alexametrics
21.4 C
Madura
Monday, June 27, 2022

Anggota DPRD Ini Sempat Diajak Gabung Kelompok Radikal

BANGKALAN – Aksi teror yang terjadi belakangan ini mengusik ketenangan masyarakat. Anggota Komisi B DPRD Bangkalan Muhlis Assuryani memiliki pengalaman menarik tentang paham radikal. Dia mengaku pernah diajak untuk bergabung.

Muhlis bercerita tentang modus rekrutmen kelompok yang memiliki paham radikal ketika ditemui di ruang kerjanya Kamis (17/5). Hal itu dialami saat menjadi mahasiswa di salah satu universitas di Surabaya berkisar tahun 2000. Dia tidak menyangka akan digiring untuk bergabung ke kelompok yang menganut paham radikal.

Kala itu menjadi pengurus organisasi di internal kampus. ”Kebetulan saya waktu itu pakai jenggot panjang. Bisa saja begitu. Tapi itu anggapan miring saya dulu,” kenangnya.

Muhlis menceritakan, modus yang dipakai untuk bisa merekrut anggota sebanyak-banyaknya itu menggunakan perempuan untuk mengajak. Hal tersebut juga dialami teman-teman sesama pengurus organisasi mahasiswa kala itu.

Saat itu, tiba-tiba ada perempuan menghubungi. Perempuan itu mengajak bertemu. Karena belum kenal dengan suaranya dia meminta agar penelepon itu menyebutkan nama. ”Ternyata teman saya waktu ospek di fakultas. Tapi, saya sudah jarang liat perempuan itu,” kata Muhlis.

Baca Juga :  Ssttt...Parkir di Taman Paseban Dibiarkan Liar

Hari berikutnya, dia menuruti permintaan pertemuan perempuan tersebut. Lalu, diajak ke salah satu rumah kos di sekitar Terminal Bungurasih. Di tempat itu sudah banyak laki-laki dan perempuan berkumpul. Di antara mereka ada kain pemisah. ”Saya terkejut kala itu karena banyak perempuan dan laki-laki yang sebaya dengan saya,” ujarnya.

Oleh teman perempuan diperkenalkan ke mentor. Lalu, bicara tentang keislaman. ”Setelah saya bersalaman dengan mentor itu, dia bilang ’selamat datang tamu Allah’,” terang Muhlis menirukan percakapan kala itu.

Setelah ngobrol panjang lebar, mentor itu mulai mau menatar dan ingin memasukkan paham radikal. Misalnya, menyebutkan ayat yang berkaitan dengan hukum. ”Ayat itu lalu dikaitkan dengan keindonesian. Menurut dia, landasan hukum Indonesia  itu Pancasila. Maka ya kafir. Saya hanya mendengar kala itu,” imbuhnya.

Dengan begitu, bagi pejabat yang tidak menegakkan hukum Allah dicap kafir. Mendengar pernyataan demikian, Muhlis langsung mengajak debat hingga berjam-jam. Si mentor mengajak bertemu kembali di esok hari. Namun, mentor tersebut tidak datang dan mengingkari janjinya. ”Ternyata tidak datang ke tempat yang sudah kita sepakati. Mungkin dia menganggap saya belum bisa dipengaruhi,” imbuhnya.

Baca Juga :  PT Gala Karya Jadi Menang Lelang

Paham-paham radikal semacam itu sebenarnya sudah ada sejak dulu. Bahkan, tidak sedikit di kalangan mahasiswa. ”Tidak heran jika ada mahasiswi yang mau membacok petugas di Mako Brimob beberapa hari yang lalu. Karena dianggap petugas itu toghut,” tuturnya.

Muhlis menambahkan, saat ini harus jauh lebih waspada. Paham-paham tersebut sudah merembet ke dunia akademisi. Kalau orang Madura mungkin tidak langsung terpengaruh. Karena dari kecil ditanamkan pendidikan agama seperti ngaji di musala. Bahkan, mayoritas mondok.

”Tapi orang yang pemahaman agamanya dangkal pasti terpengaruh. Jalan satu-satunya harus cari tahu dulu sebelum meyakini,” tandasnya.

