alexametrics
26.5 C
Madura
Wednesday, June 29, 2022

Warga Bangkalan Berduka! KH. Ilyas Chotib Tutup Usia

BANGKALAN – Masyarakat Bangkalan berduka. Ulama karismatik asal Desa Patereman, Kecamatan Modung,  tutup usia Senin (8/10). Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Ulum Al-Islamy itu meninggal di rumah sakit Graha Amerta, Surabaya, pukul 23.15 di usia 63 tahun. Almarhum menjalani perawatan selama kurang lebih tiga hari di rumah sakit. 

Jenazah almarhum dimakamkan Selasa (9/10) di pemakaman keluarga sekitar pondok pesantren. Ribuan santri, alumni, dan masyarakat mengantarkan almarhum ke peristirahatan terkahir. Ulama dari berbagai daerah turut hadir dalam pemakaman tersebut. Di antaranya, KH Fuad Noerhasan dari Sidogiri, KH. Idris Abdul Hamid dari Pasuruan, dan KH. Zubair Muntashor Bangkalan. 

Juga hadir KH. Abdus Salam Mujib, pengasuh PP Al-Khoziny Buduran; kiai dari Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk; KH. Mohammad Faisol dari Pondok Pesantren Demangan Timur; KH. Nuruddin, pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam; serta KH. Musleh Adnan dari Pamekasan; dan KH. Holili Masud dari Pramian, Sampang. Hadir pula mantan wakil bupati Bangkalan Ir Mondir A. Rofii dan anggota DPRD Jatim Mahfud serta Ketua DPC Ansor Bangkalan Hasani Zubair. 

Baca Juga :  Tak Mudah Dicekoki Paham Radikal

Tak sedikit masyarakat dan santri menangis saat mengantarkan jenazah KH. Ilyas Chotib. Mereka merasa kehilangan sosok yang selama ini dikenal gigih dalam syiar agama itu. ”Tak menyangka beliau begitu cepat meninggalkan kami,” ucap mantan ketua Ikatan Alumni Miftahul Ulum Al-Islamy (IKMI) Abdus Salam, Selasa (9/10). 

Sebelum dimakamkan, jenazah disalatkan di masjid pondok pesantren. Namun sebelum itu, sejak pagi satu per satu pelayat menyalatkan sosok kiai yang juga besan KH. Dimmiyati Darul Ulum, Jombang, itu di musala pondok pesantren. 

Putra kedua almarhum yakni KH. Ayyub Mustofa Ilyas mengaku tidak menyangka ayahandanya begitu cepat dipanggil Sang Khalik. Dia mengaku tidak ada firasat apa pun. ”Berangkat dari sini ke rumah sakit tidak begitu parah jika dibandingkan dengan sebelum-sebelumnya,” ucap dia. 

Baca Juga :  PLN Jawa Timur Siap Amankan Natal dan Tahun Baru

Penyakit yang diderita ayahandanya terbilang cukup lama. Namun, selama ini orang tuanya masih bisa bertahan. ”Selama 15 tahun abi sakit-sakitan. Diagnosisnya penyakit jantung dan paru,” tutur KH. Ayyub Mustofa Ilyas. 

KH. Ayyub Mustofa Ilyas bakal menggantikan ayahandanya sebagai pengasuh pondok pesantren. Banyak pelajaran dan teladan dari KH. Ilyas Chotib semasa hidupnya. Di antaranya, jangan menunda-nuda waktu soal kebaikan. ”Wasiat khusus tidak ada. Cuma, beliau sering menasihati di dalam beberapa kesempatan jangan pernah menunda-nunda waktu,” ucapnya. 

Suatu ketika, KH. Ilyas Chotib sakit. Saat itu diundang oleh salah seorang santri. ”Beliau tetap hadir dan tepat waktu. Selain itu, yang diwanti-wanti adalah silaturahmi. Jangan pernah putus silaturrahim,” kenangnya. 

KH. Ilyas Chatib meninggalkan delapan anak dan delapan cucu. Pendidikan yang dirintisnya semasa hidup adalah PAUD, TK, (SMP), SMA Al-Khatibiyah, SMK, dan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Miftahul Ulum. 

