alexametrics
24 C
Madura
Tuesday, May 17, 2022

Ada Isu Penyebab Kemacetan Tol Suramadu Di-Setting

BANGKALAN – Polres Bangkalan melaksanakan rapat koordinasi dengan pihak Jasa Marga pengelola tol Suramadu Selasa (16/1). Itu dilakukan untuk menguak penyebab sering terjadinya kemacetan di akses menuju tol.

Selain polres dan Jasa Marga, rapat koordinasi itu dihadiri sejumlah instansi. Yakni, Organisasi Angkutan Darat (Organda), Dinas Perhubungan (Dishub), serta Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Bangkalan.

Dalam rapat tersebut terungkap pemicu terjadinya kemacetan. Di antaranya, minimnya sosialisasi tentang penerapan pembayaran tol nontunai. Dampaknya, banyak pengendara roda empat yang belum memiliki kartu electronic toll (e-toll). Padahal sejak Jumat (12/1), pembayaran tol wajib secara nontunai.

Pemicu kemacetan lainnya yaitu minimya rambu-rambu di jalan raya akses Suramadu untuk mengelompokkan mobil, truk, dan bus. Tidak jarang truk dan bus salah mengambil jalur kanan yang merupakan arah menuju gerbang tol otomatis (GTO). Bila itu terjadi, bus dan truk harus dialihkan terlebih dahulu. Selain itu, banyak pengendara yang saldo e-toll-nya kurang sehingga melakukan top up di depan pintu gerbang tol.

Baca Juga :  Permudah Layanan Masyarakat, Satreskrim Polres Bangkalan Lakukan Ini

Kapolres Bangkalan AKBP Anissullah M. Ridha menyatakan, pihaknya ingin kemacetan di gerbang tol Suramadu teratasi dengan baik. ”Kepolisian menginisiasi mengumpulkan stakeholder untuk mencari solusi mengatasi kemacetan di gerbang tol Suramadu,” ujarnya.

Dia meminta ada penambahan rambu-rambu untuk pengelompokan kendaraan roda empat. Yaitu, jalur sisi kanan untuk kendaraan pribadi, jalur kiri untuk kendaraan besar seperti truk dan bus. ”Rambu-rabu penting agar tidak ada lagi kendaraan yang salah masuk gerbang tol,” tegas Anis.

Sementara itu, Kepala Gerbang Tol Suramadu Mujiono menyatakan, penyebab utama kemacetan adalah masih banyak pengendara roda empat yang tidak memiliki kartu e-toll. Padahal, pemerintah pusat menginstruksikan per 31 Oktober 2017 pembayaran tol harus secara nontunai.

Pengelola tol Suramadu memberikan toleransi dengan masih melayani pembayaran secara tunai hingga Kamis (11/1). Namun, dengan memberikan toleransi itu, pengelola tol Suramadu mendapat teguran dari pemerintah pusat. Maka sejak Jumat (12/1), pembayaran tol wajib nontunai.

Baca Juga :  Polres Bangkalan Luncurkan Tim Khusus Antibegal, Siap Tembak Mati

”Kalau masih tetap melayani tunai, tidak mendidik kepada masyarakat. Beda kalau emergensi, pasti kami membantu. Jadi, kami minta pengendara roda empat memiliki kartu e-toll,” pintanya.

Mengenai penambahan rambu-rambu di akses jalan Suramadu sebelum gerbang tol, Mujiono akan berkoordinasi dengan instansi terkait. Soal isu kemacetan di-setting oknum pengelola tol, dia tegas membantah. ”Itu tidak benar. Kami mendukung pembayaran dilakukan secara nontunai,” tandasnya.

