alexametrics
21.1 C
Madura
Sunday, July 3, 2022

Mahasiswa UTM Ciptakan Teknologi Tepat Guna Pengganti Gas Elpiji

BANGKALAN – Pengembangan pendidikan berbasis klaster yang diterapkan Universitas Trunojoyo Madura (UTM) membuahkan hasil. Selama 2018, sudah banyak mahasiswa yang menorehkan prestasi. Bahkan, mampu mengalahkan perguruan tinggi negeri (PTN) ternama di Indonesia.

Ada enam sektor potensi lokal Madura yang menjadi fokus kajian. Antara lain, sektor garam dan tembakau, sektor pangan (jagung, singkong, tebu, sapi, dan hasil laut), sektor energi (migas dan energi terbarukan), sektor pendidikan (formal, informal, dan nonformal), sektor sosial, tenaga kerja dan wanita, serta sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

Salah satu wujud implementasi komitmen kajian tersebut, mahasiswa prodi Teknik Elektro telah membuat perangkat atau alat untuk mengoptimalkan pemanfaatan biogas sebagai sumber energi. Mahasiswa tersebut membuat sebuah perangkat tentang energi terbarukan yang berbasis IoT (Internet of Thing).

Alat tersebut diberi nama Simontog (Smart Assistance and System Monitoring for Control Biogas and Energy). Simontog sendiri merupakan sebuah alat berbasis IoT untuk memonitoring dan juga sebagai pengaduk flury yang mempermudah dan mengoptimalkan produksi biogas. Mahasiswa Teknik Elektro itu berhasil membuat karya teknologi tepat guna (TTG).

Baca Juga :  Gandeng Jepang Kembangkan Garam

Hasil karya mereka diikutsertakan dalam kompetisi Technocorner 2018 di Universitas Gadjah Mada. Mahasiswa UTM berhasil meraih juara 2 dalam kompetisi nasional tersebut.

Sebenarnya, ada 5 kategori perlombaan di kompetisi itu. Yakni IoT Development Competition, Electrical Engineering Competition, Rescue Robot Competition, Sumo Robot Competition, dan Soccer Robot competition.

Namun, dalam kategori IoT Development Competition, Teknik Elektro Universitas Trunojoyo Madura berhasil meraih juara 2. Mahasiswa yang didelegasikan dalam ajang bergengsi tersebut adalah Jamal Lutqin dan Feridad Ainul Yaqin. Keduanya masih semester 4 di Prodi Teknik Elektro.

Jamal dan Ainul mampu mengalahkan tim dari kampus ternama. Mulai dari Universitas Brawijaya, Institut Teknologi Sepuluh Nopember yang mengirim 2 tim, Institut Teknologi Bandung (ITB), Politeknik Negeri Banyuwangi, dan Univeristas Gadjah Mada yang juga mendelegasikan 2 tim.

Jamal tidak menyangka akan mendapat prestasi yang membanggakan tersebut. Sebab, pesertanya dari kampus-kampus terbaik di Indonesia. Tapi, berkat semangat dan bimbingan dari dosen Arda Surya Editya, akhirnya keluar sebagai juara 2.

Baca Juga :  Dispora Bakal Gratiskan Panggung TRK

”Simontog berhasil mengharumkan nama baik UTM. Fitur-fitur yang diberikan dalam Simontog ini di antaranya monitoring, controlling, forecasting,” katanya penuh semangat.

Jamal senang atas penghargaan itu. Dia juga senang dan bangga diberi kesempatan untuk mengikuti kompetisi bergengsi tersebut. Setidaknya, dapat meningkatkan kreativitas mahasiswa di bidang teknologi.

Lombanya, kata Jamal, sangat bagus dan menarik karena dapat meningkatkan kreativitas mahasiswa dalam bidang teknologi dan energi terbarukan. Sebab, Madura itu khas dengan sapi. Maka, manfaatkan kotoran sapi jadi biogas. ”Kami mengambil judul yang berkaitan dengan biogas,” terang Jamal Lutqin.

Sementara itu, Ketua Jurusan (Kajur) Teknik Elektro UTM Miftahul Ulum mengaku senang dan mengucapkan selamat kepada Jamal dan Ainul yang mengharumkan nama UTM di kancah nasional. Yang jelas, prestasi ini sebagai prestasi pembuka di awal 2018.

”Harapannya, ke depan tambah berprestasi lagi. Intinya, Simontog ini bisa jadi teknologi tepat guna. Bahkan, bisa menjadi pengganti gas elpiji,” jelasnya.