BANGKALAN – Masyarakat Bangkalan berduka. Ulama karismatik asal Desa Patereman, Kecamatan Modung,  tutup usia Senin (8/10). Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Ulum Al-Islamy itu meninggal di rumah sakit Graha Amerta, Surabaya, pukul 23.15 di usia 63 tahun. Almarhum menjalani perawatan selama kurang lebih tiga hari di rumah sakit. 

Jenazah almarhum dimakamkan Selasa (9/10) di pemakaman keluarga sekitar pondok pesantren. Ribuan santri, alumni, dan masyarakat mengantarkan almarhum ke peristirahatan terkahir. Ulama dari berbagai daerah turut hadir dalam pemakaman tersebut. Di antaranya, KH Fuad Noerhasan dari Sidogiri, KH. Idris Abdul Hamid dari Pasuruan, dan KH. Zubair Muntashor Bangkalan. 

Juga hadir KH. Abdus Salam Mujib, pengasuh PP Al-Khoziny Buduran; kiai dari Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk; KH. Mohammad Faisol dari Pondok Pesantren Demangan Timur; KH. Nuruddin, pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam; serta KH. Musleh Adnan dari Pamekasan; dan KH. Holili Masud dari Pramian, Sampang. Hadir pula mantan wakil bupati Bangkalan Ir Mondir A. Rofii dan anggota DPRD Jatim Mahfud serta Ketua DPC Ansor Bangkalan Hasani Zubair. 

Baca Juga :  Tingkatkan Kualitas Pendidikan TK

Tak sedikit masyarakat dan santri menangis saat mengantarkan jenazah KH. Ilyas Chotib. Mereka merasa kehilangan sosok yang selama ini dikenal gigih dalam syiar agama itu. ”Tak menyangka beliau begitu cepat meninggalkan kami,” ucap mantan ketua Ikatan Alumni Miftahul Ulum Al-Islamy (IKMI) Abdus Salam, Selasa (9/10). 

Sebelum dimakamkan, jenazah disalatkan di masjid pondok pesantren. Namun sebelum itu, sejak pagi satu per satu pelayat menyalatkan sosok kiai yang juga besan KH. Dimmiyati Darul Ulum, Jombang, itu di musala pondok pesantren. 

Putra kedua almarhum yakni KH. Ayyub Mustofa Ilyas mengaku tidak menyangka ayahandanya begitu cepat dipanggil Sang Khalik. Dia mengaku tidak ada firasat apa pun. ”Berangkat dari sini ke rumah sakit tidak begitu parah jika dibandingkan dengan sebelum-sebelumnya,” ucap dia. 

Baca Juga :  PLN Jawa Timur Siap Amankan Natal dan Tahun Baru

Penyakit yang diderita ayahandanya terbilang cukup lama. Namun, selama ini orang tuanya masih bisa bertahan. ”Selama 15 tahun abi sakit-sakitan. Diagnosisnya penyakit jantung dan paru,” tutur KH. Ayyub Mustofa Ilyas. 

KH. Ayyub Mustofa Ilyas bakal menggantikan ayahandanya sebagai pengasuh pondok pesantren. Banyak pelajaran dan teladan dari KH. Ilyas Chotib semasa hidupnya. Di antaranya, jangan menunda-nuda waktu soal kebaikan. ”Wasiat khusus tidak ada. Cuma, beliau sering menasihati di dalam beberapa kesempatan jangan pernah menunda-nunda waktu,” ucapnya. 

Suatu ketika, KH. Ilyas Chotib sakit. Saat itu diundang oleh salah seorang santri. ”Beliau tetap hadir dan tepat waktu. Selain itu, yang diwanti-wanti adalah silaturahmi. Jangan pernah putus silaturrahim,” kenangnya. 

KH. Ilyas Chatib meninggalkan delapan anak dan delapan cucu. Pendidikan yang dirintisnya semasa hidup adalah PAUD, TK, (SMP), SMA Al-Khatibiyah, SMK, dan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Miftahul Ulum. 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/