alexametrics
20.5 C
Madura
Thursday, July 7, 2022

Toko Modern Semakin Menjamur, Toko Kelontong Terancam

Keberadaan toko modern hampir dipastikan mematikan toko kelontong. Dalam menyediakan segala kebutuhan, toko modern dinilai lebih lengkap daripada toko tradisional. Di Bangkalan, toko modern menjamur sejak dua tahun terakhir.

TOKO modern juga didukung tempat yang bersih. Kualitas pelayanan mumpuni. Sementara itu, sebagian besar toko kelontong milik warga terkesan ala kadarnya. Baik dari sisi bentuk fisik toko mampun pelayanan.

Penilaian itu disampaikan Kabid Informasi dan Pengendalian Penanaman Modal Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Bangkalan Hosun. Dia tidak menampik bahwa keberadaan toko modern mematikan sebagian usaha masyarakat.

 ”Mau bagaimana lagi, kita didorong oleh kemajuan zaman. Paling tidak jika tetap ingin bertahan, toko-toko usaha masyarakat harus berbenah,” katanya.

Baca Juga :  Menagih Komitmen Pemkab Lindungi Pasar Rakyat dan Toko Kelontong

Hosun meminta pengelola toko tradisional segera berinovasi secara keseluruhan, mulai dari pelayanan hingga penataan. ”Masa sudah berdagang selama bertahun-tahun tidak bisa berinovasi,” ujarnya Jumat (15/11).

Hingga kini, toko modern di Kota salak berjumlah 54 unit. Toko tersebut tersebar di 18 kecamatan. Masing-masing ada 20 Alfamart dan 34 Indomaret. Data itu belum termasuk Basmalah.

Kepala DPMPTSP Bangkalan Ainul Gufron menerangkan, pihaknya perlu mengadakan dialog publik antara pemilik toko modern dan tradisional supaya tidak dihadapkan pada situasi dilematis. Sebab, pemerintah dalam posisi memfasilitasi dan memberikan regulasi yang tidak diskriminatif. Baik kepada pelaku usaha toko tradisional maupun modern. ”Karena keduanya sama-sama dibutuhkan,” tuturnya.

Ketua Komisi A DPRD Bangkalan Mujiburrohman turut prihatin atas menjamurnya toko modern di Kota Salak. Persoalan ini memang rumit. Untuk mendorong usaha milik rakyat tidak harus menutup pelaku pasar modern. Keberadaan keduanya sama-sama dibutuhkan.

Baca Juga :  SL Akui Berbuat Asusila dan Terancam Hukuman Maksimal 20 Tahun Penjara

”Kalau sesuai prosedur kan jaraknya memang harus berjauhan. Ini perlu dikaji lebih mendalam,” ucapnya. (c1)

Keberadaan toko modern hampir dipastikan mematikan toko kelontong. Dalam menyediakan segala kebutuhan, toko modern dinilai lebih lengkap daripada toko tradisional. Di Bangkalan, toko modern menjamur sejak dua tahun terakhir.

TOKO modern juga didukung tempat yang bersih. Kualitas pelayanan mumpuni. Sementara itu, sebagian besar toko kelontong milik warga terkesan ala kadarnya. Baik dari sisi bentuk fisik toko mampun pelayanan.

Penilaian itu disampaikan Kabid Informasi dan Pengendalian Penanaman Modal Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Bangkalan Hosun. Dia tidak menampik bahwa keberadaan toko modern mematikan sebagian usaha masyarakat.


 ”Mau bagaimana lagi, kita didorong oleh kemajuan zaman. Paling tidak jika tetap ingin bertahan, toko-toko usaha masyarakat harus berbenah,” katanya.

Baca Juga :  Dorong IKM Mamin Dapat HKI

Hosun meminta pengelola toko tradisional segera berinovasi secara keseluruhan, mulai dari pelayanan hingga penataan. ”Masa sudah berdagang selama bertahun-tahun tidak bisa berinovasi,” ujarnya Jumat (15/11).

Hingga kini, toko modern di Kota salak berjumlah 54 unit. Toko tersebut tersebar di 18 kecamatan. Masing-masing ada 20 Alfamart dan 34 Indomaret. Data itu belum termasuk Basmalah.

Kepala DPMPTSP Bangkalan Ainul Gufron menerangkan, pihaknya perlu mengadakan dialog publik antara pemilik toko modern dan tradisional supaya tidak dihadapkan pada situasi dilematis. Sebab, pemerintah dalam posisi memfasilitasi dan memberikan regulasi yang tidak diskriminatif. Baik kepada pelaku usaha toko tradisional maupun modern. ”Karena keduanya sama-sama dibutuhkan,” tuturnya.

Ketua Komisi A DPRD Bangkalan Mujiburrohman turut prihatin atas menjamurnya toko modern di Kota Salak. Persoalan ini memang rumit. Untuk mendorong usaha milik rakyat tidak harus menutup pelaku pasar modern. Keberadaan keduanya sama-sama dibutuhkan.

Baca Juga :  Selain Lebaran, Orang Madura Mudik untuk Rayakan Maulid

”Kalau sesuai prosedur kan jaraknya memang harus berjauhan. Ini perlu dikaji lebih mendalam,” ucapnya. (c1)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/