu, sebelum masuk ke lemari penyimpanan darah siap pakai, terlebih dahulu melalui proses karantina. Darah yang didonorkan diperiksa terlebih dahulu. ”Kedaluwarsa juga tergolong darah rusak,” paparnya.

Rozi menambahkan, satu lemari bisa menampung 700 kantong. Terdapat satu lemari cadangan dengan daya tampung 400 kantong darah. Jadi total bisa menampung 1.100 kantong darah. Jika stok darah terlalu banyak dibandingkan permintaan, pihaknya mendistribusikan ke daerah lain.

”Kadang ke Sumenep 100 kantong, ke Pamekasan 200 kantong, ke Sampang juga. Kalau bulan puasa kadang kami juga mengirim ke Surabaya,” tuturnya.

BANGKALAN – Stok darah di Unit Transfusi Darah (UTD) Palang Merah Indonesia (PMI) Bangkalan aman. Jumlah yang tercatat pada Kamis (17/1) sebanyak 470 kantong. Terdiri atas golongan darah A, B, AB, dan O.

Jumlah pendonor mengalami peningkatan setiap tahun. Sedangkan angka permintaan masih jauh lebih sedikit dibandingkan jumlah pendonor. Stok darah AB tergolong sedikit. Sebab sulit untuk mendapatkan pendonor dengan golongan darah tersebut. Selain itu, permintaan terhadap golongan darah AB juga tidak terlalu banyak. Hanya A, B, dan O yang paling banyak digunakan.

Kepala UTD PMI Bangkalan dr Fachrur Rozi menyampaikan, partisipasi masyarakat untuk mendonorkan darah terus mengalami peningkatan. Selain menggalang dari masyarakat umum, pihaknya juga melakukan upaya transfusi secara mobile. Seperti ke perguruan tinggi, sekolah, pondok pesantren, instansi swasta hingga organisasi perangkat daerah (OPD).

Baca Juga :  Ikut Berduka, Bupati Bangkalan Takziah ke Rumah Mahasiswi UMM

”Peran masyarakat luar biasa. Sebulan rata-rata bisa mencapai sekitar 900 pendonor,” ungkapnya kemarin (18/1). 

Penyerapan darah dari sejumlah rumah sakit di Bangkalan memang tidak terlalu banyak. Dalam sehari, permintaan darah berkisar antara 40 hingga 50 kantong. Karena itu, pihaknya tidak mau ambil risiko untuk terlalu banyak menampung stok darah. ”Sekitar empat rumah sakit di Bangkalan pelat merah dan swasta,” terangnya.

Dibandingkan dengan Surabaya, daya serapnya berbeda jauh. Di Kota Pahlawan tersebut terdapat sekitar 34 rumah sakit negeri dan swasta. Permintaan darah setiap hari bisa 300 kantong lebih.

”Masa kedaluwarsa darah itu 35 hari. Kalau stok banyak dan permintaan kurang, darah bisa rusak. Tidak bisa dipakai,” katanya.

Tidak semua darah yang didonorkan diterima untuk disimpan ke lemari darah siap pakai. Harus melalui proses karantina. Mengantisipasi adanya darah yang rusak dan tidak layak pakai.

Baca Juga :  Pertahankan Akreditasi A, Cetak Mahasiswa Andal

Kategori darah rusak antara lain dikarenakan reaktif. Dalam artian ada penyakitnya. Kemudian darah yang gagal. Seperti terlalu kental dan sebagainya. Karena itu, sebelum masuk ke lemari penyimpanan darah siap pakai, terlebih dahulu melalui proses karantina. Darah yang didonorkan diperiksa terlebih dahulu. ”Kedaluwarsa juga tergolong darah rusak,” paparnya.

Rozi menambahkan, satu lemari bisa menampung 700 kantong. Terdapat satu lemari cadangan dengan daya tampung 400 kantong darah. Jadi total bisa menampung 1.100 kantong darah. Jika stok darah terlalu banyak dibandingkan permintaan, pihaknya mendistribusikan ke daerah lain.

”Kadang ke Sumenep 100 kantong, ke Pamekasan 200 kantong, ke Sampang juga. Kalau bulan puasa kadang kami juga mengirim ke Surabaya,” tuturnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/