alexametrics
18.5 C
Madura
Wednesday, June 29, 2022

Benda di Museum Menjadi Prioritas Disbudpar

BANGKALAN – Pemerintah Kabupaten Bangkalan mengalokasikan anggaran Rp 100 juta untuk pengelolaan cagar budaya dan permuseuman Bangkalan. Anggaran tersebut dianggap belum mencukupi pengelolaan cagar budaya dan perawatan benda bersejarah di Kota Salak.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Lily Setiawaty Mukti mengatakan, anggaran itu akan lebih diprioritaskan untuk konservasi benda bersejarah di Museum Cakraningrat. ”Kalau Rp 100 juta hanya untuk museum saja,” ucapnya kemarin (15/1).

Perawatan benda purbakala, jelas Lily, menjadi perhatiannya. Menurut dia, hal tersebut dilakukan untuk menjaga benda-benda bersejarah itu agar tidak mudah rusak. Terlebih, usianya sangat tua, yakni di atas 100 tahun. ”Untuk alat-alat museum itu, kan perlu dikonservasi,” imbuhnya.

Baca Juga :  Penanganan Gejala Covid-19 di Mulut

Perempuan berkacamata itu menambahkan, perawatan benda-benda yang ada di museum tersebut membutuhkan anggaran cukup besar. Apalagi, tenaga konservasi didatangkan dari luar. Yakni, petugas dari Trowulan Mojokerto. ”Perawatannya itu juga membutuhkan alat-alat kimia,” kata Lily

Menurut Lily, Bangkalan belum memiliki tenaga ahli cagar budaya (TACB). Dengan demikian, instansinya masih menggunakan tenaga dari Trowulan yang berkompeten untuk menjaga kualitas dari benda-benda bersejarah di Museum Cakraningrat.

Lily memastikan, konservasi untuk benda bersejarah di Museum Cakraningrat tidak akan menyeluruh. Sebab, anggaran Rp 100 juta tidak akan cukup. ”Seratus juta itu tidak akan cukup untuk semua. Bisa setahun sekali hingga tiga kali. Itu kan bertahap,” tuturnya.

Baca Juga :  Bangunan TIC Kurang Bermanfaat

Di tempat terpisah, Ketua Komisi D DPRD Bangkalan Nur Hasan berharap, konservasi dilakukan dengan baik. Sebab, benda-benda tersebut merupakan kekayaan Kota Salak. ”Harapannya, benda-benda bersejarah itu terjaga dengan baik dan dikenal dari generasi ke generasi,” tandasnya. (jup)

BANGKALAN – Pemerintah Kabupaten Bangkalan mengalokasikan anggaran Rp 100 juta untuk pengelolaan cagar budaya dan permuseuman Bangkalan. Anggaran tersebut dianggap belum mencukupi pengelolaan cagar budaya dan perawatan benda bersejarah di Kota Salak.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Lily Setiawaty Mukti mengatakan, anggaran itu akan lebih diprioritaskan untuk konservasi benda bersejarah di Museum Cakraningrat. ”Kalau Rp 100 juta hanya untuk museum saja,” ucapnya kemarin (15/1).

Perawatan benda purbakala, jelas Lily, menjadi perhatiannya. Menurut dia, hal tersebut dilakukan untuk menjaga benda-benda bersejarah itu agar tidak mudah rusak. Terlebih, usianya sangat tua, yakni di atas 100 tahun. ”Untuk alat-alat museum itu, kan perlu dikonservasi,” imbuhnya.

Baca Juga :  Ambil HP, Pukul Korban, lalu Digebuk


Perempuan berkacamata itu menambahkan, perawatan benda-benda yang ada di museum tersebut membutuhkan anggaran cukup besar. Apalagi, tenaga konservasi didatangkan dari luar. Yakni, petugas dari Trowulan Mojokerto. ”Perawatannya itu juga membutuhkan alat-alat kimia,” kata Lily

Menurut Lily, Bangkalan belum memiliki tenaga ahli cagar budaya (TACB). Dengan demikian, instansinya masih menggunakan tenaga dari Trowulan yang berkompeten untuk menjaga kualitas dari benda-benda bersejarah di Museum Cakraningrat.

Lily memastikan, konservasi untuk benda bersejarah di Museum Cakraningrat tidak akan menyeluruh. Sebab, anggaran Rp 100 juta tidak akan cukup. ”Seratus juta itu tidak akan cukup untuk semua. Bisa setahun sekali hingga tiga kali. Itu kan bertahap,” tuturnya.

Baca Juga :  Tolak UU KPK dan RUU KUHP Mahasiswa UTM Galang Seribu Tanda Tangan

Di tempat terpisah, Ketua Komisi D DPRD Bangkalan Nur Hasan berharap, konservasi dilakukan dengan baik. Sebab, benda-benda tersebut merupakan kekayaan Kota Salak. ”Harapannya, benda-benda bersejarah itu terjaga dengan baik dan dikenal dari generasi ke generasi,” tandasnya. (jup)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/