BANGKALAN – Pengembangan pendidikan berbasis klaster yang diterapkan Universitas Trunojoyo Madura (UTM) membuahkan hasil. Selama 2018, sudah banyak mahasiswa yang menorehkan prestasi. Bahkan, mampu mengalahkan perguruan tinggi negeri (PTN) ternama di Indonesia.

Ada enam sektor potensi lokal Madura yang menjadi fokus kajian. Antara lain, sektor garam dan tembakau, sektor pangan (jagung, singkong, tebu, sapi, dan hasil laut), sektor energi (migas dan energi terbarukan), sektor pendidikan (formal, informal, dan nonformal), sektor sosial, tenaga kerja dan wanita, serta sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

Salah satu wujud implementasi komitmen kajian tersebut, mahasiswa prodi Teknik Elektro telah membuat perangkat atau alat untuk mengoptimalkan pemanfaatan biogas sebagai sumber energi. Mahasiswa tersebut membuat sebuah perangkat tentang energi terbarukan yang berbasis IoT (Internet of Thing).


Alat tersebut diberi nama Simontog (Smart Assistance and System Monitoring for Control Biogas and Energy). Simontog sendiri merupakan sebuah alat berbasis IoT untuk memonitoring dan juga sebagai pengaduk flury yang mempermudah dan mengoptimalkan produksi biogas. Mahasiswa Teknik Elektro itu berhasil membuat karya teknologi tepat guna (TTG).

Baca Juga :  RSUD Syamrabu Berbagi dan Kenalkan Inovasi

Hasil karya mereka diikutsertakan dalam kompetisi Technocorner 2018 di Universitas Gadjah Mada. Mahasiswa UTM berhasil meraih juara 2 dalam kompetisi nasional tersebut.

Sebenarnya, ada 5 kategori perlombaan di kompetisi itu. Yakni IoT Development Competition, Electrical Engineering Competition, Rescue Robot Competition, Sumo Robot Competition, dan Soccer Robot competition.

Namun, dalam kategori IoT Development Competition, Teknik Elektro Universitas Trunojoyo Madura berhasil meraih juara 2. Mahasiswa yang didelegasikan dalam ajang bergengsi tersebut adalah Jamal Lutqin dan Feridad Ainul Yaqin. Keduanya masih semester 4 di Prodi Teknik Elektro.

Jamal dan Ainul mampu mengalahkan tim dari kampus ternama. Mulai dari Universitas Brawijaya, Institut Teknologi Sepuluh Nopember yang mengirim 2 tim, Institut Teknologi Bandung (ITB), Politeknik Negeri Banyuwangi, dan Univeristas Gadjah Mada yang juga mendelegasikan 2 tim.

Jamal tidak menyangka akan mendapat prestasi yang membanggakan tersebut. Sebab, pesertanya dari kampus-kampus terbaik di Indonesia. Tapi, berkat semangat dan bimbingan dari dosen Arda Surya Editya, akhirnya keluar sebagai juara 2.

Baca Juga :  Bupati Paparkan LKPj Anggaran 2020

”Simontog berhasil mengharumkan nama baik UTM. Fitur-fitur yang diberikan dalam Simontog ini di antaranya monitoring, controlling, forecasting,” katanya penuh semangat.

Jamal senang atas penghargaan itu. Dia juga senang dan bangga diberi kesempatan untuk mengikuti kompetisi bergengsi tersebut. Setidaknya, dapat meningkatkan kreativitas mahasiswa di bidang teknologi.

Lombanya, kata Jamal, sangat bagus dan menarik karena dapat meningkatkan kreativitas mahasiswa dalam bidang teknologi dan energi terbarukan. Sebab, Madura itu khas dengan sapi. Maka, manfaatkan kotoran sapi jadi biogas. ”Kami mengambil judul yang berkaitan dengan biogas,” terang Jamal Lutqin.

Sementara itu, Ketua Jurusan (Kajur) Teknik Elektro UTM Miftahul Ulum mengaku senang dan mengucapkan selamat kepada Jamal dan Ainul yang mengharumkan nama UTM di kancah nasional. Yang jelas, prestasi ini sebagai prestasi pembuka di awal 2018.

”Harapannya, ke depan tambah berprestasi lagi. Intinya, Simontog ini bisa jadi teknologi tepat guna. Bahkan, bisa menjadi pengganti gas elpiji,” jelasnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/