alexametrics
20.7 C
Madura
Wednesday, August 17, 2022

Istri Ramai-Ramai Gugat Cerai Suami

BANGKALAN – Sebanyak 1.066 pasangan suami istri (pasutri) ingin mengesahkan status pernikahannya sesuai hukum negara dengan mengajukan isbat. Namun di sisi lain, ribuan pasutri malah ingin cerai.

Cerai seolah menjadi solusi menuntaskan permasalahan yang timbul dalam keluarga. Berdasar data di Pengadilan Agama (PA) Bangkalan, pada 2016 kasus cerai mencapai 1.312 perkara. Perinciannya, 570 cerai talak dan 742 gugat cerai.

Sejak Januari–Oktober 2017, kasus cerai lebih banyak daripada tahun lalu, yakni 1.337 perkara. Dengan perincian, cerai talak        521 perkara dan gugat cerai 816 perkara. Cerai talak yaitu suami yang mengajukan cerai. Sedangkan gugat cerai adalah istri yang menceraikan suami.

Humas PA Bangkalan Supriyadi menyampaikan, ada beberapa penyebab runtuhnya keutuhan rumah tangga. Di antaranya, masalah nafkah lahir dan batin. Selain itu, ketidakharmonisan antara suami dan istri.

”Kebanyakan kasus cerai karena faktor ekonomi. Di Bangkalan banyak warga yang merantau. Misalnya, menjadi TKI atau pelayaran. Itu membuat hubungan antara suami dan istri berkurang,” katanya, Senin (13/11).

Baca Juga :  Muhammadiyah Burneh Kurban 17 Sapi dan 9 Kambing

Mengenai ketidakharmonisan, Supriyadi menjelaskan, ada beberapa hal yang melatarbelakangi. Salah satunya, hubungan tidak lazim dengan selain pasangan. Hal itu menimbulkan kecemburuan yang berakibat pada ketidakpercayaan suami-istri.

”Ada yang cerai karena pasangannya berfoto berduaan dengan orang lain. Kemudian karena membonceng orang lain. Macam-macam. Akhirnya cemburu dan melakukan gugatan cerai,” papar Supriyadi.

Tingginya kasus perceraian juga disebabkan ketidakmatangan usia perkawinan. Kesiapan membina keluarga mestinya menjadi perhatian kedua pihak. Komitmen untuk bersanding harus dimusyawarahkan terlebih dahulu.

Dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, perempuan boleh menikah minimal usia 16 tahun. Sedangkan laki-laki minimal berusia 19 tahun. Di bawah ketentuan usia itu masuk kategori nikah dini sehingga perlu mengajukan dispensasi kawin. Catatan PA Bangkalan tahun ini, pengajuan dispensasi kawin berjumlah 10 perkara.

Perkara cerai setiap bulan dinamis. Biasanya, pada bulan tertentu penggugat cerai memundurkan niatnya melakukan gugatan. ”Biasanya, pada Ramadan kasus cerai sedikit, sekitar 100 perkara. Tapi setelah Ramadan, langsung naik dua kali lipat,” ungkap dia.

Supriyadi menyebutkan, pengajuan isbat nikah yang tinggi bertolak belakang dengan kasus cerai. Pengajuan isbat bertambah. Namun, kasus cerai melebihi jumlah pasutri yang hendak melegalkan hubungannya sesuai hukum negara.

Baca Juga :  Persaba Minta Terbitkan Izin Keramaian

”Pengaju isbat biasanya usia 35–70 tahun. Sementara yang mengajukan cerai, rata-rata usia produktif, kisaran 25–40 tahun,” tuturnya. Kasus cerai bisa jadi terus bertambah. Jika 1.337 perkara dibagi dengan jumlah persidangan, rata-rata ada tujuh perkara cerai setiap hari. Malah kadang sehari bisa belasan kasus cerai yang disidangkan di PA Bangkalan. ”Sidang diadakan empat hari dalam sepekan,” ucapnya.

Ketua PC NU Bangkalan KH. Makki Nasir menyampaikan, perceraian memang diperbolehkan. Namun, cerai merupakan tindakan yang paling dibenci Tuhan. ”Cerai itu boleh, tapi paling dibenci Allah,” tegasnya.

Tidak semua orang memiliki kesempatan membina rumah tangga. Bahkan ada perempuan dan laki-laki yang tidak menikah hingga kulit sudah keriput. Karena itu, bagi pasangan yang sudah berkeluarga, disarankan lebih dewasa mengambil tindakan jika terdapat masalah dalam rumah tangga. ”Laki-laki harus mampu menunjukkan sosok sebagai pemimpin,” ucap Makki.

