alexametrics
21 C
Madura
Sunday, May 22, 2022

Habiskan Anggaran Rp 10 Miliar, Pedagang Akan Tolak Rest Area

BANGKALAN – Pembangunan rest area tahap dua di Kawasan Kaki Jembatan Suramadu Sisi Madura (KKJSM) di Desa Pangpong, Kecamatan Labang, belum rampung. Namun, pedagang sudah bersiap-siap menolak dipindah. Padahal, proyek rest area milik Badan Pengembangan Wilayah Suramadu (BPWS) itu menghabiskan dana cukup besar, yakni Rp 10,8 miliar.

Muhammad, 44, salah seorang pedagang di akses Suramadu mengatakan, saat ini pendapatan dari hasil jualan di pinggir jalan raya mengalami penurunan. Lantaran pengendara enggan menepikan kendaraannya untuk membeli oleh-oleh. Dia menolak menempati rest area yang dibangun BPWS.

Alasannya, selain dikenakan biaya sewa, dia memperkirakan pengunjung enggan mampir ke rest area. Sebab, lokasi rest area cukup jauh dari jalan raya akses Suramadu. ”Di pinggir jalan raya saja sepi, apalagi di rest area, pasti tambah sepi. Dipindah ke rest area sama saja membunuh pedagang,” ucap pria yang berjualan suvenir, baju, dan batik khas Madura itu.

Muhammad mendukung pembangunan rest area. Namun, BPWS harus memikirkan nasib pedagang. Jika di rest area hanya disediakan tempat jualan, air, dan listrik, tidak akan menarik minat pengunjung. Dia mengusulkan, di rest area dibangun wahana rekreasi sehingga warga tertarik berkunjung.

Baca Juga :  Rekanan Belum Garap Proyek Jalan

”Jadi selain belanja, pengunjung bisa menikmati wahana rekreasi. Rest area harus punya daya tarik agar pengunjung mau datang,” ujar pedagang asal Desa/Kecamatan Labang, Bangkalan tersebut.

Hal senada disampaikan Moh. Aruk Faruk Efendi, 38. Pedagang asal Desa Morkepek, Kecamatan Labang ini mengaku tempat usahanya sepi. Dia menuding BPWS salah perencanaan awal. Seharusnya sebelum membangun rest area, BPWS rembuk dengan pedagang. ”Tapi yang terjadi, sejauh ini belum ada pembahasan tentang pemindahan pedagang ke rest area,” ucapnya.

Kepala Divisi Data dan Informasi BPWS Pandit Indrawan mengatakan, pihaknya sering koordinasi dengan PT Indokon Raya agar pembangunan rest area dipercepat. Pengerjaan saat ini masih mencapai 65 persen. Sementara sisa waktu bagi rekanan tinggal 20 hari.

Menurut Pandit, rekanan sudah menambah jumlah tukang menjadi 120 orang. Pengerjaan dilakukan siang malam. ”Meski hujan, tetap dikerjakan agar tidak melebihi deadline. Hasilnya juga bagus kok,” klaim dia.

Baca Juga :  Proyek Pagar Rest Area Senilai Rp 5 Miliar

Sudah ada beberapa rencana agar di rest area lebih banyak pengunjung. Di antaranya, akan dikonsep beberapa event di rest area, dan memasukkan rest area dalam paket wisata Bangkalan dan Madura. Dengan begitu, diharapkan wisatawan banyak berkunjung ke rest area.

Mengenai sewa tempat yang akan dibebankan kepada pedagang, Pandit mengaku belum tahu. Penentuan tarif sewa kios merupakan tanggung jawab Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL). Biaya sewa tersebut akan menjadi penerimaan negara bukan pajak (PNBP).

Dia menyebutkan, anggaran Rp 10,8 miliar digunakan untuk mengerjakan dua food court dengan luas 240 meter persegi dengan 108 kios untuk pedagang dan satu toilet komunal. Pada 2018 akan dibanguan tempat jualan bagi 278 pedagang.

Sebagaimana diketahui, BPWS mendapatkan anggaran Rp 10,8 miliar untuk proyek pembangunan rest area tahap dua. PT Indokon Raya menjadi pemenang lelang proyek dengan kontrak pengerjaan mulai 5 Oktober sampai 31 Desember 2017.

