alexametrics
27.5 C
Madura
Monday, May 23, 2022

Kian Sedikit, Kebun Salak Terancam Punah

BANGKALAN terkenal dengan sebutan Kota Salak. Puncak musim salak di kabupaten paling barat Madura ini November hingga Maret. Maklum, tanaman berduri ini memang berbuah lebat saat musim penghujan.

Zainab, 55, petani salak di Desa Bilaporah, Kecamatan Socah, menuturkan, harga salak saat musimnya sangat murah. Yaitu, Rp 4 ribu–Rp 5 ribu per kilogram. ”Tapi saat musim kemarau seperti sekarang ini, harga salak Rp 10 ribu sampai Rp 12 ribu per kilogram,” katanya.

Akibat harga murah, banyak warga yang berhenti membudidayakan pohon salak. ”Dibiarkan tidak dirawat hingga mati. Kadang kalau hujan hidup lagi, tapi tidak berbuah. Sebab, salak harus dikawinkan agar berbuah,” tuturnya.

Saat ini yang masih banyak kebun salak di Bangkalan yaitu di Desa Kramat, Kecamatan Bangkalan. Juga di Desa Bilaporah dan Jaddih, Kecamatan Socah. Kini tidak begitu banyak kebun salak. Sebab, warga lebih memilih menjual lahan daripada membudidayakan salak. Pertimbangannya, harga jual salak murah.

Baca Juga :  Pasien 02 Tunggu Hasil Swab Keempat

”Kondisi itu bisa kita lihat di Kelurahan Kemayoran, Kraton, dan Demangan. Dulu kawasan itu penghasil salak terbesar di Bangkalan. Saat ini lahan salak sudah hilang dan beralih fungsi menjadi permukiman penduduk,” ungkap Kasubbag Program Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (Dispertapahorbun) Bangkalan Moeh. Ridhwan kemarin.

Dia manambahkan, produksi buah salak di Bangkalan dari tahun ke tahun menurun. Pihaknya berupaya meningkatkan produksi salak dengan membuka lahan baru. ”Tahun lalu produksi salak di Bangkalan 70.734 kuintal. Tahun ini belum diketahui karena belum akhir tahun,” jelasnya saat ditemui di ruang kerjanya.

Jumlah pohon salak di seluruh daerah di Bangkalan tersisa 155.650 batang. Yang berproduksi atau berbuah sekitar 125.474 batang. ”Kami punya rencana membuka lahan baru agar pruduksi salak bertambah. Semoga ada dukungan dari dinas terkait dalam hal pemasaran salak pascapanen,” tukas Ridhwan.

Baca Juga :  Ngaku Konang, padahal Asal Kokop

Kabid Kebudayaan Disbudpar Bangkalan Hendra Gemma Dominant turut khawatir dengan berkurangnya pembudi daya pohon salak. Menurut dia, pohon salak merupakan ikon Kota Bangakalan yang perlu dilestarikan. ”Kalau dibiarkan begini, tidak ada langkah-langkah penyelamatan, ini bisa berakibat fatal. Kearifan lokal Bangkalan bisa punah,” ucapnya.

Hendra menjelaskan, warga Bangkalan perlu dibantu membudidayakan kembali pohon salak. Salah satunya pascapanen. ”Selama ini warga menjual salak secara tradisional. Buah salak erat kaitannya dengan kebudayaan Bangkalan. Saya tidak mau kearifan lokal ini punah gara-gara tidak ada yang membudidayakan dan melestarikan,” urainya.

”Karena itu, kami membuat langkah-langkah dengan dinas terkait juga budayawan Bangkalan untuk memecahkan masalah ini. Nanti pada Hari Jadi Bangkalan tahun ini kami rencananya membuat lomba kuliner yang berbahan dasar salak,” pungkas Hendara. (c1)

BANGKALAN terkenal dengan sebutan Kota Salak. Puncak musim salak di kabupaten paling barat Madura ini November hingga Maret. Maklum, tanaman berduri ini memang berbuah lebat saat musim penghujan.

Zainab, 55, petani salak di Desa Bilaporah, Kecamatan Socah, menuturkan, harga salak saat musimnya sangat murah. Yaitu, Rp 4 ribu–Rp 5 ribu per kilogram. ”Tapi saat musim kemarau seperti sekarang ini, harga salak Rp 10 ribu sampai Rp 12 ribu per kilogram,” katanya.

Akibat harga murah, banyak warga yang berhenti membudidayakan pohon salak. ”Dibiarkan tidak dirawat hingga mati. Kadang kalau hujan hidup lagi, tapi tidak berbuah. Sebab, salak harus dikawinkan agar berbuah,” tuturnya.


Saat ini yang masih banyak kebun salak di Bangkalan yaitu di Desa Kramat, Kecamatan Bangkalan. Juga di Desa Bilaporah dan Jaddih, Kecamatan Socah. Kini tidak begitu banyak kebun salak. Sebab, warga lebih memilih menjual lahan daripada membudidayakan salak. Pertimbangannya, harga jual salak murah.

Baca Juga :  Galang Persatuan lewat Karnaval

”Kondisi itu bisa kita lihat di Kelurahan Kemayoran, Kraton, dan Demangan. Dulu kawasan itu penghasil salak terbesar di Bangkalan. Saat ini lahan salak sudah hilang dan beralih fungsi menjadi permukiman penduduk,” ungkap Kasubbag Program Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (Dispertapahorbun) Bangkalan Moeh. Ridhwan kemarin.

Dia manambahkan, produksi buah salak di Bangkalan dari tahun ke tahun menurun. Pihaknya berupaya meningkatkan produksi salak dengan membuka lahan baru. ”Tahun lalu produksi salak di Bangkalan 70.734 kuintal. Tahun ini belum diketahui karena belum akhir tahun,” jelasnya saat ditemui di ruang kerjanya.

Jumlah pohon salak di seluruh daerah di Bangkalan tersisa 155.650 batang. Yang berproduksi atau berbuah sekitar 125.474 batang. ”Kami punya rencana membuka lahan baru agar pruduksi salak bertambah. Semoga ada dukungan dari dinas terkait dalam hal pemasaran salak pascapanen,” tukas Ridhwan.

Baca Juga :  Lomba Mozaik Kenalkan Isi Museum

Kabid Kebudayaan Disbudpar Bangkalan Hendra Gemma Dominant turut khawatir dengan berkurangnya pembudi daya pohon salak. Menurut dia, pohon salak merupakan ikon Kota Bangakalan yang perlu dilestarikan. ”Kalau dibiarkan begini, tidak ada langkah-langkah penyelamatan, ini bisa berakibat fatal. Kearifan lokal Bangkalan bisa punah,” ucapnya.

Hendra menjelaskan, warga Bangkalan perlu dibantu membudidayakan kembali pohon salak. Salah satunya pascapanen. ”Selama ini warga menjual salak secara tradisional. Buah salak erat kaitannya dengan kebudayaan Bangkalan. Saya tidak mau kearifan lokal ini punah gara-gara tidak ada yang membudidayakan dan melestarikan,” urainya.

”Karena itu, kami membuat langkah-langkah dengan dinas terkait juga budayawan Bangkalan untuk memecahkan masalah ini. Nanti pada Hari Jadi Bangkalan tahun ini kami rencananya membuat lomba kuliner yang berbahan dasar salak,” pungkas Hendara. (c1)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/