BANGKALAN – Sebanyak 1.066 pasangan suami istri (pasutri) ingin mengesahkan status pernikahannya sesuai hukum negara dengan mengajukan isbat. Namun di sisi lain, ribuan pasutri malah ingin cerai.

Cerai seolah menjadi solusi menuntaskan permasalahan yang timbul dalam keluarga. Berdasar data di Pengadilan Agama (PA) Bangkalan, pada 2016 kasus cerai mencapai 1.312 perkara. Perinciannya, 570 cerai talak dan 742 gugat cerai.

Sejak Januari–Oktober 2017, kasus cerai lebih banyak daripada tahun lalu, yakni 1.337 perkara. Dengan perincian, cerai talak        521 perkara dan gugat cerai 816 perkara. Cerai talak yaitu suami yang mengajukan cerai. Sedangkan gugat cerai adalah istri yang menceraikan suami.


Humas PA Bangkalan Supriyadi menyampaikan, ada beberapa penyebab runtuhnya keutuhan rumah tangga. Di antaranya, masalah nafkah lahir dan batin. Selain itu, ketidakharmonisan antara suami dan istri.

”Kebanyakan kasus cerai karena faktor ekonomi. Di Bangkalan banyak warga yang merantau. Misalnya, menjadi TKI atau pelayaran. Itu membuat hubungan antara suami dan istri berkurang,” katanya, Senin (13/11).

Baca Juga :  Muhammadiyah Burneh Kurban 17 Sapi dan 9 Kambing

Mengenai ketidakharmonisan, Supriyadi menjelaskan, ada beberapa hal yang melatarbelakangi. Salah satunya, hubungan tidak lazim dengan selain pasangan. Hal itu menimbulkan kecemburuan yang berakibat pada ketidakpercayaan suami-istri.

”Ada yang cerai karena pasangannya berfoto berduaan dengan orang lain. Kemudian karena membonceng orang lain. Macam-macam. Akhirnya cemburu dan melakukan gugatan cerai,” papar Supriyadi.

- Advertisement -

Tingginya kasus perceraian juga disebabkan ketidakmatangan usia perkawinan. Kesiapan membina keluarga mestinya menjadi perhatian kedua pihak. Komitmen untuk bersanding harus dimusyawarahkan terlebih dahulu.

Dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, perempuan boleh menikah minimal usia 16 tahun. Sedangkan laki-laki minimal berusia 19 tahun. Di bawah ketentuan usia itu masuk kategori nikah dini sehingga perlu mengajukan dispensasi kawin. Catatan PA Bangkalan tahun ini, pengajuan dispensasi kawin berjumlah 10 perkara.

Perkara cerai setiap bulan dinamis. Biasanya, pada bulan tertentu penggugat cerai memundurkan niatnya melakukan gugatan. ”Biasanya, pada Ramadan kasus cerai sedikit, sekitar 100 perkara. Tapi setelah Ramadan, langsung naik dua kali lipat,” ungkap dia.

Supriyadi menyebutkan, pengajuan isbat nikah yang tinggi bertolak belakang dengan kasus cerai. Pengajuan isbat bertambah. Namun, kasus cerai melebihi jumlah pasutri yang hendak melegalkan hubungannya sesuai hukum negara.

Baca Juga :  Puting Beliung Terjang Puluhan Rumah, BPBD: Tingkatkan Kewaspadaan

”Pengaju isbat biasanya usia 35–70 tahun. Sementara yang mengajukan cerai, rata-rata usia produktif, kisaran 25–40 tahun,” tuturnya. Kasus cerai bisa jadi terus bertambah. Jika 1.337 perkara dibagi dengan jumlah persidangan, rata-rata ada tujuh perkara cerai setiap hari. Malah kadang sehari bisa belasan kasus cerai yang disidangkan di PA Bangkalan. ”Sidang diadakan empat hari dalam sepekan,” ucapnya.

Ketua PC NU Bangkalan KH. Makki Nasir menyampaikan, perceraian memang diperbolehkan. Namun, cerai merupakan tindakan yang paling dibenci Tuhan. ”Cerai itu boleh, tapi paling dibenci Allah,” tegasnya.

Tidak semua orang memiliki kesempatan membina rumah tangga. Bahkan ada perempuan dan laki-laki yang tidak menikah hingga kulit sudah keriput. Karena itu, bagi pasangan yang sudah berkeluarga, disarankan lebih dewasa mengambil tindakan jika terdapat masalah dalam rumah tangga. ”Laki-laki harus mampu menunjukkan sosok sebagai pemimpin,” ucap Makki.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/