- Advertisement -

BANGKALAN – Pembangunan rest area tahap dua di Kawasan Kaki Jembatan Suramadu Sisi Madura (KKJSM) di Desa Pangpong, Kecamatan Labang, belum rampung. Namun, pedagang sudah bersiap-siap menolak dipindah. Padahal, proyek rest area milik Badan Pengembangan Wilayah Suramadu (BPWS) itu menghabiskan dana cukup besar, yakni Rp 10,8 miliar.

Muhammad, 44, salah seorang pedagang di akses Suramadu mengatakan, saat ini pendapatan dari hasil jualan di pinggir jalan raya mengalami penurunan. Lantaran pengendara enggan menepikan kendaraannya untuk membeli oleh-oleh. Dia menolak menempati rest area yang dibangun BPWS.

Alasannya, selain dikenakan biaya sewa, dia memperkirakan pengunjung enggan mampir ke rest area. Sebab, lokasi rest area cukup jauh dari jalan raya akses Suramadu. ”Di pinggir jalan raya saja sepi, apalagi di rest area, pasti tambah sepi. Dipindah ke rest area sama saja membunuh pedagang,” ucap pria yang berjualan suvenir, baju, dan batik khas Madura itu.


Muhammad mendukung pembangunan rest area. Namun, BPWS harus memikirkan nasib pedagang. Jika di rest area hanya disediakan tempat jualan, air, dan listrik, tidak akan menarik minat pengunjung. Dia mengusulkan, di rest area dibangun wahana rekreasi sehingga warga tertarik berkunjung.

Baca Juga :  Puskesmas Sepulu Cegah Penyakit Difteri

”Jadi selain belanja, pengunjung bisa menikmati wahana rekreasi. Rest area harus punya daya tarik agar pengunjung mau datang,” ujar pedagang asal Desa/Kecamatan Labang, Bangkalan tersebut.

Hal senada disampaikan Moh. Aruk Faruk Efendi, 38. Pedagang asal Desa Morkepek, Kecamatan Labang ini mengaku tempat usahanya sepi. Dia menuding BPWS salah perencanaan awal. Seharusnya sebelum membangun rest area, BPWS rembuk dengan pedagang. ”Tapi yang terjadi, sejauh ini belum ada pembahasan tentang pemindahan pedagang ke rest area,” ucapnya.

Kepala Divisi Data dan Informasi BPWS Pandit Indrawan mengatakan, pihaknya sering koordinasi dengan PT Indokon Raya agar pembangunan rest area dipercepat. Pengerjaan saat ini masih mencapai 65 persen. Sementara sisa waktu bagi rekanan tinggal 20 hari.

Menurut Pandit, rekanan sudah menambah jumlah tukang menjadi 120 orang. Pengerjaan dilakukan siang malam. ”Meski hujan, tetap dikerjakan agar tidak melebihi deadline. Hasilnya juga bagus kok,” klaim dia.

Baca Juga :  Bakal Bangun Wisata Pesisir seperti Ancol

Sudah ada beberapa rencana agar di rest area lebih banyak pengunjung. Di antaranya, akan dikonsep beberapa event di rest area, dan memasukkan rest area dalam paket wisata Bangkalan dan Madura. Dengan begitu, diharapkan wisatawan banyak berkunjung ke rest area.

Mengenai sewa tempat yang akan dibebankan kepada pedagang, Pandit mengaku belum tahu. Penentuan tarif sewa kios merupakan tanggung jawab Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL). Biaya sewa tersebut akan menjadi penerimaan negara bukan pajak (PNBP).

Dia menyebutkan, anggaran Rp 10,8 miliar digunakan untuk mengerjakan dua food court dengan luas 240 meter persegi dengan 108 kios untuk pedagang dan satu toilet komunal. Pada 2018 akan dibanguan tempat jualan bagi 278 pedagang.

Sebagaimana diketahui, BPWS mendapatkan anggaran Rp 10,8 miliar untuk proyek pembangunan rest area tahap dua. PT Indokon Raya menjadi pemenang lelang proyek dengan kontrak pengerjaan mulai 5 Oktober sampai 31 Desember 2017.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/