alexametrics
25.3 C
Madura
Wednesday, July 6, 2022

Dinkes Sanksi Enam Bidan, Karena Merujuk Pasien Tidak Sesuai SOP

BANGKALAN, Jawa Pos Radar Madura – Praktik merujuk pasien dengan imbalan tertentu yang dilakukan oknum bidan bukan isapan jempol. Sebab, selama ini ada enam bidan yang dipanggil dan disanksi oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Bangkalan. Sebab, merujuk pasien tidak sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP).

Praktik nakal itu mendapat respons dari pengurus Ikatan Bidan Indonesia (IBI). Jika ternyata masih ditemukan oknum bidan yang berperilaku menyimpang demi mendapat keuntungan peribadi, IBI akan memberikan sanksi tegas sesuai ketentuan yang berlaku.

Kepala Dinkes Bangkalan Sudiyo menuturkan, institusinya sudah mengantisipasi adanya praktik nakal yang dilakukan oknum bidan yang bekerja demi mendapat keuntungan pribadi. Yakni, dengan membuat surat edaran (SE) agar bidan merujuk pasien ke fasilitas kesehatan secara berjenjang. ”SE itu sudah kita buat tahun lalu,” ucap pria yang biasa disapa Yoyok tersebut.

Mantan kepala Puskesmas Blega itu tidak memungkiri adanya oknum bidan yang bermain dalam pelayanan kesehatan. Buktinya, ada enam bidan yang dipanggil dan diberi sanksi administrasi. ”Rujukan harus berjenjang. Bidan praktik mandiri tidak boleh langsung merujuk pasien ke rumah sakit swasta. Harus melalui puskesmas dan seterusnya,” katanya.

Baca Juga :  Istri PNS Ngadu ke Dewan, Bawa Foto Suami dengan Perempuan Lain

Menurut Yoyok, rujukan berjenjang di faskes milik pemerintah akan membantu dalam pembangunan Kabupaten Bangkalan. Sebab, puskesmas atau rumah sakit milik pemerintah akan berkontribusi terhadap pendapatan asli daerah (PAD). ”Kami melarang bidan langsung melakukan rujukan tanpa sesuai SOP,” kata Yoyok.

Ketua Pengurus Cabang IBI Bangkalan Nur Khotibah tidak tahu-menahu adanya praktik nakal yang dilakukan oknum bidan di lapangan. Seperti mengarahkan pasien rujukan ke rumah sakit swasta agar bisa mendapat cash back atau fee.

”Kalau ada oknum (bidan) memiliki kepentingan pribadi (ingin mendapat fee), ada sanksinya. Hal itu sesuai anggaran dasar anggaran rumah tangga (AD/ART) yang menjadi panduan profesi kebidanan,” katanya.

Selama ini, organisasinya sudah melakukan upaya agar semua bidan mengikuti alur rujukan berjenjang dalam menangani pasien. Langkah itu dilakukan dengan penguatan koordinasi melalui pengurus di lima ranting yang berada di bawah naungan IBI. Yakni, ranting Bangkalan, Arosbaya, Kwanyar, Supulu, dan Blega.

Baca Juga :  Kapolres Bangkalan Bersyukur Pilkada Aman dan Damai

”Kita minta bidan untuk mengikuti alur rujukan berjenjang yang dimiliki pemerintah. Yakni, merujuk pasien dari pustu ke puskesmas, dan dari puskesmas selanjutnya ke RSUD Syamrabu,” katanya.

Perempuan yang juga Kapus Kamal itu yakin, RUSD Syamrabu sebagai rumah sakit pelat merah memiliki alat kesehatan (alkes) dan SDM paling lengkap dibanding rumah sakit lainnya di Bangkalan. Dengan demikian, penanganan pasien akan lebih optimal. ”Dengan sarana dan SDM yang lengkap akan meminimalkan AKI (angka kematian ibu) dan AKB (angka kematian bayi),” tandasnya.

BANGKALAN, Jawa Pos Radar Madura – Praktik merujuk pasien dengan imbalan tertentu yang dilakukan oknum bidan bukan isapan jempol. Sebab, selama ini ada enam bidan yang dipanggil dan disanksi oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Bangkalan. Sebab, merujuk pasien tidak sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP).

Praktik nakal itu mendapat respons dari pengurus Ikatan Bidan Indonesia (IBI). Jika ternyata masih ditemukan oknum bidan yang berperilaku menyimpang demi mendapat keuntungan peribadi, IBI akan memberikan sanksi tegas sesuai ketentuan yang berlaku.

Kepala Dinkes Bangkalan Sudiyo menuturkan, institusinya sudah mengantisipasi adanya praktik nakal yang dilakukan oknum bidan yang bekerja demi mendapat keuntungan pribadi. Yakni, dengan membuat surat edaran (SE) agar bidan merujuk pasien ke fasilitas kesehatan secara berjenjang. ”SE itu sudah kita buat tahun lalu,” ucap pria yang biasa disapa Yoyok tersebut.


Mantan kepala Puskesmas Blega itu tidak memungkiri adanya oknum bidan yang bermain dalam pelayanan kesehatan. Buktinya, ada enam bidan yang dipanggil dan diberi sanksi administrasi. ”Rujukan harus berjenjang. Bidan praktik mandiri tidak boleh langsung merujuk pasien ke rumah sakit swasta. Harus melalui puskesmas dan seterusnya,” katanya.

Baca Juga :  Dinas Perdagangan Tegaskan Tak Akan Tutup Pasar Tradisional

Menurut Yoyok, rujukan berjenjang di faskes milik pemerintah akan membantu dalam pembangunan Kabupaten Bangkalan. Sebab, puskesmas atau rumah sakit milik pemerintah akan berkontribusi terhadap pendapatan asli daerah (PAD). ”Kami melarang bidan langsung melakukan rujukan tanpa sesuai SOP,” kata Yoyok.

Ketua Pengurus Cabang IBI Bangkalan Nur Khotibah tidak tahu-menahu adanya praktik nakal yang dilakukan oknum bidan di lapangan. Seperti mengarahkan pasien rujukan ke rumah sakit swasta agar bisa mendapat cash back atau fee.

”Kalau ada oknum (bidan) memiliki kepentingan pribadi (ingin mendapat fee), ada sanksinya. Hal itu sesuai anggaran dasar anggaran rumah tangga (AD/ART) yang menjadi panduan profesi kebidanan,” katanya.

Selama ini, organisasinya sudah melakukan upaya agar semua bidan mengikuti alur rujukan berjenjang dalam menangani pasien. Langkah itu dilakukan dengan penguatan koordinasi melalui pengurus di lima ranting yang berada di bawah naungan IBI. Yakni, ranting Bangkalan, Arosbaya, Kwanyar, Supulu, dan Blega.

Baca Juga :  Kapolres Bangkalan Bersyukur Pilkada Aman dan Damai

”Kita minta bidan untuk mengikuti alur rujukan berjenjang yang dimiliki pemerintah. Yakni, merujuk pasien dari pustu ke puskesmas, dan dari puskesmas selanjutnya ke RSUD Syamrabu,” katanya.

Perempuan yang juga Kapus Kamal itu yakin, RUSD Syamrabu sebagai rumah sakit pelat merah memiliki alat kesehatan (alkes) dan SDM paling lengkap dibanding rumah sakit lainnya di Bangkalan. Dengan demikian, penanganan pasien akan lebih optimal. ”Dengan sarana dan SDM yang lengkap akan meminimalkan AKI (angka kematian ibu) dan AKB (angka kematian bayi),” tandasnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/