BANGKALAN – Aksi teror yang terjadi belakangan ini mengusik ketenangan masyarakat. Anggota Komisi B DPRD Bangkalan Muhlis Assuryani memiliki pengalaman menarik tentang paham radikal. Dia mengaku pernah diajak untuk bergabung.

Muhlis bercerita tentang modus rekrutmen kelompok yang memiliki paham radikal ketika ditemui di ruang kerjanya Kamis (17/5). Hal itu dialami saat menjadi mahasiswa di salah satu universitas di Surabaya berkisar tahun 2000. Dia tidak menyangka akan digiring untuk bergabung ke kelompok yang menganut paham radikal.

Kala itu menjadi pengurus organisasi di internal kampus. ”Kebetulan saya waktu itu pakai jenggot panjang. Bisa saja begitu. Tapi itu anggapan miring saya dulu,” kenangnya.


Muhlis menceritakan, modus yang dipakai untuk bisa merekrut anggota sebanyak-banyaknya itu menggunakan perempuan untuk mengajak. Hal tersebut juga dialami teman-teman sesama pengurus organisasi mahasiswa kala itu.

Saat itu, tiba-tiba ada perempuan menghubungi. Perempuan itu mengajak bertemu. Karena belum kenal dengan suaranya dia meminta agar penelepon itu menyebutkan nama. ”Ternyata teman saya waktu ospek di fakultas. Tapi, saya sudah jarang liat perempuan itu,” kata Muhlis.

Baca Juga :  Lima Terbaik Se-Jawa Timur, Jalankan Program MR Lebihi Target

Hari berikutnya, dia menuruti permintaan pertemuan perempuan tersebut. Lalu, diajak ke salah satu rumah kos di sekitar Terminal Bungurasih. Di tempat itu sudah banyak laki-laki dan perempuan berkumpul. Di antara mereka ada kain pemisah. ”Saya terkejut kala itu karena banyak perempuan dan laki-laki yang sebaya dengan saya,” ujarnya.

Oleh teman perempuan diperkenalkan ke mentor. Lalu, bicara tentang keislaman. ”Setelah saya bersalaman dengan mentor itu, dia bilang ’selamat datang tamu Allah’,” terang Muhlis menirukan percakapan kala itu.

Setelah ngobrol panjang lebar, mentor itu mulai mau menatar dan ingin memasukkan paham radikal. Misalnya, menyebutkan ayat yang berkaitan dengan hukum. ”Ayat itu lalu dikaitkan dengan keindonesian. Menurut dia, landasan hukum Indonesia  itu Pancasila. Maka ya kafir. Saya hanya mendengar kala itu,” imbuhnya.

Dengan begitu, bagi pejabat yang tidak menegakkan hukum Allah dicap kafir. Mendengar pernyataan demikian, Muhlis langsung mengajak debat hingga berjam-jam. Si mentor mengajak bertemu kembali di esok hari. Namun, mentor tersebut tidak datang dan mengingkari janjinya. ”Ternyata tidak datang ke tempat yang sudah kita sepakati. Mungkin dia menganggap saya belum bisa dipengaruhi,” imbuhnya.

Baca Juga :  Jalan Blega Kembali Tutup Enam Jam

Paham-paham radikal semacam itu sebenarnya sudah ada sejak dulu. Bahkan, tidak sedikit di kalangan mahasiswa. ”Tidak heran jika ada mahasiswi yang mau membacok petugas di Mako Brimob beberapa hari yang lalu. Karena dianggap petugas itu toghut,” tuturnya.

Muhlis menambahkan, saat ini harus jauh lebih waspada. Paham-paham tersebut sudah merembet ke dunia akademisi. Kalau orang Madura mungkin tidak langsung terpengaruh. Karena dari kecil ditanamkan pendidikan agama seperti ngaji di musala. Bahkan, mayoritas mondok.

”Tapi orang yang pemahaman agamanya dangkal pasti terpengaruh. Jalan satu-satunya harus cari tahu dulu sebelum meyakini,” tandasnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/