Untuk diketahui, beredar isu di masyarakat bahwa kemacetan di gerbang tol Suramadu merupakan setting-an. Dicurigai ada oknum pengelola tol yang tidak suka dengan penerapan pembayaran nontunai. Sebab, dengan pembayaran nontonai, sulit terjadi kebocoran. Oknum itu tidak rela ”lahan penghasilannya” musnah. (bam/hud/han)

 

BANGKALAN – Polres Bangkalan melaksanakan rapat koordinasi dengan pihak Jasa Marga pengelola tol Suramadu Selasa (16/1). Itu dilakukan untuk menguak penyebab sering terjadinya kemacetan di akses menuju tol.

Selain polres dan Jasa Marga, rapat koordinasi itu dihadiri sejumlah instansi. Yakni, Organisasi Angkutan Darat (Organda), Dinas Perhubungan (Dishub), serta Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Bangkalan.

Dalam rapat tersebut terungkap pemicu terjadinya kemacetan. Di antaranya, minimnya sosialisasi tentang penerapan pembayaran tol nontunai. Dampaknya, banyak pengendara roda empat yang belum memiliki kartu electronic toll (e-toll). Padahal sejak Jumat (12/1), pembayaran tol wajib secara nontunai.

Pemicu kemacetan lainnya yaitu minimya rambu-rambu di jalan raya akses Suramadu untuk mengelompokkan mobil, truk, dan bus. Tidak jarang truk dan bus salah mengambil jalur kanan yang merupakan arah menuju gerbang tol otomatis (GTO). Bila itu terjadi, bus dan truk harus dialihkan terlebih dahulu. Selain itu, banyak pengendara yang saldo e-toll-nya kurang sehingga melakukan top up di depan pintu gerbang tol.

Baca Juga :  Hadiah Motor Program Le Minerale Gosok Segarnya Dimenangkan Pedagang S

Kapolres Bangkalan AKBP Anissullah M. Ridha menyatakan, pihaknya ingin kemacetan di gerbang tol Suramadu teratasi dengan baik. ”Kepolisian menginisiasi mengumpulkan stakeholder untuk mencari solusi mengatasi kemacetan di gerbang tol Suramadu,” ujarnya.

Dia meminta ada penambahan rambu-rambu untuk pengelompokan kendaraan roda empat. Yaitu, jalur sisi kanan untuk kendaraan pribadi, jalur kiri untuk kendaraan besar seperti truk dan bus. ”Rambu-rabu penting agar tidak ada lagi kendaraan yang salah masuk gerbang tol,” tegas Anis.

Sementara itu, Kepala Gerbang Tol Suramadu Mujiono menyatakan, penyebab utama kemacetan adalah masih banyak pengendara roda empat yang tidak memiliki kartu e-toll. Padahal, pemerintah pusat menginstruksikan per 31 Oktober 2017 pembayaran tol harus secara nontunai.

Pengelola tol Suramadu memberikan toleransi dengan masih melayani pembayaran secara tunai hingga Kamis (11/1). Namun, dengan memberikan toleransi itu, pengelola tol Suramadu mendapat teguran dari pemerintah pusat. Maka sejak Jumat (12/1), pembayaran tol wajib nontunai.

Baca Juga :  Antisipasi Angin Kencang saat Mudik

”Kalau masih tetap melayani tunai, tidak mendidik kepada masyarakat. Beda kalau emergensi, pasti kami membantu. Jadi, kami minta pengendara roda empat memiliki kartu e-toll,” pintanya.

Mengenai penambahan rambu-rambu di akses jalan Suramadu sebelum gerbang tol, Mujiono akan berkoordinasi dengan instansi terkait. Soal isu kemacetan di-setting oknum pengelola tol, dia tegas membantah. ”Itu tidak benar. Kami mendukung pembayaran dilakukan secara nontunai,” tandasnya.

Untuk diketahui, beredar isu di masyarakat bahwa kemacetan di gerbang tol Suramadu merupakan setting-an. Dicurigai ada oknum pengelola tol yang tidak suka dengan penerapan pembayaran nontunai. Sebab, dengan pembayaran nontonai, sulit terjadi kebocoran. Oknum itu tidak rela ”lahan penghasilannya” musnah. (bam/hud/han)

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/